Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 19


__ADS_3

"Aku mau tanya, sebenarnya, gejala apa saja kalau orang sedang mengalami penyakit tumor otak?" Tanyaku kepada Dokter Alan.


"Emh, kamu mau tahu? ikut saya ke ruangan." ucap dokter tampan itu mengajak masuk ke ruangannya.


Penjelasan Dokter Alan tentang gejala Tumor otak:


Tingkat keganasan tumor otak mepengaruhi, cepat atau lambatnya pertumbuhan tumor.


Begitu masa  tumor tumbuh membesar dan menyerang satu lokasi tertentu, gejala penyakit mulai muncul karna sistem saraf turut terganggu.


 Sakit kepala


  Sakit kepala adalah awal pertama tumor otak, yang di alami  sekitar 50 persen penderitanya.


Melansir Healthline, tumor otak dapat menekan saraf dan pembuluh darah diotak. Dampaknya penderita bisa merasakan sakit kepala.


"Jadi yang selama ini aku curigai benar," ucapku memotong penjelasan sang Dokter.


"Maksud kamu." terlihat wajah Alan curiga.


"Yah, Ami, sudah lama sering mengeluh sakit kepala, kepadaku waktu gadis." aku menjelaskan sedetail mungkin tentang kejadian waktu itu.


"Emh, bisa jadi Ami terkena penyakit tumor otak karna paktor keturunan dari orang tuannya atau masalah kesehatan lainnya, seperti, stres, kurang tidur."


Aku semakin ingin tau tentang penyakit yang di derita Ami.


"Terus Apa lagi gejala awal tumor itu berkembang?" Tanyaku lagi membuat Dokter Alan menyebutkan gejalanya.




Kejang




‎Perubahan suasana hati 




‎Mudah lupa dan sering bingung




‎Gampang lelah




‎Mual dan muntah




‎Kesemutan dan mati rasa




‎Dan gejala lainnya,




"Gejala lainnya seperti." rasa penasaranku semakin bertambah.


"Emang harus sedetail itu." Dokter Alan terseyum melihat tingkahku yang kekanak-kanakan.


Aku terus menatap wajahnya, hingga ia mendekat wajahnya ke arah wajahku.


"Apa kamu tidak merencanakan sesuatu, Sisi."

__ADS_1


Aku menelan ludah mendengar perkataan, Dokter Alan.


"Ahhh, mana mungkin aku kan sahabat terbaik Ami." 


Seketika dia menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki.


Terdengar ia menghelap nafas yang berat, sambil berucap." Syukurlah, aku takut kamu menyakiti dia."


"Mana mungkin, bukankah sekarang Ami sudah di oprasikan, jadi gak ada yang perlu dokter takuti, pastinya gejalanya takan terulang lagi kan."


"Saya harap begitu,"


Aku masih bertanya-tanya karna ke raguan Dokter Alan yang berkata sedemikian, seakan masih menyimpan rahasia.


"Coba jelaskan kepada saya, dok, apa yang terjadi pada Ami sekarang."


*********


Saat kami tengah berbincang, seorang suster tergesa-gesa menghampiri kami, seakan panik, tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa sus?" Tanya Dokter Alan, terlihat sekali suster yang sudah ada di sebelahku seakan panik.


"Maaf dok, pengujung ngamuk-ngamuk, ingin bertemu dokter."


Seketika Alan pergi dari ruangan ini, dan begitu pun dengan aku, yang mengikuti langkah mereka, saat ku dapati orang yang sedang mengamuk itu adalah Rudi.


Ada apa sebenarnya?


Terlihat Ami yang hanya melihat dari satu arah, tanpa menoleh kemana-mana.


"Apa yang kamu perbuat pada istri saya." teriak Rudi menujuk-nujuk Dokter Alan.


Wajah Rudi begitu merah padam seakan marah kepada  Dokter Alan.


"Ini bisa kita selesaikan, dengan berbicara baik-baik."


Aku terus saja bingung dengan perkataan Rudi kepada Alan.


Ku hampiri Ami yang terkulai lemah di atas ranjang dengan isak tangis yang pecah.


Memagang erat tangaku sambil ber ucap." tolong cegah meraka, siapapun di sana."


"Ini aku Sisi, Am, liat aku, kamu pegang tanganku."


Apa mungkin .. Ami?


***********


"Tenang Am, ini aku Sisi." aku melihat tangan Ami meraba-raba, apa dia buta.


"Tolong cegah mereka, agar tidak bertengkar, Si." kulihat Ami menagis, seakan aku  tak percaya dia bisa kehilangan penglihatannya.


"kamu tenang saja yah, Am, biar aku yang urus mereka."


Aku mendengar teriakan Rudi yang mencaci Dokter Alan sepupu Ami.


Sepertinya Rudi marah, karna Ami tidak bisa melihat.


Namun, kudengar lagi Dokter Alan menjelaskan setalah oprasi tumor otak, mata Ami tidak bisa melihat sementara waktu.


Benar-benar, Rudi begitu takut kehilangan Ami istrinya.


Setelah kekacawan itu selesai, aku melihat Rudi menagis mengampiri Ami yang terduduk di atas Ranjang.


"Mamah, sabar yah, maafin papah, papah hanya mengandalkan emosi sesaat." 


Tangisan dikala itu pecah seketika, membuat suasana menjadi rasa sedih yang teramat dalam bagi kedua insan itu.


