
Masa lalu Sarah 6
Kini Sarah mulai tertidur pulas, merasakan ketenangan pada hatinya, tak peduli dengan suara gedoran lemari. Yang terpenting ia tertidur pulas.
Alda yang sudah tiga hari di kurung di lemari itu, sudah mulai pasrah dengan hidupnya. Tubuhnya sanggatlah kering, ia tak sanggup lagi untuk bertahan hidup, yang ia lihat hannyalah kegelapan.
Sarah sanggatlah keterlaluan, membiarkan Alda dalam kelaparan dan kehausan. Ia sengaja membuat Alda mati secara perlahan dalam kesengsaraan di dalam lemari.
Naina yang baru saja sadar, dari pingsannya. Kini membuka mata secara perlahan. Ia melihat ke sekelilingnya begitu gelap, hanya ada cahaya terang pada sela lemari.
“Dimana aku?” gumam hati Naina.
Wanita itu mencoba mengerakkan tubuhnya, “ Ahhk sakit.”
Tangan Naina ternyata di ikat kuat, kakinya bergelantungan membuat Naina mencoba melepaskan tangan yang terikat itu.
“Ahhk, kenapa susah sekali.” Gerutu Naina dalam hati.
Untuk berteriak pun Naina seakan susah, karna mulutnya di perban. Pada saat itu ia menatap ke samping kiri, betapa kagetnya Naina.
“Alda, dia ada di sini?” ucap hati Naina.
Hati Naina merasa tak tega melihat Alda, sudah dalam keadaan mengenaskan. Kedua matanya begitu terlihat bengkak karna terus menangis.
“Mmm ....”
Naina seakan bingung, ia harus bagaimana agar Alda bangun, karna perban yang begitu kuat menempel pada bibirnya.
“Alda bangun .... Kamu jangan mati.” Ucap Naina dalam hati.
Naina mencoba menggoyangkan kakinya, untuk meraih tubuh Alda.
“Sial, kenapa susah sekali.” Gerutu hati Naina.
Tiba di mana Alda bangun, menatap ke arah wajah Naina, kedua matanya berkaca-kaca.
“Mmm ....”
Alda malah menggelengkan kepala, ia sudah tak sanggup menggerakkan tubuhnya yang sudah tak bertenaga.
“Sarah benar- benar keterlaluan, dengan sekuat tenaga. Naina terus mengedor-gedor pintu lemari itu.”
Hingga di mana.
Ceklek ....
Suara pintu di buka secara perlahan.
“Siapa yang datang? Apa itu Sarah?”
Pintu lemari pun di buka secara perlahan. Sarah perlahan tersenyum kecil, melihat ke arah Alda dan juga Naina.
Dengan sengaja ia membuka perban yang menempel pada mulut Naina dan Alda.
“Kurang ajar kamu Sarah, aku tak menyangka kamu sejahat ini.” Hardik Naina.
Sarah menenteng perban yang ia lepaskan dari mulut Naina dan juga Alda.
__ADS_1
“Kenapa kamu malah berkata aku jahat. Yang melakukan semua ini anakmu sendiri,” balas Sarah. Melipatkan kedua matanya.
“Apa maksud kamu?” tanya Naina.
Sarah yang memang kebetulan membuat rekaman, di mana Tama menyuruhnya untuk membawa wanita yang ia pukul dan mengikatkannya pada lemari.
“ Ini rekaman yang sudah aku buat, silakan kamu dengarkan.”
Saat itulah Sarah mulai menyodorkan rekaman itu dari ponselnya. Mendekatkan pada Naina, seketika kedua mata Naina terlihat berkaca-kaca.
“Itu tidak mungkin, Tama tidak mungkin melakukan semua ini,” teriak Naina yang tak percaya.
“Sudahlah, terima nasibmu Naina!” balas Sarah.
“Sarah, berikan aku air minum sedikit dan makanan,” ucap Alda mengemis di depan Sarah.
Sarah hanya mengerutkan kedua dahinya dan berkata,” Hahha, kamu ingin makan. Oke aku akan berikan kamu makanan.”
kini Sarah mulai pergi ke dapur, membawakan makanan untuk Alda yang mengemis momohon.
Beberapa menit kemudia, Sarah datang membawa makanan dalam piring dan gelas.
"Ini."
Menaruh pada bawah kaki. Naina yang melihat makanan di bawah kaki itu langsung berdecak kesal.
"Heh, Sarah. Kamu niat tidak memberi makan pada Alda," ucap Naina.
