
Setelah mengangkat panggilan dari Sarah, kini Ami mulai berjalan mencari keberadaan Rudi, yang ternyata Rudi tengah bercanda bersama buah hati mereka yang tak lain ialah Dodi.
Dengan rasa kesal dan juga amarah yang menggebu-gebu pada hati Ami, wanita berhijab itu langsung menghampiri suaminya.
“Mamah.” Panggil Dodi.
Ami mulai mendekat ke arah Dodi, memegang kedua bahu anak itu dan berkata,” Dodi kamu ke belakang dulu ya, mamah mau bicara hal yang penting bersama papamu dulu.”
Dodi memajukan bibir atas bawahnya, ia seketika pergi dengan wajah muram dan terlihat cemberut.
Rudi mendekat ke arah sang istri, memeluk tubuh Ami seketika. Dodi yang sudah terlihat menjauh, membuat Ami se ketika melepaskan pelukan sang suami.
Wajah Ami menatap kearah Rudi, dengan menampilkan wajah yang kesal. Rudi yang seakan menyadari semua itu mengerutkan dahi dan berkata,” kamu kenapa, sayang?”
Tanya Rudi, Ami melibatkan kedua tangannya. Menahan setiap amarah yang ia ingin lontarkan pada sang suami, tapi karena ia menghargai Rudi. Saat itulah ia mengatakan dengan kata-kata lembut.
“Sarah, tadi menelepon mencarimu,” ucap Ami kedua matanya menunduk ke bawah, ia berusaha menahan rasa kesal agar tidak memarahi Rudi pada saat itu.
“Terus apa katanya?” tanya Rudi pada sang istri.
“Dia mengatakan, bahwa dirinya sedang hamil!” jawab Ami.
Rudi mengerutkan dahi ia bingung kenapa Ami mengatakan kehamilan Sarah kepada dirinya.
“Terus apa urusannya denganku?” tanya Rudi.
Ami menghembuskan nafas panjangnya, Iya membulatkan kedua matanya ke arah sang suami. Dan berkata,” anak yang ada pada kandungan Sarah adalah anaknya.”
Rudi kini tertawa terbahak-bahak di depan Ami,” terus kamu percaya begitu saja?” tanya Rudi.
Ami sangatlah kesal melihat Rudi yang tertawa,” ya. Percaya dan tidak percaya! Sih.”
Rudi mencuri lagu sang istri, mencium pipi kirinya dan berkata,” jangan percaya dengan Sarah, dia wanita licik. Dan kalau dia hamil anakku harusnya ada bukti yang kuat.”
Ucapan Rudi membuat Ami berpikir dan berucap dalam hati,” ada betulnya juga.”
“Mm.”
__ADS_1
Wajah Rudi semakin mendekat ke arah sang istri, membuat tangan Ami mendorong wajah Rudi saat itu.
“Masih marah?” tanya Rudi.
Ami yang memajukan bibirnya, seketika membuat kedua pipinya memerah saat sang suami mulai menggodanya saat itu.
“Terus kenapa dia bilang, saat kamu menjebaknya. Dia sudah ada di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana? Tanya Ami.
Saat itu Rudi terdiam. Haruskah ia mengatakan semuanya dan menjelaskan apa yang terjadi pada saat itu.
“Sudahlah jangan pikirkan itu lagi,” ucap Rudi yang seakan malas menjelaskan jebakan yang ia buat waktu itu untuk Sarah. Dia memegang kedua tangan sang istri mengecup punggung tangannya dan berkata,” kamu percaya padaku kan Ami, mana mungkin aku menodai Sarah.”
Ami melepaskan kedua tangan yang dipegang oleh Rudi saat, Iya berjalan membelakangi sang suami dan menjawab,” bisa saja Rudi.”
“Maksud kamu, bisa saja bagaimana?” tanya Rudi berjalan ke arah sang istri menatap kembali wajahnya.
“Ya, bisa saja kamu menodai Sarah terpancing dengan tubuhnya. Karna aku sebagai seorang istri tak pernah memuaskanmu, apalagi aku yang baru saja pulih. Mungkin semua akan menjadi berat bagi dirimu!” jawab Ami. Sedikit meneteskan air mata.
