
Tak terasa masa kerja Ami sudah mulai selesai, Sisi mulai mendekat ke arah Ami. Mencari sebuah rasa simpati.
Saat itu Ami mulai bertanya pada Sisi,” Si, kenapa. Ya, Sarah akhir-akhir ini berbeda sekali. Tidak seperti biasanya. Ada apa dengan dia?”
Sisi mulai memegang bahu Ami seraya menenangkan keresahan, yang Ami rasakan.” Kamu tak usah kuatir. Sarah itu hanya banyak masalah saja, jangan terlalu di pikirkan.”
Ami menundukkan wajah, seakan tak puasa dengan ucapan Sisi,” Tapi, ini berbeda sekali. Sarah seakan menyimpan rasa benci kepadaku.”
Sisi tersenyum kecil mencoba membuat Ami tetap tenang,” itu hanya perasaan kamu saja. Sudah jangan di pikir in, tidak baik buat kesehatan kamu Am.”
Sisi mulai mencari sebuah cara, agar Sarah juga ikut pergi dari kantor.
“Am, aku minta tolong, donk,” ucap Sisi. Dengan wajah terlihat memelas.
Ami sedikit menaikkan kedua alisnya, bertanya pada sahabatnya.” Minta tolong apa?”
“Boleh enggak, aku pinjam ponsel kamu sebentar. Soalnya ponselku kebetulan mati mendadak,” pinta Sisi. Mengangkat bibir bawahnya.
“Hem, aku kira apa,” ucap Ami. Mengambil ponsel yang berada pada tasnya.
“Ini, mau lama juga enggak papa. Kamu kan sahabat terbaikku.” Ami langsung menyodorkan ponselnya pada Sisi, membuat Sisi dengan tersenyum senang menerima ponsel itu.
“ Kamu. Memang sahabat terbaikku, terima kasih Ami.”
Setelah mengambil ponsel dari Ami, Sisi bergegas pergi ke toilet. Iya mulai melaksanakan aksinya, untuk membuat orang-orang yang ia tak suka pergi dari kantor.
Orang-orang yang selalu membuat dirinya iri, dan bernasib baik.
“ Akhirnya ponsel Ami. Sudah aku dapatkan saat ini, tinggal mengirim pesan pada Sarah, Si Gadis cupu itu.”
Tangan Sisi kini mulai mengetik beberapa baris pesan, ia mulai mengirimkan pesan itu pada Sarah.
(Sarah, sebaiknya kamu menjadi wanita banyak-banyak ngaca deh. Sudah muka jelek mau saingan sama aku.)
Pesan pun terkirim, Sisi tersenyum senang. Sarah yang tengah izin cuti, untuk berlibur bersama keluarganya. Pasti akan kesal, ketika melihat isi pesan dari Sisi, melewati ponsel Ami.
( kamu takut ya, makanya kamu enggak balas pesanku.)
Saat itu Sarah yang tak kuat, langsung membalas pesan dari Sisi yang mengira itu pesan dari Ami.
(Dasar wanita munafik. Asal kamu tahu, aku tidak sudi berteman denganmu.)
Sisi tertawa terbahak-bahak saat melihat balasan dari Sarah.
“Hebat, Sarah masuk dalam jebakanku. Kalau pun dia besok datang ke kantor dia tidak akan bertemu lagi dengan Ami. Karna besok Ami sudah pergi dari kantor ini.”
Sarah langsung mengirim pesan lagi, di mana pesan itu adalah sebuah ancaman yang membuat Sisi puas.
( Aku akan balas semua perbuatanmu Ami. Ingat, sampai mati aku tak akan lupa.)
Itulah pesan yang di kirimkan Sarah untuk Ami, Sarah yang sudah menyumpahi Ami saat itu, langsung memblokir nomor ponsel Ami pada ponselnya.
“Waw, langsung di blokir menarik.”
Sisi benar-benar senang saat itu, Iya tidak mau tahu jika nanti apa yang akan terjadi pada Ami. Yang terpenting dirinya puas.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu, terdengar dari luar kamar mandi.
