
Di dalam penyesalan Sisi, Arpan tengah menyelidiki apa yang sudah terjadi dengan Dodi dan juga Alan.
“Aku harus bergegas mencari tahu siapa wanita yang sudah masuk ke ruangan mayat.”
Beberapa jam menunggu info dari Jenny sahabatnya yang ia tugaskan untuk mencari siapa wanita itu, pada saat itulah Jenny mulai menelpon Arpan.
“Halo, Arpan. Gue sudah mendapatkan info tentang wanita yang kamu cari.”
“ Oke kamu langsung kirimkan saja alamat di mana wanita- itu berada.”
“ Baik aku akan kirimkan alamatnya melalui pesan.”
Tak perlu lama mencari keberadaan wanita itu, hanya dalam kurun waktu 1 jam sahabatnya sudah menemukan alamat wanita itu.
Kini Arpan menggenggam erat ponselnya, pada saat itulah ia baru menyadari bahwa Sisi terus menelpon dan juga mengirim pesan padanya.
Karena tak cukup banyak waktu menelpon istrinya, Arpan terpaksa mengabaikan sang istri terlebih dahulu.
Arpan melihat jam pada tangannya, sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ini saatnya ia mendatangi rumah wanita itu.
Karena percuma dirinya menunggu di rumah sakit, karena itu tidak akan membuahkan hasil bagi dirinya, Dodi dan juga Alan pasti tidak akan pulang pulang ke rumah sakit. Karena ulah wanita itu, membuat Dodi dan juga Alan tak bisa pulang kembali.
Arpan mulai menaiki mobilnya, Iya mencari alamat wanita itu. Rumahnya benar-benar begitu jauh, membuat perjalanan Arpan hingga malam hari.
Saat jam sudah menujukan pukul, 7 malam.
Arpan sudah sampai di rumah wanita itu, lihat wanita itu tidak memakai topi. Membuat Arpan mengambil gambarnya nya tanpa wanita itu sadar.
Pada saat itulah Arpan mulai mengirim gambar wanita itu pada istrinya. Seraya berkata, Apakah ini wajah yang bernama Sarah itu.
Sisi yang sudah mulai panik dari tadi menunggu pesan dari Arpan, kini pesan dari suaminya datang tiba-tiba. Dimana gambar seorang wanita yang tengah duduk di kursi depan rumah.
Sisi mulai memperbesar gambar wanita itu di dalam ponsel, tidak ada kesamaan wajah wanita itu dengan Sarah. Begitu berbeda jauh, namun ia menemukan satu tanda kecil yang selalu mengingatkan dirinya pada Sarah.
“Tanda ini, seperti tanda yang di miliki Sarah. Tapi wajahnya berbeda sekali. Aku takut jika nanti salah menebak.” Gumam hati Sisi.
Sisi dengan Sigap membalas pesan dari suaminya,
(Aku tak yakin, karna wajah Sarah berbeda dengan wajah wanita yang berada di Foto.)
Saat itulah Arpan membaca pesan dari istrinya, Iya ingin mencari tahu Lebih Detail wanita itu.
__ADS_1
Karena bisa saja wanita itu Sarah yang asli, karena bisa saja wanita itu melakukan operasi wajah agar merubah diri menjadi lebih cantik.
Saat Arpan mulai membalikkan badan untuk pergi dari lingkungan rumah wanita itu tiba-tiba saja.
Bruk ...
Pukulan seseorang mengenai kepala Arpan membuat Arpan ter jatuh. Kedua mata Arpan melihat orang yang memukul dirinya itu tak jelas, karna rasa sakit karna pukulan yang keras, membuat penglihatannya tiba-tiba buram. Pada saat itulah Arpan jatuh pingsan di tempat.
Sisi yang dari tadi menunggu jawaban pesan dari sang suaminya, kini terpaksa menelepon Arpan. Ada rasa kuatir pada hati Sisi.
Panggilan telepon Sisi terabaikan, kini orang yang sudah memukul Arpan Mulai mengambil ponsel yang terus saja berdering disamping Arpan yang tengah pingsan.
Orang itu melihat pada layar ponsel Arpan, nama kontak yang memanggilnya bertuliskan istriku.
