
"Dodi, sejak kapan kamu ada di situ. Nak?"
Alan begitu shock, melihat Dodi yang sudah berdiri mematung tak jauh dari hadapannya.
Seketika tangannya menjatuhkan ponsel yang ia genggam erat ke atas tanah. kedua mata Dodi menatap Sayu ke arah Alan, wajahnya memerah, terlihat ia seakan ingin menangis sekeras-kerasnya.
Alan mendekat kearah Dodi, mengabaikan ponsel yang tergeletak di atas tanah, ia meraih kedua lengan Dodi Seraya berucap dengan nada lembut," Kamu kenapa ada di sini?"
Dodi Dodi masih terdiam, hatinya masih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang Om," Ayo kita ke dalam."
Dodi masih mematung seperti memendam sebuah pertanyaan pada hatinya.
"Om."
Langkah Alan terhenti saat Dodi memanggil dirinya, ia membalikkan wajah menghadap kearah Dodi." Ada apa nak?"
"ponsel Om terjatuh, kenapa Om tidak mengambilnya lagi ponsel itu."
karena sok, Alan sempat lupa pada ponselnya sendiri, saat itulah ia kembali menginjak tanah mengambil ponsel nya sendiri.
Dodi mulai berucap dengan beraninya.
"Om, yang tadi mengobrol dengan om di telepon papa, ya?"
Alan kembali berdiri menjawab pertanyaan Dodi dengan lembut," Emang Dodi tadi dengar semua percakapan Om? Dodi nguping ya."
" Dodi tidak bermaksud lacang menguping percakapan om di telepon, hanya saja Dodi mendengar om memanggil nama papah Rudi. Dodi hanya ingin bertanya? Apa benar Om Tengah berteleponan dengan Papah Rudi."
Menghela nafas, menjawab pertanyaan Dodi.' memang benar Om tadi tengah mengobol dengan Papah mu, karena kebetulan ada urusan ..."
Belum perkataan Alan terucap semuanya, Dodi langsung memotong pembicaraan Alan dengan lancang," jadi. Apa benar aku ini hanyalah anak sial di kehidupan tante Delia dan om Alan? Apa benar aku ini hanya sebuah beban untuk kalian?Apa benar aku ini yang sudah membuat tante Delia menjadi depresi dan sakit parah?"
Alan tak menyangka jika Dodi akan berkata seperti itu," kenapa kamu berkata seperti itu?Dodi."
"kenapa Om bertanya lagi kepada Dodi?Bukannya Om yang berkata seperti itu di dalam telepon kepada Papa."
__ADS_1
Alan lupa dengan Dodi yang masih belum mengerti tentang masalah, Alan terlalu mengandalkan emosinya, sampai ucapannya sudah menyakiti Dodi yang tak sengaja mendengar Alan memarahi Rudi dengan menyebut-nyebut nama Dodi.
Alan terlalu cerebih, ia tidak tahu jika Dodi sudah berdiri di dekat tembok. Sembari mendengar obrolan nya dengan Rudi.
Semua masalah begitu runyam, bagi Alan. Membuat Alan semakin tertekan.
"Semua tidak seperti yang kamu katakan Dodi, om hanya ingin menyadarkan Papah mu itu."
Alan berucap dengan nada lembutnya, berharap Dodi mengerti dengan masalah yang Alan hadapi saat ini. Tapi apakah itu mungkin? Karna Dodi hanyalah anak kecil yang mampu terpancing dengan perkataan yang ia dengar.
Dodi langsung menghempaskan tangan Alan yang memegang bahunya, ia berucap dengan lantang." menyadarkan papa, tapi kenapa?Ucapan Om Alan, seakan bahwa Dodi ini membawa sial bagi keluarga kalian. Apalagi dengan keadaan Tante Delia yang sekarang, Tante Delia menjadi seperti sekarang karena kehadiran Dodi di keluarga kalian."
Alan berusaha bersikap tenang, ia menahan setiap tekanan dan emosi dalam jiwanya.
"Tenang .... Tenang Alan. Dodi hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa " gumam hati Alan
Berusaha menghadapi Dodi dengan menampilkan sikap lembutnya.
