Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 30


__ADS_3

"Ini rumah ibu, kamu boleh tinggal di sini," ucap wanita tua yang tak lain ibu mertua Ami. Ia mengijinkan Sisi tinggal di rumahnya.


"Wah, Terimakasih bu."


Rencana Sisi berhasil dia mampu mengelabui, Ibu mertua Ami.


Mendekati dan menghancurkan sekaligus.


Namun di sisi lain Rudi sangat khuatir melihat kedekatan mereka berdua,


Semenjak melihat vidio itu Rudi masih penasaran dengan dokumen yang ada pada ibunya, setiap ia mencari ke kamar sang ibu. Tetap saja tidak menemukan berkas itu.


Namun, sesaat setelah melihat Ami yang tergeletak pingsan. Rudi menemukan lembaran kertas yang sudah tergulung rusak hingga ia mencoba untuk menyimpan.


Setelah selesai mengantarkan ibu dan Sisi Rudi kembali pulang.


"Gimana pah, dengan keadaan Sisi?"tanya Ami dengan meraba jas suaminya itu.


"Dia tidak kenapa-napa! Malahan dia sekarang tinggal di tempat ibu," wajah Rudi sayu. Mengatakan hal itu kepada istrinya.


Ami terdiam.


"Maaf."


"Sudah tak apa pah."


Rudi yang masih terdiam di dalam kamar tidur. Mengigat kejadian dimana Alan memegang tangan Ami, ia seakan napak cemburu melihat kedekatan Alan dan Ami. Seakan bukan saudara.


"Apa mereka bukan saudara."pertanyaan yang makin melintas di kepala Rudi membuat dia tiba-tiba memukul tembok.


"Ada apa pah?" Ami kaget mendengar hantaman keras dari kamar yah.


Sampai ia lupa menyembunyikan ke butaanya pada suaminya itu.


"Tangan mu berdarah pah," ucap Ami memegang tangan sang suami dan mengelap-ngelap dengan kain bajunya.


"Mana mungkin mamah bisa tau tangan ini berdarah."


Ami terdiam, bibirnya keluh. Mendengar perkataan sang suami.


"Jawab pertanyaan papah? Apa mamah berpura-pura buta," teriak Rudi. Menatap sang istri tercinta, dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Jawab Mah. Kenapa? kenapa harus berbohong," air mata jatuh dari pelipih Rudi. Tak bisa di tahan lagi. Rudi merasa di bohongi oleh sang istri.


"Kenapa diam? Ayo jawab," ucapan Rudi semakin keras. Napsanya begitu berat menahan kekesalan yang menusuk di dada.


"Ayo jawab. Apa benar dugaan papah, kamu ada main dengan Alan. Si dokter sialan itu."

__ADS_1


Mata yang menunduk menatap ke arah Rudi.


"Maksud papah?" tanya Ami yang masih bingung dengan perkataan Rudi.


"Benarkan, kemarin di rumah sakit kalian habis berpegangan tangan. Dan lalu apa lagi yang kalian lakukan."


"Apa? Papah gila, Alan itu tak lain adalah keponakan aku sendiri."


"Bohong."


"Kenapa papah tidak percaya."


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Dan membuktikan apa benar si dokter itu adalah keponakan mamah."


Ami semakin tak mengerti dengan perkataan suaminya itu. Kenapa suaminya bisa berpikir, sedemikian rupa.


Rudi menarik Ami, membawa dia kedalam mobil. Wanita berwajah tirus itu, sempat menepis tangan suaminya. Namun berhasil di raih Rudi. Memegang lengan sang istri tanpa sadar, membuat Ami seakan kesakitan.


"Sakit pah," teriakan Ami kepada Rudi. Tapi lelaki bertubuh kekar itu tak mendengar perkata Ami. Rudi sungguh di butakan dengan amarah dan cemburu.


Membawa Ami masuk ke dalam mobil.


"Pah, hati-hati. Jangan ngebut. Ini bisa kita selesaikan dengan kepala dingin," ucap Ami. meraih tangan Rudi.


"Sebaiknya mamah diam, kita selesaikan masalah ini. Dihadapan dokter itu."


Setelah sampai di rumah sakit.


