
Setelah pulang dari rumah, Pak Anton malah menyuruh semua keluarga untuk berkumpul di rumah, Tama yang baru saja sampai di rumah langsung ikut serta dalam acara berkumpulnya semua keluarga.
“Papah menyuruh kalian berkumpul di sini, hanya ingin memberi tahu. Jika satu minggu lagi ayah akan menikah dengan gadis bernama Sarah.”
Sontak ucapan Pak Anton membuat semua kaget, bagaimana tidak ketiga istri Pak Anton sedikit kesal.
“Pah, apa belum puas mempunyai tiga istri,” bantal salah satu istri pertama Pak Anton.
“Ini sudah menjadi keputusanku, jika ada yang membantah dari sala satu kalian. Ingat aku tidak segan-segan membuat kalian keluar dari rumah ini dan menceraikan kalian,” tegas Pak Anton.
Pada saat itulah ketiga istri Pak Anton. Hanya bisa pasrah menerima apa yang menjadi keinginan sang suami, mereka tak bisa melawan. Karna tak ingin hidup menderita.
Sedangkan Tama yang berdiri di dekat sang ibu, tak percaya akan apa yang dikatakan sang ayah.
Kedua tangan Tama mengepal erat, ya tak menerima apa yang menjadi keputusan sang ayah.
Pada saat itulah Pak Anton mulai berjalan menuju ke dalam kamar, sedangkan Tama berusaha mengejar sang ayah sebelum masuk ke dalam kamar.
“Ayah, tunggu ....”
Langkah sang ayah kini terhenti ketika panggilan dari anaknya memanggil dirinya, ia membalikkan badan dan juga wajah ke arah Tama.
“Ada apa, Tama?” tanya sang ayah dengan muka masam.
Tama awalnya ragu menjawab perkataan sang ayah, tapi bagi dirinya Inilah yang harus ia lakukan. Tama tidak mau jika sang ayah menikahi gadis yang ia cintai.
“Ayah, apa ayah tidak pernah berpikir untuk ke sekian kalinya. Kenapa ayah tidak menikahi gadis lain? Kenapa harus Sarah!” jawab Tama berharap sang ayah mengurungkan niatnya untuk tidak menikahi Sarah.
Sang ayah kini mengangkat kedua alisnya Seraya berkata,” hanya karna itu. Tama siapa cepat dia dapat, jadi itu bukan urusan ayah, yang terpenting ayah sudah menginginkan Sarah menjadi istri ayah. Kamu paham?”
Bukan jawaban itu yang ingin didengar oleh kedua telinga Tama, yang ia inginkan sang ayah membatalkan pernikahan antara dirinya dengan Sarah.
“Tapi yah.”
Baru saja Tama berucap kembali, sang ayah malah berlalu pergi berpura-pura. Tak Mendengar ucapan dari anaknya.
Tama begitu kesal dengan sang ayah yang begitu egois, yang tak mau mengalah dengan anaknya sendiri.
Sang Ibu kini mulai mendekat kearah Tama, wanita itu mulai menenangkan hati sang anak.
“Kamu harus menerima semuanya, Tama.”
“Tapi, bu. Ayah egois.”
“Ibu juga tahu Tama, sifat ayahmu memang seperti itu. Kamu harus menerima semuanya.”
Tamak ini mulai berjalan dengan penuh kekesalan pada hatinya, Iyam memukul tembok membuat tembok itu terlihat retak.
Tangan bekas pukulan terlihat memerah, Iya seakan tak merasakan rasa sakit pada tangannya yang hampir saja mengeluarkan darah.
“Aku tak terima dengan semua ini.”
__ADS_1
Teriak Tama.
@@@@@
Sang ibu yang mulai kuatir dengan anaknya, ini mulai menghampiri sang suami. Berharap sang suami mau mengalah demi Tama.
“Pah, apa papah tak kasihan dengan Tama, anak kita?’
Pak Anton hanya tersenyum kecut menjawab pertanyaan istrinya!” anak kita? Apa kamu tidak salah berucap. Bukanya Tama anak hasil kamu dengan lelaki lain.”
Ucapan Pak Anton, membuat dada sang istri merasa sesak, bagaimana tidak. Pak Anton seakan tak menjaga ucapannya.
“Sudah, kamu urus saja anakmu itu. Aku sudah yakin dengan ke putusanku, akan menikahi Sarah gadis perawan itu.”