"Dodi dengarkan om. om tidak termasuk berkata seperti itu. Om hanya ingin papa kamu mengerti, cukup itu saja?"
Dengan nada emosi Dodi berucap," besok mau pulang ke Papah Rudi saja."
Alan tahu Dodi terpaksa berkata seperti itu karna dia tesudut emosi, karna sakit hati dengan ucapan Alan tanpa di sadari.
Alan berusaha menanggapi dengan sikap tenang, jika ia emosi semua pasti akan menjadi semakin kacau.
Alan mulai berusaha mencari ide untuk berbicara agar anak itu mengerti, dan memahami semua masalah yang di hadapi Alan.
"Kamu sudah berubah pikiran Dodi. sebenarnya Om dari kemarin ingin mengantarkan kamu ke Papa Rudi, dan Om tidak ingin mengatakan jika Tante Delia mengalami depresi karena kehadiran kamu. Tapi harus bagaimana lagi papamu sudah salah paham karena kamu yang berkata bahwa kamu tidak ingin menemui Mamah Ami yang sekarang terbaring kritis di rumah sakit. Kamu malah mengatakan kamu sudah menjadi anak om dan tante."
Penjelasan Alan membuat Dodi menundukan pandangan, ia mulai mengerti dengan penjelasan yang omnya berikan. Saat itu tangan kecilnya mulai memegang tangan kanan Alan dan berkata.
"Maafkan Dodi, Dodi terlalu terpengaruh oleh Ucapan Tante Delia. Dan Dodi tidak tahu jika Tante Delia depresi, sampai Dodi menganggap semua perkataan Tante Delia baik."
"Tante Delia depresi bukan karna kamu kok, Dodi."
__ADS_1
Ucap Dokter Ane yang datang tiba-tiba.
Alan dan Dodi langsung menatap kearah sang dokter dan berkata," dokter."
Ane mengusap pelan kepala Dodi dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia memeluk Dodi dan berkata," kamu tidak salah apa-apa. Semua sudah jadi takdir. Tante Delia depresi karna ia mengiginkan seorang anak, wajar saja Tante Delia mengiginkan seorang anak. Karna setiap mengandung dia selalu keguguran. Jadi Dodi jangan salah mengerti. Semua orang yang berada di sisi Dodi peduli dengan Dodi. Mereka tidak ingin melihat hati Dodi terluka."
Dodi menatap ke arah sang dokter dan berkata," apa benar itu dokter?"
Ane tersenyum manis, senyuman dokter itu mampu membuat anak kecil bernama Dodi itu tersipu malu.
Alan yang melihat Dodi seperti itu, membuat dirinya mencubit pipi Dodi dan berkata," anak nakal. Kalau di bilangin dokter cantik, malu-malu gitu, coba sama om di bilangin marah-marah."
Dodi meringis kesakitan seraya berucap," apa sih om. Malu tahu."
Ane dan Alan tertawa bersama melihat tingkah kekanankan Dodi yang begitu lucu.
Di balik senyuman Ane, ada hati yang bahagia melihat sang pujaan hati tersenyum bersama.
"Ane kuatkan hatimu," gumam hati Ane.
Tawa kebahagian itu seketika terhenti saat Dodi meminta ingin di atar ke ruangan Delia.
Dodi meraih tangan Alan seraya berucap,"Dodi ingin bertemu dengan Tante Delia, Dodi ingin mengucap perpisahan."
Deg ....
Ucapan Dodi membuat hati Alan terasa sakit, bagaimana tidak ia berkata perpisahan. seperti tak akan bertemu lagi dengan Delia dan Alan.
"Kenapa Dodi berkata perpisahan, bukanya kita suatu saat lagi akan bertemu."
Dodi menundukan pandangan, hati kecilnya mungkin masih merasakan sakit.
"Eh, Dodi jangan sedih. Ayo kita ketemu dengan Tante Delia di ruangannya." Ucap Ane menarik tangan Dodi begitu saja.
Alan hanya melihat pemandangan itu, sungguh membuatnya merasa sakit.
__ADS_1
Ia akan mengantarkan Dodi ke pelukan Ami, dan menjauh dari pelukan istrinya Delia.