
suster Ayuni yang terus menelpon Lita dan juga Ida. Membuat dirinya kesal yang sedikit stres, karna Lita yang tak mengangkat panggilan telepon darinya.
"Sial, Lita langsung mematikan ponselnya."
Karena rasa kesal yang menggebu pada hatinya, suster Ayuni bergegas mengganti baju. untuk segera menyusul ke alamat tempat tinggal Lita dan juga Ida.
"Aku harus mencari keberadaan mereka sekarang juga."
para sahabat suster Ayuni terus memanggil namanya.
"Suster Ayuni."
namun Ayuni mengabaikan teriakan sahabatnya itu. Iya bergegas pergi keluar dari rumah sakit, menaiki mobil dan mencari alamat Lita dan juga Ida.
"Si Ayuni mau ke mana sih, sudah tahu banyak pasien. Dia malah pergi begitu saja," cetus sahabat Ayuni. yang begitu sibuk menangani pasien. yang terus-menerus berdatangan.
"Entahlah, padahal aku sudah memberitahu Ayuni untuk tidak izin dan juga pergi," balas Sahabat Ayuni.
@@@@@
suster Ayuni yang sibuk mencari keberadaan Lita dan juga Ida.
Yang ternyata Lita dan Ida, sudah bergegas pergi dibawa oleh Deni, untuk menempati rumah Deni yang berada di Bogor.
di dalam mobil perasaan Lita dan juga Ida sangatlah senang, di sisi lain Mereka bisa bebas dari suster Ayuni. dan disisi lain pula mereka bisa menikmati fasilitas gratis dari Deni. walau dengan cara menipu Deni.
di dalam mobil, Deni mulai berucap kepada Lita jangan juga Ida.
" Aku berharap kalian bisa menjaga bayi Delia dengan benar."
Lita dan Ida langsung menjawab perkataan Deni di dalam mobil," Bapak tenang saja, kami berdua akan mengurus bayi Delia dengan benar."
" Bagus kalau begitu, tapi jika kalian tidak benar mengurus bayi Delia. Aku tak segan-segan akan menghukum kalian berdua."
Deg .....
tiba-tiba saja Deni berucap seperti itu, membuat Lita dan Ida sedikit ketakutan. tapi di dalam mobil mereka berdua berusaha tetap tenang. agar kebohongan mereka tidak terungkap.
@@@@@
saat suster Ayuni, menemukan alamat tempat tinggal Lita dan juga Ida. Pada saat itulah suster Ayuni menghampiri rumah yang terlihat sepi tanpa ada satu orang pun di rumah itu.
__ADS_1
"Rumahnya. Terlihat sepi? Ke mana mereka?"
suster Ayuni memencet bel beberapa kali, tak ada orang yang membuka pintu rumah itu. suster Ayuni berusaha sabar menunggu hingga setengah jam berlalu.
sampai dimana ada seorang ibu-ibu yang datang menghampiri suster Ayuni.
"Anda cari siapa, ya?" tanya ibu ibu yang tak sengaja lewat di hadapan Ayuni.
"Yang menempati rumah ini, pada ke mana ya!" jawab Ayuni. Menanyakan Lita dan Ida.
"Oh, ini baru saja tadi kosong. Orangnya pada pergi, katanya mau pulang kampung ," ucap ibu itu. Dengan tergesa gesa ibu itu berpamitan untuk pulang.
Suster Ayuni sangatlah kesal, ia tak menyangka jika Lita dan Ida pergi dengan begitu cepat." kamu harus tenang Ayuni, semua pasti bisa teratasi."
Ayuni bergegas untuk pergi ke rumah sakit kembali, karna ia tak menemukan Lita dan juga Ida.
Setelah sampai di rumah sakit, para perawat begitu marah besar kepada suster Ayuni. yang main pergi begitu saja. tak memikirkan Jika di rumah sakit begitu sibuk dengan pasien-pasien yang berdatangan.
" Ayuni, kamu ini niat kerja enggak sih," hardik Lala pada Ayuni yang baru saja datang.
Ayuni mendelik kesal mengabaikan ucapan Lala sahabatnya itu, ia segera bergegas mengganti bajunya kembali.
