Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 254 Tama yang terlalu agresip


__ADS_3

Masa lalu Sarah 4


Meri yang memang sudah curiga, dari awal mengintip pada kamar Sarah. Tangannya begitu gemetar, saat ia mendengar sebuah ucapan yang diucapkan Sarah pada Alda.


“Sudah aku duga, Sarah pasti dalang dari semua ini.” Gumam hati Meri.


Saat Meri, menempelkan telinga kanannya pada pintu kamar Sarah. Saat itulah Tama muncul, ia menampilkan wajah juteknya.


“Hem.”


Munculnya Tama membuat Meri kaget bukan kepalang, ia menatap kearah wajah Tama dengan wajah gelisah karna kaget.


“Tama, kamu ....”


“Hai Mamah Meri yang cantik sedang apa kamu di sini?” Tanya Tama mendekat ke arah wajah Meri.


Meri yang kesal, memalingkan wajah. Ia bergegas pergi dari hadapan Tama. Melangkah dengan bibir cemberutnya.


“Ahkkk, Kenapa Tama tiba-tiba ada di belakangku. Bikin kesal orang saja,” cetus Meri.


Wanita itu melangkahkan kaki pergi menuju Kamar tidurnya, sedangkan Tama dari arah kejauhan menatap sang ibu tiri yang kesal padanya.


Dia menyandarkan tangannya pada dinding seraya berkata,” sepertinya akan ada santapan baru untuk di pajang.”


Tama mulai menyusun sebuah rencana untuk menyingkirkan Meri, membuat wanita itu bernasib sama seperti Alda.


Pintu kamar Sarah kini terbuka, dimana Tama yang tengah menyandarkan tangannya terkejut. Melihat Sarah yang tiba-tiba muncul begitu saja.


“Tama, sedang apa kamu di sini?” tanya Sarah.


“ Menurut kamu aku sedang apa sekarang?” Tama bukannya menjawab pertanyaan Sarah, ia malah bertanya balik. Membuat Sarah dengan sengaja menyenggol tubuh Tama dan pergi ke dapur.


Tama langsung meraih tangan Sarah, menarik lembut tangan itu hingga. Tubuh secara berdekatan dengan tubuhnya, kedua mata tampak menatap tajam kearah wajah Sarah. Tangan kanannya mulai membelai rambut Sarah, membuat wanita itu sedikit risih.


“ Bagaimana kalau Pagi ini kita bersenang-senang seperti semalam.” Ucap Tama.


Sarah mendorong tubuh Tama, membuat mereka sedikit berjauhan.” Jangan harap aku memberikan lagi seperti semalam.”


Dengan sengaja Tama malah mendekat kearah Sarah, tangan kanannya mulai meraih dagu Sarah. Membuat ia dengan refleks mencium bibir salah begitu lama, Sarah yang masih kesal, dengan Tama karna semalam.

__ADS_1


Ia dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan bibir Tama. Namun, tenaga Tama begitu kuat. Membuat Sarah begitu susah melepaskannya.


Memukul-mukul dada bidang Tama, namun Tama se akan menikmati semua itu. Membuat ia tak peduli dengan Sarah yang terus mengamuk, karna rasa cintanya yang begitu amat dalam. Membuat ia tak menyadari jika sang Ibu tanpa sengaja melihat kelakuan anak sendiri.


Sarah yang sudah menyadari kedatangan istri ketiga Pak Anton, kini berusaha melepaskan Tama dari pelukannya. Mendorong sekuat tenaga tubuh Tama, sampai di mana Tama tersungkur jatuh di atas lantai.


Tama mengusap pelan bibirnya yang basah, sedangkan saran masih syok dengan kehadiran istri ketiga Pak Anton yang tak lain ialah Naina.


Ibunda Tama kini berdiri mematung, tak percaya dengan kelakuan anaknya yang begitu bej* d. Membuat Naina langsung memukul kepala anaknya.


“ ibu, Sejak kapan ibu ada di sini?”


Tama berusaha bersikap santai, ada rasa bersalah pada hati Tama pada saat itu.


Kedua mata Naina membulat, menatap tajam ke arah Sarah. Membuat Sarah menundukkan pandangan, Tama menyuruh Sarah untuk masuk ke dalam rumah.


