Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 32


__ADS_3

"Tapi mba jangan salah sangka dulu, walaupun Alan mencintai mba. Alan engga mau maksa mba untuk terima cinta Alan. Karna Alan tahu mba bahagia bersama Mas Rudi,"ucap lelaki berseragam putih itu terseyum tipis di hadapan Ami. sorot matanya meperlihatkan kesedihan yang teramat dalam, lelaki yang rela menahan perasaannya hanya untuk Ami seorang. Kini mengungkapkan semua perasaannya di depan mata orang yang ia cintai.


seketika tangisan Ami pecah, wanita berwajah tirus itu hampir berburuk sangka dengan saudaranya sendiri.


"Alan siap menompang segala penderitaan mba. Karna Alan sayang mba dari dulu, walaupun hanya sebatas saudara. Beruntungnya Alan bisa mengenal mba, sampai saat ini."


Hening seketika bibir Ami begitu keluh, mendengar pernyataan Alan yang blak-blakan tentang perasaanya. Ami tidak menyangka dengan Alan. Lelaki berkulit putih berwajah tampan itu bisa mencintai Ami yang hanya wanita biasa.


Ami sempat berpikir, apa Alan tidak bisa menyadari dirinya sendiri. Masih banyak di luar sana wanita yang lebih layak ia cintai.


Pikiran Ami begitu kacao, bingung dengan apa yang harus Ami katakan pada Alan yang ternyata bukan saudara kandungnya sendiri.


Seketika hati Ami berbisik," Alan maafkan aku, kalau saja aku tahu dari dulu kita bukan saudara. Mungkin aku akan menjauhimu. Agar dirimu tidak jatuh hati padaku."


Langkah kaki Alan semakin mendekat.


"Mba," tangan sang dokter itu meraih tangan Ami. Memegang erat, penuh dengan cinta. Tatapan yang sayu penuh dengan harapan. Agar wanita yang ia cintai bisa membalas cintanya, walaupun bagi Alan itu di luar nalar.


"Alan, maaf." Ami menepis tangan lelaki berkulit putih itu dan menjauh dari hadapanya.


Alan berusaha mengejar. Namun langkah Ami semakin cepat.


"Mba, tunggu. Alan hanya ingin pamit, bahwa minggu depan Alan akan pergi Ke Amerika," teriakan itu terdengar membuat langkah Ami menjadi melambat.


Deg ... tangan Ami memegang dada, seakan tidak kuasa mendengar kepergian keponakanya itu.


Dengan menguatkan hati, Ami berucap." Pergilah."


Tangisan Ami pecah di saat berkata seperti itu, ia tidak mampu melihat wajah Alan. Rasanya Ami ingin berlari memeluk Alan, tapi itu tidak mungkin. Karna takut membuat hati Alan semakin berharap.


"Terimakasih untuk waktunya mba," ucap Alan tubuhnya seketika lunglai. Ia terduduk di teras depan rumah. Melihat Ami yang berjalan tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.


Beberapa kali Alan memukul dadanya sesak sungguh sesak, yang saat ini ia rasakan. Harus bagaimana lagi, kalau ia terus berada di sisi Ami yang ada cintanya makin tubuh.


Ami yang menutup pintu, melihat Alan menagis tersedu-sedu. Selama ini Alan banyak membantu Ami, kalau bukan Alan siapa lagi.


Sebenarnya ada rasa bersalah terhadap Alan. Karna Ami sempat mengacuhkanya.


Alan menghelap nafas beratnya berdiri, menerima semua yang ia rasakan, berjalan menuju pintu mobil.


Sekilas Alan melihat Ami mengintip dari gordeng jendela terseyum kepadanya.


Alan melambaikan tangan berpamitan untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Perpisahan yang sangat menyakiti hati bagi kedua insan, yang selalu bersama.


Sesaat terduduk di mobil, Alan menyempatkan untuk mengirim pesan pada Ami. Pesan tersingkat agar Ami bisa mengerti.


[Datanglah, mba. Saat di bandara nanti.]