Rudi mengangkat kedua pipi Ami, mengusap perlahan air mata yang mulai jatuh mengenai pipi sang istri.
Entah kenapa dengan diri Ami, iya melepaskan kedua tangan Rudi. Pergi menuju kamar, seakan tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut suaminya.
Rudi dengan Sigap mengejar sang istri, namun sayangnya Ami menutup pintu kamarnya. Membuat Rudi terus mengetuk-ngetuk dan berkata kepada sang istri,” Ayolah Ami percaya padaku Kenapa kamu jadi seperti ini, apa kurang pengorbananku selama ini. Aku tidak mungkin menghianati pernikahan kita.”
Ami mengabaikan gedoran pintu dan juga ucapan Rudi, yang menangis terisak-isak di dalam kamar. Antara percaya dan tidak percayanya dirinya kepada Rudi.
Kini Dodi menghampiri sang Papah yang tengah mengetuk-ngetuk pintu kamar Ami. Membuat Dodi berucap pada sang papa,” ada apa pah?”
Rudi tak menyangka jika Dodi mengetahui, perdebatan mereka berdua. Sampai di mana Rudi membawa Dodi untuk pergi keluar rumah,” ayo kita ke luar Dodi.”
Dodi bertanya pada sang papa, tapi Rudi malah memalingkan pertanyaan Dodi.
“Pah, Dodi tanya. Kenapa dengan mamah?”
Tanya Dodi dengan Tegas.
Rudi bingung harus menjelaskan apa yang sudah terjadi pada dirinya dan juga Ami, karena Dodi belum cukup mengetahui apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Papah ajak kamu jalan- jalan dulu, ya.”
Rudi terus memalingkan pertanyaan yang terlontar dari mulut Dodi, yang menarik tangan anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
Dodi mulai berhenti bertanya, karna melihat wajah sang papah yang gusar, ia takut jika bertanya kembali papahnya akan memarahinya.
Di dalam hati Rudi terus menggerutu kesal, ia berusaha menenangkan diri dengan memijat depan kepalanya.
“Apa lagi ini, kenapa si Sarah itu bikin ulah terus menerus. Harusnya dia sadar saat dirinya di dalam penjara,” gerutu Rudi.
@@@@
Sarah yang berada di rumah sakit tersenyum senang, dia memikirkan apa yang akan terjadi pada Ami dan juga Rudi.
“ pasti sekarang mereka sedang bertengkar. Aku harus mencari bukti bahwa Rudi yang menodaiku saat itu.” Ucap Sarah. Menggenggam erat ponsel perawat yang ada di sana.
“Mbak, maaf.”
Lamunan Sarah seketika membuyar, saat ia memikirkan cara agar bisa bebas dari penjara dan mencari rekaman cctv di rumahnya.
Dirinya sangatlah yakin, Jika ia hamil anak Rudi pada saat ini. Padahal bisa saja ada orang yang sudah berani menodai Sarah saat Rudi ke luar dari kamarnya.
Karna Rudi, hanya menyelimuti dan membaringkan tubuh Sarah pada saat itu. Tapi Sarah bersikukuh bahwa yang menodai dirinya adalah Rudi.
"Iya ada apa, suster?" tanya Sarah. berusaha bersikap ramah pada suster yang bertanya padanya.
"Waktunya minum obat!" jawab sang suster.
saat itulah Sarah Mulai mengambil obat yang berada pada suster, Dia meminum obat itu. Menatap sekilas ke arah wajah sang suster, ia sekarang tahu apa yang harus ia lakukan.
dengan ide yang tiba-tiba saja muncul di pikirannya, saat itulah Sarah mulai melayangkan aksinya. Di mana Ketika sang suster lengah, Sarah mulai memberanikan diri memukul kepala sang suster itu.
Bruk ....
satu pukulan berhasil dilayangkan oleh Sarah pada saat itu, suster masih membuka matanya. Tanpa rasa kasihan Sarah melayangkan lagi satu pukulan pada kepala depan suster.
Hingga dimana suster itu terkulai lemah di atas lantai.
__ADS_1