Sisi yang terus menelpon Arpan, membuat orang itu langsung mengangkat panggilan dari sisi.
“Sayang, halo. Kamu tidak kenapa- napa kan.”
Pada saat itulah orang yang sudah memukul Arpan, kini mulai menjawab ucapan Sisi dari dalam telepon.
“Halo.”
“ Siapa kamu, Kenapa ponsel suamiku ada pada kamu.”
Orang itu langsung tertawa, membuat Sisi terdiam.
“ Kamu mau tahu di mana suamimu, suamimu Sudah berani menyusup ke rumahku. Kini ia tertidur di rumahku.”
Kata-kata orang itu membuat Sisi syok berat, membuat Sisi langsung marah besar.
“Halo, apa yang kamu katakan. Jangan sakiti suamiku.”
“kamu takut aku menyakitinya. Maka datanglah ke alamat yang akan aku kirim sekarang.”
Panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, Sisi amat kesel kini ia mulai menelpon kembali nomor ponsel suaminya.
“Sial, ponsel suamiku sudah tak aktif.”
Sisi kini mulai stres, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Terlebih dahulu, jika ia datang sekarang. Mungkin dirinya akan di sekap sama dengan Arpan.
Dan hal hasil, orang itu akan berbuat semena- mena pada dirinya dan juga suaminya..
__ADS_1
“Aku harus mencari cara.”
@@@@@
Di tengah-tengah kepanikan yang dirasakan Sisi, bahwa suaminya Tengah disekap oleh orang yang tak dikenal.
Kini mobil yang membawa alam dan Dodi begitupun dengan yang lainnya, tiba-tiba berhenti Gubuk Tua yang yang membuat mereka bingung.
Pada saat itulah orang-orang yang mereka anggap sebagai penyelamat hidup mereka, turun dari dalam mobil membuka pintu. Menyuruh Alan dan yang lainnya turun dengan cara dipaksa.
“Cepat kalian turun.”
Para penyelamat itu kini menyodorkan beberapa pistol pada Alan dan juga yang lain. Membuat Alan dan yang lainnya syok, mereka seakan di anggap sebagai buronan.
Mereka saling menatap memberikan sebuah kode, sebisa mungkin menyembunyikan alat tajam yang sudah diberikan wanita tua yang sudah menyelamatkan mereka.
Alan berharap pada Pak Tejo dan juga yang lainnya, agar tak panik dalam situasi yang sangat sulit ini.
“Ayo cepat ke luar.” teriakan para penyelamat itu membuat Dodi dan juga cucu Pak Tejo sedikit ketakutan.
Namun dengan Sigap Alan menenangkan mereka berdua, bawa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah Alan dan yang lainnya keluar dari dalam mobil, mereka dengan sengaja diseret paksa masuk ke dalam Gubuk Tua yang jauh dari kampung. Bebek dan hanya hutan yang mengelilingi Gubuk Tua itu.
“Bagaimana ini Alan.” tanya Pak Tejo yang sudah mulai gelisah.
Alan berbisik kepada lelaki tua itu agar tetap tenang dalam situasi apapun. Jika mereka tak tenang mungkin para pengawas itu bisa saja melakukan kekerasan fisik.
Satu persatu Alan dan yang lainnya didorong paksa untuk masuk ke Gubuk Tua itu, satu persatu tangan dan kaki mereka diikat begitu kencang.
Agar mereka tak bisa lari ke mana-mana.
Setelah pekerjaan pengawas itu sudah selesai, mereka Langsung mengunci Gubuk Tua itu. Membuat Alan dan yang lainnya Tersiksa Dalam Kegelapan di Gubuk Tua itu.
Para pengawas itu langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Alan dan yang lainnya Di Dalam Gubuk Tua.
Mereka langsung menghubungi, atasan mereka. Memberi tahu bahwa pekerjaan mereka sudah selesai dengan baik.
Dengan begitu senangnya, wanita yang sudah membuat Arpan pingsan. Malah tersenyum senang, dirinya sangat senang bisa mengurung mereka.
“Para pegawai yang aku perintahkan cukup lumayan, mereka langsung bisa mengurung Dodi dan yang lainnya di gubuk tua.”
__ADS_1