
Ami terus berjalan, tapi Rudi tak mengejar dirinya. Ia malah pergi masuk ke ruangan Arsyla, karna mendengar jeritan Arsyla yang seakan kesakitan.
"Arsyla."
Masuk ke dalam ruangan, ternyata Arsyla tengah menangis, memanggil nama Rudi.
"Mas Rudi."
"Arsyla, kamu kenapa?" tanya Rudi dengan rasa kuatirnya.
Arsyla mulai mengucapkan satu patah kata dengan isak tangis yang berderai," mba Ami sudah menamparku."
"Apa?"
Rudi membulatkan kedua matanya, tak menyangka jika Ami menampar Arsyla.
" Kenapa Ami bisa menampar kamu Arsyla?" tanya Rudi dengan suara lembutnya.
"Aku tidak tahu, tapi Mba Ami menyalahkanku kalau aku seorang pelakor. Dan anak dalam kandunganku ini anak Mas Rudi," ucap Arsyla. Wanita berhidung macung itu ternyata menampilkan tangisan palsu dan berkata kebohongan kepada Rudi.
Rudi kesal ia mulai menghampiri Ami, ingin mendengar penjelasaan yang sesungguhnya pada mulut sang istri.
"Arsyla kamu tunggu dulu di sini, ya. Aku akan menemui istriku," pamit Rudi pada Arsyla. Wanita yang tengah terbaring di atas ranjang tempat tidur.
" Baik, Mas." balas Arsyla benada lembut. Ia menapilkan sifat sopannya pada Rudi.
Saat itulah Rudi mulai berjalan meninggalkan Arsyla, namun setengah langkah Rudi. Tiba-tiba saja Aryla memanggil lelaki itu.
" Mas Rudi, tunggu." Teriak Arsyla.
Rudi langsung membalikkan wajahnya, menatap ke arah Arsyla dan bertanya," ada apa Arsyla?"
Wanita berhidung mancung itu, mulai menampilkan kesedihan dalam balutan kebohongan. Ia menangis dengan tangisan palsu dan berkata kepada Rudi," jangan sampai, mas marahin Mbak Ami, kasihan Mba Ami juga kan lagi sakit."
Rudi tersenyum manis dia menjawab dengan nada lembut," aku tidak akan memarahi istri Ku, tapi hanya ingin mengingatkan saja."
Arsyla mulai berkata lagi dengan nada sendu," baguslah kalau begitu, mas."
" Ya sudah saya pergi dulu."
__ADS_1
Rudi mulai berjalan tergesa-gesa, dengan rasa kesal yang mendera pada hatinya. Ia langsung menemui Ami.
Sesaat sampai di depan mobil, Rudi melihat Ami, istrinta ternyata tengah duduk di dalam mobil. Terdengar nada suara Ami yang tengah menangis terisak-isak.
Rudi mulai mengetuk pintu mobil yang di mana, di dalam mobil itu Ami yang tengah duduk.
" Sayang tolong buka pintu mobilnya," ucap Rudi. Lelaki berbadan kekar itu terus mengetuk kaca mobil, berharap Ami membuka pintu mobilnya.
Di dalam mobil Ami Mas tengah mengusap air mata, yang terus meneteskan pada kedua pipinya. Perlahan ia menatap ke arah kaca mobil dimana suaminya tengah menunggu pintu mobil di buka.
Rudi berusaha sabar, menunggu istrinya membuka pintu mobil. Entah apa yang terjadi dengan Ami istriku? Kenapa bisa ia menampar Arsyla. Gumam hati Rudi.
"Sayang ayo buka pintunya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," teriak Rudi.
Ami masih terdiam, Rudi menatap istrinya, Ami masih saja menangis di dalam mobil.
" Please bukalah pintunya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu dan Arsyla?"
Ami tetap saja menangis di dalam mobil, ia belum siap menemui suaminya. Tangannya memegang dada, ia seakan merasakan rasa sakit yang tak biasa.
Rudi semakin kesal, karna Ami. terus mengabaikan teriaknya.
"Ami cepat buka. Jangan sampai aku kesal dengan kelakuan kamu yang tiba-tiba menampar orang."
Rudi yang sudah tak sabar. Ia mulai berteriak seakan menyalahkan Ami.
