Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 37


__ADS_3

Suara langkah kaki itu semakin mendekat, kearah kamar mandi pintu yang sudah Sisi jebol.


Dengan terburu-buru dan rasa takut wanita berwajah bulat itu segera mungkin merapihkan bajunya.


Debaran jantung wanita berwajah bulat itu seakan tak karuan. Rasa gelisa di campur aduk dengan rasa takut.


"Sisi, ini ibu nak, kamu tenang saja," ucap wanita tua yang menghampiri Sisi, dan ternyata itu adalah mertua Ami. Wanita berwajah bulat itu hampir saja berpikir bahwa yang mendekat ke arahnya adalah Pak Hendra, lelaki tua bangka yang terus meneror dirinya dimana pun ia berada.


"Untung saja ibu aku kira siapa?" tangan wanita berwajah bulat itu memegang dadanya menenagkan debaran yang membuat dia ketakutan, Bu Nunik memegang tangan kiri Sisi agar dia pergi lewat belakang. Karna lelaki tua yang menjadi paman Ami masih berada di rumah.


Sisi menuruti perkataan Ibu Nunik, berjalan mengendap ke luar lewat pintu belakang. Saat mereka mengendap-ngendap ke luar.


"Itu kah. Ibu," ujar Ami yang berjalan pelan mengunakan tongkatnya.


Keringat wanita berwajah bulat itu berhamburan. Matanya mendelik kesal ketika Ami sudah berada di depan mata.


"Iya, ini ibu Nak. Kamu mau kemana?" ucap Bu Nunik sembari menyuruh Sisi ke luar lewat pintu belakang.


Sisi dengan terburu-buru pergi sendirian menuju pintu belakang rumah.


"Sial, ternyata terkunci," ucap wanita berwajah bulat itu. Giginya mengigit bibir bawah, rasa kesal. Karna di kerjai habis-habisan.


"Cari ini bukan."


Bu Sumyati berdiri memegang kunci yang di butuhkan oleh Sisi saat itu.


"Kamu, cepat kembalikan kunci itu."


wanita berwajah bulat itu, menghampiri Bu Sumyati dan hampir merebut kunci yang tegah Bu sumyati pengang.


"Enak aja,"ucap Bu Sumyati sembari melempar kunci yang ia pegang ke kolong rak.


Sisi yang di buat kesal, seketika rahangnya mengeras. Mengepal kedua tangannya.


"Dasar pembantu tak tahu diri."


Bu Sumyati tertawa melihat Sisi yang sudah di rendung amarah.


Wanita berwajah bulat itu langsung membukukan badan mencari dimana kunci itu berada.


Saat di raba, akhirnya ia menemukan kunci itu, dengan lem yang melekat pada tangannya.


"Lem, sial."


"Ahahah. Emang enak."


Bu Sumyati meninggalkan Sisi begitu saja.


"Si, kamu belum pergi juga?" tanya ibu menghampiri wanita berwajah bulat itu.


"Ibu bisa liat tidak!" Sisi meperlihatkan kunci yang sudah menempel lekat pada jari jeramarinya.

__ADS_1


"Ya ampun Si, ko bisa! Biar ibu yang buka untung ibu punya kunci cadangan."


Akhirnya Sisi bisa ke luar dari rumah itu juga. Sesaat dia ke luar satu hantaman mengenai dia dari atas.


"Ah, apa ini," teriak Sisi membuat Bu Sumyati terkekeh tertawa di atas genteng.


"Sisi itu air comberan, ih ibu mau pergi ke kamar mandi ibu kena juga."


"Bu, jangan tinggalin Sisi."


Bu Nunik segera menutup pintu belakang, ia bergegas membersihkan diri. Karna wanita tua itu tidak suka dengan bau dan penampilan acak-acakan.


"Pasti ini kerjaan pembantu tadi."


Sisi berjalan pelan melihat keadaan di luar ternyata Pak Hendra sudah tidak ada.


Dia berjalan menelusuri jalanan, karna dia hanya mengandalkan taksi.


Setiap jalanan tidak ada yang mau menumpanginya karna keadaan yang sangat menghuatirkan. Anak-anak yang melihatnya melempari batu sembari berkata.


"Orang gila, orang gila."


Sisi menjerit, memarahi anak-anak yang menghinanya.


