
Putra terbangun dari tidurnya, ia melihat jam pada meja dekat ranjang tidurnya. Sudah menujukan pukul, lima pagi, meraba pada kasur. Ane sudah tidak ada di dekat Putra saat itu.
“Ane, sayang ....”
Panggil Putra, tak ada jawaban sama sekali. Ia mulai bangun dari ranjang tempat tidurnya, mencari ke dapur dan juga ke ruang tamu. Tak menemukan sosok Ane.
“Ke mana Ane, masa ia jam segini ia sudah berangkat kerja.”
Pembantu di rumah tengah menyiapkan sarapan, saat itulah Putra mulai bertanya,” Mbok. Ane ke mana, ya?”
“Loh, tuan memang enggak tahu. Ibu sudah berangkat bekerja!” jawab Si Mbok.
Putra kini merasa heran, kenapa Ane begitu cepat berangkat pergi bekerja.
@@@@
Di saat kebingungan Putra, Ane tengah mengendarai mobil menuju ke rumah Alan. Ia ingin menjelaskan semua kekeliruan dan juga meminta tolong untuk mencabut tuntutan Deni di dalam penjara.
“Aku harus cepat ke rumah Alan, sebelum Alan tidak ada di rumah,” ucap Ane dengan begitu optimis sembari mengendarai mobil.
Hingga setengah jam berlalu, Ane sudah sampai di rumah Alan yang masih terlihat sepi. Karna waktu masih menujukan pukul enam pagi.
Dengan keberaniannya Ane mulai turun dari mobil, ia perlahan mendekat ke arah pintu rumah Alan.
Mengetuk pintu.
Tok .... Tok ....
Seseorang datang dan membuka pintu rumah itu secara perlahan, dan ternyata ialah Delia.
Delia melihat Ane datang dengan terburu-buru menutup pintu rumahnya kembali, tapi Ane memaksa Delia untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Tunggu, Delia.” Ucap Ane. Dengan wajah yang menampilkan rasa kasihan.
“Maaf Ane.”
Delia terpaksa menutup pintu rumahnya dan menguncinya, ia tak mau Alan mengetahui ke datangan Ane. Takut jika Alan membentak Ane dan membuat sakit hati Ane kembali.
__ADS_1
Maka dari itu Delia lebih baik menjauh, dan membiarkan Ane seperti itu.
Ane terus mengetuk pintu rumah Delia, memohon untuk berbicara sebentar dengan Alan.
Delia kini berucap di balik pintu rumahnya,” sebaiknya kamu pergi dari sini Ane, Alan tidak akan mendengarkan penjelasanmu lagi.”
Ane bukan malah pergi dari rumah Delia, ia malah mengedor keras pintu rumah Delia. Memaksa Delia untuk membuka pintu rumahnya.
“Aku mohon, Delia beri aku kesempatan.” Teriak Ane.
Saat itulah Alan yang sudah selesai mandi, ia seakan mendengar teriakan seseorang dari pintu depan rumahnya. Membuat ia melangkah berjalan ke arah teriakan itu.
“Ada apa pagi-pagi begini di luar rumah.” Ucap Alan.
Ia bergegas melangkah ke arah depan rumah, di mana Delia tengah menyenderkan tubuhnya di balik pintu. Menahan gedoran Ane.
“Delia, ada apa?” tanya Alan mendekat ke arah istrinya.
“Maaf Alan, di luar ada Ane. Aku berusaha mengusir dia, tapi dia tetap bersikeras ingin bertemu denganmu!” jawab Delia. Menundukkan pandangan, ia melirik sekilas pada wajah Alan seakan di selimuti rasa kesal saat mengatakan nama Ane.
“Ya sudah, kamu pergi ke kamar dulu. Aku akan menghadapi Ane,” ucap Alan. Kepada sang istri.
“Alan. Akhirnya kamu ke luar juga,” ucap Ane dengan wajah senangnya. Ia memegang tangan Alan begitu saja.
“Lepaskan tanganku,” bentak Alan.
Ane perlahan melepaskan tangannya yang memegang tangan Alan dan berkata,” maaf.”
“Sudah cukup kata maaf terlontar dari mulutmu,” pekik Alan. Tak segan-segan membuat Ane sakit hati.