" Ami, cepat buka. Kenapa kamu menangis, bukanya kamu yang salah, kenapa kamu menampar wajag Arsyla. Dia itu gadis baik. Ami aku tak suka jika kamu selalu berprasangka buruk pada Arsyla."
Ami manarik nafasnya pelan. Rudi terus mengedor-gedor kaca mobilnya.
" Ami cepat buka."
Kesabaran Ami sudah hilang perlahan-lahan. Ia langsung membuka pintu mobil dengan begitu keras, sembari menatap tajam kearah wajah suaminya. Tidak ada ucapan yang terlontar pada mulut Ami, hanya amarah yang menggebu-gebu.
" Aku tanya lagi sama kamu, kenapa kamu menampar Arsyla? Dan kenapa kamu menyalahkan dia, bahwa dia itu seorang pelakor," hardik Rudi. Kesabaran Ami kini hilang ia mulai membalas ucapan suaminya.
"Aku tidak akan menampar wanita itu, dengan tanganku. kalau dia tidak bisa menjaga mulutnya sendiri," balas Ami. Rudi semakin bingung dengan ucapan istrinya.
" Apa maksud kamu?" tanya Rudi. Ami terseyum kecil seraya melipatkan kedua tangannya.
__ADS_1
"kamu menyalahkan aku mas!" jawab Ami dengan sebuah pertanyaan.
"Aku tidak menyalahkan kamu, hanya saja. Sudah banyak orang yang kamu salahkan," ucap Rudi.
"Orang yang sudah aku salahkan? Siapa? Jelas dia yang sudah membuat aku marah besar dari awal," balas Ami.
"Ami kamu itu harus ...," belum perkataan Rudi terlontar semuanya. Ami langsung membalas dengan nada sedikit meninggi.
"Harus apa? kamu menyalahkan aku lagi? Jelas-jelas dia yang mulai duluan. Sudah aku tak kenal dia, dia malah berbicara tak sopan dan membuat hatiku sakit," ucap Ami.
" Emangnya apa yang terjadi?" tanya Rudi.
" Asal kamu tahu, ya. Mas, wanita itu memanggil namaku dengan sebutan Ami dan mengatakan bahwa dia itu hamil anakmu," jelas Ami.
Seketika jantung Rudi berdetak tak karuan antara kesal dan tak yakin.
Rudi mulai berpikir dengan jernih, dia tak mungkin menyalahkan lagi istrinya begitu saja, karena ia tahu bahwa istrinya mengalami amnesia, di mana Dirinya tidak akan mengenal siapa sebenarnya Arsyla. Jika di pikir lagi, Ami tidak akan melakukan hal-hal bodoh dari awal. Dia pasti akan berkata dengan baik.
Rudi mulai mengusap kasar wajahnya," Tolong kamu tenang dulu ya, aku akan jelaskan semuanya"
"Jelaskan apa lagi? Tadi kamu bilang kamu menyalahkan aku, dan membela wanita yang memang aku tak ingat dan tak kenal."
"Maafkan aku, aku terlalu emosi?"
"Emosi itu yang kamu bilang emosi. Harusnya kamu bertanya lebih dulu jangan marah-marah kepadaku."
" Iya aku tahu, sekarang maafkan aku. ya. Aku akan menjelaskannya di dalam mobil siapa wanita itu."
" Baiklah kalau begitu."
Amarah Ami mulai mereda, saat itulah Rudi mengajak istrinya masuk ke dalam mobil. Dan mulai menjelaskan. Siapa Arsyla wanita yang sudah membuat istrinya kesal.
Rudi menjelaskan dengan begitu lembut pada sang istri, membuat Ami mengerti dan kembali tenang.
Rudi memeluk Ami dan berkata," maafkan suamimu ini yang selalu mengandalkan emosi."
"Iya, mas."
Rudi mulai mengajak, Ami untuk menemui Arsyla. Namun Ami menolaK, tapi Rudi memohon karna dia harus menjaga Arsyla agar tidak kabur dari rumah sakit.
__ADS_1
Saat itulah Ami dengan terpaksa menyetujui perkataan suaminya, walau sebenarnya hatinya amat kesal.
Dalam hati Ami mengerutu," awas saja kalau wanita itu mulai centil pada suamiku. Pastinya kukerjain dia sampai kapok. Huh siapa suruh datang ke kadang harimau.