
Sisi tidak menjawab pertanyaan sang penghulu dia hanya melamun memikirkan, nasib dirinya yang sekarang. Kenapa setelah dia menyesali semuanya, tiba-tiba cobaan datang padanya. Apalagi di momen kebahagiaan pernikahannya, rasanya Sisi seakan tersiksa dengan semua ini.
Apa kah ini hukuman untukkku, yang selalu jahat terhadap orang lain? gumam hati Sisi.
Semua nampak heran dengan lamunan pengantin wanita. Arpan memanggil calon istrinya," Sayang."
Seketika, lamunan Sisi membuyar mendegar panggilan Arpan saat itu.
"Gimana mau lanjut?" tanya Pak Penghulu.
"Lanjut!" jawab Arpan.
Saat ijab kobul di mulai, semua hening. Hingga para undangan mengatakan sah.
Arpan sungguh bahagia di kala itu, Ami dan juga Delia terseyum tanpa beban lagi. Tak menyangka Sisi bisa berubah sederastis ini dan menikah melanjutkan kebahagiaannya.
"Selamat ya Si," ucap Ami dan juga Delia.
Saat itu entah sejak kapan Sisi melihat lelaki bernama Pak Reza datang menghampiri dirinya terseyum ketir. Membuat Sisi seakan jijik.
"Selamat ya, perempuanku," bisik Pak Reza. Membuat Sisi tersentak kaget.
Dia syok berat dan hampir steres karna lelaki tua yang pernah mengencaninya datang tiba-tiba.
Entah dari mana mereka tahu tentang acara pernikahan Sisi saat itu.
"Jangan takut aku hanya ingin melihat kamu bahagia saja," bisikan lelaki tua itu terdengar lagi. Membuat Sisi seakan geram dan meluapkan kekesalannya, membuat semua orang di sana melirik ke arah Sisi. Yang tengah marah-marah.
Sisi sudah tak tahan lagi menerima undangan yang mengajak untuk bersalaman dengan nya hingga ia, memutuskan segera pergi dari panggung pelaminannya.
Membanting pintu kamar pengantinya dan mengunci, agar seseorang tidak mengganggu kesendiriannya.
__ADS_1
Arpan yang baru saja menyadari wanitanya tidak ada di sebelah kirinya segera bergegas untuk menemui Sisi saat itu.
Namun, sial. Pintu terkunci, Arpan takut dengan Sisi yang mengunci diri saat itu, ia takut jika Sisi melakukan hal-hal yang aneh. Hati Arpan tak tenang beberapa kali Arpan memanggil nama istrinya, tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Si, bukalah pintunya. Aku mohon kamu jangan seperti ini, apa kamu akan menyia-nyiakan pengorbanan Dipa?" teriak Arpan. Mengedor-gedor pintu kamar pengantinnya.
Arpan sudah tak tahan lagi dengan Sisi yang tidak menjawab panggilan nya, hingga ia nekad mendobrak pintu kamarnya sendiri.
Dan Brug. Sisi tengah memeluk kedua lutut nya, menagis terisak-isak seakan semua adalah karma buat dirinya.
"Ayolah Si, kamu jangan nangis. Kamu istriku, jangan takut aku selalu ada bersama mu," tutur kata Arpan begitu lembut, membuat Sisi mengusap bulir beningnya yang berjatuhan.
Arpan mendekat kearah istrinya seraya berkata," aku akan selalu di pihak kamu. Aku yakin kamu tidak salah," ucapan Arpan perlahan membuat Sisi. sedikit terseyum lebar.
"Nah, gitu seyum. Kan kelihatan cantiknya," rayu sang suami membuat Sisi semakin tenang.
Arpan mengajak Sisi untuk menemui tamu undangan, Namun Sisi menolak dengan alasan," aku malas ketemu dengan tamu undangan di luar. Cape.
Melirik kearah belakang, Arpan seakan tak tega dengan Sisi yang menjadi wanita pemurung di hari pernikahannya.
Arpan sedikit curiga dengan orang yang tiba-tiba datang padahal tidak di undang pada pernikahanya.
**********
Sesaat setelah sampai Arpan segera bersalaman dengan tamu undangan yang semakin banyak.
Saat itu, entah kenapa ada seorang ibu-ibu yang usil berbicara pada Arpan. Membuat gemuruh di dada resah, redam, kesal menjadi satu, membuat darah naik seketika keatas. Dimomen bahagia ini, Arpan ingin mendengarkan kata-kata yang membuat hatinya tentram, bukan malah membuat hatinya kesal.
