
Arpan menyuruh tetangganya itu duduk. Begitu pun dengan anak gadisnya, entah kenapa perasaan Arpan saat itu tak karuan. Ia merasa tetangganya ini sedikit tak waras. Tiba-tiba datang di pagi hari, dengan membawa anaknya.
"Nak, Arpan. Ini kenalin anak gadis ibu, namanya Lala alaylulay. Ingat kan namanya kemarin udah pernah ibu bahas," ucap wanita tua yang menjadi tetangga Arpan saat itu. Gadis itu terseyum ramah pada Arpan, Namun Arpan mengabaikan senyumannya.
"Emh, kapan ya bu. Saya lupa?" tanya Arpan. Pura- pura lupa. Sehingga membuat Bu Laras sedikit memoyongkan bibir atasnya. Dan kesal.
"Ah, masa si. Berasa baru kemarin kita bahas, masa bisa langsung lupa begitu saja!" jawab wanita tua itu, menyenggol tangan anaknya dengan sikut berkali-kali. Memberi kode mata agar sang anak merayu Arpan saat itu.
Wanita bernama Lala itu menyodorkan tangannya, terseyum menatap Arpan.
Arpan mengkerutkan dahi seraya sedikit menghindar dan menjawab," maaf bukan muhrim."
Perkataan Arpan membuat Lala sedikit mendengkus kesal, ia memoyongkan bibirnya. Menundukan pandangan.
"Oh ya, kemana istrinya?" tanya Bu Laras. Melirik ke kanan, ke kiri mencari istri Arpan saat itu. Ia seakan mencari kesempatan dalam kesempitan, agar bisa menjodohkan anaknya dengan Arpan.
"Oh, ada. Mau saya panggilkan!" jawab Arpan.
Tanpa berpikir panjang, Arpan memanggil istrinya itu.
Bu Laras tadinya ingin menolak, namun terlanjur Arpan berteriak memanggil-manggil istrinya
"Sayang," panggil Arpan dengan kata-kata manjanya pada sang istri.
Sisi pun datang dengan tampilan gelamornya. Ia mengenakan baju berwarna merah mencorak, membuat penampilannya begitu indah di pandang. membuat Lala dan Bu Laras melongo melihat penampilan istri Arpan saat itu.
Berjalan terseyum ramah, Bu Laras seakan tak suka meihat Sisi yang berpenampilan cantik dan juga seksi.
Entah kenapa mulut Bu Laras tiba-tiba berucap pedas, bagai cabai merah yang di makan mentah-mentah.
"Cantik juga kalau dapetnya janda rugi," ucap pelan Bu Laras. Sembari mendelik pada arah wajah Sisi saat itu.
Lala yang mendengar perkataan ibunya. Tertawa yakin dirinya bisa lebih tertarik dari pada Sisi saat itu, apalagi Lala adalah seorang gadis. Lelaki mana yang akan menolak seorang gadis.
Sisi menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan tetangga Arpan yang tengah duduk.
Bu Laras menatap tajam wajah Sisi saat itu, " oh, cantik tapi janda," sindir Bu Laras.
Sisi yang mendengar perkataan itu, terseyum seraya menjawab," janda juga laku sama perjaka. Dari pada perawan ada di depan tak laku."
Arpan yang mendengar ucapan istrinya, serasa ingin tertawa. Apalagi Lala anak Bu Laras raut wajahnya begitu memerah, seakan menahan amarah.
"Oh ya, gadis ibu ini cantik kan. Nak Arpan," ucap Bu Laras. Memojokan Sisi saat itu, Bu Laras begitu yakin kalau Arpan akan membela dirinya.
__ADS_1
Arpan menarik istrinya agar duduk di sebelahnya seraya menjawab perkataan Bu Laras." cantik sih. Tapi lebih cantikan istriku."
Perkataan Arpan membuat Sisi terseyum manis. Mengucapkan kata terimakasih dan mencium pipi suaminya, menampilkan kemesraan di depan tetangganya itu.
Bu Laras memikirkan sebuah ide untuk memojokan Sisi lagi saat itu.
"Nak Arpan, apa enggak mau punya istri perawan. Kan sayang masih perjaka dapetnya istik dah barang bekas orang, mending terhormat ini bekas pelakor lagi," sindir Bu Laras. Sisi yang mendengar perkataan tetangganya itu, ingin rasanya meremas bibir yang hampir maju sepuluh senti itu.
