
Jam sudah menujukan pukul 2 malam, di mana Rudi lupa untuk memberi tahu sang istri di rumah. Menatap layar ponsel yang ia genggam saat itu,” Apa istriku masih peduli?”
Rudi mulai mengetik beberapa pesan untuk sang istri, dalam pikirannya ia tak tahu apa Ami mengkhawatirkannya atau tidak.
(Mamah, papah pulang besok pagi.)
Pesan pun terkirim, Rudi mulai menaruh ponselnya kembali di saku celananya. Duduk di atas kursi Rumah sakit, menutup kedua mata mengistirahatkan seluruh tubuh walau hanya dalam senderan kursi besi.
Ami yang tertidur di sofa mendengar suara ponselnya berbunyi, dengan Sigap ia terbangun dan Menatap layar ponselnya.
Pesan dari Rudi, membuat dirinya sedikit kuatir.
“Kenapa suamiku pulang besok.”
Rasanya Ami ingin menelpon Rudi saat itu juga, tapi hatinya bertolak belakang, iya lebih baik berjalan ke arah kamar merebahkan tubuhnya untuk tertidur. Walau hatinya benar-benar gundah memikirkan keadaan Rudi saat itu.
Rudi kembali membuka kedua matanya, dia merogoh saku celananya untuk melihat ponsel. Apakah Ami membalas pesannya saat itu?
Mengusap kasar wajahnya, tak ada balasan sama sekali dari sang istri.
“ apa sebegitunya dia tak peduli pada suaminya ini?”
Rudi mengelap nafas, rasa kesal kini merasuki hatinya. Ia tertidur kembali dalam kegelisahan.
Hanya itu yang bisa ia lakukan. Begitu sibuk mencari sebuah bukti untuk meyakinkan istrinya agar tidak menyalahkan dirinya bahwa telah menghamili Sarah. Ia lupa untuk mengisi perutnya sendiri. Yang ia pedulikan hati sang istri agar percaya kembali.
Pagi hari .... Kini Rudi bangun, ia tak menyangka jika hawa dingin di rumah sakit mampu membuat tubuhnya mengigil. Tak ada selimut atau pun bantal, hanya bau rumah sakit dan para suster yang bulak balik ke sana ke mari.
Saat itulah, Rudi mulai berdiri. Melihat ke ruangan Sarah. Apakah wanita itu sudah siuman?
Berjalan mendekat, kearah ranjang rumah sakit yang ditiduri Sarah pada saat itu.
Rudi perlahan mendekat Tanpa Rasa ragu sedikitpun, Sarah benar-benar tertidur pulas. Rudi ingin sekali membangunkan wanita yang sudah memfitnah dirinya, tapi apa daya dirinya pun tak tega karena melihat kondisinya yang begitu mengkhawatirkan. Apalagi Sarah adalah seorang wanita lemah, yang hanya mengandalkan amarah dan dendam.
“ jika aku tidak mempunyai hati nurani mungkin aku sudah membunuh wanita ini?” Gumam hati Rudi.
Beberapa menit kemudian, Sarah mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Ia melihat ke atas ruangan merasakan sakit pada kepalanya.
__ADS_1
“Aku ada di mana?”
Rudi yang berdiri di samping Sarah sangatlah senang melihat wanita itu terbangun, dia mulai membalas ucapan Sarah,” kamu masih ada di rumah sakit, Sarah!”
Betapa kagetnya Sarah saat mendengar suara Rudi membalas ucapannya. Dia menatap perlahan kearah samping yang di mana Rudi berdiri dengan sebuah senyuman manis menyambut kesembuhannya.
“Rudi.”
Bibir Sarah terlihat bergetar, ada rasa takut menghantui hatinya saat itu. Sedangkan Rudi mulai mendekat kearah wajah Sarah membisikan sesuatu ucapan,” apa kabar cantik?”
Sarah sedikit menghembus kesel, kedua tangannya mengepal erat pada selimut yang menutupi tubuhnya.” Kamu.”
“Kenapa? Marah.”
Sarah mulai membalikkan wajahnya kembali menatap ke arah atap. Ia tak ingin berpapasan wajah dengan Rudi saat itu juga.
“Pergi dari sini.” Teriak Sarah.
“Lebih baik aku mati,” balas Sarah sedikit bernada tinggi.