"Sudah aku beri makan, masih saja ngomong," balas Sarah.
"Kamu ini keterlaluan, lepaskan dulu ikatan Alda, bagaimana cara dia makan?" tanya Naina.
"Sudah jangan berdebat, aku akan mencari cara lain," timpal Alda yang begitu lemas.
"Alda, bagaimana kamu memakan makanan itu?" tanya Naina.
"Sudahlah, urus saja hidup kalian di lemari ini, aku mau tidur," timpal Sarah berlalu pergi meninggalkkan Naina dan juga Alda
"Sarah .... Sarah ...."
Teriakan Naina di abaikan Sarah, wanita itu berjalan dan menutup ruangan itu.
"Kurang ajar, si Sarah ini." Ucap Naina.
"Sudahlah, Naina. Percuma saja, si Sarah tak akan mendengarkan ucapan kita." ucap Alda.
"Aku tak menyangka jika kamu berada di sini, yang aku tahu Tama membuat sebuah cerita. Bahwa kamu lari bersama Mas Anton." balas Naina.
"Entahlah, aku sudah tak mau membahas semua itu lagi. Karna tiba-tiba saja aku sudah berada di sini selama tiga hari," ucap Alda.
"Maafkan aku, Alda. jika aku tahu. Aku pasti akan menyelamatkanmu, dan aku tak tahu anakku juga ulah dari semua ini," balas Naina.
"Sudahlah percuma menyesali semuanya, kita akan mati sia-sia di sini," ucap Alda.
Saat itulah Alda mulai mengambil nasi dengan kakinya, berusaha menyuapkan pada mulutnya. Sudah beberapa kali, tapi tak bisa.
Naina mulai mencari sebuah benda yang mungkin bisa meraih nasi pada piring yang berada di bawah kaki Alda.
__ADS_1
Mereka berusaha sekuat tenaga. Tapi tak bisa juga.
"Kamu harus makan, agar kamu mempunyai tenanga." Ucap Naina.
"Bagaimana caranya Naina, tubuhku lemas sekali."
" Aku akan membantumu."
Sampai di mana Naina, bisa meraih gelas dengan kakinya menyodorkan pada Alda, walau airnya tersisa sedikit lagi.
"Airnya habis Naina, bagaimana dengan kamu." ucap Alda.
"Sudah lupakan saja. Aku masih punya tenanga, sedangkan kamu," balas Naina.
Naina mulai menayakan di mana pak Anton.
"Dimana suami kita?"
Alda terdiam, mulutnya seakan kaku. Ia bingung harus menjawab apa?
"Sebenarnya ...."
Alda seakan enggan mengatakan yang sebenarnya.
"Sebenarnya suami kita sudah meninggal dunia."
Kedua mata Alda membulat, mendengar perkataan yang ia tak percaya.
"Itu tidak mungkin," ucap Naina.
"Tidak ada yang tak mungkin, semua sudah takdir," balas Alda.
"Ini bukan takdir, semua sudah rencana Sarah dan anakku yang keterlaluan," ucap Naina.
@@@@
Dua hari menjelang, di mana Tama pulang ke rumah, ia mencari sang ibu.
"Bu .... bu ...."
Teriakan Tama membuat Meri ke luar dari kamarnya.
"Bisa tidak kamu tidak teriak-teriak Tama," cetus Meri.
"Bu Meri?"
Tama seakan kaget melihat Meri yang berada di hadapannya, ia mengira Meri sudah di ikat di dalam lemari dan mati membusuk. tapi kenyataanya dia masih segar bugar.
Pada saat itulah Tama mulai datang menghampri Sarah yang tengah duduk santai melihat pemandangan di taman.
"Sarah .... Sarah ...."
Teriakan Tama membuat Sarah berdiri, menatap ke arah Tama. Tersenyum dan menyambut ke datangan Tama.
"Kamu sudah pulang Tama?" tanya Sarah. Mendekat memegang dasi sama yang masih menempel pada lehernya.
saat itu Tama mulai menghempaskan tangan Sarah dan bertanya," kenapa Meri masih berkeliaran di rumah ini. Apa kamu melepaskan dia?" tanya Tama.
__ADS_1
Sarah membenarkan rambut panjangnya dan menjawab," kamu ngomong apa Tama, aku sudah mengikat dia di dalam lemari!"
Tama terdiam. Ia mencerna perkataan Sarah. Pada saat itulah Tama berjalan melihat ke ruangan rahasia Pak Anton.