Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 103


__ADS_3

flashback Bu Ira


"Apa yang telah kamu lakukan Ira," teriak Roby. Yang tiba-tiba datang begitu saja. Aku kira Roby pergi keluar kota, karna alasan dia yang seperti biasa, tapi nyatanya dia malah memegrokiku dengan Ardan.


Ardan langsung meraih bajunya, terburu-buru memakai bajunya yang berserakan, begitu pun dengan aku yang menutuppi tubuhku dengan selimut. Kedua mata Roby menatap tajam kearahku, memperlihatkan kebencian yang mendalam.


"Jadi ini kelakuan kalian, selama ini. Kamu Ira benar-benar kurang ajar," hardik Roby menujuk pada wajahku.


Aku mencoba menjelaskan semuanya agar semua nampak tenang. Tapi itu sia-sia Roby sudah di bakar api amarah dalam dadanya, ia terus memukul Ardan.


Membuat aku hilang kendali. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Mencari pisau di dalam lanci dan menacabkannya pada punggung suamiku.


Seketika Roby tergeletak dan tak berdaya. Aku benar-benar syok berat, tubuhku merosot melihat Roby mati di tanganku. Arsyla yang tiba-tiba datang, melihat ayahnya Roby sudah tergeletak tidak berdaya di bawah kaki Ardan.


Sedangkan aku terduduk menyaksikan, kematian Roby di depan mataku. Karna pisau itu sudah menancab ke dalam punggung hingga menebus jantung.


Arsyla menagis, terisak-isak melihat ayahnya sudah tidak berdaya. Mati dalam keadaan mengenaskan.


Aku menyesal karna ketidak sadaranku membuat Roby mati.


"Ayah, bangun ayah." Tangisan Arsyla terus terdengar oleh kedua telingaku hingga aku menghardik anakku sendiri.


"Diam jangan menangis." Teriaku tanpa sadar, Mambuat Aryla seketika membukan mulutnya sendiri. Aku lupa Arsyla punya perasaan, hingga dia kesal denganku. Karna kesalahanku yang telah memarahinya, sifat anakku berubah derastis hingga dewasa.


Menarik paksa Arsyla untuk menyingkir dihadapan ayahnya, Arsyla terus meronta-ronta. Karna kesal tanpa aku sengaja, tanganku memukul pundaknya hingga Arsyla pingsan.


Sebagai seorang ibu yang ketakutan, aku menyuruh Ardan untuk menghilangkan jejak dengan menyembunyikan pebunuhan itu. Ardan mulai mencabut pisau yang menancab pada punggung suamiku dan memberikannya kepadaku.


Meraih pisau itu, dan membersihkannya hingga bersih.


Sampai aku simpan pisau itu hingga kini. Polisi masih menyelidiki rumahku, mereka masih tidak nyakin dengan pembunuhan Roby yang mencurigakan.


Karna aku yang selalu ketakutan, membuat hidupku selalu di hantui kegelisahan. Saat itulah Ardan menyerahkan diri, agar polisi tidak mencurigaiku lagi.


Ardan di kurung di dalam penjara karna kasus pembunuhan yang tidak dia lakukan. Demi aku yang ia cintai. Ia rela melakukan apapun, aku tidak menyangka Ardan sampai seperti itu.

__ADS_1


Naira terus menyalahkan aku sebagai tersangka yang memfitnah Ardan. Sampai ia menjadi stres dan meninggal dunia dalam kecelakaan menuju ke penjara.


Penyesalanku begitu banyak, membuat semua orang yang aku sayang meninggal dalam keadaan teragis.


"Ardan, kenapa kamu melakukan semua ini?" Aku menangis tak kuasa melihat dia di dalam penjara.


"Biarkan, ini juga kesalahanku Ira."


Membukukan pandangan, memegang jeruji besi. Wajahnya begitu muram.


Ardan lelaki yang aku cintai, kini di dalam penjara dan suamiku meninggal dunia.


Setelah Ardan di dalam penjara, perusahaannya menjadi bangkrut, karna uang perusahaan yang di korupsi oleh pegawai Ardan, mereka mencari kesempatan saat Ardan di dalam penjara. Membuat Ardan sering melamun dan berdiam diri.


"Ira aku titip anakku, jangan sampai Arpan tahu kondisi ayahnya ini. Dan kamu juga harus jaga anak kita Arsyla."