“Si, kamu lagi. Apa, aku mau ambil ponselku. Sudah ada jemputan di luar.”
Betapa kagetnya Sisi, dengan sigap ia menghapus pesan percakapan dirinya dengan Sarah.
__ADS_1
Sisi keluar dengan badan sedikit tegang, ia tersenyum kecut memberikan ponsel pada Ami.
“Terima kasih Am.”
Ami tersenyum dan menerima ponsel itu, saat itu Sisi mulai mengantarkan Ami menaiki taksi. Salam perpisahan dari Sisi untuk Ami.
Sisi berpura-pura mengeluarkan air mata, agar Ami percaya akan dirinya yang begitu peduli dan sayang.
“Ami, tetap semangat ya. Aku pasti akan merindukan kamu di kantor.”
Ami tersenyum lepas, memeluk sang sahabat. Kini ia bisa leluasa bertingkah seenaknya.
“Terima kasih, Si. Sudah menjadi teman terbaikku.”
Kini Ami mulai duduk di kursi mobil, saat itulah Sisi menutup pintu mobil. Ami yang sudah berada di dalam mobil melambaikan tangan, untuk perpisahan.
Mobil yang sudah semakin menjauh, membuat Sisi tersenyum kecil. Mengusap air mata yang mengalir, mengenai pipinya.
Tak terasa masa kerja Ami sudah mulai selesai, Sisi mulai mendekat ke arah Ami. Mencari sebuah rasa simpati.
Saat itu Ami mulai bertanya pada Sisi,” Si, kenapa. Ya, Sarah akhir-akhir ini berbeda sekali. Tidak seperti biasanya. Ada apa dengan dia?”
Sisi mulai memegang bahu Ami seraya menenangkan keresahan, yang Ami rasakan.” Kamu tak usah kuatir. Sarah itu hanya banyak masalah saja, jangan terlalu di pikirkan.”
Ami menundukkan wajah, seakan tak puasa dengan ucapan Sisi,” Tapi, ini berbeda sekali. Sarah seakan menyimpan rasa benci kepadaku.”
Sisi tersenyum kecil mencoba membuat Ami tetap tenang,” itu hanya perasaan kamu saja. Sudah jangan di pikir in, tidak baik buat kesehatan kamu Am.”
Sisi mulai mencari sebuah cara, agar Sarah juga ikut pergi dari kantor.
“Am, aku minta tolong, donk,” ucap Sisi. Dengan wajah terlihat memelas.
Ami sedikit menaikkan kedua alisnya, bertanya pada sahabatnya.” Minta tolong apa?”
“Boleh enggak, aku pinjam ponsel kamu sebentar. Soalnya ponselku kebetulan mati mendadak,” pinta Sisi. Mengangkat bibir bawahnya.
“Hem, aku kira apa,” ucap Ami. Mengambil ponsel yang berada pada tasnya.
“Ini, mau lama juga enggak papa. Kamu kan sahabat terbaikku.” Ami langsung menyodorkan ponselnya pada Sisi, membuat Sisi dengan tersenyum senang menerima ponsel itu.
“ Kamu. Memang sahabat terbaikku, terima kasih Ami.”
Setelah mengambil ponsel dari Ami, Sisi bergegas pergi ke toilet. Iya mulai melaksanakan aksinya, untuk membuat orang-orang yang ia tak suka pergi dari kantor.
Orang-orang yang selalu membuat dirinya iri, dan bernasib baik.
“ Akhirnya ponsel Ami. Sudah aku dapatkan saat ini, tinggal mengirim pesan pada Sarah, Si Gadis cupu itu.”
Tangan Sisi kini mulai mengetik beberapa baris pesan, ia mulai mengirimkan pesan itu pada Sarah.
(Sarah, sebaiknya kamu menjadi wanita banyak-banyak ngaca deh. Sudah muka jelek mau saingan sama aku.)
