
Sarah yang tengah di kurung di dalam ruangan mendengar suara Tama, ia bergegas berdiri menatap ke arah jendela. Yang di mana Sarah melihat Tama tengah berdebat dengan para penjaga rumah.
"Tama, itu Tama."
Syakira yang tengah tidur terbangun karna suara Sarah yang memanggil manggil nama Tama.
Ia mulai melangkahkan kaki, berjalan ke arah Sarah. Memengang bahu Sarah dan bertanya?" kamu sedang apa. Sarah."
Sarah membalikkan badan ke arah Syakira dan berkata," aku melihat Tama."
Saat itulah Syakira mengerutkan dahi dan betanya?" Tama?"
"Iya syakira. Tama dia pasti akan menolong kita berdua!"
Saat itu Syakira mulai membuka gordeng ruangan itu dan melihat, kedua lelaki tengah berdebat dengan penjaga di rumah.
"Tama, dia anak Mas Anton?" Gumam hati Syakira.
@@@@@
Pak Andre yang tengah menikmati makan siang di atas meja, mendengar sebuah keributan di luar rumah. membuat ia menghentikan suapan pada mulutnya.
Tangan yang memegang sendok dan garpu, kini ia leparkan pada piring yang berisi nasi.
"Sepertinya aku mengenal suara itu?"
Pak Andre bergegas berdiri, ia menghentikan acara makan siangnya.
melangkah menuju keluar rumah, melihat lelaki yang tengah marah-marah menyebut namanya.
Saat pintu rumah di buka.
Benar saja, dugaan Pak Andre. Tama datang, berteriak teriak mencari keberadaan Sarah.
Lelaki tua itu berjalan dengan ke dua tangan yang merogok saku celana, mendekat ke arah Tama dan juga Rudi. Tersenyum licik dan berkata," biarkan saja mereka."
Para penjaga di rumah Pak Andre kini melepaskan Rudi dan Tama, karna printah sang tuan rumah.
Tama yang penuh emosi menghampiri Pak Andre. Tangan Tama tak segan segan, mencekram kerah baju lelaki tua itu." kamu sembunyikan di mana, Sarah."
Pak Andre tertawa, para penjaganya mulai mendekati sang tuan yang tengah di cekram oleh Tama. Namun lelaki tua itu malah melarang para penjaga menahan Tama.
"Ke mana, Sarah. Aku tanya padamu?"
Rudi hanya bisa melihat Tama yang marah terhadap omnya sendiri.
"Aku bertanya padamu, ke mana Sarah. kenapa kamu malah tertawa seperti orang gila," bentak Tama.
Rudi mulai menghampiri Tama, yang di mana Tama mulai melayangkan satu pukulan ke arah wajah Pak Andre.
__ADS_1
Rudi berusaha menahan tangan Tama pada saat itu, tapi nama malah menghempaskan tangam Rudi.
"Ayo pukul," ucap Pak Andre pada keponakannya itu.
Rudi mulai berucap," jangan gegabah Tama."
Tama menatap ke arah Rudi, ia mulai menuruti perkataan Rudi. Menahan amarah yang mengebu gebu pada hatinya.
"Kenapa tidak pukul," ucap Pak Andre.
"Aku masih menghargai kamu sebagai omku," balas Tama.
"Jadi kamu mencari ibu tirimu," ucap Pak Andre kepada Tama.
Rudi yang mendengar bahwa Tama adalah anak tiri dari Sarah, membuat Rudi sedikit Shock.
"Tama adalah anak tiri Sarah." Gumam hati Rudi.
"Sudahlah, jangan bahas aku anak tiri Sarah. Aku ke sini hanya ingin membawa Sarah kembali pulang." Ucap Tama.
Pak Andre tertawa tebahak bahak. Dan berucap." membawa pulang ke mana Tama, kamu sudah mejadi tahanan dan rumah orang tua beserta aset perusahaan sudah tersita."
Rudi menatap ke arah jendela yang di mana terlihat kedua wanita melabai- lambaikam tangan.
Sarah menyadari akan Rudi yang melihat mereka berdua, membuat lambaian tangan ia layangkan.
"Syakira, sepertinya Rudi melihat kita," ucap Sarah.
"Kita harus mencari cara agar, lelaki itu melihat ke arah kita," ucap Syakira.
