Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 91 Sakit perutnya Arsyla.


__ADS_3

Semalaman Arsyla menahan sakit pada perutnya, ia benar-benar menjadi wanita bodoh saat itu. Terperangkap jebakannya sendiri, kesal yang kini ia rasakan. sang ibu datang. Membawakan obat dari apotek. Dengan segera memberikan pada anak semata wayangnya sendiri.


"Kamu kenapa, ko tiba-tiba sakit perut Arsyla?" tanya sang ibu, mengusap perut anaknya. Yang masih terasa sakit.


"Semua gara-gara mak lampir itu!" jawab Arsyla. Mendengkus kesal, tak suka dengan Sisi. Istri dari Arpan.


"Kamu ini kenapa, nyalahin terus Sisi. Dia itu wanita baik-baik asal kamu tahu," nasehat sang ibu terlontar lagi kepada sang anaknya. Bu Ira benar-benar kesal dengan anaknya yang asal menuduh.


Arsyla terdiam tidak suka di nasehati, dia malah berbaring pada kasur menutup wajahnya dengan selimut.


"Kalau ibu ngomong itu dengerin Arsyla."


Arsyla benar-benar marah saat itu, dia seakan benci dengan sang ibu yang suka menasehatinya.


Padahal Bu Ira menasehati anaknya itu juga demi kebaikan dan masa depannya sendiri.


Arsyla, kapan kamu berubah nak, ibu rindu kamu yang dulu. Kamu yang baik hati, selalu mendukung ibu dan bapakmu, tapi sekarang malah menjadi anak yang sering marah- marah dan juga rasa kesal, gumam hati sang ibu. Tak terasa di pelipih matanya mengeluarkan air mata, hingga mengalir pada pipinya.


Bu Ira meninggalkan anaknya, yang terbaring menutup tubuhnya dengan selimut. Ia merasa kecewa dengan sifat anaknya yang seperti itu.


"Arsyla baik-baik saja bu?" tanya Sisi yang berpura-pura panik. Mempertanyakan Arsya saat itu.


"Alhamdullilah baik nak!" jawab Bu Ira terlihat sedikit lesu.


"Sykurlah, maafin Sisi ya. Bu. Takut Arsyla keracunan sup buatan Sisi," ucap wanita berwajah bulat itu. Menampilkan rasa penyesalannya.


Sisi meraih tangan Bu Ira dan berkata," apa ibu memaafkan ku."


"Kamu enggak salah nak Sisi, mungkin anak ibu kondisi badannya memang lagi gak fit jadi begitu!" jawab Bu Ira. Menundukan pandang, berusaha menahan air mata yang akan mengelir lagi mengenai pipinya yang mulai berkerut.


Tanpa basa-basi Bu Ira berpamitan pada Sisi, hatinya seakan rapuh saat itu.


Sisi yang melihat Bu Ira di perlakukan oleh anaknya merasa geram. Ia kesal dengan gadis bernama Arsyla, ingin rasanya memberi sedikit pelajaran agar gadis bernama Arsyla itu berubah.


Mendengkus kesal itu yang bisa Sisi lakukan saat itu. Sekarang Arpan lagi pergi ke luar kota, jadi suaminya belum mengetahui keberadaan Arsyla di rumah.


Sisi menemui Delia yang terbaring di atas ranjang, dengan raut wajah yang sangat kesal. Mendudukan pinggul ke atas sofa empuk, menyederkan punggung pada sofa itu.


"Kamu kenapa marah-marah enggak jelas gitu?" tanya Delia. Ia mengkerutkan jidanya. Melihat Sisi yang masih terbawa emosi.


"Akh, aku kesal. Delia!" jawab Sisi melipatkan kadua tangannya.


"Kesal kenapa?" tanya Delia.


"Kamu tahu enggak. Si Arsyla itu, anak Bu Ira. Masa naro obat sakit perut dalam sup buatanku, untung saja aku langsung nengetahui rencana jahatnya. Bisa-bisa yang jadi korban kamu Delia," gerutu Sisi.

__ADS_1


Delia hanya mengeleng-geleng kan kepala tak percaya jika Arsyla gadis yang baru datang itu, sudah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain di rumah saudaranya sendiri.


"Terus sekarang supnya kemana?" tanya Delia. Ia penasaran dengan cerita selanjutnya.