Aku yang berdiri hanya menjadi kambing conge, seakan tidak di anggap ada, buat menyapa pun tak ada, Rudi benar-benar lelaki setia.


"Papah, mamah gak suka papah emosi begitu, ada baiknya papah tanya dulu baik-baik sama Alan." ucapan Ami terdengar begitu lembut membuat Rudi semakin menagis.


Hanya kemesraan mereka yang terlihat di ruangan ini, membuat hatiku muak, dikala Ami meraba wajah Rudi, menghapus air mata yang mengalir.


Oh, Ami sungguh beruntung dirimu, dikala sakit kau masih ada yang peduli. 


Sedangkan aku, satu orangpun tidak ada yang peduli, apa lagi Rudi yang selalu menganggap aku sebagai pengganggu. 


Ya ampun Rudi mencium tangan istrinya beberapa kali, seraya berucap kata maaf dan maaf lagi, seakan banyak sekali dosa yang ia perbuat pada istrinya.


Di saat kemesraan mereka terpancar, tiba-tiba Rudi menatap pandangan ke arahku dengan raut wajah yang sangat sangar, seakan mengisaratkan untuk pergi dari ruangan ini.

__ADS_1


Biarkan saja, toh aku sudah mendapatkan apa yang aku mau.


Tinggal satu langkah lagi, yaitu menikah dengan Rudi. 


Syukurlah sahabatku Ami sudah sembuh tinggal aku menyusun rencana lainnya.


Ami maafkan aku karna cinta dan uang aku rela menyakitimu.


Sebenarnya aku tidak mau, tapi hati menyuruh untuk berbuat seperti ini.


Saat aku tengah berjalan sendirian, ku dapati, ibunya Rudi datang menghampiri.


"Ibu .." panggilanku pada wanita tua yang berjalan menuju kearahku 


Ibu menghampiriku dan terseyum kepadaku, sembari memegang pundak kananku.


"Sisi, kamu sudah ada di sini," 


Aku mengangguk, sembari terseyum tidak lupa mencium punggung tangan kanan ibu Rudi.


"Ibu mau melihat Ami, kah."


Terlihat wanita tua di hadapanku seperti enggan melihat menantunya sendiri.


"Iyah, ibu mau, pura-pura minta maaf, supaya Rudi enggak marah lagi sama ibu."


Aku tertawa mendengar tutur kata ibu.


"Sebenarnya malas, ibu minta maaf sama si Ami itu, menantu miskin."


Apa aku tidak salah dengar ibu berkata sedemikian, padahal Ami itu anak orang kaya, apa Rudi tidak menjelaskan semuanya.


Waw ini kesempatan emas, aku harus benar-benar menyusun rencana, agar bisa menikah dengan Rudi.


"Si, ko kamu melamun, ayo temenin ibu kesana."


"Aduh bu, maaf, Sisi pulang ajah deh, soalnya Mas Rudi kaya engga suka liat Sisi ada di sana."


"Yah padahal ibu pengen di temani menantu kesayangan ibu ini."


Aku terseyum bahagia di kala ibu mengatakan bahwa aku menantu kesayangan.


Ami, semua berbalik, aku yang akan menguasai semuanya, ibu dan suamimu.


Biar sajalah aku di cap pelakor yang terpenting bisa menikah dengan Rudi, dan menikmati kekayaan Ami. Bisa melunasi hutang-hutang suamiku Aldi, agar tidak terjerat lagi dengan renternir.


Kalau sudah menikah dengan Rudi, otomatis, Ami akan tersingkir dan semua harta jatuh kepadaku, kan yang ngelola semua itu adalah Rudi.


Yes .. Yes ..


Ibu mertuamu bodoh ya Am, menyia-nyiakan wanita berlian seperti kamu dan malah memunggut sampah seperti aku 


Engga sia-sia tampilan aku glamor, menandakan layaknya orang kaya.


Berbalik dengan Ami, yang penampilan biasa ajah, terlihat dekil kumel, hitam.


Membuat ibu enggan melihatnya saja.


"Hey, sayang." 


Aw, aku menabrak seseorang, di kala ia menyapaku.


"Pa-pak ... Hendra," jawabku gelagapan.


Ada apa dia ke sini, oh bodoh dia kan pamannya Ami.


"Senang bertemu kamu lagi cantik," ucapnya sembari mencuil daguku.


Oh, jijik sekali rasanya di cuil oleh tua bangka ini.


"Boleh aku bersenang-senang lagi denganmu." Dia menarik tanganku hingga wajahku bersentuhan dengan dada peotnya.


"Tidak bisa pak, soalnya sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Mas Rudi." 


Ku lihat dia terseyum dengan pernyataanku, seraya berkata."Apa mungkin itu terjadi."


"Emang kenapa? Apa Bapak tak rela, melihat Ami di madu." Aku menatap sinis raut wajahnya yang terlihat masih segar, apa karna dia kaya, om-om semacam dia tidak kelihatan tua-tua amat, ya cuman masih ada rambut yang sudah mulai memutih.


"Emh ... Kamu tidak ingat, kemarin kita sudah melakukan apa. Kamu mau liat apa  yang ada di Hp-ku ini."


Bola mataku kembali membulat, di buat kaget dengan Hp yang ia sodorkan kepadaku, layar yang mengambarkan, membuat aku tercengang kaget.

__ADS_1


Seketika keringat dingin berjatuhan, seakan tak percaya apa yang tua bangka ini tunjukan kepadaku.


__ADS_2