Rudi tersenyum kecut dan berucap,” Apa kamu yakin dengan ucapanmu. Sarah.”
Sarah mulai kesal, dia mulai bangkit dari tempat tidurnya. Tapi saat itu tubuhnya begitu lemas membuat Iya kembali membaringkan lagi tubuhnya,” Ahhk.”
“Kenapa?” tanya Rudi.
“Sial, tubuhku begitu lemas, Aku tidak bisa melawan lelaki di hadapanku saat ini.” Gerutu Sarah.
“Hey, kenapa kamu diam saja. Cantik?” tanya Rudi. Mencuil dagu Sarah.
Yang di mana Sarah sanggatlah kesal dan berucap,” cukup Rudi. Kamu harusnya memperbaiki hubunganmu dengan istrimu itu bukan malah menemui ku saat ini juga.”
__ADS_1
“Hey, aku menemuimu karna aku tidak mau melihat kamu mati. Jika kamu mati, istriku akan tetap menyalahkanku atas fitnahan yang sudah kamu buat,” balas Rudi. Sedikit bernada kesal.
Sarah tertawa walau tubuhnya begitu, dia puas dengan apa yang sudah ia perbuat. Itulah ia membalas ucapan Rudi.” Itulah akibat jika orang tidak mau menepati janji.”
“Janji. Ucapanmu Sarah hanya omong kosong.” Balas Sarah.
“Kamu belum tahu siapa aku? Jadi jangan main- main denganku, Rudi.” Ucap Sarah.
Rudi rasanya ingin mencekik leher Sarah saat itu. Membuat wanita di hadapannya mati. Tapi apa daya dirinya harus membawa bukti pada sang istri.
Rudi mulai memancing ucapan Sarah pada saat itu juga, menyiapkan sebuah rekaman untuk Rudi rekam sebagai barang bukti untuk di tunjukan Ami.
"Jadi apa ke inginan mu sebenarnya, bukanya masa lalu hanyalah sebuah kesalah pahaman. kenapa kamu menjadi pendendam seperti ini?" tanya Rudi. Sarah menatap tajam kearah wajah Rudi.
"Masa lalu, memang bagi mu hanya masa lalu. Tapi tetap saja rasa sakit ini masih membekas!" balas Sarah.
"Terus apa yang kamu inginkan? Kamu sudah tahu semuanya yang bersalah bukan lah istriku?" tanya Rudi. Membuat Sarah tersenyum kecut.
"Aku ingin keluarga kalian hancur. Sebagaimana aku yang sekarang hancur," kecam Sarah pada Rudi.
"Hancur, apa kamu tidak ada kata ingin merubah diri?" tanya Rudi.
"Merubah diri." Tawa Sarah terdengar nyaring.
"Sarah, belajar lah dari kesalahan dan perbaiki diri. Aku tidak akan membuat kamu menderita dengan hidup di penjara," ucap Rudi.
"Cukup Rudi, simpan omong kosongmu itu," kecam Sarah.
Sarah sudah di rasuki kebencian, padahal Sisi sudah mengakui kesalahannya, tapi Sarah tetap keras kepala.
"Aku hanya ingin memberi tahu kamu, anak dalam kandungan mu itu sudah tiada, " ucap Rudi.
Sarah seakan tak percaya dengan ucapan Rudi, ia berucap." aku tak peduli yang penting aku puas, Ami sudah tak mempercayaimu lagi. Di hanya tahu bahwa anak dalam kandunganku adalah anakmu."
Rudi bersikap tenang," jadi setelah ini apa rencanamu, Sarah?"
pertanyaan Rudi yang membuat Sarah bersemangat.
"Rencanaku, membuat istrimu hancur sehancurnya," ucap Sarah.
"Jika kamu bisa lakukanlah," balas Rudi.
"Apa kamu tidak takut Rudi?" tanya Sarah.
"Takut. Untuk apa aku takut. karna aku tidak pernah menodaimu," ucap Rudi.
"Munafik," cetus Sarah
Rekaman berhasil, ini salah satu bukti bahwa Rudi bisa menyakinkan Ami.
Suster datang dan juga beberapa polisi, untuk melihat ke adaan Sarah saat itu juga.
"Lihat Sarah, orang-orang sudah mau menjemputmu." Ucap Rudi melipatkan kedua tangannya.
__ADS_1