"Alan, ke luar kamu," teriak Rudi membuat para suster menatap kearah lelaki berbadan kekar itu. Semua orang berbisik satu sama lain, pasien dan perawat.


Alan yang baru saja memerikasa pasien di ruang ugd, langsung datang mendengar teriakan itu.


"Pah, sudah. Ini rumah sakit," Rudi sudah tidak mendengarkan perkataan Ami. Ia malah mengandalkan amarahnya.


Ami menangis melihat Rudi yang sekarang, lebih agresip.


"Ada apa?" Alan datang menghampiri Rudi yang memegang tangan Ami, begitu keras.


"kita bicarakan di ruangan kamu sekarang," ucap Rudi. Menatap sinis pada lelaki berbaju putih itu.


Ami hanya mengeleng-geleng kepala, memberi kode. Agar Alan tidak mau menerima tawara Rudi. Ami takut ada perkelahian di antara mereka.


"Baik, sekarang kalian ke ruanganku."


Mereka beriringan masuk ke ruangan Alan. Rudi mendudukan istrinya di kursi.


"Ada apa dengan Mba Ami, kenapa? Mba menagis," ucap Alan yang melangkahkan kaki menghampiri Ami yang terduduk lemas. Dengan isakan tangis.

__ADS_1


"Jangan bergerak, atau kamu tau akibatnya," Rudi mengepal tangan kanannya.


Alan yang napak bingung dengan tingkah Rudi, seperti anak kecil.


"Apa kalian adalah saudara?" tanya Rudi pada Alan.


Mendengar perkataan itu, Alan mengereyitkan matanya yang sipit.


Sembari tertawa tebahak-bahak.


"Rudi apa kamu sudah gila, kita ini saudara!"


Rudi tak puas dengan perkataan yang di lontarkan oleh Alan.


"Jawab, dengan benar."


Brug satu hantaman terdengar keras, Rudi memukul meja yang ada di depannya.


Alan yang masih syok dengan tingkah Rudi akhirnya tertunduk dan memberitahu sebenarnya.


"Sebenarnya, kita bukan saudara kandung. Melainkan Ami hanya anak yang di angkat oleh papahku sebagai keponakannya. Apalagi almarhum keluarga Ami, menyuruh papah untuk menjaga Ami baik-baik."


Rudi mengelap kasar wajahnya, seakan semua terjawab sudah.


"Berarti kalian sudah membohongiku."


"Tenang dulu pah, biar mamah jelaskan?"


"Alah, jelaskan apa lagi, semuanya jelaskan. Berpura-pura buta agar selalu mendapat perhatian dokter ini kan."


"Papah, mana mungkin aku dan Alan mempunyai hubungan. Kita hanya di takdirkan menjadi saudara," Ami memperjelaskan semuanya, tapi Rudi malah terdiam. Seakan dia di bohongi selama ini.


"Percayalah pah?" Ami meraih tangan Rudi menciumnya beberapa kali.


"Bangaimana pun, mamah tidak akan membuat papah kecewa."


Bibir Rudi seketika keluh, tidak dapat berkata apa-apa.


"Benar apa kata Mba Ami, mana mungkin aku mencintai saudara angkatku sendiri," ucap Alan dadanya sesak di kala Ami benar-benar sabar dalam menghadapi Rudi yang sangat pemarah.


Mana mungkin cinta Alan bisa musna begitu saja, menatap Ami yang menagis seperti itu, seakan Alan ingin memeluknya menenangkan. Tapi itu tak mungkin. Dirinya hanya sebatas saudara tak lebih.


Rudi betapa beruntungnya kamu mendapatkan wanita sekuat, Ami. Kalau aku minta aku ingin bertukar denganmu. Hati sang Dokter berbisik di kala melihat pemandangan yang membuat hatinya begitu sakit. Meraba dada menahan semua rasa perih, menyimpan semua cinta untuk wanita yang sudah mempunyai anak dan suami.


"Percayalah, Rud," Alan terus menyakini.


"Aku akan percaya dengan apa yang kalian katakan," ucap Rudi memalingkan muka pada Alan.

__ADS_1


Nafas Ami sedikit lega, dengan perkataan sang suami. Ia kembali terseyum, dan berjanji akan menjelaskan semuanya ketika pulang di rumah nanti.


__ADS_2