
Dina kini di bawa oleh suruhan Sarah, dengan diseret paksa.
“Lepaskan aku.” Ucap Dina memberontak.
Sarah kini berdiri di hadapan Dina yang terus memberontak, dengan melipatkan kedua tangannya dan bertanya?
“Kamu kenapa Dina?”
Kedua mata Dina membulat, bibirnya bergetar ketakutan.” Kenapa kamu menyiksa lelaki itu?”
Belum pertanyaan Sarah dijawab, kini Dina malah bertanya balik tentang lelaki yang ia lihat di balik tembok toilet.
Sarah hanya berdecap kesal saat orang itu terlalu ikut campur dengan masalahnya, “Dina. Kamu tidak harus tahu siap dia, yang terpenting kamu jalani tugasmu. Kita kan sudah mempunyai perjanjian.”
Dina terdiam, ia seakan menyesal telah menyetujui perjanjian yang ia jalani bersama Sarah.
“Cepat bawa wanita itu masuk ke dalam rumah,” perintah Sarah.
“Aku tidak mau,” teriak Dina.
Para suruhan Sarah begitu kasar, mereka dengan seganya memaksa Dina masuk ke dalam rumah.
Saat itulah Sarah menyeret paksa Dina mengikuti dirinya untuk masuk ke dalam ruangan Arpan.
Melihat Arpan penuh dengan luka dan juga darah yang mengalir dari kepala bibir hingga kaki dan tangan, membuat Dina merasa kasihan kepada lelaki itu.
Kedua mata Arpan tertutup, ia pingsan karna pukulan terus menerus dari suruhan Sarah.
.”Kamu lihat lelaki itu?” tanya Sarah.
Dina menatap penuh dengan rasa kasihan, ia ingin sekali menolong lelaki itu. Tapi dirinya tak berani, karna Sarah dan suruhannya begitu banyak.
“Dina, jika kamu tidak menepati janjimu. Aku tidak akan segan- segan membuat kamu seperti dia, kamu mau.” Ancam Sarah.
Dina menggelengkan kepala, berucap,” kamu begitu kejam, Sarah.”
“Aku kejam. Masa sih, aku ini orang baik. Jika aku kejam aku tidak akan memberikan kesempatan kepada kamu sekali lagi Dina.”
Sarah kini menyodorkan tangannya ke arah Dina, untuk di raih Dina.
“ Ayo, ikuti keinginanku atau kamu seperti dia.”
__ADS_1
Dina benar- benar ketakutan ancaman demi ancaman di layangkan Sarah, pada saat itulah ia menuruti kemauan Sarah dari pada dirinya harus menderita seperti lelaki yang tengah di ikat kaki dan tangannya.
“Baik, aku akan menepati janjiku.”
“Bagus.”
@@@@@
Alan dan yang lainnya kini mencari keberadaan Dina. Dengan melacak nomor telepon dari Sarah.
“Sepertinya kita mulai sampai, di tempat tujuan,” ucap Riri, memegang ponsel menunjuk arah jalan.
“Stop.” Teriak Riri di dalam mobil.
“Kenapa Ri?” tanya Alan yang menginjak rem mobil secara tiba-tiba.
“ kita sudah sampai di rumah wanita yang bernama Sarah,” ucap Riri menunjuk rumah mewah yang tak jauh dari hadapan mereka.
“ Sepertinya kita tidak bisa masuk begitu saja ke rumah mewah itu, terlihat sekali di depan rumah itu banyak penjaga,” Timpal Pak Tejo.
“ benar, berarti kita harus mempunyai cara agar bisa masuk ke rumah itu. Menyelamatkan Dina,” balas Riri.
Pada saat itulah mereka mulai menyusun rencana, untuk bisa menyelamatkan Dina. Dimana Alan mempunyai ide yang sangat disetujui Riri dan juga Pak Tejo, mereka sepakat dan juga bersiap-siap untuk melakukan rencana yang disusun Alan pada saat itu.
Rencana dimulai.
Alan mulai masuk dengan cara mengendap-ngendap, pertama ia mencari cctv, setelah CCTV itu ketemu. Alan langsung melempari dengan batu. Membuat CCTV itu seketika rusak.