"Kalau punya istri perawan, Kan jadi enak, pas malam pertamannya, enggak langsung jebol," ucap Bu Laras sedikit tertawa. Agar obrolannya di anggap lelucon
Arpan yang mendengar perkataan tetangganya itu hanya mengeleng-gelengkan kepala.
Sisi yang tak tinggal diam saat itu langsung menjawab balik dengan berkata," kata siapa jebol. Toh kalau bisa ngerawat diri dan juga ngerawat mahkota sendiri, kan enggak langsung jebol. Melainkan singset rapet."
Mendengar jawaban Sisi, Bu Laras mengepal kedua tanganya.
"Apa sih yang di banggakan perawan, kalau tampilan nya kaya nenek-nenek. Semua pada tepos laki juga enggak doyan kali," sindir Sisi.
Arpan mulai menghentikan perdebataan mereka, sebelum mereka bertindak lanjut, membawa senjata masing -masing.
"Bu Laras sebaiknya pulang saja ya. Saya sama istri mau menikmati bulan madu kami, dan enggak suka diganggu," ucap Arpan sedikit mengusir halus Bu Laras dan anaknya.
Arpan membawa istrinya dari hadapan Bu Laras.
Saat itu pun Bu Laras menujuk pada punggung pengantin baru itu. Seraya berkata," awas aja janda rese itu. Biar tahu rasa nanti."
Bu Laras keluar dari rumah Arpan untuk segera pulang dengan rasa kesal di dada, sembari menarik paksa Lala.
"Aduh bu, sakit pelan-pelan kenapa jalannya," ucap Lala kesakitan.
"Kamu ini, ya!" jawab Bu Laras. Menjewer kuping anaknya.
"Sakit bu," teriak Lala meronta-ronta kesakitan.
Sampai di depan rumah, Lala bertanya kepada sang ibu.
"Bu, kenapa si harus jodohkan aku dengan lelaki beristri itu?" tanya Lala.
Bu Laras memukul kepala anaknya membentak menjawab," karna ibu suka liat Arpan yang kaya dan baik itu."
"Ah, pasti bukan Alasan kaya dan baik?" tanya Lala, melipatkan kedua tangannya.
"Ahk, pokonya nanti juga kamu tahu!"
__ADS_1
"Tapi, kan Bu. Laras enggak suka sama Ka Arpan, dia orang yang cuek sekali," ucap Lala. Membuat ibu menjelaskan semuanya.
"Cuek, karna dia baru bertemu kamu. Coba kalau sudah lama bertemu, pasti kamu akan suka," penjelasan sang ibu membuat Lala mengaruk-garuk telinganya.
"Ah, ibu enggak jelas."
Lala berlalu pergi meninggalkan ibunya.
**************
Di rumah Arpan.
Terlihat sekali Sisi yang cemberut, membuat Arpan bingung.
"Ko cemberut," ucap Arpan mencolek hidung istrinya.
Sisi memalingkan wajahnya seakan enggan jika di sentuh oleh Arpan.
"Kenapa coba bicarakan baik-baik. Biar aku tahu, masalah mu?"
Sisi mulai angkat bicara, ia sebal dengan tetangga rese itu. Sebal karna untuk apa tetangga Arpan itu mengenalkan seorang gadis kepada lelaki yang sudah beristri.
Arpan tertawa terbahak- bahak mendengar perkataan istrinya saat itu, mengelus rambut panjang Sisi dan berkata," mereka salah minum obat sepertinya."
"Kamu ini, aku serius."
"Aku juga serius."
Arpan terseyum manis pada sang istri seraya berkata," ehem yu."
Sisi mengkerutkan dahi, ia tak mengerti dengan perkataan suaminya.
Mengelitik dan mencium pipi sang istri.
"Masi siang juga."
"Bodo amet."
Tok ... tok.
Baru saja mau mulai pertempuran, pintu kamar di ketuk lagi, Arpan berteriak pada pembantunya itu.
"Bilang saja saya enggak mau diganggu gitu bi," teriak Arpan. Yang memeluk istrinya.
__ADS_1
Di belakang pintu Bi Marni menjawab," tamunya enggak mau pulang-pulang tuan."
Sebenarnya siapa yang datang lagi????