
@@
Rudi yang masih berada di dalam mobil, kini bergegas pergi ke rumah Sarah, ia terpikir akan Sarah yang pasti akan datang ke rumahnya setelah kabur dari rumah sakit.
“ Sarah, aku pasti akan menemukanmu.” Ucap Rudi dengan yakin akan menemukan Sarah dan menjembloskan kembali wanita kejam itu.
Setelah sampai di depan rumah Sarah.
Rudi melihat polisi yang tengah berjaga di depan rumah sarah.
Dengan begitu ketat, membuat ia turun dari dalam mobil menghampiri polisi itu.
“Selamat siang, pak. Ada apa ya?” Tanya polisi kepada Rudi yang menghampirinya.
“ Apa boleh saya masuk ke dalam rumah ini!” jawab Rudi pada polisi.
“Tidak bisa, pak, karna di dalam sudah tersegel polisi,” ucap polisi itu. Tak memberi izin pada Rudi.
“Tapi pak, saya mencurigai sarah yang kabur ke sini,” ucap Rudi. Meyakinkan kedua polisi itu.
“Apa Anda yakin, karna dari tadi kami di sini tidak ada orang yang masuk,” balas polisi yang tak mempercayai ucapan Rudi.
Rudi hampir saja kehilangan akal, ia bingung harus masuk dengan cara bagaimana. Karna ia sangat yakin dengan dirinya sendiri Sarah pasti datang ke rumahnya dengan cara melewati pintu rahasia.
Karena Rudi sempat ingat, dengan jebakan yang ia buat untuk Sarah waktu itu. Ia melihat pintu yang seperti lukisan, yang ia curigai itu pintu asli dan bisa di buka. Saat ia menyelidiki semuanya dengan detail, benar saja pintu lukisan itu bisa di buka dengan cara memencet tombol yang tersedia dan kode sandi yang hanya di ketahui Sarah.
Dodi menarik- narik tangan sang papah. Untuk segera pergi dari hadapan polisi itu. Karna percuma saja mereka tidak akan mengizinkan siapa pun masuk, kalau bukan karna alasan yang kuat.
“Ayo pah, kita pergi dari sini,” ajak Dodi.
Rudi hanya bisa menuruti anaknya, ia pergi dan naik ke dalam mobil, sembari menatap ke sana kemari.
Rudi seakan menemukan sesuatu yang aneh, membuat ia penasaran. Menghentikan mobilnya seketika.
“Kenapa pah, kok berhenti?” tanya Dodi.
Rudi mulai menunjukkan tempat yang aneh, di mana tempat itu tertutup dedaunan dan jarang di lewati orang.
“seperti pintu, pah,” ucap Dodi.
“Ya, papah juga berpikir seperti itu, bagaimana kalau kita ke sana mengecek sebentar,” ajak Rudi pada anaknya.
“Seram kayanya, pah,” balas Dodi. Bergidik ngeri melihat tempat yang ia lihat sepi.
__ADS_1
“Hey, anak laki-laki harus berani jangan jadi penakut,” ucap sang papah, meyakinkan anaknya agar tidak menjadi penakut.
“Tapi .... Suasananya sepi,” balas Dodi memegang buluk kuduknya yang seakan berdiri. Mengusap perlahan bulu kuduk itu agar tidak berdiri merasakan rasa takut.
Sang papah langsung merangkul pundak anaknya dan membisikan sesuatu pada telinganya,” kalau Dodi berani, Dodi enggak bakalan diganggu makhluk halus, tapi kalau Dodi penakut. Makhluk halus itu malah akan mengganggu Dodi loh.”
“Ahhk, papah. Nakut – nakutin aja Dodi,” Cetus Dodi menampilkan wajah cemberutnya. Tak suka dengan sang papah yang selalu menakutinya.
“Ya, makannya. Kamu harus berani, masa anak papah penakut, nanti kalau enggak ada papah siapa yang jagain mamah,” ucap Rudi.
“Lah, memang papah mau ke mana?” tanya Dodi.
Rudi menunjuk lubang hidungnya, sembari tertawa terbahak-bahak di depan sang papah. Dodi yang melihat semua itu hanya bisa berucap dengan nada kesal,” enggak lucu sama sekali. Papah.”
“Mau ikut papah, atau Dodi nunggu di sini sendiri?” tanya sang papah.