"Asal kamu tahu, aku sudah memberikan sup itu ke Arsyla. Dengan beralasan kamu enggak mau, ya sudah aku kasih saja ke dia biar tahu rasa!" jawab Sisi. Seketika ia tertawa terbahak-bahak. Senang dengan pertunjuka tadi siang.


"Kamu benar-benar keterlaluan Si, tapi kamu hebat juga!" jawab Delia.


"Ya, dong pastinya Sisi, dilawan."


Delia mengarahkan kedua jempolnya pada Sisi tanda sahabatnya itu hebat.


Saat itu Arsyla mendengar obrolan Sisi dan Delia, dengan mengintip di balik pintu.


Ternyata benar dungaanku, wanita itu berpura-pura peduli dan menjebak balik kepadaku. Awas aja kamu akan tahu akibatnya, gerutu hati Arsyla.


Tiba-tiba Alan memegang pundak Arsyla saat itu membuat gadis itu menjadi kaget.


"Arsyla kenapa kamu ada di sini?" tanya Alan.


Sisi yang mendengar suara Alan langsung ke luar dari kamar Delia, ia benar-benar kesal karna selama ini Arsyla selalu mengintip obrolan Sisi dan Delia.


"Maaf, Mas Alan. Arsyla hanya ingin bertemu dengan Tente Sisi," ucap Arsyla canggung.


"Ada apa?" tanya Sisi melipatkan kedua tanganya.


Sisi langsung pergi mengambil satu selimut yang di pinta oleh Arsyla.


Asyla mengelus dada, ia takut bahwa Alan akan curiga pada dirinya. Karna kalau Alan curiga bisa-bisa rencana untuk menghancurkan Arpan gagal.


Saat itulah Sisi kembali lagi membawa selimut tebal untuk Arsyla.


"Ni, selimutnya." Sisi menyodorkan selimut berukuran besar dan tebal. Sehingga membuat Arsyla kewalahan membawany.


"Makasih tan."


Arsyla menarik selimut itu dengan seluruh tenanga.


Saat itulah Alan membantu, namun Arsyla pura-pura menolak. Dan pada akhinya. Asyla tersungkur jatuh.


Sisi dan Alan malah mentertawakan Arsyla saat itu.


Wanita berbulu mata lentik itu, malah mendengkus kesal tidak suka dengan kedua insan yang mentertawakan dirinya.


Alan melangkah maju ke arah Arsyla. Berniat untuk membantu mengotong selimut tebal itu.

__ADS_1


Sisi malah menarik lengan Alan. Berharap agar Alan membiarkan Arsyla kewalahan sendiri.


"Biarin aja, biar dia kewalahan sendiri."


"Apa gak tega."


"Kenapa harus tega, dia juga udah berani."


"Berani apa maksud kamu Si?"


"Siang tadi dia menaru obat sakit perut pada sup buatan aku untuk istri kamu."


"Apa benar itu?"


Sisi menganggukan kepala, membicarakan kejadian tadi pagi pada Alan.


Saat itu Alan mempertanyakan soal sebutan Arsyla pada Sisi.


"Sejak kapan kamu di panggil Tante Sisi. Oleh Arsyla."


"Emang kenapa?"


"Pantas aja, kelihatan tua."


"Alan kurang ajar kamu. Sebut aku tua!"


Arsyla menendang lutut Alan, hingga ia sedikit kesakitan.


"Gimana enak enggak di tendang?"


"Sisi, Sisi kurang waras kamu ya!"


Delia yang mendengar perkataan suami langsung berteriak.


"Maklum epek kesepian."


Pipi Sisi seketika memerah.


Sisi berpamitan untuk segera tidur karna malam semakin larut, membuat mulut wanita berwajah bulat itu menguap beberapa kali.


Aryla masih menarik selimutnya, keringat mulai berjatuhan pada tubuhnya. Ia kesal sekali, saat itu. Dengan alasan mempertanyakaan selimut. Membuat dirinya menderita, harus mendorong selimut yang begitu berat dan terasa tebal.


Sisi yang melewati Arsyla saat itu, menutup mulut tertawa dan merasa senang.


"Arsyla .. Arsyla. Kasian banget ya, kamu harus jadi seperti itu, emh. Itu akibatnya jadi anak banyak tingkah belajar jadi jahat." ucap pelan Sisi.

__ADS_1


.


__ADS_2