
Putra menghampiri sang istri yang masih berada di dalam kamar, perlahan membuka pintu kamar, terlihat Ane masih mengayun ngayun bayi Delia. Menidurkannya kembali di ranjang tempat tidur.
"Ane, Delia dan Alan ingin bertemu denganmu." Ucap Putra.
"Tunggu sebentar lagi, aku akan kesana," balas Ane
" Tapi, mereka sudah tak sabar ingin segera bertemu denganmu, Ane. Jadi cepatlah temui mereka," ucap Putra.
Mengusap perlahan pipi bayi mungil itu di mana bayi itu tengah tertidur lelap di ranjang tempat tidur, saat itulah Ane mulai mengikuti langkah kaki putra untuk segera bergegas menemui Delia dan juga Alan.
Delia dan juga Alan yang berada di ruang tengah rumah ane, seketika melihat suatu barang yang tak asing. Saat itulah Delia mulai berjalan menghampiri barang itu yang ternyata barang itu adalah sebuah botol Susu.
Delia bergumam pada hatinya," sejak kapan Ane menyimpan foto susu bayi di rumahnya, bukannya kedua anak-anaknya sudah besar?"
Alan mulai menghampiri Delia yang tengah memegang botol susu .
" kamu kenapa Delia?"
" kamu lihat, Alan. Aku menemukan botol susu ini pada sofa Ane."
Delia menyodorkan botol susu itu kepada suaminya. Alan langsung mengambil botol susu itu menatap perlahan-lahan," untuk apa Ane menyimpan botol susu ini bukannya anak-anaknya sudah besar." ucap Alan kepada Delia.
" justru itu. Aku juga merasa curiga bahwa pelakunya adalah Ane," balas Delia.
Beberapa menit kemudian Putra dan Ane keluar dari dalam kamar mereka.
Terlihat wajah Ane yang begitu kusut, ter lihat dibawah matanya terlihat hitam dan mengkerut.
"Delia, Alan. Ada apa ya? Tumben kalian datang ke sini?" Tanya Ane tersenyum menyambut ke datangan Delia dan Alan
Penampilan Ane benar-benar mencurigakan, seperti orang yang habis bergadang menjaga seorang bayi. Saat itulah Delia mulai menghampiri Ane dengan memegang botol susu yang temukan di sofa rumahnya.
"kebetulan sekali, kamu ada di rumah, Ane," ucap Delia. Menundukkan pandangan saat melihat botol susu yang tengah dipegang oleh Delia.
"Iya Delia. Sekarang aku tengah beristirahat di rumah," balas Ane.
"Oh, ya. Pertama aku ingin menanyakan kepada kamu?" Tanya Delia. Menatap tajam ke arah Ane.
" Menanyakan soal apq?" tanya Ane. Sedikit gugup akan Delia yang bertanya padanya.
"kenapa di rumah kamu ada barang seperti ini?" tanya Delia menunjukkan botol susu yang ia pegang.
Deg .....
Ane berucap dalam hatinya," Sial. kenapa botol susu itu ada di sofa. Bodoh kamu Ane, pasti itu bekas semalam aku lupa membereskan."
"Ane, kenapa kamu diam?" Tanya tegas Delia.
"Itu botol bekas keponakaku tadi main ke rumah!" jawab Ane. Sedikit menelan ludah, berharap Delia langsung percaya dengan jawabannya.
Delia menatap ke arah suaminya, yang di mana Alan bertanya," Sejak kapan kamu punya ke ponakkan bayi?"
__ADS_1
Ane, mengenggam erat kedua tanganya, ia lupa jika Alan sudah mengenal ke luarganya.
"E ... Ada kok Alan," ucap Ane.
Putra yang hanya berdiri, di samping kiri sang istri hanya terdiam. Dan berucap dalam hati." Ane. kenapa kamu tidak jujur saja. Kenapa kamu malah membuat kebohongan."
"Sudahlah, Ane. Jawab dengan jujur jangan mengelak lagi, aku tahu pasti kamu yang sudah menculik baik ku di rumah sakit," timpal Delia.
Ane terdiam seribu bahasa, ia bingung membalas perkataan Delia.
"Ane, kenapa diam saja." tekan Delia.
"Delia kenapa kamu tidak percaya denganku," ucap Ane.
Delia menitihkan air mata. Dan berkata," sudahlah Ane. Jangan berlagak bodoh, jujur saja, aku tau semua ulahmu."
