Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 20


__ADS_3

Astaga, sejak kapan dia menyimpan poto ketika aku bertelanjang dada, dan lagi saat dia menjamahi tubuhku.


Segera ku ambil Hp-tua bangka itu, satu persatu telihat jelas wajahku terpapang di sana.


Segeraku hapus satu persatu. Benar-benar lelaki licik, mampu menipu daya seseorang dengan kekuasaan yang ia miliki.


"Hapus saja semua, percuma, salinan poto itu sudah banyak, apalagi vidionya sudah aku save ke Hp pribadiku." ucapnya membuat aku menggigit bibir bawahku.


Sial, dia lebih pintar dari pada apa yang aku bayangkan, dia lelaki tua licik.


Ahhh, bodoh kamu Sisi, rencanamu bisa gagal untuk menikah dengan Rudi. Bagaimana ini, semua sudah aku susun dengan begitu mulus Namun, seakarang gagal oleh lelaki tua bangka itu.


Tiba-tiba.


Wajahnya mendekat kearahku dan berbisik," Menikahlah denganku, atau vidio dan poto itu akan tersebar pada Rudi dan Ami."


Ternyata dia mengancam ku.


Ucapanya, apa tidak salah tua bangka ini. Dasar otak mesum.


"Aku tidak ingin, menikah denganmu, dan lagi kamu sudah mempunyai istri pak, mana mungkin aku menjadi madumu. Harusnya aku menjadi anakmu. Karna walau pun aku janda, masih terlihat muda."


Pak Hendra mengelus rambutku. Terseyum penuh nafsu. Jijik rasanya melihat dia memegang rambutku.


"Apa aku tidak salah dengar Sisi, bukanya kamu juga ingin menikah dengan Rudi, lantas apa bedanya, sama saja di madu."


Aku tertawa lekas, membuat raut wajah Pak Hendra sedikit menjauh, " hey pak, bedalah, kalau saya menikah dengan bapak, saya akan menderita dengan istri bapak, istri bapak yang galak, sangar dan sehat bugar.  Berbeda dengan Rudi, dia mempunyai istri yang penyakitan dan bentar lagi akan mati.


Plak ...


Satu tamparan melayang di pipi kiriku, tamparan dari tua bangka itu. Maksudnya apa menampar aku sebegituhnya.


"Kurang ajar kamu, Sisi berbicara seperti itu kepada Ami," teriakan Pak Hendar membuat gendang telingaku serasa mau pecah, apa-apan tua bangka ini marah-marah padaku.


Aku melihat wajah Pak Hendra yang sangat marah sembari menujuk-nujukku, dan mencaci, menghinaku.

__ADS_1


Melihat dia yang marah seperti itu membuat aku semakin puas.


"Kenapa bapak marah, dan menghinaku, lantas bapak apa, membayar dan merayuku, menikmati tubuhku, dengan memaksaku."


"Kau."


Dia menarik paksa tanganku, menyered membawaku, ke dalam mobilnya.


Aku segera berteriak meminta tolong kepada orang-orang di rumah sakit ini, agar terlihat orang, seakan aku yang teraniaya.


Saat aku di masukan ke dalam mobil, seseorang menarik tubuk Pak Hendra yang masih di luar.


Segera aku bangun dan bergegas ke luar mobil.


Aku melihat kedua pria itu, hampir saja saling memukul.


"Papah, apa yang papah lakukan, menarik paksa Sisi dan membawa dia ke dalam mobil." ucap lelaki yang memegang kerah baju Pak Hendra.


Ternyata yang ingin memukul Pak Hendra, itu adalah Anaknya, Alan, pantas saja dia semarah itu.


Waw, mengasikkan, dengan begitu ektingku lebih waw, aku berpura-pura menagis dan merobek sedikit bajuku saat orang-orang masih tertuju melihat ayah dan anak, akan saling memukul. Emangnya enak pak. Meski kau atasanku harusnya kau terlihat terhormat.


Segera langkah kaki ini berlari menghampiri Rudi yang masih terdiam pilu.


"Rudi, tolong aku." ucapku sembari menyender kepala kedada bidang suami Ami.


"Tolong, Pak Hendra mau membawaku, dan melecehkan aku." ucapku menagis dikala itu, Pak Hendra menatap wajahku dengan kebencian yang teramat dalam. Siapa suruh macam-macam sama Sisi, udah begitukan dirinya sendiri yang rugi.


Aku terseyum balik menatapnya lagi.


"Itu bohong, dia wanita penggoda." teriak Pak Hendra menujuk ke arahku, sampai semua orang menatap raut wajahku.


"Apa, Kenapa, Pak Hendra begitu kepadaku." Air mata kepalsuan terus saja mengalir dari pelipih mata, meyakinkan seseorang agar percaya terhadap diriku.


"Papah, keterlaluan sekali." timpal Alan melepaskan pegangan tangannya dari kerah baju Pak Hendra.

__ADS_1


"Sebaiknya kita selesaikan ini, baik-baik, toh ada cctv di sini, biar kita lihat siapa yang salah sebenarnya."


Gawat cctv, bagaimana ini apa aku akan ketahuan kalau yang merobek bajuku itu, diriku sendiri.


"Aku sudah ikhlas, tak perlu mempermasalkan semuanya, tolong Alan maafkan kelakuan papahmu, aku yang salah, karna terlalu cantik, hingga banyak yang terpikat olehku," ucapku memelas agar aku tidak di salahkan atas semua ini.


"Baik aku bersedia, cctv itu di tampilkan." 


Sial Rudi membela Pak Hendra, bukanya aku yang teraniaya yang harusnya di bela. kenapa tua bangka itu.


Apa yang harus aku perbuat, tenang Sisi ini belum waktunya panik. Tenang ... Tenang karna dirimu ini tidak salah, yang harus di salahkan itu lelaki tua bangka.


Oke, sabar kita tunggu siapa yang salah?


Suasana di ruangan cctv membuat jantungku berdetak lebih cepat, seakan aku yang salah.


Seharusnya tadi aku tidak merobek baju, biarkan saja seperti apa adanya, bodoh kamu Sisi.


"Kamu kenapa Sisi?" bisikan tua bangka itu terdengar jelas di telingaku.


Kesal aku dibuat lelaki tua itu.


"Ya sudah pak kita mau liat rekaman cctv yang tadi siang pukul 12:35." ucap Dokter Alan kepada sang penjaga.


"Baik, dok." jawab penjaga itu sembari memutar ulang rekaman cctv saat itu juga.


Bola mataku terus saja memandangi, layar yang begitu terpapang, bibirku bergetar seakan cemas takut, semua salahku.


"Kenapa Sisi apa kamu takut," tanya Rudi seketika membuat bola mataku menatap padanya.


"Kenapa harus takut, aku tak salah. Harusnya lelaki tua bangka itu yang salah."


Dan saat rekaman itu di buka, semua mata tertuju begitu pokus, beda dengan aku yang seakan takut dan salah tingkah.


Setelah Rekaman terbuka ...

__ADS_1


__ADS_2