
Setelah pulang dari rumah sakit, Rudi masih terdiam. Wajahnya masih tak terima. Ami yang mengekor dari belakang hanya bisa tertunduk pasrah.
Ada rasa sesak menghantui di jiwa. Cemburu Rudi sungguh keterlaluan.
Membuat Ami tak bisa berbuat apa-apa.
Percuma di jelaskan kalau orang yang kita kasih pengertian masih dalam keadaan marah. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa mencerna perkataan yang terlontar sedikitpun. Walaupun itu perkataan baik.
Kepala Ami masih terasa pusing, memikirkan perkataan Alan. Dia baru tau bahwa dirinya bukanlah saudara kandung. Melainkan hanya saudara angkat. Yang orang tua Ami percayakan pada Pak Hendra.
Apa rencana Ami akan gagal, setelah ini.
Rudi masih terdiam.
Sampai kapan suamiku ini diam terus. Apa yang harus aku lakukan. Oh tuhan aku bingung saat ini. Gumam hati Ami di selimuti kegelisahan.
"Pah, kita makan malam dulu yuk," ucap Ami pada sang suami. Yang tengah terduduk diam. Menatap ke arah jendela kamar.
"Pah, apa papah masih marah," wanita berwajah tirus itu menghampiri dan memeluk Rudi dari belakang.
Sandaran kepala Ami pada punggung sang suami, membuat relung hati Rudi yang tengah di landa amarah. Seakan luruh, pelukan yang tak lepas dan perkataan yang mampu menenangkan pikiran dan hati Rudi kini kembali menjadi air mata yang seakan jatuh tanpa di undang.
"Maafkan, mamah pah. Yang tak bisa jujur. Asal papah tau, tidak ada niat menghianati papah. Mamah sayang sama papah,"ucap Ami dikala Rudi hanya diam tanpa berkata apa-apa.
"Papah, boleh marah sama mamah. Tapi jangan sampai benci. Mamah sayang sama papah," tutur kata Ami begitu lembut membuat air mata tak bisa di tahan lagi. Ada apa dengan hati Rudi begitu keras seperti batu.
Ami melepaskan pelukanya, meninggalkan Rudi yang masih terdiam. Tanpa berucap satu kata pun.
Menutup perlahan pintu, agar sang suami bisa menenangkan semua pikiran yang ada. Tangisan Ami pecah, menyender di pintu yang mampu menompang badannya. Sesak rasanya, beberapa kali ia pukul dada dengan tanganya. Dan berucap, Kamu bodoh Ami, kamu bodoh.
Malam semakin larut, Rudi tak napak ke luar dari kamarnya. Ami menunggu di ruang tamu. Melirik sekilas, tetap saja suaminya tak ke luar kamarnya.
"Apa sebegitu marahnya suamiku kepada diri ini," ucap pelan wanita berwajah tirus itu. Hingga matanya tak mampu menahan kantuk, Sampai akhirnya ia tetidur di sofa.
Bi Lasmi yang melihat Ami tertidur di sofa seakan tak tega, melihat tuan rumahnya di perlakukan seperti itu oleh Rudi Padahal bagi Bi Lasmi, Ami adalah wanita sabar dan kuat. Ia mampu menghadapi semua ini dengan sendiri.
"Kenapa? Mata hati tuan begitu tega membiarkan Nona Ami sendiri menagis. Semoga hati Tuan Rudi terbuka bahwa istrinya tidak salah," ucapan Bi Lasmi. Terdengar oleh Rudi yang berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Amin ...," jawab Rudi, Bi Lasmi begitu kaget melihat mata tuannya sudah bengkak memerah. Mungkin karna menagis seharian.
"Tu-an," ucap Bi Lasmi yang masih syok melihat keadaan Rudi.
"Apa, bibi tau semua ini?" tanya Rudi yang membuat mulut Pembantunya itu mengatakan semuanya.
Rudi yang mendengar semua itu merasa dirinya telah bersalah. Terlalu mengandalkan emosi sesaat, hingga Ami yang menjadi korban keegoisanya.