“Jadi hanya karna dia perawan. Kamu ingin sekali menikahi dia.”
“Hem.”
Pak Anton yang tak mau berdebat dengan sang istri, pada saat itulah meninggalkan tanpa sepatah kata pun.
Sang ibu yang memang ketergantungan dengan harta Pak Anton hanya bisa menerima keputusan sang suami.
@@@@@
Pagi hari ....
Tama mulai mendekat ke arah Sarah, bertanya pada Sarah. Dengan keberanian yang ia miliki.
Wanita sederhana itu, kini terlihat berbeda. Wajahnya begitu mulus terawat tanpa jerawat sedikit pun, pakaiannya juga begitu terlihat seksi tidak seperti biasanya.
“Iya.”
Senyumannya, membuat Tama masih senang.
“Sarah apa benar kamu mau menikah dengan Pak Anton?” tanya Tama.
“Hem.”
Sarah tak menjawab, dia hanya mengeluarkan suara pelannya, pada saat itulah. Tama mencoba mengajak Sarah berbicara lagi.
“Sarah, apa kamu masih ingat denganku?” Tanya Tama.
“Maaf, Anda siapa ya? Saya hanya pegawai baru di sini!” jawab Sarah.
Pada saat itulah Tama mulai memegang bahu Sarah, membuat kedua wajah mereka saling bertatapan.
“Aku Tama.”
Deg ....
Sarah mengangkat kedua alisnya, Seraya berkata,” Tama yang mana.”
__ADS_1
“Sarah, Sudahlah jangan berpura-pura lagi.”
“Maksud bapak apa?”
Tama mengusap kasar wajahnya, seraya menjelaskan dengan pelan. Tapi Sarah seakan acuh dengan ucapan Tama, dirinya sudah menikmati perjanjian yang di berikan Pak Anton kepada dirinya.
“Oh, jadi Tama kamu anak dari calon suamiku.”
Deg .....
Entah kenapa Sarah malah berkata sedemikian, membuat Tama heran dengan perubahan wanita sederhana itu.
“Hanya karna harta kamu berubah menjadi seperti ini?”
Sarah membalikkan wajah melipatkan kedua tangannya, seraya berkata,” maaf jangan pernah urus, urusanku saat ini. Kamu urus saja urusanmu sendiri, oke.”
Sarah benar-benar sudah di butakan dengan dendam dan keinginan, membuat hati nuraninya redam tertimbun kebencian.
“Sarah. Sadarlah, sebenarnya Ami itu tidak bersa ...”
Belum ucapan Tama terlontar semuanya, Sarah malah memarahi Tama dengan blak- blakan.
“Cepat ke luar dari ruanganku.”
Tama yang sudah tak tahu harus berucap apa lagi, ia kini ke luar. Dari ruangan Sarah, pada saat itulah ia berniat tak ingin mengenal Sarah lagi.
@@@@@@
Kini acara pernikahan Sarah dengan pak Anton digelar, di mana ke tiga istri Pak Anton seakan tak menerima Sarah pada keluarga mereka. membuat mereka menyusun suatu rencana, agar salah tak sayangi oleh Pak Anton
ada rasa bersalah pada Sarah terhadap Tama, di mana ia mengigat akan ucapan Tama yang sedikit menyingung dirinya.
Sarah ingin sekali bertemu dengan Tama dan menjelaskan semuanya lagi, tapi Tama sudah tidak pernah datang ke hadapan Sarah.
di dalam acara pernikahannya, Tama seakan hilang ditelan bumi. Iya tak menampakan dirinya sama sekali.
Pak Anton sangat senang tidak ada gangguan pada pernikahannya saat itu, keinginannya sudah terpenuhi.
Hingga saat malam itu.
Malam di mana menjadi malam pertama untuk Pak Anton dan juga Sarah.
Kini Pak Anton mulai mendekat ke arah Sarah, mencium bibir dan tangan perlahan membuka beberapa lembar kain yang menempel pada tubuh Sarah.
"Tunggu, aku belum siap."
Pak Anton langsung mengusap kasar wajahnya, ia menghelap napas berat, nafsunya sudah tak terkendali.
"Aku sudah menantikan momen ini, mau tidak mau kamu harus siap. melayaniku dan memuaskanku. Seperti perjanjian kita dari awal."
Hingga saat itu
__ADS_1
Ahkkk