Kedua penjaga berotot yang tengah berjaga di luar, mendengar suara benturan keras. Membuat salah satu penjaga berotot itu mengecek suara benturan itu.
Ia melangkah kan kaki melihat pecahan CCTV berserakan, membungkukkan badan mengecek pecahan itu.
Saat penjaga berotot itu membungkukan badan, pada saat itulah Alan mulai beraksi. Iya berjalan dengan cepat, memukul lelaki berotot itu.
Namun pukulan Alan tidak mengenai sasaran pada punggung lelaki itu, lelaki berotot itu malah membalikkan badan menahan besi yang hampir saja Alan layangkan pada punggung.
“ Siapa kamu?”
Alan berusaha menghajar lelaki berotot itu, membuat lelaki berotot itu malah memukul badan kurus Alan.
Membuat Alan tersungkur jatuh ke atas tanah, laki-laki berotot itu mulai mendekat kearah Alan dengan memegang besi. Berencana untuk memukulkan besi itu kepada Alan.
__ADS_1
Namun dengan keberanian Riri yang melihat Jalan hampir saja dipukul oleh besi. Riri dengan beraninya menembakkan pistol ke arah kepala lelaki berotot itu, dan Dorrr ...
Tembakan Riri mampu membuat satu lubang pada kepala lelaki berotot, membuat lelaki itu terjatuh dan terkulai lemah ke atas tanah.
Alan yang melihat keberanian Riri, mendekat ke arah wanita itu. Menarik tangannya untuk cepat bersembunyi.
Saat Alan memegang tangan Riri, terasa tangan Gadis itu bergetar hebat. Iya menahan rasa takutnya dengan apa yang ia lakukan.
Pistol itu masih Riri pegang dengan begitu kuat, membuat Alan mencoba membuka perlahan jari-jari tangan Riri. Agar dia bisa mengambil alih pistol itu.
“ tarik napas perlahan, lalu keluarkan.”
Jantung Riri terus berdetak begitu cepat dari sebelumnya, pada saat itulah Alan dengan Sigap menenangkan perasaan Riri. Agar tetap tenang, membuat keberanian Riri bangkit kembali.
“Kamu harus tenang.” Alan mengusap pelan bahu Riri, menyuruh gadis itu untuk mengatur nafas. Agar jantungnya tak berpacu cepat tidak seperti biasanya.
Dengan nasehat yang terlontar dari Alan, pada saat itu Riri mulai berusaha tenang mengatur nafasnya secara perlahan. Karna rencana baru saja di mulai, dan Dina belum terselamatkan.
“Bagaimana perasaanmu sekarang Ri?” tanya Alan.
Dengan nafas sedikit terengah-engah, pada saat itulah Riri mulai tenang. Ia kembali menjalankan rencana yang di susun Alan.
“Perasaanku sedikit tenang sekarang, Al.”
“Ya, sudah kita lanjutkan aksi kita.”
Baru saja mulai keluar dari tempat persembunyian Alan dan Riri, tiba-tiba saja 3 orang penjaga berlari menghampiri penjaga yang terbunuh oleh Riri.
"Sial, sepertinya ada orang yang berani menyelinap ke tempat ini," ucap sang penjaga kepada kedua sahabatnya.
"Ya benar, kita harus menemukan orang yang sudah membunuh sahabat kita. kalau orang itu sampai masuk ke rumah, Nyonya pasti akan marah kepada kita," balas lelaki bermata sipit itu.
"Ya sudah ayo cepat kita cari mereka."
Pada Saat itulah ke tiga penjaga itu mulai mencari keberadaan Riri dan juga Alan.
Merka yang sibuk ke sana kemari, membuat Alan dengan sigap, berusaha menutup mulut Riri, agar tidak mengeluarkan suara. Karena ketiga penjaga itu terus bolak-balik kesana kemari mencari pelaku atas pembunuhan sahabatnya.
Riri tiba-tiba tak bisa menahan rasa ingin bersin, pada saat itulah ia dengan tak sadarkan diri bersin begitu keras.
Membuat ke tiga penjaga yang hampir saja pergi datang kembali.
__ADS_1
Apakah Alan dan Riri akan selamat?