Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 284 sang adik.


__ADS_3

Arpan sangat menghawatirkan keadaan istrinya, sampai masuk ke dalam rumah. Wajah Sisi terlihat sanggatlah muram.


“Aku mau ke toilet dulu, mas,” ucap Sisi berpamitan pada Arpan. Tapi Arpan mencoba meraih tangan Sisi dan bertanya?” Apa yang tengah kamu pikirkan.”


Sisi tak tahan lagi, ia langsung menangis menatap ke arah sang suami.


“kenapa menangis?” tanya Arpan mengusap pelan kepala istrinya.


“Entahlah, semenjak Sarah membentakku. Hatiku merasa tak tenang. Aku merasa hidupku seakan begitu menyulitkan orang lain!” jawab Sisi. Kini Arpan langsung menyuruh istrinya untuk duduk di sofa dan berkata


“Kenapa harus berkata seperti itu, yang terpenting kamu sudah mengatakan semuanya. Biarkan Sarah seperti itu agar dia menyadari apa yang terjadi dengan dirinya,” ucap Arpan menenangkan pikiran Sang istri.


“Tapi ....”


Belum perkataan Sisi terlontar semuanya, Arpan menempelkan jari tangannya pada bibir Sisi dan berkata,” sudah lupakan Sarah. Kamu harus mencoba menjadi diri kamu yang sekarang, masa lalu tetaplah masa lalu. Jangan menyesali kesalahan dari masa lalu, itu semua tiada arti.”


“Baiklah.”


Pelukan Sisi layangkan pada Arpan, membuat hati dan pikirannya merasa tenang.


@@@@@


Sedangkan Rudi yang tak sabar ingin menemui Ami dan Rudi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga di mana, seorang wanita melintas tanpa ia sadari.


Rudi dengan sigap mengerem mobilnya, sampai di mana wanita itu terjatuh.


Dengan rasa panik, ia mulai membuka pintu mobil. Melihat siapa yang tak sengaja ia tabrak.


Ternyata seorang gadis, berwajah tirus dengan rambut panjangnya yang hitam melekat. Meringis kesakitan, ada luka pada tangannya dan lutut kaki.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rudi pada gadis itu.


Gadis itu menggelengkan kepala dengan wajah penuh rasa kasihan, membuat Rudi berucap,” apa kamu mau aku antarkan ke rumah sakit.”


Gadis itu dengan lembutnya berucap,” tak usah. Saya masih bisa berdiri.”


“Tapi aku terluka,” balas Rudi.


Gadis itu mulai berusaha berdiri, ia menahan luka merah pada lututnya. “Hati- hati,” ucap Rudi.

__ADS_1


“Sudah kamu tenang saja, ini hanya luka kecil. Aku bisa sendiri kok,” balas gadis itu.


Rudi terus menatap pada jam yang melingkar pada tangannya, ia takut jika Ami dan Dodi menunggu kedatangannya lama.


Gadis itu terus menatap ke tampanan Rudi, ia tersenyum kecil dan berucap dalam hati,” kenapa om ini begitu tampan.”


“Mm, kalau kamu kenapa- kenapa. Bisa saya hubungi saya lewat ini.” Rudi menyodorkan kartu kecil dengan alamat dan nomor teleponnya, kepada gadis itu.


“Oh ya. Terima kasih,” jawab gadis itu.


“Saya pergi dulu, kebetulan anak dan istri saya lagi menunggu saya di rumah sakit,” balas Rudi terburu- buru.


“Dia sudah mempunyai seorang istri dan anak,” gerutu gadis itu.


Rudi masuk ke dalam mobil, berpamitan pada gadis yang tak sengaja ia tabrak.


Sedangkan dengan gadis itu ia menampilkan wajah cemberutnya, karna melihat lelaki yang tampan ternyata sudah mempunyai seorang istri.


Pada saat itulah, gadis itu bergegas menaiki taksi untuk bertemu sang kakak yang berada di dalam penjara. Setelah sampai, gadis itu menemui wanita bernama Sarah yang tak lain ialah kakak kandungnya sendiri.


Sarah membulatkan kedua matanya, melihat adiknya yang masih hidup melihat dirinya di dalam penjara.


“Kenapa kakak kaget,” ucap gadis itu. Melipatkan kedua tangannya.


“Aku mengira adikku yang cantik ini tidak akan menemui kakaknya ini,” balas Sarah tersenyum kecil. Melihat sang adik yang sudah bertumbuh dewasa.


“Aku masih menghargaimu sebagai seorang adik, walau kamu ini sudah membuat adik pertamamu mati dalam kecelakaan pesawat dan juga ibu yang kakak kurung di dalam lemari hingga menjadi tengkorak,” ucap gadis itu dengan isak tangis di depan Sarah.


