Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 192 terhipnotis


__ADS_3

Alan tersadar dari tidurnya, ia melihat api masih menyala. Membuat Alan mengusap-ngusap kedua matanya. Angin tampak berhembus begitu menusuk pada kulit.


Ia sempat ingat bahwa dirinya harus terjaga malam ini.


"Ya tuhan. Sudah berapa jam aku tertidur?"


Alan langsung berdiri, berjalan untuk melihat apakah semua aman. saat ia melangkah ke arah orang-orang yang tengah tertidur pulas.


Alan tampak shock berat ketika melihat cucu Pak Tejo tak bersama dengan Dodi," Dodi kemana dia?"


Alan mulai mencari ke tempat Riri dan juga Dina, berharap Dodi berada di sana.


Namun saat kain yang sengaja menjadi penutup di buka, Riri tak ada di sana sama sekali.


"Ke mana mereka?"


Alan tampak syok berat, dirinya mulai panik. mencari ke sekeliling gubuk, tak menemukan keberadaan Riri dan juga Dodi.


"Dodi kamu ke mana, nak?"


Teriakan demi teriakan dilayangkan oleh Alan, namun tak ada jawaban Dodi menjawab teriakan dan panggilannya. Alan benar-benar dibuat cemas saat itu, ia mulai membangunkan Pak Tejo dengan terpaksa.


Namun entah kenapa Pak Tejo mendadak susah sekali dibangunkan, seakan Pak Tejo benar-benar terlelap dari tidurnya.


Alan langsung menghampiri Dina, berharap Dina langsung bangun dari tidurnya, saat Alan membangunkan Dina.


Dina tak kunjung juga bangun.


Alan tanpa heran kenapa semua orang susah sekali dibangunkan?


saat itu Alan mulai mencari sendiri keberadaan Dodi dan juga Riri. Hanya mengandalkan api yang menyala pada kayu yang ia pegang. Alan berharap jika Riri dan Dodi tak pergi jauh, dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Riri dan juga Dodi.


Tak terasa setengah perjalanan dilalui Alan, tak ada tanda-tanda keberadaan Dodi dan juga Riri, Alan berusaha mencari sebuah jejak untuk mencari keberadaan Dodi.


menatap ke atas tanah tidak ada 1 jejak yang ditinggalkan Dodi dan Riri saat itu juga, Alone benar-benar bingung harus mencari keberadaan mereka berdua ke mana lagi?


Tubuhnya merasakan rasa lelah yang teramat lelah, membuat iya mendudukan tubuh di atas pohon besar.


"Dodi, Riri di mana kalian?"


Alan terus melayangkan teriakan demi teriakan, hanya ada burung yang menjawab teriakannya itu. suara burung yang terasa menyeramkan membuat bulu Kuduk Alan serasa berdiri.

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah alam membuat dirinya mengerutkan jidat.


"Dodi, Riri. Apa itu kalian?"


Alan mulai berdiri, mengikuti suara langkah itu. suara langkah yang terdengar menginjak ranting-ranting pohon dan juga dedaunan kering.


"Dodi, Riri. Ini aku Alan."


suara langkah kaki itu seakan menjauh menghindari Alan, membuat alat berlari mengikuti suara langkah kaki itu yang semakin menjauh dari dirinya.


suara langkah kaki itu mulai terdengar semakin dekat, membuat Alan berlari terus menerus.


Namun secara tiba-tiba, langkah kaki itu hilang dalam sekejap. membuat Alan panik, kesana kemari mencari suara langkah kaki itu.


"Dodi, Riri."


tiba-tiba terdengar suara lagu khas Jawa, lagu yang di iringi musik zaman dulu.


"Suara lagu? Kenapa di hutan bisa ada nyayian seperti ini?"


Alan mulai mendengarkan lagu itu dengan seksama, mengikuti lantunan lagu itu dengan berjalan pelan. suara itu terdengar begitu jelas dibalik rerumputan yang menutupi jalan.


kedua mata Alan membulat ia tak menyangka jika di hutan ada pasar dan begitu ramai orang-orang di sana.


