
Satpam yang berjaga di rumah Alan, mulai mendekat ke arah Ane yang masih berdiri di depan pintu rumah Alan dengan berteriak-teriak memohon kepada Alan.
“Bu, sebaiknya. Ibu cepat pergi dari sini, karna tuan tidak akan mendengarkan teriakan ibu lagi.” Ucap Satpam penjaga di rumah Alan.
Ane tetap saja mengetuk pintu dan berteriak, mengabaikan ucapan satpam yang berada di belakangnya.
“Bu, percuma. Ibu seperti ini, hanya membuang-buang tenaga saja.” Ucap Satpam itu. Masih dengan ucapan yang lembut.
Namun, Ane benar-benar mengabaikan ucapan satpam itu. Sampai di mana Satpam penjaga rumah Alan kesal, ia dengan sigap menarik paksa tangan Ane dan mengeluarkannya dari halaman depan rumah Alan.
“Pak, saya mohon. Saya ingin bertemu dengan Alan lagi.” Ane terus saja memohon, ia menahan tarikan kuat dari tangannya oleh pak satpam.
“Ibu jangan ngenyel, jika tuan memang tak mau bertemu ibu kembali. Ibu harusnya sadar diri.” Satpam itu tak henti berucap dan menarik paksa Ane.
Tubuh Ane begitu lemas, ia tak tahan dengan tarikan satpam yang begitu kuat. Sampai di mana dirinya tersungkur jatuh dan pingsan begitu saja.
“Aduh, malah pingsan lagi. Bikin repot saja,” ucap pak satpam dengan mengaruk depan kepala rambutnya yang tak terasa gatal.
Satpam itu bergegas menelepon Alan, di mana Alan tengah menikmati sarapan di pagi hari bersama sang istri.
Saat itulah Alan mulai mengangkat panggilan satpam di rumahnya.” Halo pak, ada apa?”
“Maaf tuan, orang yang tuan perintahkan untuk saya usir malah jatuh pingsan!” jawab Pak Satpam. Membuat Alan menghentikan suapannya.
“Ya sudah saya akan ke sana sekarang,” ucap Alan.
“Baik, tuan.”
Panggilan telepon pun di matikan, Alan mulai bergegas berdiri menemui Ane. Delia yang melihat Alan beranjak berdiri langsung bertanya,” ada apa?”
“ Ane jatuh pingsan, dia bikin repot orang saja. Aku akan pergi menemui dia di depan rumah. Kamu teruskan saja sarapanmu dulu!” jawab Alan bergegas pergi menuju ke luar rumah.
Delia yang menikmati sarapannya, hanya menggelengkan kepala dan berucap dalam hati,” sebenarnya kenapa dengan Ane. Sampai sebegitunya dia?”
Saat itulah Alan mulai mendekat ke arah Ane yang tergeletak di atas tanah, di tunggu oleh pak satpam.
“Tuan, ibu ini belum sadarkan diri dari tadi juga.” Ucap Pak Satpam.
__ADS_1
Alan mulai mengecek keadaan napas Ane, dan nadinya. Semua normal. Ane hanya kelelahan dan kurang nutrisi di tubuhnya.
“Ya sudah, kamu tolong saya bopong tubuh wanita ini masuk ke rumah.” Perintah Alan.
Kini Alan dan Pak Satpam, membopong tubuh Ane menuju ke dalam rumahnya. Delia yang beres sarapan melihat Ane di bawa ke dalam rumah dan di baringkan di tempat tidur tamu.
Saat itulah Alan mulai menyuntikan vitamin pada tubuh Ane, agar tubuhnya kembali segar seperti semula.
Delia mendekat ke arah suaminya dan bertanya,” kenapa dengan Ane. Kenapa dia bisa jatuh pingsan.”
“Wanita ini hanya kelelahan saja. Ya sudah aku mau berangkat bekerja, sayang tolong kamu urus wanita ini, ya.” Ucap Alan, mulai berpamitan pada Delia untuk berangkat bekerja. Ia mencium kening Delia dan juga perut dalam kandungannya.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya.”
