Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 111 Bu Ira menemui Rafa


__ADS_3

Rasa sesal kian dirasakan Arsyla, wanita berbulu mata lentik berhidung mancung itu terus meminta maaf pada sang ibu.


Bu Ira, sudah menunggu hari dimana hari yang sudah ia rencanakan sejak kemarin.


"Ibu, mau kemana pagi-pagi sekali?" tanya Arsyla. Dengan seyum lebar. Wanita berbulu mata lentik itu kini tak murung lagi seperti kemarin.


"Ibu ada urusan penting, sayang!" jawab Bu Ira.


Arsyla langsung memeluk sang ibu dan berkata," jangan pergi temani Arsya di rumah, bu."


Tangan yang sudah terlihat mengkerut kini mulai mengelus kepala Arsyla yang tertutup hijab.


"Nanti malam ibu akan temani kamu, sayang."


Arsyla langsung melepaskan pelukan sang ibu, terseyum senang seraya berkata," benaran ya, bu!"


Bu Ira menganggukan kepala. Terseyum lebar seraya mencium kening sang anak.


Di sisi lain, Wanita bermata bulat yang tak lain Sisi menelpon Arpan suaminya.


Sisi mulai meraih benda pipih yang tak jauh dari hadapannya, ia mulai menekan nomor yang tertera dengan panggilan sayang.


Panggilan tersambung, hingga Arpan mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo, ada apa sayang?" tanya Arpan dalam sambungan telepon.


Sisi mulai menceritakan kepergian Bu Ira, yang terlihat dari cctv membawa benda tajam yang tak lain adalah pisau. Ada rasa curiga Bu Ira akan menemui Rafa saat itu juga.


"Aku harap, kamu bisa mengikuti Bu Ira sekarang!" jawab Arsyla pada inti pembicaraan.


"Baiklah, Rudi akan mengikuti Bu Ira saat ini juga," ucap Arpan.


Sisi langsung mematikan panggilan teleponnya sebelah pihak, tanpa basa basi Sisi langsung mencari informasi di kamar Bu Ira saat ini juga.


Namun, saat percakapan Bu Ira, ternyata terdengar oleh Arsyla yang sudah berdiri mematung di abang pintu, tanpa di ketahui Sisi.


Apa benar yang dikatakan Mba Sisi, bahwa ibu akan menemui Rafa. Bagaimana ini, aku takut sekali, jika benar ibu akan menemui Rafa. Aku takut ibu kenapa-napa, gumam hati Arsyla.


Dengan sigap Arsyla mengganti baju, walau sebenarnya badannya masih lemas, tapi dia ingin segera tahu apa yang akan dilakukan ibunya pada Rafa.


Sedangkan Sisi sibuk dengan mencari informasi di kamar Bu Ira.


"Mudah-mudahan saja aku dapat informasi di kamar Bu Ira saat ini juga."

__ADS_1


Sesaat mencari pada lemari, Sisi menemukan satu kotak kecil, entah apa isi kotak itu. Tapi kotak yang ditemukan Sisi ternyata dikunci begitu rapat.


Sisi mulai membawa kotak kecil yang ia temukan pada lemari Bu Ira. Tapi saat langkah kaki wanita bermata bulat itu melangkah menuju abang pintu. Tiba-tiba Sisi terjatuh dan melihat di bawah meja rias terdapat buku yang tertumpuk begitu rapih. Sisi melihat ada buku usang yang terlihat begitu kotor, membuat Sisi semakin penasaran.


Wanita bermata bulat itu mulai bangkit, dari atas lantai, mengambil satu buku usang yang baru saja ia lihat


"Ini seperti Diary?"


Dengan sigap Sisi mengambil buku diary yang telah usang itu.


Setelah mengambil semua barang bukti Sisi langsung keluar dari kamar Bu Ira.


Terlihat Arsyla menangis dengan penampilan yang terlihat rapi.


"Kamu kenapa, Arsyla?" tanya Sisi yang setengah kaget. Arsyla sudah berdiri di hadapnnya.


Arsyla mulai memegang tangan Sisi seraya memohon untuk mengikuti Bu Ira pergi, yang Arsyla tahu bahwa Bu Ira akan pergi menemui Rafa, lelaki yang telah bertindak senonoh padannya.