Tangan Ami bergetar saat melihat isi pesan yang ia baca.


Ami hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh tanpa ia undang. Mungkin ini cara terbaik untuk Alan agar bisa melupakan cintanya kepadaku.


********


Satu minggu telah datang dimana, Alan akan pergi ke Amerika.


Ia menunggu kedatangan Ami. Namun tidak kunjung datang, gelisah menghantui pikiranya. Rasa rindu untuk terakhir kalinya.


"Ami aku tau pasti kamu datang," gumam hati Alan.


Sudah beberapa jam Ami tidak kunjung datang, Pak Hendra dan istrinya mengusap pelan pundak Alan. Agar menerima semuanya.


Saat Alan tengah ingin menaiki pesawat.


"Al ...," teriak Ami berlari tergopoh-gopoh dengan terseyum menatap ke arah wajahnya.


Ami berlari sendiri, entah dimana Rudi apa dia tidak ikut.


"Mba," air mata kebahagiaan terpancar pada lelaki berkulit putih itu. Betapa bahagianya apa yang Alan lihat di depan matanya, pujaan hati yang tidak mungkin ia miliki datang dengan nafas teregah-egah.


Senyum lelaki berkulit putih itu melebar. Alan mengambil lap saputangan yang berada di aku celananya. Mengusap keringat yang berceceran pada dahi Ami, yang menunduk sembari mengatur nafasnya.


"Alan maafkan mba, yang terlambat," seyum Ami selalu terpancar di hadapan Alan. Membuat hati lelaki berkulit putih berdetak tidak karuang.


Alan meminta izin kepada Ami.


"Boleh aku peluk, mba? Untuk terakhir kalinya."


Sorot mata Alan yang sayu membuat Ami tidak tega menolak permintaanya yang terakhir kalinya.


Saat itulah Ami mengangguk mengiyakan keinginan nya.


"Pelukan saudara."


Air mata Ami hampir menetes begitupun dengan Alan. Namun mudah mereka tahan.

__ADS_1


Dari kejauhan Rudi menatap meraka, ada rasa cemburu. Tapi ia tahan sebisa mungkin. Memberi kesempatan untuk Alan, bertemu dengan Ami.


Saat itupun Alan menatap dari kejauhan Rudi yang berdiri mematung. Dalam pelukan Alan menujuk satu jempol kepada Rudi, mengisaratkan satu kata terimakasih.


"Kamu baik-baik di sana ya, Al."


Alan memberi hormat kepada Ami terseyum penuh dengan kebahagian.


"Siap laksanakan komandan."


Tawa mereka terasa begitu hangat, begitu juga dengan orang tua Alan yang menyaksikan keakraban mereka.


Ibu Alan sedikit sedih dengan kepergian anaknya. Karna seorang ibu tau yang terbaik untuk Alan.


Lambaian tangan kepada Ami untuk terakhir kalinya.


***********


Di pesawat, Alan berkata." Akan kutunggu kamu Ami. Aku yakin kita bisa berjodoh."


Ternyata Alan tidak putus asa, dengan apa yang menimpa dirinya. Walaupun ia di tolak mentah-mentah oleh Ami.


Hati Ami sedikit sakit setelah pesawat yang di tumpangi Alan pergi jauh.


Rasa kehilangan Ami rasakan, saudara yang menjadi penyemangat.


Dalam segala hal. Kini. pergi jauh karna ada rasa dalam hati.


Rasa cinta yang tidak patut di perjuangkan, karna bagi Ami, Alan tetap keponakanya sampai kapan pun.


Saat itu Ami langsung menghampiri Rudi dan memeluk sang suami.


Wah, bagaimana seru tidak. Jangan lupa like komennya yah.


Kalau berkenan kasih votenya, hehhe


Terimakasih, yang sudah ngasih vote. Kalian baik banget.


Di cerita selanjutnya kita akan tahu kehancuran Mertua dan Sisi si cewek berwajah bulat itu.


Tentunya makin menegangkan dan makin seru.


Apakah Alan akan kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2