Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 256 Pukulan Tama yang salah sasaran


__ADS_3

Masa lalu Sarah 6


“Kamu jangan takut, Sarah. Ini aku Tama,” ucap Tama. Membuka kain yang menutupi wajahnya.


Sarah yang ketakutan, membuka selimutnya. Iya mulai turun dari ranjang tempat tidur. Mendekat ke arah sosok lelaki yang memakai baju hitam itu. Apakah benar itu Tama?


Kini tangan Sarah mulai memegang kedua pipi Tama,”apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu memukul orang?” tanya Sarah.


Tama mulai menempelkan Jari tangannya kearah bibir Sarah, ia mulai menjelaskan semua yang sudah ia lakukan,” orang yang aku pukul ini adalah ibu tiriku yang tak lain Bu Meri.”


“Maksud kamu, Tama?” tanya Sarah yang masih bingung dengan penjelasan Tama.


“Aku melakukan semua ini, karena Ibu tiriku sudah mencurigai kita berdua!” jawab Tama.


Kini Sarah mulai mendekat ke arah wanita yang tergeletak tak berdaya di atas lantai itu, ia melihat sekilas wajah wanita itu dalam kegelapan. Dimana wanita itu memakai masker wajah berwarna putih.


“Ini bukan Bu Meri melainkan Bu Naina.” Gumam hati Sarah.


“Kenapa?” tanya Tama dalam kegelapan. Ia tak tahu jika wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri, karna ruangan itu begitu gelap.


.


Sedangkan Sarah hanya terdiam, Iya tak mengatakan jika orang yang dipukul Tama adalah ibunya sendiri. Salah sedikit senang.


“Aku akan pergi dari sini. Kamu urus wanita ini, biarkan dia mengantung di dalam lemari.” Perintah Tama pada Sarah.


Sebenarnya Sarah sungguh kesal dengan suruhan Tama, yang selalu menyuruh nya dengan seenaknya.


“Apa kamu yakin?” tanya Sarah.


“ Sudahlah Sarah, turuti saja apa perintahku. Kamu mau wanita ini membeberkan rahasia kita berdua,” ucap tegas Tama pada Sarah.


Sarah berdecak kesal, dengan ucapan yang Tama. Saat itulah ia mulai menyeret tubuh wanita itu, masuk ke dalam ruangan rahasia.


“Sarah, jangan lupa kamu ganti bajunya,” ucap Tama.


“Kenapa harus aku sih, semua ini ulahmu. Jadi kerjakan sendiri. Aku malas,” cetus Sarah melipatan kedua tangannya.


“Sarah jangan jadi orang yang keras kepala,” pekik Tama.

__ADS_1


“ Siapa yang keras kepala, Harusnya kamu sadar diri Tama. Yang memulai semua ini adalah dirimu sendiri, kamu melibatkan ku. Memperbudak ku seenaknya,” ucap Sarah.


Tama malah mencengkram kedua pipi Sarah dan berkata,” turiti. Atau kamu akan sama seperti mereka berdua.” Ancam Tama.


Padahal dari awal perjanjian tidak seperti ini, seharusnya yang berkuasa itu adalah Sarah. Tapi kenyataan nyata Tama yang sok berkuasa.


“Ahkkk, sialan. Dia yang membuat aku menjadi seperti ini,” gerutu hati Sarah.


Pada saat itulah Sarah, menerangi setiap ruangan dengan lampu. Dia membaringkan tubuh Naina, melihat wajah cantik wanita yang menjadi ibunda Tama.


“Bodoh si Tama itu, sudah tahu yang ia pukul bukan ibu tirinya melainkan ibu kandungnya sendiri.” tawa kecil terlepas dari bibir Sarah.


Sarah sengaja tidak memberitahu Tama, bahwa orang yang ia pukul adalah ibunya sendiri. Karena rasa kesal Sarah pada ibu Tama membuat dia berpura-pura bodoh, berpura-pura tak melihat wajah asli orang yang dipukul oleh Tama.


Saat itulah Sarah mulai, menyikat tubuh Naina dengan tali tambang yang sudah tersedia. Memakaikan kain berwarna kuning dan membuat sebuah tulisan pada kain itu.


Di samping kiri, Alda melihat apa yang di lakukan Sarah. Ia tak menyangka jika Sarah menjadikan Naina korban ke dua.


“Beres.”