“Dodi, nunggu di sini saja, lah. Malas papah bikin Dodi kesal!” jawab sang anak melipatkan kedua tangannya.
“Ya sudah.”
Rudi tertawa pelan, saat membuka pintu mobil. Ia sudah terbiasa mengerjai Dodi, sampai di mana kaca mobil terbuka,” papah hati-hati.”
Rudi tersenyum dan berkata,” jangan buka pintu mobil sebelum papah kembali.”
Rudi kini melangkah maju, mendekat ke arah dedaunan yang begitu banyak. Membuka dedaunan itu dan benar saja, sebuah pintu yang seakan terhubung dengan rumah Sarah.
“Benar dugaanku ternyata ini adalah sebuah pintu.”
Rudi perlahan berusaha membuka pintu itu, tapi terdapat tombol seperti memasukkan kode.
“Ahhk, kenapa ada kode segala sih.”
Beberapa kode sudah di masukan, tapi tak terbuka juga membuat Rudi sedikit frustrasi.
“Apa kodenya Coba, Astaga Sarah, kamu masukan kode apa sih.”
Dengan menghembuskan napas pelan mengeluarkan secara perlahan, kini Rudi mulai asal- asallan mengetik kode. Hingga di mana pintu itu terbuka langsung.
“Sial, ternyata kodenya hanya namaku saja.”
Mengaruk kepala yang tak terasa gatal, menenangkan segala amarah yang terpendam pada hatinya. kini Rudi mulai memasuki pintu rahasia itu, yang ternyata pintu itu langsung masuk ke kamar Sarah.
Rudi melihat ke sekeliling kamar Sarah, melihat sesuatu yang mencurigakan. Di mana ada potongan bekas CCTV yang sengaja di hancurkan,” sepertinya Sarah dari tadi sudah berada di sini. Sekarang dia ada di mana?”
__ADS_1
Rudi mulai mencari keberadaan Sarah, di dalam rumah itu. Berharap para polisi tak mengecek ke dalam rumah.
“Sarah, sudah tak ada di sini. Ke mana dia?”
Rudi yang tak mau berlama- lama di dalam rumah Sarah, kini kembali menemui Dodi. Di mana saat ia keluar dari pintu rahasia itu, Dodi tertidur lelap di dalam mobil, membuat Rudi mengedor-gedor kaca mobilnya.
“Dodi, bangun nak, Dodi.”
Setengah jam menunggu di luar, Rudi hanya bisa memaklumi anaknya yang tertidur lelap.
“Papah, ya ampun. Dodi lupa pah,” ucap Dodi tersenyum tanpa rasa bersalah.
Sang papah memonyongkan bibir bawah atasnya dan berucap,” balas dendam kamu Dodi.”
Tawa Dodi dan Rudi membuat kebahagiaan yang terpancar, walau banyak sekali ujian tapi mereka tetap menghadapi dengan penuh keyakinan.
Si mbok yang pulang dengan menenteng sayuran pada keresek hitam, begitu kaget dengan apa yang ia lihat.
Wanita tua itu melihat Rudi di luar mobil, membuat ia dengan terpaksa berjalan membalikkan tubuh ke arah jalan lain.
“Gawat, ternyata mereka ada di sini.”
Si mbok berusaha menjauhi Rudi, agar Rudi tidak bertanya tentang keberadaan Sarah padanya. Ia takut jika mulutnya salah berucap dan membuat persembunyian Sarah terbongkar.
Rudi yang melihat wanita paruh baya seakan menjauhi dirinya, membuat ia mengejar wanita itu
“Bukanya itu pembantu, Sarah?”
“Kenapa, pah.”
Rudi tak menjawab pertanyaan Dodi, ia berlari mengejar wanita itu.
“Bu, tunggu.” Teriak Rudi.
Si mbok berusaha mengabaikan teriak Rudi, ia terus berjalan cepat. Agar Rudi tak mengejarnya lagi.
“Bu, Tunggu.” Teriak Rudi.
Saat itulah kesempatan Si mbok, di mana angkot berdiri pas di hadapannya, membuat ia berencana menaiki angkot itu.
Rudi berlari dengan cepat hingga di mana?
Apa kah Rudi bisa mengejar Si mbok?
__ADS_1