Itulah perkataan Ardan yang selalu aku ingat, aku harus menyembunyikan semua yang aku tahu, kalau sebenarnya Ardan masih hidup. Namun dia berada di rumah sakit jiwa.


Saat itu aku harus berjuang menghidupi kedua anak-anakku yang masih kecil dan bersekolah. Dengan mengelola perusahaan Mas Roby sebisa mungkin.


Dengan tekad dan semangat, aku bisa menghidupi Arpan dan juga Arsyla. Walau kadang Arpan dan Arsyla saling membenci, entah karna apa. Yang jelas Arsyla yang paling membenci Arpan.


Aku sudah berusaha ingin mengatakan semua kebenaran, namun itu rasanya sulit. Karna amanah dari Ardan yang terus menyuruhku menutupi semua rahasia pada anak-anak. Harus sampai kapan aku tutupi semuanya, mereka harus tahu kebenaran yang sesungguhnya.


Kadang Arpan sering kesal, memang dari dulu Semasa Roby hidup,Arpan sering sekali datang dan bermain di rumahku. Roby selalu kesal dan mengusir Arpan sampai anak itu menangis, entah kenapa Roby begitu membenci Arpan.


"Kenapa kalian selalu berantem, Arpan. Arsyla?" tanyaku pada kedua anak-anakku.


"Semua gara-gara Arpan dan ayahnya mereka pembunuh ummi!" jawab Arsyla.


"Jaga ucapanmu Arsyla mereka bukan pembunuh," hardikku, membuat Arsyla menagis dan berlari ke kamar tidur.


"Arsyla kemana kamu."


Aku terus memanggil Arsyla. Tapi dia terus saja berlari. Mangabaikan panggilan ibunya ini

__ADS_1


"Arpan maafkan Arsyla ya, kalau Arsyla suka nakal!"


Arpan selalu mengerti keadaanku, dia selalu menjadi penyemangat bagiku. Seperti papahnya yang selalu membuat aku nyaman.


"Arpan tidak apa-apa bu!" jawab Arpan anak itu begitu manis, aku bahagia bisa mengurusnya.


Arpan sangat menyayangiku, karna yang ia tahu kedua orang tua sudah meninggal. Padahal ayahnya masih hidup.


Setiap sebulan sekali aku selalu menengok Ardan di rumah sakit jiwa. Melihat keadaannya yang sangat menghuatirkan, aku merasa bersalah. Dia sering melamun dan tertawa sendiri.


Aku rindu kamu Ardan, sembuhlah. Agar Arsyla tahu yang sesungguhnya. Aku sudah lelah menyimpan semua rahasia ini.


Harapanku hanyalah itu.


Setelah Arpan dewasa, ia memutuskan untuk pergi dan menjadi lelaki mandiri. Entah kenapa dia memutuskan seperti itu.


"Apa kamu yakin Arpan. Tapi jika kamu butuh ibu, pulang lah kesini," ucapku. Arpan menganggukan kepala mengerti apa yang aku katakan.


"Ngapain sih, ibu masih perduli dengan si Arpan ini, orang tuanya juga sudah tidak ada. Cape-cape mungut anak pembunuh itu," ujar Arsyla.


Anak gadisku benar-benar keterlaluan nada bicaranya seperti Roby.


Padahal Roby bukan ayahnya tapi sifat pemarahnya seperti Roby.


"Jaga ucapanmu Arsyla," hardikku memarahi Arsyla.


Arsyla mengkerutkan bibir, kesal dengan ibunya ini yang memarahinya terus menerus. Biarkan lah memang aku ini salah. Pantas selalu di salahkan.


"Sudahlah bu, Arpan pamit pergi dulu, Arsyla dan Ibu jangan bertengkar lagi ya."


Itulah ucapan yang di lontarkan Arpan ketika pergi dari rumah.


Rasanya aku tak kuasa melihat Arpan berjuang sendirian di luar sana. Tapi apa boleh buat ini demi kebaikannya sendiri.


Menatap ke arah Arpan hingga punggung anak itu tak nampak lagi.

__ADS_1


Setelah kepergian Arpan perusahanku mendadak bangkrut, aku bingung dengan semuanya. Membuat aku mendadak stres.


Arsyla semakin menjadi-jadi, ia begitu kejam terhadap aku sebagai ibunya.


__ADS_2