“Aku hanya ....”
Perkataan Ane langsung di potong Alan begitu saja,” hanya apa. Hah, sudah jelas perkataanku kemarin. Kamu tidak ada kapok-kapoknya Ane. Aku tegaskan lagi pada kamu jangan ganggu kehidupan kami yang sudah tenang ini.”
Ane dengan terpaksa mulai bersujud pada kaki Alan, ia memohon belas kasih Alan agar mau mendengarkan penjelasnya. Karna inilah jalan satu-satunya untuk Ane agar bisa terbebas dari siksaan sang papa, dan juga pengambil alih rumah sakit agar berhatahan pada dirinya.
Apa pun akan Ane lakukan, demi mempertahankan rumah sakit yang sudah ia miliki dan tak mau lepas begitu saja.
__ADS_1
Delia yang mengintip di jendela, sungguh syok. Melihat Ane sampai bersujud seperti itu. " Ane, sampai sebegitunya kamu. apa kamu tidak merasa harga dirimu di ijak karna ulah sendiri," gumam hati Delia.
“Sudah cukup, jangan kamu bersujud di kakiku. Bagaimana pun aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu, Ane. Jadi cepat pergi dari rumahku, atau aku akan mengusirmu secara paksa,” tegas Alan. Mencoba membangunkan Ane agar tidak bersujud lagi di kakinya. Tapi Ane malah tetap saja bersujud di hadapan Alan. Membuat hati Alan sangatlah kesal.
“Alan, tolong dengarkan dulu perkataanku. Aku mohon,” ucap Ane. Menitikkan air mata membuat Alan tak tega, dengan terpaksa Alan mulai berucap pada Ane.
“Baiklah, akan aku berikan sekali kesempatan untukmu. Sekarang apa yang akan kamu jelaskan?” tanya Alan.
Mendengar ucapan itu, tentu saja Ane tampak senang. Ia berdiri bersejajar dengan Alan.
“Aku minta padamu Alan, tolong cabut tuntutan Deni. Apa kamu bisa? Ini demi rumah sakitku.”
Permintaan Ane membuat Alan kesal, ia langsung menghardik Ane.” Apa kamu gila, Ane. Kamu menyuruhku mencabut tuntutan lelaki ba*ngan yang sudah membuat istriku menderita. Di mana sebenarnya akal sehatmu Ane.”
“Tapi, Alan aku sangat butuh sekali bantuanmu. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi dan juga Delia,” balas Ane.
“Aku tidak mau, jadi cepat pergi dari rumahku sekarang juga. Tentang rumah sakitmu itu aku tidak peduli Ane, karna itu tanggung jawabmu sebagai pemilik rumah sakit yang papah kamu bangun,” ucap Alan. Mulai menutup pintu rumahnya.
“Tunggu Alan,” balas Ane. Dengan sigap membuka pintu rumah Alan.
“Apa lagi, sudah cukup dengan penjelasanku. Kamu harusnya sadar akan kesalahanmu, kenapa kamu bisa memperkerjakan Deni lelaki yang kamu tahu juga di seorang ba*ingan dan untuk apa kamu harus bela- bela datang ke sini, hanya untuk membela dia dan memohon padaku untuk mencabut tuntutan si ba*ingan itu.” Pekik Alan.
Saat itulah Alan menutup keras pintu rumahnya, membuat Ane tersentak kaget.
“Alan, aku mohon. Tolong aku.” Teriak Ane. Alan mengabaikan teriakan Ane begitu saja ia perlahan melangkah ke arah meja untuk bersiap sarapan.
Delia yang sudah duduk, mulai mengambilkan beberapa roti untuk sang suami.
“Alan kumohon.”
Teriakan itu terus saja terdengar, Ane belum juga pergi. Membuat Alan dengan terpaksa menelepon satpam yang berjaga di depan rumahnya.
Alan menyuruh Satpam untuk mengusir Ane secepat mungkin dari rumahnya.
“Halo, pak. Tolong urus wanita di depan rumah, cepat usir dia segera mungkin.” Ucap Alan dalam panggilan telepon.
“Baik pak.” Balas satpam itu.
__ADS_1
.