
Meringis kesakitan itulah yang dirasakan Sisi saat itu, setiap jalan telah dilalui oleh mobil ambulan yang membawa Sisi ke rumah sakit. Tebangun meringis kesakitan menjambak rambut panjangnya dengan kedua tangan Sisi sendiri.
Sosok seorang Pak Hendra hanya mampu melihat semua yang dirasakan oleh istri mudanya, air mata seakan mengering tertutup oleh rasa sakit di kepala yang tak dapat lagi untuk di tahan.
Kemacetan melanda, membuat kepanikan semua orang di ambulan itu. Antara kasihan kepada pasien, dan kepada orang-orang yang tidak mau memberi jalan ke pada mereka.
Pak Hendra seakan merasaka kasihan pada wanita yang tengah meringis kesakitan, belum mendapatkan kepuasan wanitanya malah menagis. Menahan sakit di daerah kepala.
"Kamu harus sabar Sisi," ucap Pak Hendra.
Sisi tak mendengar perkataan Pak Hendra, ia malah terus berteriak kesakitan.
Saat itu, Alan dan Delia. Seakan tak bisa mengejar ambulan karna kemacetan yang mendadak secara tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba macet begini," ucap Alan. Hatinya seakan tak karuan, terik matahari mulai menyorot depan kaca mobilnya. Suara kelakson terdengar saling bersahutan.
"Apa Sisi akan baik-baik saja Alan?" tanya Delia. Wanita bermata sipit itu seakan panik. Karna Sisi seakan ingin merenggut nyawa. Karna kesakitan.
"Entahlah, jujur saja. Dalam jaitan kepala Sisi seakan infeksi!" jawab Alan."
Rasa khuatir mulai menyelimuti mereka, debaran jatung di dada kian meresah. Khuatir bagaimana keadaan Sisi sekarang. Delia terpikir oleh Ami, wanita bermata sipit itu berniat menelpon Ami saat itu juga.
Tanganya terlalu bergetar memencet tombol ponsel.
Sampai kecupan bibir Alan mendarat pada tangan Delia, seyum Alan terpancar membuat Delia terpanah.
Di tengah kepanikan, mereka berdua masih bisa bercanda.
"Alan, kamu!"
Alan mencuil hidung Delia seraya berkata," udah sah ini."
Setelah mendapat ciuman dari sang suami, tangan Delia tak bergetar lagi. Dengan sigap mencari no telepon Ami dalam kontak panggilan.
Tut ... tut ....
Telepon pun tersambung.
"Hallo, Am ...," ucap Delia. Begitu panik.
"Ada apa Del? Ko kamu kaya panik gitu?" tanya Ami.
"Sisi, masuk rumah sakit!" jawab Delia.
Tiba-tiba panggilan telepon pun terputus.
Maksud Delia apa, Sisi masuk rumah sakit. Emang mereka ada dimana, gumam hati Ami.
Tring ... satu pesan datang.
[Sisi masuk rumah sakit sekarang. Sekarang kita ada di bali. Kamu datang ke sini bersama Rudi, biar aku jelaskan semuanya.]
"Kenapa mereka ada di bali, ngapain coba."
Ami sedikit bingung, dengan perkataan Delia. Ia menelpon Rudi, untuk memesan tiket berangkat ke bali.
Satu jam lagi Rudi pulang, Ami bergegas membereskan baju untuk keperluan di sana.
__ADS_1
" Untung saja semua serba canggih, memesan tiket tak perlu nunggu lama."
Saat Rudi pulang, terlihat dari raut wajahnya yang terseyum menampilkan rasa bahagia.
"Papah kenapa seyam-seyum gitu?" tanya Ami. Menyambut kedatangan suaminya.
"Tumben mamah, ngajak papah liburan. Ke bali lagi. Siriknya ama Delia dan Alan!" jawab Rudi. Membuat Ami mengeleng-geleng kepala.
"Ke bali bukan untuk liburan, melainkan kita akan lihat keadaan Sisi di sana. Dan mendengarkan apa penjelasan dari Delia dan Alan," ucap Ami.
Rudi tertohok kaget, dia mengira Ami ingin pergi berbulan madu tenyata zonk. Hanya sekedar menyelidiki Sisi.
Mau tidak mau Rudi harus ikut, karna demi menguak semua rencana jahat Sisi.