“Sarah kembalilah ke kamarmu, aku akan mengobrol dengan ibuku sebentar,” ucap Tama.


Sarah mulai menganggukkan kepala, ia berjalan melangkah menuju ke kamar tidurnya. Tapi Naina menahan Sarah dengan perkataan tegasnya,” jangan masuk sebelum ibu berbicara pada kalian berdua.”


Tama mengelak berusaha menjelaskan pada sang ibu, agar Sarah tak di marahi,” sudahlah bu. Semua salah Tama.”


Saat itulah Tama mulai menarik tangan ibunya, ke luar untuk berbicara dengan empat mata. Sedangkan Naina sang ibu menolak tarikan tangan dari anaknya.


“Kamu mau bawa ibu ke mana, Tama. Ibu belum selesai berbicara,” teriak sang ibu.


Tama kini menarik paksa tangan mulus sang ibu membawa ke luar.


“Bu, sudah jangan marahi Sarah, dia tak salah. Aku yang sudah lancang mencium dia,” ucap Tama.


Plak ....


Satu tamparan di layangkan Naina untuk anaknya.


“Apa kamu gila, dia itu ibu tiri kamu. Tama.” Pekik sang ibu.


Tama memegang pipi bekas tamparan sang ibu,” memang Sarah itu ibu tiriku. Tapi aku sangat mencintainya.”


Deg ....

__ADS_1


Mendengar perkataan dari sang anak, Naina langsung merasakan pusing dari daerah kepalanya.


“Apa maksud kamu, Tama. Apa kamu gila.” Teriak Naina.


“Aku tak gila bu, memang itu kenyataan yang sebenarnya. Sarah itu cinta pertamaku, hanya saja lelaki tua itu merebutnya dariku,” balas Tama.


“Kamu benar-benar sudah tak waras Tama, kamu malah mencintai wanita milik papahmu,” gerutu Naina.


Wanita itu melewati tubuh anaknya, dengan tangan yang memijit kepala. Ia tak menyangka dengan penjelasan sang anak yang benar-benar membuat hatinya kesal.


Tama baru menyadari jika di tengah obrolannya dengan sang ibu sudah selesai, ia melihat Meri ibu tirinya mengintip di balik tembok. membuat kedua tangannya mengepal, kesal. karena Meri dengan lancangnya menguping pembicaraan sama dengan sang ibu.


Meri yang merasa dirinya di lihat oleh Tama, kini tergesa-gesa masuk ke dalam kamar, dia mulai Mengunci pintu kamarnya, hatinya tiba-tiba terasa tak karuan. saat tatapan Tama begitu terlihat mengancam.


Meri mulai mendekat ke arah jendela kamar, Saat itu ia sudah mencurigai sarah dan juga Tama. akan hilangnya Anton dan juga Alda.


" Apa mereka berdua adalah penyebab semua ini?"


Meri sangatlah penasaran dengan kamar Sarah, ia ingin melihat isi dari kamar itu. karena sejak hari pernikahan Sarah, Meri menyaksikan Pak Anton yang tak lepas jauh dari hadapan Sarah.


Membuat ia mencurigai bahwa cerita yang di buat Sarah adalah kebohongan belakang.


Apalagi dengan ucapan Tama yang ia bilang bahwa sang papah kabur dengan Alda, di malam pertamanya Sarah. Membuat dirinya tak yakin.


Karna 30 menit sebelum Alda mengintip, di kamar Pak Anton. Meri menunggu ke datangan Alda di luar rumah sampai jam tengah malam. Jika memang Alda pergi bersama pak Anton. Meri pasti tahu kepergian mereka berdua. Tapi jelas Meri tak ada.


.


apalagi tadi Mari melihat bercak darah, pada sprei yang sudah dipakai Sarah dan juga Pak Anton di malam pertama.


Jika memang Tama berkata kalau Pak Anton kabur karna Sarah bukan perawan, terus bercak darah bekas apa pada sprei itu.


. semua pertanyaan mulai merasuki pikiran Meri.


"Nanti malam aku harus menyelidiki kamar Sarah, agar aku bisa mengetahui apa yang terjadi pada malam pengantin mereka." Gumam hati Meri.


Di tengah kegundahan Meri, Tama sudah merencanakan sebuah kejutan untuk Meri.


Kejutan apakah itu?

__ADS_1


__ADS_2