@@@@@@
Putra yang dari tadi pagi menghawatirkan keadaan sang istri kini bergegas pergi menuju rumah sakit, untuk membawakan sebuah makanan sepesial yang ia buat.
Setelah sampai di rumah sakit, suster dan dokter di sana sudah banyak yang bertugas membuat putra langsung pergi begitu saja ke ruangan Ane.
Lelaki itu mengetuk pintu ruangan istrinya, hingga pintu ruangan itu terbuka begitu saja. Ia tak melihat Ane berada di dalam ruangan, hening begitu sepi. Tas yang biasa di taruh di atas meja pun tak ada.
Putra berjalan ke sana ke mari, hingga ia tiba di dekat tong sampah yang di mana tong sampah itu belum di bereskan. Saat itulah Putra melihat kertas putih berserakan, di atas lantai. Membuat ia penasaran dan mengambil beberapa potongan surat itu.
Putra dengan telatennya menyusun potongan kertas yang sengaja di robek oleh Ane, ia penasaran sekali dengan isi surat itu.
Perlahan dan pasti akhirnya potongan surat kecil itu tersusun rapi, Putra mulai membaca satu baris demi baris di dalam surat itu Deni seakan memberi peringatan pada Ane.
By Deni.
Ane, kamu tahu. Saat aku di dalam penjara, hidupmu akan hancur, karna papahmu akan tahu semua yang kamu kerjakan di rumah sakit ini tidak becus.
Papahmu akan mengusirmu dan membuat kamu sengsara, hingga rumah sakit yang harusnya kamu miliki terambil alih oleh kakak tirimu sendiri.
Kamu tidak mau kan kakak tirimu malah membuat rumah sakit yang kamu bangun menjadi rumah sakit seperti neraka. Maka dari itu lepaskan aku di dalam penjara, agar isu tentang dirimu terlepas.
Kamu masih bisa mempertahankan rumah sakit impianmu itu.
__ADS_1
@@@@
Putra mengeram, ia kesal dengan isi surat dari Deni. Pantas saja Ane semalam wajahnya begitu muram, semua karna ulah Deni.
Saat itulah Putra mulai bertanya ke pada suster dan perawat yang berada di rumah sakit. Bertanya ke manakah Ane?
“Sus, saya mau bertanya. Kenapa Dokter Ane tidak ada di ruangannya?” tanya Putra.
“Kalau masalah itu saya tidak tahu pak, karna dari pagi saat saya datang ke sini dokter Ane belum datang ke rumah sakit!” jawab sang suster.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih sus,” ucap Putra.
Sang suster mulai berpamitan untuk bertugas kembali.
Sedangkan Putra masih bingung, mencari keberadaan istrinya. Karna dirinya tak tahu masalah yang sebenarnya terjadi di rumah sakit.
“Aku harus mencari kamu ke mana, Ane?”
Putra terdiam sejenak, ia memikirkan siapa orang yang dekat dengan Ane. Sampai di mana Putra mengingat Alan.
“Alan, apa aku harus menemui orang bernama Alan? Tapi di mana dia tinggal?”
Dreet .... Ponsel Putra berbunyi.
Dimana pada layar ponsel itu terpampang nomor baru, yang Putra tak tahu itu nomor siapa, saat itulah Putra mulai mengangkat panggilan telepon nomor baru itu.
“Halo.”
Suara seorang wanita terdengar pada telinga Putra.
“Halo, apa ini dengan suami. Dokter Ane,” ucap Delia pada panggilan telepon.
“Ya, saya sendiri suaminya, anda siapa ya?" balas Putra. Bertanya pada wanita yang meneleponnya.
"Saya istri Alan!" jawab Delia begitu pas sekali Putra tengah mencari keberadaan Alan.
Delia mulai mengatakan semuanya, di mana Ane berada di rumah Alan dengan keadaan pingsan. Pada saat itulah Putra mulai meminta Alamat di mana keberadaan istrinya saat ini.
__ADS_1
Saat itulah Delia mulai memberitahu Alamat tempat tinggalnya, yang di mana Putra dengan sigap mencatat dan pergi menaiki mobil.