************
Sisi berhasil di larikan ke rumah sakit, namun keadaannya sangat begitu lemah. Ia seakan tak berdaya, bibirnya begitu pucat.
"Terdapat infeksi pada kepala pasien, harus di tidak lanjuti dengan oprasi."
"Ya sudah."
Dokter memberikan obat anti nyeri dan juga penenang agar rasa sakit dalam kepala sedikit berkurang.
Saat Delia sampai bersama Alan, mereka langsung bertanya pada Pak Hendra.
"Gimana keadaan Sisi pah?" tanya Delia dan Alan.
"Sangat mengkhuatirkan!" jawab Pak Hendra
Mereka menunggu Sisi agar segera pulih, karna jadwal oprasi tidak langsung di lakukan. Harus membuat pasien setabil.
"Papah juga begitu. Tadinya papah mau memberi dia pelajaran, menikahi dan membuat dia menderita. Kalau tidak begitu papah takut Sisi akan menghancurkan rumah tangga Rudi dan Ami terus menerus."
"Tapi tetap saja pah, itu tindakan yang salah. Harusnya papah menyelidiki Sisi. Bukan menikahi dia, yang ada papah akan menghancurkan Alan dan juga mamah."
"Ya, papah minta maaf Alan."
"Alan ingin papah segera menceraikan Sisi, setelah wanita itu sadar!"
"Tapi Lan ... ?"
"Pokonya itu yang menurut Alan terbaik, apa papah mau mamah tahu semuanya. Bisa-bisa mamah akan benci dan tak menerima papah lagi."
"Baiklah Alan."
Saat itu Alan dan Delia bergegas pamit, karna tak bisa berlama-lama menunggu Sisi di rumah sakit.
Pak Hendra mengijinkan anak-anaknya pulang.
Saat di dalam mobil." ehem."
Delia yang mendengar suara Alan, berbalik arah seraya berkata." kamu batuk?"
Alan mengeleng-gelengkan kepala, terseyum kecil. Seraya berkata," ehem ... ehem."
"Apa sih, engga jelas kamu Alan."
__ADS_1
"Manggilnya jangan Alan dong, yang berbeda dikit ke. Kaya sayang bebeb, cintaku."
"Ih lebai."
"Tapi so sweet kan."
Delia bergidik geri mendengar Alan berbicara lembai, sampai Alan hanya bisa memoyongkan bibir atas bawahnya. Delia yang melihatnya terseyum kecil.
Ia menatap raut wajah sang dokter yang menjadi suaminya.
Lalu mendekat, hingga bibir Delia bersentuha dengan pipi Alan. Seraya berkata." iya sayang."
Seyuman terukir dari Alan dia membayangkan, betapa indahnya ciuman dari istrinya.
"Jadi dong malam ini, ehem ... ehem."
"Ehem, itu apa."
Alan tepok jidat, melihat istrinya yang tak mengerti arti ehem.
"Ya, sudah nanti aku peraktekin."
"Iya sayang."
Alan berasa ingin tertawa ketika cewe tomboy seperti Delia berkata manja dan. Menyebut nama sayang.
Pokonya malam ini tak boleh gagal. gumam hati Alan.
Setelah sampai, dengan sigapnya Alan berlari membuka pintu rumah, segera membersihkan diri. Dari sikat gigi mencuci muka agar terlihat kinclong.
Semua persiapan sudah beres.
Melihat Delia hanya membasuh wajah dan juga menganti pakaian, membuat Alan tak sabar menantikan momen dimana malam ini menjadi bersejarah antar pengantin yang baru merasakan cinta satu sama lain.
"Gimana sudah siap?" tanya Alan.
"Siap untuk ehem ... ehem bukan!" jawab Alena.
"Nah betul ayo."
Saat itu Delia merampatkan bibirnya dan berkata "ehem ... gitu aja kan."
Alan hanya melongo seakan semuanya hanya lelucon.
Telah habis kesabaranku, gumam hati Alan.
Menarik selimut membaringkan Delia, menatap lekat pada wajah Delia.
Bibir Alan mulai menyentuh leher Delia. Saat itu Delia menyingkirkan tubuh Alan dengan sekuat tenaga.
"Geli Alan."
"Enggak papa, yuk lagi."
Alan menarik Delia menutupi pada selimut. Delia langsung berkata. "Aku lagi datang bulan Alan."
Tubuh Alan lunglai, dan melosot ke bawah lantai.
__ADS_1
Gagal lagi.