
"Arsyla, kamu Kenapa nak? Kenapa wajahmu bengkak begini?" tanya Bu Ira pada anaknya. Wanita tua itu begitu kaget melihat Arsyla yang tiba-tiba saja pulang dengan keadaan bibir bengkak dan penuh luka luka.
Mendengar teriakan Bu Ira, Arpan dan Sisi menghampiri mereka berdua di depan pintu. Sisi begitu kaget melihat Arsyla dengan penampilan yang penuh luka bekas pukulan.
"Kenapa kamu Arsyla, kenapa tubuhnya penuh luka. Siapa orang yang tega memukul kamu seperti ini?" tanya Sisi. Iya begitu cemas melihat Arsyla seperti itu.
Wanita berhidung mancung Itu hanya menundukkan pandangan. Ia seakan malu dengan tampilan wajahnya yang seperti itu. Arsyla tak menjawab semua pertanyaan ibunya dan juga Sisi, ia malah berjalan melewati sang ibu.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ibu, kamu sebenarnya Kenapa Arsyla," ucap Bu Ira. Berusaha membantu anaknya yang berjalan sempoyongan.
"Aku juga bisa jalan sendiri, aku tidak perlu dibantu." Arsyla menolak bantuan dari orang lain dan orang tuannya. Berjalan dengan sombongnya ia begitu egois entah ada masalah apa pada dirinya pulang dengan keadaan seperti itu.
"Sebenarnya Arsyla kenapa? Wajahnya begitu bengkak siapa yang tega memukul Arsyla sampai begitu? Apa Arsyla mempunyai musuh?" tanya Sisi pada Bu Ira.
" Ibu juga tak mengerti Arsyla pulang-pulang dengan keadaan seperti itu, setahu Ibu. Anak ibu jarang sekali bergaul dengan teman-temannya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bermain laptopnya sendiri!" jawab Bu Ira.
Bu Ira berjalan menghampiri anaknya. Setelah sampai di kamar Arsyla, Bu Ira dengan perlahan membuka pintu kamar anaknya. Tapi ternyata pintu kamar Arsyla terkunci.
"Arsyla bukan nak, ini ibu. kamu kenapa?
Kenapa pintu kamar kamu harus dikunci. Ibu ingin tahu sebenarnya ada apa dengan kamu, Nak. Ayolah Arsyla buka pintunya." Teriak lembut Bu Ira kepada anaknya. Berharap sang anak mau membuka pintu kamarnya.
Tidak ada sahutan dari Asyla, Arsyla tetap tidak menjawab panggilan Ibunya. Bu Ira begitu kuatir dengan keadaan anaknya.
"Arsyla ayolah buka pintunya jika kamu mempunyai masalah cerita sama ibu. Ayo buka pintu kamarnya. Nak."
Arsyla masih terdiam, Bu Ira berharap sang anak mau membuka pintu kamarnya.
.
__ADS_1
Bu Ira ingin sekali masuk dan menenangkan segala masalah yang dilalui anaknya saat ini. Sudah beberapa kali Bu Ira mencoba membujuk Arsyla, untuk membuka pintu kamarnya. Tapi ternyata semua itu hanyalah sia-sia. Arsyla tetap saja Mengunci pintu kamarnya ya. Arsyla seakan tak peduli dengan teriakan sang ibu yang mengkhawatirkan dirinya.
Sisi dan Arpan menghampiri Bu Ira yang tengah menangis karena kuatir.
Saat itu Sisi dan Arpan memberikan kunci cadangan kamar Arsyla pada Bu Ira.
Dengan senangnya Bu Ira langsung mengambil kunci cadangan itu, membuka pintu kamar anaknya.
Ternyata Arsyla tengah terduduk di atas lantai di pinggir kasur, ia menangis tersedu-sedu. Membuat Bu Ira seakan tak tega.
Wanita tua itu langsung memeluk erat anaknya Seraya berkata." Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu Arsyla. Kenapa tiba-tiba kamu menangis. Ceritalah sama ibu. Nak."
Arsyla hanya bisa menangis, bibirnya begitu keluh, berat tak bisa berucap apa-apa, hanya air mata yang keluar dari pelipis kedua matanya.