Wanita bermata bulat itu sempat kaget, kenapa Arsyla bisa berkata seperti itu. Ia tahu bahwa Bu Ira pergi menemui Rafa.


"Maafkan Arsyla yang sudah lancang menguping pembicaraan Mba Sisi di telepon."


Sisi mulai kaget, pantas saja Arsyla cemas dengan ibunya sendiri.


"Ya, sudah kalau begitu. Kita berangkat."


"Arpan."


"Arsyla, sebaiknya kamu ikut denganku! da kamu. Sayang, kamu tunggu di rumah saja, ya."


Arsyla dan Sisi mengangguk setuju dengan perkataan Arpan saat itu.


Sisi hanya menunggu di rumah, sedangankan Arsyla ikut dengan Arpan.


Sedangkan Rudi di dalam perjalanan tengah mengikuti Bu Ira yang menaiki mobil taksi.


Untung saja Arpan sudah menyambungkan Google Map pada ponsel Bu Ira. Sampai Rudi tak susah payah mencari keberadaan Bu Ira saat itu juga.


Dreet ....


Panggilan telepon dari Arpan. Dengan sigap Rudi mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo, Rudi. Loe ada dimana?" tanya Arpan dalam sambungan telepon. Rudi yang tengah mengendarai mobil menjawab," gue lagi ngikutin taksi yang di tumpangi Bu Ira. Loe dimana?"

__ADS_1


Arpan menjawab dengan menaiki mobil bersama Arsyla." Gue lagi di rumah untuk jemput Arsyla, sebentar lagi gue nyusul kesana!"


"Oke, loe hati-hati di jalan."


Sabungan telepon pun terputus oleh sebelah pihak. Dimana Rudi yang fokus mengikuti Bu Ira saat itu juga.


Sedangkan Arsyla dan Arpan masih menyusul mobil Rudi saat itu juga.


"Aku takut jika Rafa, macam-macam pada ibu," ucap Arsyla di dalam mobil. Saat itu Arpan mulai menenangkan wanita berbulu mata letik itu.


"Kamu harus tenang, Ibu kamu tidak akan kenapa-napa. Yakin padaku," ucap Arpan. Dengan fokus mengendarai mobil.


"Aku berharap begitu, Ka Arpan. Karna Rafa adalah orang yang sangat licik. Aku takut ibu kenapa-napa," ucap Arsyla dengan rasa cemas dan kegundahaan hatinya.


"Kamu harus tenang, semua akan baik-baik saja."


Arsyla berharap sekali, bahwa ibunya akan baik-baik saja.


************


Bu Ira yang menaiki taksi tak sabar ingin menemui Rafa orang yang telah membuat anaknya menderita.


Rafa sosok anak yang baik di mata Bu Ira. Dia adalah lelaki yang ramah dan tak pernah bertingkah jahat, tapi kenapa saat ini dia malah membuat Arsyla menangis dengan merenggut masa depan Arsyla begitu saja.


"Rafa, ibu tak menyangka kamu sudah membuat Arsyla menangis. Tapi sekarang ibu akan membuat kamu merasakan apa yang telah kamu perbuat pada Arsyla."


Bu Ira duduk dengan tenang, tak sadar jika di belakang mobilnya ada yang mengikutinya.


Melihat ponsel yang sudah mulai usang, Bu Ira melihat isi pesan dari Arsyla.


[ Ibu pulang ya. Arsyla rindu ibu.]


Pesan Arsyla untuk Bu Ira agar menggalkan pertemuannya dengan Rafa.


"Arsyla, maafkan ibu, sekarang ibu ingin menemui Rafa saat ini juga. Ibu tak rela jika anak ibu harus menerima semua derita karna ulah lelaki macam Rafa."


**********


"Gimana, ibu kamu membalas pesan kamu Arsyla."


Arsyla menganggukan kepala. Seraya berkata kepada Arpan," ibu tidak membalas pesanku, ka Arpan."


Kenapa Bu Ira begitu nekad ingin menemui Rafa.

__ADS_1


Arsyla yang tak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa berdoa. Untuk keselamatan ibunya saat ini.


Mudah-mudahan Bu Ira tidak kenapa-napa, gumam hati Arpan.


__ADS_2