Alda yang berada di samping kiri Naina, sudah pasrah akan hidupnya. Sarah mengurung Alda sudah dua hari ini, dengan sengaja nya salah tak memberikan makan ataupun air minum pada Alda. Seakan menyuruh Alda untuk mati secara perlahan di dalam lemari itu.


Sarah memegang lampu yang kurang terlihat, mendekatkan ke arah wajah Alda,” waw kamu ternyata bertahan hidup di lemari ini.” Ucap Sarah.


“Sekarang kamu ada temannya jangan sedih lagi,” ucap Sarah.


Kini Sarah mulai menutup lemari itu, menepuk kedua tangannya. Mendekat ke arah Pak Anton.


“Hai suamiku, sekarang kamu sudah ditemani dengan istri istrimu. Jadi jangan kuatir.”


Ucap Sarah pada mayat suaminya, yang di mana Iya menaruh obat pengawet lagi. Agar tubuh Pak Anton tidak tercium bau sama sekali.


“Ini benar-benar menyenangkan.”


@@@@@


Tama kini mulai memasang kabel yang ia potong, menyatukannya kembali agar rumah terlihat terang oleh cahaya lampu.


Hanya dalam hitungan detik kini rumah pun menyala seperti semula, membuat tamak langsung berlari menghampiri Sarah.

__ADS_1


“ Bagaimana kamu sudah mengamankan mayat Ibu tiriku?” tanya Tama.


“ sesuai perintahmu aku sudah melakukan semuanya, Oh ya jika aku melakukan kesalahan. Aku tidak mau kamu menyalahkanku begitu saja!” jawab Sarah membuat jidat Tama sedikit menurut.


Ya tak mengerti dengan ucapan Sarah yang harus ia tebak.


“Memangnya aku harus menyalahkan kamu karna apa? Bukannya kamu hanya menurut dan mengikuti perintahku saja,” ucap tegas Tama.


Sarah hanya memajukan Bibir bawahnya ia tersenyum kecil, Berusaha tetap tenang dan menyembunyikan Siapa yang sebenarnya sudah dipukul Tama saat itu.


“ bodoh benar- benar bodoh si Tama ini, sudah berulang kali aku membuat suatu ucapan yang mungkin membuat dia akan syok. Tapi si Tama ini tetap tenang dan tak peduli dengan orang yang ia pukul, harusnya sebelum memukul orang itu, si Tama ini mengecek wajah wanita itu.” Gerutu hati Sarah.


Tama kini mulai berpamitan pada Sarah, Iya akan pergi untuk meeting besok ke jakarta, dan berangkat malam ini.


"Aku akan pergi ke jakarta besok untuk metting jadi kamu tolong jaga ibuku."


ucapan Tama membuat Sarah tersenyum kecil dan menjawab," tentu."


entah bagaimana jadinya, jika malam ini Tama pergi. Di mungkin tak akan melihat ibunya yang sudah ia pukul dan ia suruh gantung di gudang rahasia.


"Apa kamu yakin, oh ya. kenapa kamu tidak mau mengecek dulu orang yang kamu pukul?" tanya Sarah memberi sebuah kode.


Namun Tama mengabaikan sebuah kode, ia tak peduli. Bagi dirinya semua sudah berjalan dengan sangat baik.


"Tak usah, aku sudah bosan melihat Meri, ibu tiriku sendiri," balas Tama.


"Oh, ya sudah. Jangan harap nanti kamu menyesal setelah pulang dari jakarta, karena ulahmu sendiri," ucap Sarah.


" Sudahlah Sarah jangan terlalu banyak bicara, aku pusing jika mendengar kamu selalu berbicara yang tak aku mengerti sama sekali," cetus Tama.


"Kamu bukan tak mengerti, kamu itu terlalu bodoh," balas Sarah.


"Hey, apa kata kamu," ucap Tama mencekram kembali mulut Sarah.


Tama begitu kasar, ia selalu membuat Sarah kesakitan.


"Lepaskan, ini menyakitkan," ucap Sarah.


"Makanya aku tak suka jika kamu banyak bicara. Turuti saja ucapanku."

__ADS_1


saat itulah Tama mulai pergi dari hadapan Sarah.


Sarah yang melihat Tama sudah jauh dari hadapannya, kini berucap dengan pelan," kalau saja kamu teliti Tama. Mungkin kamu tak akan menyesal. Hanya saja akan ada penyesalan saat kamu pulang nanti. Dan aku hanya bisa bilang. Rasakan."


__ADS_2