“Adikku, yang cantik. Itu kakak lakukan ....”


Belum perkataan Sarah terucap, kini sang adik pun membentak Sarah,” Demi apa? Demi keegoisan kakak dan balas dendam kakak terhadap lelaki yang kakak cintai. Walau keluarga jadi taruhannya.”


“Adikku kamu tidak akan mengerti,” balas Sarah. Menenangkan setiap isak tangis sang adik. Ia mencoba membujuk adiknya untuk membalaskan dendamnya yang belum terbalas.


“Jangan karna aku dulu masih kecil, kakak menganggapku lemah. Tapi aku sekarang puas karna kakak sudah ada di dalam penjara, aku berharap kakak membusuk di dalam penjara, agar kakak merasakan penderitaan ibu dan adik kakak sendiri yang kakak buat mati sia-sai.” Sumpah serapah itu tak segan- segan di layangkan gadis itu. Membuat Sarah mengepalkan kedua tangannya.


Hanya adiknya yang bungsu tak mau menuruti perintahnya, ia lebih suka membangkang dan tak mau menurut. Membuat Sarah harus bisa membujuk dia secara perlahan.


“Adikku, kenapa kamu berkata seperti itu,” ucap Sarah membuat sebuah drama di mana dirinya berpura- pura menyesali semuanya.

__ADS_1


“Apa lagi, sudah cukup jangan perlihatkan air mata palsumu itu kak, semua tak berguna bagiku. Aku ingin kakak mati saja di dalam penjara,” gerutu sang adik. Pergi tanpa mendengar ucapan Sarah lagi.


Tentu saja melihat sang adik yang seperti itu, membuat Sarah kesal, kenapa ia mempunyai adik yang tak mau menuruti perkataannya.


Menggenggam erat tangannya memukulkan pada tembok,” Ahhk.”


Namun saat langkah kaki gadis itu tiba- tiba terhenti, saat Tama memanggil namanya.


“Nasila,” panggil Tama pada gadis itu.


Tentu saja gadis itu menatap ke arah suara yang memanggil namanya, di mana panggilan khas Tama yang selalu terlontar untuk adik bungsu Sarah.


“Kak Tama?”


Kini gadis itu mendekat ke arah Tama, membuat Tama senang.


“Nasila kamu ada di sini?” tanya Tama.


Gadis itu melayangkan senyuman kecilnya dan berkata,” ternyata para penjahat seperti kakakku dan kakak Tama sudah masuk penjara sekarang.”


“Apa maksud kamu, Nasila. Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Tama heran dengan tingkah Nasila yang berubah. Padahal dari dulu Nasila selalu dekat dan baik jika berhadapan dengan Tama.


“Sudahlah, tak usah bertanya kenapa aku berkata seperti ini. Karna semua sudah jelas, kakak Sarah dan Kakak Tama adalah dalang ke matian ibu yang baru aku ketahui sekarang. Kalian berbohong kepadaku selama ini, dan kebohongan kalian terungkap sekarang saat kalian di tahan di dalam penjara. Oh ya, aku pastikan kalian akan menangung akibat dan perbuatan kalian di dalam penjara,” kecam gadis itu. Menunjuk- tunjuk pada wajah Tama lelaki yang selalu melindunginya ternyata seorang pembunuh berdarah dingin.


“Nasila, dengarkan kakak Tama dulu.”


Nasila mengabaikan teriakan sang kakak dan pergi begitu saja, dengan tangis yang tak bisa terbendung lagi. Hatinya kesal benci menjadi satu membuat ia tak bisa berpikir jernih lagi.


Bagi dirinya, sanggatlah puas karna sudah mengatakan yang ada pada isi hatinya, ia tenang dan bisa bermimpi indah kembali. Walau keluarganya sudah tidak ada.


Karna dendam kakaknya menjadi sengsara di dalam penjara, dan karna dendam keluarga menjadi taruhannya. Bukanya puas akan dendam yang di miliki malah menjadi kehancuran yang bertubi- tubi.


Membalas dendam bukanlah hal yang baik di lakukan semua, malah akan menyulitkan kehidupan sendiri.


@@@@@


Sedangkan dengan Ane, ia masih memikirkan cara untuk mengeluarkan Deni. Mempertahankan rumah sakit yang ia miliki selama ini dari sang papa.


Namun Putra tak tinggal diam, ia membantu sang istri. Menemui Alan besok pagi menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Apa kah Alan akan mendengarkan keinginan Ane dan Putra?


__ADS_2