"Kenapa aku begitu bodoh, tak mendengarkan perkataan istriku."
Rudi terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Langkah kakinya mendekat ke arah istrinya yang tertidur di sofa tanpa selimut.
Mengusap perlahan kepala Ami pelan, dan membopong tubuhnya masuk ke dalam kamar.
Rudi tak tau gimana jadinya kalau dia tidak mengetahui semuanya dari Bi Lasmi. Mungkin dia akan terus menyalahkan Ami.
Rudi teringat dengan kertas yang Ami gulung itu, entah kertas apa. Dengan sengaja ia menyimpan tanpa Ami tahu.
Saat di buka gulungan itu terdapat nama perusahaan Ami.
Perlahan membaca. Mata Rudi seketika melebar, membaca setiap baris kata demi kata.
Rudi tidak terima dengan semua ini. "Apa mereka tidak sadar, istriku begitu baik pada mereka. Tapi apa balasannya penghianatan," ucap Rudi menjambak rambutnya sendiri seakan semua terjadi begitu saja.
"Akan ku beri mereka perhitungan," Ami yang mendengar perkataan Rudi seketika menghampiri. Dan berkata.
"Jangan terlalu mengandalkan emosi."
Rudi menatap mata sang istri penuh dengan kekuatiran. Memegang kedua pergelangan tanganya,"Mereka yang begitu kejam padamu, mah. Malah kamu berbicara seperti itu."
"Harus bagaimana lagi, mereka semakin kita balas semakin menjadi-jadi," ucap Ami. Air matanya luruh. Namun, dengan sigap Rudi menghapus air mata yang hampir jatuh pada bibir tipis istrinya itu.
"Kita bisa membuat mereka menyesal dengan perbuatannya," Rudi terseyum. Matanya terlihat bengkak dan memerah.
Ami mengelus lembut pipi sang suami. Memeluk. Tidak ada cinta yang kuat selain kepercayaan.
*********
__ADS_1
Saat Di rumah sakit.
Alan begitu resah, melihat Rudi yang begitu emosioanl. Melihat Ami yang menagis. Membuat hatinya tak tenang.
Pikiran Alan, tertuju pada Ami. Ia takut terjadi apa-apa dengan Ami.
"Apa aku harus menghampiri Ami. Aku tidak sanggup melihat wanita yang aku sayang menagis," ucap Alan, sembari bolak-balik kesana kemari. Hatinya di liputi kegelisahan tentang Ami.
Pagi buta sekali Alan menghampiri Ami, tergesa-gesa.
Setelah sampai di rumah Ami.
"Alan, ada apa pagi sekali datang ke sini."
Alan tiba-tiba memeluk Ami. Menagis, seraya berkata." Apa kamu menderita Am."
Bisik hati Ami dalam pelukan Alan." Sejak kapan Alan menyebut namaku."
"Alan, sebaiknya kamu. Pergi dari sini. Mba takut suami mba berpikir yang tidak benar antara kita," ucap Ami mendorong tubuh Alan dari pelukannya.
"Mba, apa aku salah menyayagimu."
Ami tertohok mendengar perkataan Alan.
"Maksud kamu apa?"
"Aku mencintaimu, Ami!"
"Alan apa kamu tidak sadar, kita ini hanya saudara. Dan lagi mba sudah bersuami. Tidak pantas kamu mencintai wanita yang sudah bersuami. Di luar sana banyak wanita yang menunggu kamu, Al. Apa kamu tidak sadar dengan ucapanmu."
"Tapi cinta ini sudah lama terpendam, aku berusaha mengubur dalam-dalam. Tapi semakin aku lupakan, semakin cintaku begitu dalam padamu, Am."
"Al, mba kecewa denganmu!"
"Am, kamu boleh kecewa padaku. Tapi asal kamu tahu. Aku tetap mencintaimu.
Alan berlalu pergi begitu saja, dengan wajah yang sedikit menunduk. Merasakan kekecewaan dari wanita yang pertama kali ia cintai.
__ADS_1
Berjalan meninggalkan Ami begitu saja.
Gimana tambah seru gak. Yuk jangan lupa like komen yah.