Saat di perjalanan pulang, Rudi melihat keadaan Sisi yang seperti itu. Karna ia tak tega, Rudi segera meberhentikan mobilnya.


"Kamu kenapa Si?" tanya Rudi setelah ke luar dari mobil.


"Pak Rudi."


"Kenapa dengan kamu?" tanya Rudi, Sisi hanya terdiam dan menagis. Ia melambai-lambaikan tangan menunggu taksi yang lewat.


Untung saja ada taksi yang lewat, mau berhenti walau pun keadaan Sisi seperti itu.


"Ada apa dengan Sisi, apa Ami mengerjai Sisi sampai seperti itu."


Rudi segera pergi menemui istrinya Ami. Mepertanyakan semuanya.


Hp berbunyi, Rudi langsung melihat isi pesan dalam ponselnya itu.


[ Maafkan saya Pak Rudi, saya awalnya berusaha untuk merubah diri dan meminta maaf pada Ami istri bapak, sekaligus sahabat saya. Saya sudah tidak mau menggangu keluarga bapak, maka dari itu saya datang ke rumah Ami untuk meminta maaf . Tapi malah perlakuan ini yang saya dapatkan. Apakah seorang pendosa tidak pantas meminta maaf.]


*******


Sisi yang tengah berada dalam taksi tertawa sembari menatap layar ponselnya.


"Sebentar lagi kesalahan akan tertuju pada wanita buta itu?" ucap Sisi terseyum sinis.


Setelah sampai di rumah Sisi membersihkan diri, berendam di bak mandi.


"Tak payah, aku menghasup wanita tua itu. Sampai akhirnya aku mempunyai tepat tinggal sementara."

__ADS_1


Rendaman air hangat menenangakan pikiran wanita berwajah bulat itu.


Satu pesan datang dari notipikasi Hp Sisi saat itu.


Luky [ Si, Dimana?]


"Ada apa, Luky mengirim pesan pada no Wathsaap ku."


[ Ada di rumah! Ada apa?]


[ Loe bisa bantu gue.]


"Maksud dia apa bantu gue." Sisi langsung terperanjat dari bak mandinya, ia kaget dengan perkataan Luky. Teman kerjanya.


[ Bantu apa?]


[Sinta hamil dan gue bingung harus berbuat apa? Sedangkan Sinta suaminya 2 hari lagi pulang dari Dinasnya.]


"Oh, pantas saja pas di kantor. Si Luky kaya orang bego ngelamun gitu. Ternyata dia sudah menghamili istri orang."


[ Ahahah, terus apa urusannya sama gue.]


[Ya elah Si, jangan pura-pura bego lah loe. Gue butuh bantuan loe. Kalau Sinta ketahuan hamil gue bisa masuk penjara. Loe tahu sendiri kan sudah lama suami Sinta tidak pulang. Pastinya suaminya akan curiga.]


[ Terus ke untungan gue bantu loe apa?]


[ Apa yang loe mau gue turutin. Termasuk loe dekat dengan si Rudi.]


"Waw, kesempatan bagus." Sisi semakin bersemangat setelah mendengar Luky akan membantu dia.


[ Apa loe yakin.]


[Yakin, percaya deh loe sama gue.]


[oke, asal loe bisa deketin gue dengan Rudi.]


[Oke.]


Sisi tertawa, rencananya semakin berjalan mulus. Sahabat Rudi yang setia terhadap dia. Mampu menghianati.


"Hidup ini tidak ada yang sempurna, sahabat pun bisa menjadi berhianat sewaktu-waktu," ucap wanita berwajah bulat itu, menatap wajahnya di cermin.


Setelah Sisi memakai baju, dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia langsung melihat layar ponselnya.


Ibu mertua Ami mengirim pesan.


[ Ibu puas, melihat Ami di marahi.]


"Wah, wah. Apa lagi ini, keberuntungan. Ternyata berpihak kepadaku saat ini.


Ami akan musna saat ini juga, jangan pernah main-main dengan Sisi. Dulu aku pernah bergantung kepadamu, tapi sekarang. Aku tidak sudi."

__ADS_1


Tutur kata wanita berwajah bulat itu semakin mengerikan. Ia lebih licik dari pada yang di bayangkan.


Rudi dan Ami akan kah mampu melewati semua ini.


__ADS_2