Alan langsung menunjukkan sebuah video kepada Ane." kamu lihat ini. Pasti ini kamu kan?" tanya Alan.
Kedua bola mata Ane membulat.
"Aku tak tahu, Alan."
Saat Ane menjelaskan semuanya, suara bayi terdengar di dalam kamar Ane. Membuat Delia langsung mencari keberadaan suara itu.
Ane menahan Delia," kamu mau ke mana Delia."
"Aku tahu pasti itu suara bayiku," balas Delia. Mendorong tubuh Ane hingga tersungkur jatuh.
Putra hanya bisa menatap semua perdebatan itu, ia merasa bersalah akan kelakuan istrinya. Dan membiarkan Delia dan Alan.
Delia mulai mendekat ke arah kamar Ane.
Mencari lagi sumber suara itu, ia perlahan membuka pintu kamar Ane.
Hati Ane merasa tak karuan, dengan sigap Ane menahan tangan Delia yang mau membuka pintu kamar Ane.
"Kenapa kamu menahan tanganku, Ane. Lepaskan aku ingin bertemu dengan anakku." Ucap Delia.
"Maafkan aku sebenarnya."
Belum perkataan Ane terucap sepenuhnya, Delia langsung membuka pintu kamar Ane. Mencari keberadaan bayinya.
"Nak dimana kamu."
Teriak Delia, di dalam kamar Ane.
Saat itulah Ane merasa panik dan berucap dalam hati," bagaiman ini."
Alan dan Putra menyusul. Mereka ingin melihat Delia yang masuk ke dalam kamar Ane.
Setelah masuk ke dalam kamar tidur Ane, saat itulah Delia kembali lagi kepada Ane.
__ADS_1
"Ke mana kamu sembunyikan bayiku, Ane."
"Delia, aku tidak menyembunyikan bayimu. Itu hanya perasaanmu saja, mendengar suara bayi."
"Jangan bohong, Ane."
Telunjuk tangan Delia terus menujuk ke arah Ane. " aku tahu pasti kamu sudah menyembunyikan anakku."
"Delia percaya padaku."
Delia mulai melangkah maju ke arah Alan.
"Bagaimana kamu sudah menemukan bayi kita?" tanya Alan.
"Tidak ada, saat aku ke kamar Ane. Tak ada bayi di sana!" jawab Delia.
Alan memegang erat tangan istrinya." sebaiknya kita pergi dari sini. Mungkin kita salah menilai Ane."
"Tapi, perasaanku tetap ingin di sini Alan. Aku merasa anakku ada di sini," ucap Delia.
"Tapi, kenyataanya tak ada," balas Alan.
Ane kini kembali menghampiri Delia dan juga Alan, yang masih berdiri.
"Delia, apa kamu masih tak percaya denganku?" tanya Ane.
Delia terdiam, tangannya mengusap pelan air mata yang mengalir.
"Aku tetap saja akan menyalahkanmu, Ane!" jawab Delia.
"Kenapa?" tanya Ane.
"Kenapa kamu masih bisa bicara kenapa? Aku menderita karna egomu. Aku begini karna ulahmu! Dan sekarang anakku tak ada pasti semua karnamu!" jawab Delia.
Ane menatap ke arah sang suami, dengan kedua mata yang berkaca-kaca, seakan tak menerima dengan ucapan Delia yang terlontar untuknya.
"Ayo Delia sebaiknya, kita pergi dari sini." Ajak Alan. Kepada sang istri.
Delia seakan berat meninggalkan rumah Ane. Karna perasaannya yang kuat, ia merasa jika bayinya ada di rumah Ane.
"Ayo sayang kita pergi," ucap Alan.
"Tapi."
Dengan terpaksa Alan menarik tangan istrinya. Untuk segera pergi dari hadapan Ane.
"Tunggu dulu Alan, aku ingin berpamitan pada Ane." Ucap Delia.
Saat itulah Alan melepaskan tangan istrinya, memperbolehkan Delia untuk berpamitan pada Ane.
"Ane, urusan kita belum selesai. Aku akan melaporkan semua kepada polisi, agar polisi menyelidikimu." Ucap Delia mengancam ke pada Ane.
__ADS_1
Sedangkan Ane yang mendengar ancaman itu, hanya bisa terdiam dan menerima.