Pesan pun terkirim, Sisi tersenyum senang. Sarah yang tengah izin cuti, untuk berlibur bersama keluarganya. Pasti akan kesal, ketika melihat isi pesan dari Sisi, melewati ponsel Ami.
( kamu takut ya, makanya kamu enggak balas pesanku.)
Saat itu Sarah yang tak kuat, langsung membalas pesan dari Sisi yang mengira itu pesan dari Ami.
(Dasar wanita munafik. Asal kamu tahu, aku tidak sudi berteman denganmu.)
Sisi tertawa terbahak-bahak saat melihat balasan dari Sarah.
“Hebat, Sarah masuk dalam jebakanku. Kalau pun dia besok datang ke kantor dia tidak akan bertemu lagi dengan Ami. Karna besok Ami sudah pergi dari kantor ini.”
__ADS_1
Sarah langsung mengirim pesan lagi, di mana pesan itu adalah sebuah ancaman yang membuat Sisi puas.
( Aku akan balas semua perbuatanmu Ami. Ingat, sampai mati aku tak akan lupa.)
Itulah pesan yang di kirimkan Sarah untuk Ami, Sarah yang sudah menyumpahi Ami saat itu, langsung memblokir nomor ponsel Ami pada ponselnya.
“Waw, langsung di blokir menarik.”
Sisi benar-benar senang saat itu, Iya tidak mau tahu jika nanti apa yang akan terjadi pada Ami. Yang terpenting dirinya puas.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu, terdengar dari luar kamar mandi.
“Si, kamu lagi. Apa, aku mau ambil ponselku. Sudah ada jemputan di luar.”
Betapa kagetnya Sisi, dengan sigap ia menghapus pesan percakapan dirinya dengan Sarah.
Sisi keluar dengan badan sedikit tegang, ia tersenyum kecut memberikan ponsel pada Ami.
“Terima kasih Am.”
Ami tersenyum dan menerima ponsel itu, saat itu Sisi mulai mengantarkan Ami menaiki taksi. Salam perpisahan dari Sisi untuk Ami.
Sisi berpura-pura mengeluarkan air mata, agar Ami percaya akan dirinya yang begitu peduli dan sayang.
“Ami, tetap semangat ya. Aku pasti akan merindukan kamu di kantor.”
Ami tersenyum lepas, memeluk sang sahabat. Kini ia bisa leluasa bertingkah seenaknya.
“Terima kasih, Si. Sudah menjadi teman terbaikku.”
Kini Ami mulai duduk di kursi mobil, saat itulah Sisi menutup pintu mobil. Ami yang sudah berada di dalam mobil melambaikan tangan, untuk perpisahan.
Mobil yang sudah semakin menjauh, membuat Sisi tersenyum kecil. Mengusap air mata yang mengalir, mengenai pipinya.
“Sudah menyingkir tinggal satu lagi.”
@@@@@
Sarah yang tengah menikmati hari liburnya, kini termenung dan juga kesal. Tangannya mengepal erat, membuat ia meninjukan tangannya pada dinding rumah.
“Ami, awas saja. Aku tidak akan biarkan kamu hidup bahagia.”
Sang ibu yang melihat tingkah anaknya yang terus diam sendiri. Kini bertanya dengan nada lembut.
“Kamu kenapa, Sarah?”
Lamunan Sarah seketika membuyar, ia menatap ke arah sang ibu.
“Iya, bu.”
“Nah, kamu melamun lagi tuh kan. Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering melamun sendiri, apa yang tengah kamu pikirkan.”
“Sarah, enggak ada apa-apa kok!”
“Jangan bohong, kelihatan dari wajah kamu. Kamu sedang tidak baik saat ini.”
Tangan lembut sang ibu, mulai membelai setiap helai rambut Sarah yang panjang.
“Sudah ya. Bu, Sarah mau ke luar dulu sebentar.”
Sarah tak menjawab pertanyaan sang ibu, ia pergi begitu saja.
__ADS_1
“Sarah, kamu ini kenapa sih. Nak?”