@@@@@
Yang di mana Ane, mendengar druh mobil yang tak asing di telinganya. Ia mengintip pada jendela rumahnya. Melihat siapa yang turun dari dalam mobil.
"Itukan Alan dan Delia," ucap Ane.
Putra yang berada di belakang punggung Ane, kini ikut melihat ke jendela bersama sang istri.
"Delia dan Alan."
"Iyah, pah. Bagaimana ini, aku harus menyembunyikan bayi ini."
Ane tampak panik, ia ke sana ke mari sembari menggendong bayi Delia. Membuat Putra berucap," kenapa mamah harus panik. Mamah tinggal berikan saja bayi ini pada ibunya."
Mendengar ucapan Putra, Ane memeluk erat bayi itu dan menjawab," tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin. Bayi itu butuh sosok ibunya," ucap Putra.
"Tapi ini belum saatnya," balas Ane.
__ADS_1
Mereka berdua malah saling berdebat, akan kedatangan Delia dan Alan. Putra mencoba menasehati istrinya, agar menjelaskan semua yang sudah ia lakukan. memberikan bayi yang ia curi kepada ibunya sendiri.
Tapi Ane, tetap bersikukuh tidak ingin memberikan bayi itu itu kepada ibunya. entah apa yang dipikirkan Ane saat itu. Ia begitu ngotot ingin mengasuh bayi Delia, dengan beralasan menjaganya.
"Mah, percaya sama papah. Bayi ini jika di jaga Ibunya dan ayahnya sendiri akan aman. Kita ini bukan siapa siapa dari bayi ini. Kita tak ada hak sama sekali, yang ada kita ini mejadi penjahat. karna sudah ...."
Belum perkataan Putra terlontar semuanya, Ane malah membentak sang suami." sudahlah pah, jangan menasehati mamah segala. Mamah hanya ingin melindungi bayi ini."
"Melindungi? Melindungi bagaimana? Ane. kamu ini bukan melindungi bayi Delia, kamu malah akan membuat bayi ini jauh dari ibu kandungnya sendiri. Aku heran dengan pikiran kamu Ane, apa kamu tidak punya hati nurani."
"Sudah cukup, ini caraku. Jadi papah cukup diam saja."
Putra hampir saja putus asa, menasehati terus-menerus sang istri yang tak mau mendengar nasehatnya. padahal Putra sangatlah kuatir kepada sang istri.
Tok .... tok .... tok ....
Perdebatan itu seketika terhenti, saat ketukan pintu terdengar dari luar rumah yang di mana Ane bergegas menaruh bayi itu ke dalam kamarnya.
karena dirinya tak mau jika Delia dan juga Alan mengambil bayi, yang sudah ia ambil dengan susah payah di dalam rumah sakit.
"Aku harus menyebunyikan bayi ini." Ucap Ane. Masuk ke dalam kamarnya,
Putra mengusap pelan wajahnya, kesal dengan Ane yang menyuruhnya menemui Delia dan Alan yang mengetuk pintu.
Dengan terpaksa Putra membuka pintu rumahnya.
Delia dan Alan menunggu dengan wajah cemas mereka.
"Delia, Alan?"
"Ke mana, Ane?" tanya Alan. Yang di mana wajah cemasnya berubah seketika.
"A-ne. Ada di dalam kamarnya!" jawab Putra.
"Aku ingin bertemu segera mungkin dengan istrimu," ucap Delia.
"Oke. aku akan panggilkan istriku saat ini juga. Ya sudah kalian berdua masuk," balas Putra.
Alan dan Delia, mulai langkah masuk ke dalam rumah Putra dan juga Ane. mereka menatap kesana kemari mencari. Apakah ada barang yang mencurigakan di rumah Putra dan juga Ane.
"Oh ya, kalian mau minum apa. Biar aku panggilkan dulu pembantuku."
__ADS_1
Tawaran itu tiba tiba di tolak oleh Delia dan Alan. Mereka berucap," tak usah. Aku ke sini hanya ingin bertemu dengan istrimu Putra."
"Oh, baiklah aku akan menemui istriku dulu."