
Putra mendekat ke arah Deni dan berkata," aku sudah bilang padamu. kamu akan kena akibatnya."
Deni mendelik kesal ke arah Putra. Hatinya benar benar kesal, ia tak menyangka jika rencana yang sudah terpikirkan olehnya kini gagal.
"Kamu jangan senang dulu Putra, ini belum berakhir."
"Kamu bilang ini belum berakhir, kamu akan tahu sendiri. Saat nanti di dalam penjara."
"Cukup, jangan senang dulu."
Putra tersenyum kecil," sudahlah. sebaiknya kamu insaf, perbaiki diri. Agar hidupmu lebih bermakna."
Deni mengepal erat tangannya, ia mulai meninju Putra.
Hampir saja satu tinjuan di layangkan Deni untuk Putra, kini tertahan. " Jangan berani memukul wajahku. kamu harus ingat satu pukulan, sama saja kamu menyakiti dirimu sendiri."
Kini polisi, langsung membawa Deni. Menghentikan percakapan mereka berdua.
@@@@
Sedangkan Delia dan Alan mulai mendekat ke arah Putra.
"Putra, aku ingin bertemu dengan bayiku." Ucap Delia. Ia tak sabar ingin bertemu dengan bayinya.
"Delia, ayo sekarang kita pergi." Balas Putra. Yang sudah menyiapkan mobil untuk Delia dan Alan.
Putra berusaha tenang, berharap jika dirinya datang Ane akan mengungkapkan semuanya.
Sedangkan Delia dan Alan, tak sabar ingin bertemu dengan bayi mereka.
"Delia, aku berharap kamu tidak melaporkan istriku ke kantor polisi," pinta Putra.
Delia dan Alan saling menatap satu sama lain, mereka kini mulai memaafkan kesalahan Ane. Walau sebernarnya ada rasa kesal begitu besar terasa pada hati Delia.
"Kami tidak akan memasukan istrimu ke dalam penjara. kamu tenang saja Putra."
Hati Putra merasa lega, sebagai seorang suami. Ia tak ingin melihat istrinya menderita atau masuk ke dalam penjara.
Setelah sampai di kediaman Putra, Delia dan Alan langsung turun dari dalam mobil. Untuk segera menemui Ane.
Sedangkan di dalam rumah, Ane masih terlelap tidur. Dan pembantunya SiMbok sibuk di dapur dengan pekerjaanya.
Tok .... tok .... tok ....
Ketukan pintu di layangkan oleh Delia, tapi tak ada yang membuka sama sekali.
Putra mendekat ke pintu rumahnya, membuka pintu rumah masih terkunci.
Ia langsung. Mengetuk pintu rumahnya, memanggil Si Mbok dan juga Ane.
Hingga beberapa menit kemudian, siMbok datang dengan tergesa gesa membuka pintu rumah.
"Tuan, maaf tadi siMbok sibuk di dapur."
"Oh, Mbok tolong bikinin minuman buat tamu saya."
__ADS_1
"Baik, tuan."
"Dimana Ane?"
"Nona Ane, lagi istirahat di dalam kamar."
"Oh ya sudah. Kalau lagi istirahat. Biar saya bagunin."
Delia dan Alan, dipersilahkan masuk untuk duduk menunggu ke datangan Ane. Yang Di mana Putra mulai menghampiri kamar istrinya.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu dilayagkan Putra beberapa kali, di mana Ane begitu pulas tertidur.
"Ane."
Teriak Putra memanggil nama istrinya.
Sampai beberapa menit kemudian, Ane terbangun. Ia menatap jam di dinding sudah pukul 12 siang.
"Ya ampun sudah siang."
Dengan tergesa gesa Ane bangun dari ranjang tempat tidurnya. Membuka pintu kamar, Putra tengah berdiri di balik pintu kamarnya.
"Papah, sedang apa di sini?" tanya Ane. Pada sang suami.
" Delia dan Alan datang untuk mengambil bayi mereka!" jawab Putra.
"Maksud papah?" tanya Ane mengerutkan dahinya.
"Tunggu sebentar. Alan dan Delia datang ke sini untuk mengambil bayi mereka. Berarti mereka ....."