"Ayo jawab, Nak. Ada apa dengan kamu jangan bikin Ibu kuatir?"
Arsyla masih menangis ia seakan susah mengatakan satu patah kata pada mulutnya. Arpan mendekat kearah Sisi dan Bu Ira." Sudahlah kita tidak ada gunanya terus mendesak dan bertanya, masalah apa yang sedang dilalui Arsyla saat ini. Lebih baik kita pergi, agar Arsa bisa menenangkan dirinya sendiri."
Kita tunggu apa jawaban yang sebenarnya dari Arsyla. Arpan membawa Bu Ira dan istrinya untuk keluar saat itu .Arpan Mengunci pintu kamar Arsyla berharap Arsyla bisa menenangkan dirinya sendiri.
Bu Ira menundukkan pandangannya, Sisi yang melihat wanita tua itu langsung merangkul tubuhnya.
Berbisik pada Bu Ira berharap Bu Ira tenang saat itu. "Bu9 lebih baik kita makan dulu yuk. agar ibu bisa tenang."
"Bagaimana Ibu bisa tenang, sedangkan anak ibu di dalam kamar sedang menangis tanpa sebab apa-apa. Ibu takut jika terjadi apa-apa dengan Arsyla."
" Justru itu sekarang Arsyla, kita biarkan tenang dulu. Kasihan dia. Mungkin dia sedang tertekan saat ini, biarkan dia merenungi masalahnya sendiri karena. Semakin kita tanya Arsyla, malah semakin kesal dan menutup dirinya, sekarang lebih baik ibu makan dulu yuk. Karena Sisi sudah siapkan makanan kesukaan Ibu, kalau Ibu sudah makan baru kita temui lagi Arsyla. Mudah-mudahan setelah ini keadaan Arsyla membaik, dia mau menceritakan masalahnya kepada kita.
" Iya, Nak Sisi.Terima kasih telah membuat hati Ibu sedikit tenang. Kamu memang anak yang baik Sisi, Arpan beruntung mendapatkan kamu Sisi."
__ADS_1
" Ibu bisa aja, kita makan yuk."
Bu Ira langsung duduk dan makan di meja makan, dengan memikirkan anaknya. Ada rasa kuatir karena Arsyla masih terdiam di dalam kamar. Tidak keluar dari Kamar tidurnya, membuat Bu Ira begitu sangat kuatir.
Setelah selesai makan.
Bu Ira langsung menghampiri anaknya di dalam kamar.
Membuka kunci kamar tidur Arsyla secara perlahan, ternyata Arsyla Masih terduduk di atas lantai. Iya memeluk kedua lutut kakinya. Arsyla menangis melihat ke arah jendela.
Bu Ira mengusap lembut jidat anaknya nya, air matanya keluar begitu saja, ia bertanya pada anaknya." Sebenarnya ada apa dengan kamu? Kenapa kamu jadi seperti ini, coba jawab pertanyaan ibu nak? ibu ingin tahu sebenarnya kamu, Kenapa."
Saat itu mulut Arsyla mulai berani berkata, ia menangis memeluk sang Ibu. Berharap ibunya mengerti dengan perkataannya.
" Kamu kenapa Sayang?"
Semakin memeluk erat tubuh ibunya." Maafkan Arsyla Bu. Maafkan Arsyla, selama ini jahat sama ibu.
Selama ini Arsyla terlalu percaya dengan teman-teman Arsyla. Mereka berkhianat pada Arsyla, mereka tega memukul Arsyla. Sampai seperti ini, kenapa mereka seperti itu. Maafkan Asryla, Bu."
Bu Ira menjawab," Sudah ibu maafkan semuanya nak!"
" Arsyal sebenarnya, selalu meminjam uang pada mereka, hingga puluhan juta, sekarang Aryla bingung harus membayar uang itu dengan apa. Sedangkan Arsyla tidak bekerja dan tidak mempunyai uang. Maafkan Arsyla Bu.
"Bagaimana pun ibu akan berusaha bantu kamu, Nak."
"Aku takut Bu, takut jika bertemu teman Arsyla. Mereka akan memukul Arsyla lagi seperti sekarang. "
"Maafkan Arsyal, Bu."
__ADS_1