"Apakah ini mimpi, atau hanya halusinasi?"


Alan terus berjalan mengikuti jalan pasar itu, orang-orang tampak ramai membeli bahan-bahan makanan. banyak anak-anak yang berlarian.


dibalik wajah orang-orang itu tidak ada senyuman dan juga tawa dari wajah, terlihat sekali wajah yang begitu pucat seakan orang yang sudah meninggal.


"Kenapa dengan wajah mereka?"


Tiba-tiba saja Alan menabrak seseorang yang tengah berjalan tegak tanpa ekspresi sedikitpun, membuat Alan tersungkur jatuh begitupun dengan orang itu.


saat alam mulai berdiri membenahi badannya, iya mulai meminta maaf dan membantu orang yang sudah lihat tabrak tanpa sengaja.


Namun betapa kagetnya Alan pada saat itu, kepala orang itu seketika menggelinding ke arah dirinya. Membuat Alan shock berat dan ingin berlari dari kepala yang mendekat ke arahnya.


Alan baru sadar bahwa mana mungkin di dalam hutan masih ada orang-orang yang hidup, kecuali arwah arwah yang sudah meninggal.


saat itulah ia berusaha menenangkan diri agar tidak berteriak dan membuat orang-orang di sana terganggu.

__ADS_1


Alan berusaha untuk tetap tenang, mengambil kepala yang menggelinding ke arah dirinya. membantu lelaki itu, menempelkan kepalanya seperti semula.


"Maafkan saya."


Orang itu malah pergi begitu saja tanpa berucap sedikitpun pada Alan, membuat Alan sedikit bernapas lega sembari mengusap-usap dada bidangnya.


Alan adalah seorang lelaki yang tak percaya hal-hal gaib, namun saat hal-hal gaib itu menampakan diri pada kedua matanya membuat ia yakin dan percaya. bawa hal gaib itu adanya nyata.


Alan berjalan terus sampai rasa lelah terasa pada dirinya, Iya bingung harus mencari Dodi dan Riri ke mana lagi. Ingin rasanya ia bertanya kepada orang-orang yang tengah berjalan ramai berbelanja. Tapi tidak mungkin?


orang-orang di sana seakan menutup mulut mereka, tak berbicara cara atau pun mengobrol wajah mereka datar dan begitu dingin.


Alan tak berputus asa pada saat itu, ia terus mengikuti suara nyanyian khas Jawa yang memang ia tahu bahwa nyanyian itu sudah lama punah. karena nyanyian Itu nyanyian zaman dahulu.


pada saat itulah akan menemukan titik terang di mana, dirinya menemukan Riri yang tengah menari mengikuti irama gendang dan juga nyanyian.


"Itu Riri."


dengan rasa senang Alan terus berlari menghampiri Riri.


setelah sampai di hadapan Riri, Alan mulai memegang pundak Riri. membuat wanita itu seketika membalikkan wajah kearah Alan.


Dan sialnya, wanita itu bukanlah Riri. hanya postur tubuhnya yang sama dengan Riri.


wanita itu tersenyum lebar. mendekat ke arah Alan, mencoba untuk menguasai pikiran Alan pada saat itu.


selendang yang ia kenakan, ia lingkarkan pada leher Alan, agar alam mau menari dengan dirinya.


Dodi yang berada di sisi Alan, terus meronta-ronta menahan cekikan Riri yang dirasuki oleh seorang wanita.


"Om Alan?"


Alan menatap gadis yang mengikatkan selendang pada lehernya, Gadis itu begitu cantik Ayu dan berbadan seksi. membuat kedua mata alam tak henti menatap wajahnya.


Alan seakan terhipnotis dengan wajah wanita itu, membuat tubuhnya dengan refleks menarik. sedangkan wanita itu terus tersenyum dihadapan Alan.


"Om, sadar. Dodi ada di sini."


Dodi berusaha berteriak, padahal dirinya berada di samping Alan.


kenapa bisa Alan tak menyadari keberadaan keponakannya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2