"Caranya bagaimana?" tanya Sarah mulai berpikir.
Karna kaca yang berada di ruangan Sarah dan Syakira susah untuk di hancurkan.
Rudi dengan sigap menarik bahu Tama dan berbisik." Tama. Sepertinya Sarah di kurung di ruangan atas. Coba kamu lihat."
Pak Andre masih bersikap santai, ia tak mencurigai Rudi yang menbisikan sesuatu pada Tama.
Tama sekilas menatap ke atas, yang di mana ia melihat sosok kedua wanita melambai lambaikan tangan ke arahnya.
"Apa itu, Sarah." Gumam hati Tama.
"Om, aku ingin om melepaskan Sarah, sekarang juga," hardik Tama.
"Apa jaminannya, kalau om melepaskan Sarah untukmu," balas Pak Andre.
Tama terdiam, ia menyadari akan dirinya sendiri yang sudah tak mempunyai apa apa. Untuk menebus Sarah.
"Kenapa kamu diam, Tama. Jika kamu tak mampu memberikan sebuah jaminan sudahlah lebih baik pergi dari sini," jelas sang Om.
__ADS_1
"Aku bisa ....."
Belum perkataan Tama terlontar semuanya, ia langsung berucap."Bisa apa. Sudahlah sebaiknya kalian pergi dari hadapanku. Atau aku bisa melaporkan kalian ke kantor polisi."
Acaman Pak Andre, membuat Tama mengurungkan niatnya untuk berucap.
Pada saat itulah Tama berucap pada Rudi, untuk segera pergi dari rumah Pak Andre.
"Ayo Tama, sebaiknya kita pergi dari sini," ucap Rudi.
Tama mulai menganggukan kepala, pada saat itulah ia pergi bersama Rudi menaiki mobil.
Namun saat Rudi sudah menaiki mobil, Tama kembali turun saat sang Om berdiri di pinggir mobilnya.
"Ada apa lagi, Tama?" tanya sang om.
Tama menunjuk wajah sang Om dengan menjawab," om harus ingat, ya. Aku akan membawa Sarah dari tangan Om."
"Tama, sudahlah jangan berharap jika Sarah akan kembali ke tanganmu, kamu ini sudah tidak berguna. tak mempunyai apa-apa lagi. hanya nyali besar mu saja." cetus sang om.
Rudi mulai berteriak pada Tama," ayo Tama."
pada saat itulah Tama mulai naik ke dalam mobil, mereka segera bergegas pergi dari rumah Pak Andre.
Sarah dan juga Syakira yang berusaha memberikan kode, hanyalah ke sia sian yang tak menghasilkan apa apa.
"Rudi dan Tama pergi," ucap Sarah menangis.
Syakira langsung memeluk Sarah dan berkata," mungkin mereka sekarang belum bisa menyelamatkan kita. tapi aku yakin mereka akan kembali dan menyelamatkan kita dari rumah ini."
Pak Andre jalan masuk ke dalam rumah, lelaki tua itu langsung menghampiri Sarah dan juga Syakira di dalam ruangan.
pintu ruangan yang ditempati Sarah dan Syakira kini dibuka begitu keras, membuat kedua wanita itu kaget.
"Hah, ternyata kalian sudah melihat Tama datang," ucap Pak Andre.
Sarah dan Syakira, masih saling berpulakan. Mereka seakan ketakutan, dengan tangan Pak Andre yang memegang cambuk.
"Hey, Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku? Apa kalian berdua ini tuli," cetus Pak Andre.
"Sebenarnya ....."
belum jawaban Sarah terlontar semuanya. Pak Andre langsung memukulkan cambuk yang berada di tangannya pada dinding yang tak jauh dari hadapan Sarah.
Suara cambukan itu membuat Sarah dan Syakira bergidik ngeri, mereka sudah tak sanggup menahan rasa sakit. akibat cambukan yang selalu di layangkan Pak Andre.
"Kenapa kalian takut."
lelaki tua itu tak segan-segan mendekati Sarah dan Syakira, memukulkan cambukan beberapa kali pada tubuh Sarah dan Syakira.
__ADS_1
Namun di sisi lain, pelayan yang pernah di mintai tolong dengan segaja merekam aksi Pak Andre. Dengan ponselnya sendiri.