"Nak, Arpan. Ganteng loh, kenapa mau sama janda bekas pelakor," ucap salah satu sosok ibu tua yang tak lain adalah tetangga dekat rumah Arpan. Rasanya lelaki yang menjadi pengantin di hari itu, ingin sekali memotong mulut sang ibu tua yang asal bicara itu.
Mengelus dada beberapa kali, berucap dalam hati, sabar, sabar.
__ADS_1
"Oh, ya. Padalah ibu juga punya anak, namanya Lala. Masih perawan anak baik. Kalau nanti dia pulang dari luar negri tak ibu kenalin deh," ucapan sang ibu tua itu. Sungguh di luar batas keprimanusiaan, entah kenapa Arpa sempat berpikir bahwa ibu di depannya benar-benar koslet seperti kabel listrik.
Hanya terseyum, Arpan hanya menampilakan seyuman ya saja yang ramah. Tanpa mendengar perkataan ibu tua di depannya.
"Oh ya, nanti kami bakal main ke rumah kamu ya? Boleh kan," ucapan Ibu tua itu sontak membuat. Arpan hanya mengeleng- gelengkan kepala secara perlahan, tak menyangka ibu tua itu berbicara seperti itu.
Karna Arpan sudah mengalah untuk diam, dia mengeluarkan jurus mengusir sang ibu dengan ucapan lembutnya," Ibu udah ceramahanya. Di belakang ibu masih banyak tamu undangan yang meminta bersalaman sama saya, sebaiknya menyingkir dulu ya."
Ibu tua itu terseyum malu, ia terlalu asik mengobrol sampai lupa di belakangnya ada tamu lain. Segera bergegas pergi. Seraya berkata," maaf ya nak Arpan."
Semenjak kedatangan ibu-ibu yang marah-marah dan mengatakan Sisi pelakor, membuat para tamu undangan menganggap diri Sisi itu tak pantas bersanding dengan Arpan.
Mereka yang mempunyai anak perawan berlomba-lomba saling menawarkan. Karna mereka baru tahu bahwa Arpan itu pengusaha sukses, melihat dekorasi pengantinya pun sungguh mengah dan mewah. Membuat ibu-ibu tak henti melihat pemandangan dokerasi pengantinnya.
Banyak yang menyangka Arpan itu lelaki sederhana, anak yatim piatu yang tak punya apa-apa. Karna Selalu mengurus sang adik yang sakit- sakitan, orang-orang tak menyangka Arpan itu begitu tampan jika di dandani. Karna setiap keluar rumah penampilannya macam pereman yang tak enak di lihat.
Apalagi sikap Arpan yang terkenal cuek membuat ibu- ibu kurang memperhatikannya dan juga menyapanya.
Baru ibu tua itu pergi ada sosok lelaki tua yang dulu pernah menghinanya, lelaki tua itu mempunyai anak gadis bernama Yonara. Yonara adalah teman sma Arpan saat itu, mereka sangat dekat dan berteman baik.
Ayah Yonara yang bernama Pak Ali. Tidak suka melihat Yonara berteman dengan Arpan, karna terlihat sekali dari penampilan Arpan yang seperti gembel.
Membuat Pak Ali selalu melarang anaknya berteman baik dengan Arpan
"Wah, bapak tak menyangka kamu menikah, dan juga mempunyai perusaahaan sendiri sekarang. Sudah lama kita tidak pernah betemu, karna dulu rumahmu dekat sekali dengan bapak. Sekarang menjadi jauh," ucap Pak Ali. Arpan yang mendengar perkataan Pak Ali terseyum seraya menjawab," enggak terlalu jauh ini pak hanya beberpa meter saja."
Ya, Arpan saat itu mendadak pindah rumah karna rumah yang dulu tidak layak di tempati lagi, karna keadaan rumah sudah pada ambruk.
Membuat Arpan harus memutar otak agar bisa pindah dan mempunyai rumah baru untuk sang adik agar layak di tempati.
Saat itu sosok wanita datang, membuat Arpan nampak kaget. Wanita berhijab merah dan berwajah tirus membuat mata Arpan terbelalak kaget.
__ADS_1
Hatinya tiba- tiba berdetak kencang melihat wanita itu. Ia terseyum kecut karna mengigat kejadian yang dulu. Berbeda dengan wanita itu, nampak terlihat murung melihat Arpan berpakaian pengantin.