Belum perkataan Ane terlontar semuanya, Putra berucap." Aku sudah memberi tahu mereka bahwa, bayi mereka ada di rumah kita. Ane."
Ane yang mendengar penjelasan sang suami membulatkan kedua matanya, mencekram kerah baju Putra.
"Apa, papah. Gila. Kenapa bisa papah mengatakan semuanya."
"Ini demi kebaikan kamu, mah. Papah tak ingin jika kamu masuk ke dalam penjara."
"Mamah, tidak ingin memberikan bayi itu ke tangan Delia."
"Mah, ayolah jangan egois. kamu tidak berhak atas bayi itu."
"Aku tidak akan memberikan bayi itu pada Alan dan juga Delia."
@@@@@@
Di tengah perdebatan Ane dan juga Putra, simbok yang sudah beres memasak di dapur kini mulai mendekat ke arah kamar tempat bayi Itu ditidurkan.
Namun, saat memasuki kamar. Bertapa kagetnya bayi yang tertidur pulas itu tidak ada di tempat.
"Ya ampun, ke mana bayi itu?"
Si Mbok berusaha mencari bayi yang sempat ia tidurkan di dalam kamar, ke sana ke mari dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Bagaimana ini, kenapa bayi itu tiba tiba tak ada. Apa yang harus aku katakan pada Nona Ane."
Si Mbok sudah pasrah, mencari keberadaan bayi itu. Ia mulai menghampiri Ane dan Putra. Yang di mana mereka masih saja berdebat.
"Nona, Tuan. Ini gawat."
Ane dan Putra menatap ke arah Si Mbok dan bertanya," gawat kenapa Mbok?"
Si Mbok mulai mengatakan kepanikanya yang di mana bayi yang ia sengaja tidurkan di kamar tiba tiba tidak ada.
"Bayi .... bayi ...."
"Bayi, kenapa dengan bayinya Si Mbok?" tanya Ane. perlahan mendekat ke arah Simbok.
"Maafkan saya Nona. Bayi itu hilang, padahal saya hanya meninggalkan bayi itu sebentar saja!" balas Simbok mengatakan apa yang sudah terjadi.
Ane syok berat, dan bertanya kembali dengan nada sedikit meninggi." Si mbok jangan mengada gada. Mana mungkin, bayi itu bisa menghilang dan pergi."
"Si Mbok tidak berbohong, Non. Bayi itu hilang, si Mbok cari ke sana ke mari tak ada."
Putra mendekat ke arah si Mbok dan bertanya?" sebelum bayi itu menghilang, apa si Mbok lihat hal mencurigakan. Seperti ada orang yang masuk ke rumah kita."
"Tidak ada, tuan. Pintu sudah saya tutup semua dan kunci!" jawab Si Mbok.
Mengusap kasar wajah, Putra bingung. Bagaimana menjelaskan semuanya pada Alan dan Juga Delia.
"Ya sudah, Si Mbok. Kita cari bayi itu lagi."
Si Mbok menganggukan kepala, ia mulai berjalan mengikuti Ane.
Saat Delia dan Alan tengah duduk dengan hati yang tak sabar ingin bertemu dengan anak mereka berdua, Ane melewati begitu saja. Membuat Delia berdiri dan menahan Ane.
"Ane, cepat kembalikan bayi kami," ucap Delia. Menahan tangan Ane.
"Akan aku kembalikan bayi kalian berdua. Tapi bayi itu tiba tiba hilang entah ke mana," ucap cetus Ane.
"Apa."
Delia yang mendengar Ane berkata seperti itu sangatlah syok berat.
"Jangan banyak alasan lagi, cepat kembalikan bayi kami." Kecam Alan.
Putra mulai menenangkan perdebatan Delia dan Ane begitu pun dengan Alan.
"Sudah cukup, jangan bedebat lagi. Alan, Delia. Bayi kalian hilang, tanpa istriku sadari."
"Kenapa bisa?"
"Makanya itu, kami heran. Padahal di rumah tidak ada siapa- siapa lagi!"
Delia cemas. Saat itulah mereka bergegas pergi untuk mencari bayi Delia.
Ane tak menyangka saat dirinya tidur. Bayi Delia yang di jaga pembantunya malah hilang. Tanpa jejak.
Siapa yang tega melakukan semua ini?
__ADS_1