
Ternyata Arsyla menghempaskan tangannya berlari menuju Pak Ardan, kedua matanya berkaca-kaca. Menatap ke arah lelaki tua yang sudah lama sekali tidak ia lihat.
Bu Ira menghampiri Arsyla, wanita tua itu takut jika Arsyla nekad. Berbuat macam-macam terhadap ayahnya sendiri, langkah kaki semakin mendekat. Bu Ira mendengar apa yang di ucapkan anak gadisnya.
"Ayah ...,"
Langkah kaki Bu Ira seakan berat, ketika Arsyla menyebut nama. Ayah.
"Ayah, kenapa kamu tidak berkata jujur. Kalau selama ini aku adalah anakmu, darah dagingmu sendiri, kenapa kamu rela, aku benci dari kecil hingga aku bertubuh dewasa," ucap Arsyla. Kedua tangannya terus mengusap air mata yang mengalir deras, nada tangisannya semakin kencang.
Pak Ardan memalingkan wajahnya ke arah belakang, lelaki tua itu menjawab," aku tidak mau. Anak perempuanku malu, karna ayahnya ini adalah seorang lelaki pembunuh."
Deg .... Bu Ira menutup mulutnya, kaget dengan perkataan Pak Ardan, yang tiba-tiba saja berkata seperti itu. Sedangkan Sisi yang hanya melihat dari kejauhan sudah tahu, kalau Pak Ardan itu hanya berpura-pura sakit jiwa dan mengaku sebagai pembunuh.
Dimana Sisi menghampiri Pak Ardan untuk ke dua kalinya, dari sana Pak Ardan mengakui semua kebohongannya.
Arsyla berucap dengan sesenggukan, bahunya naik turun," aku tidak akan malu, walau aku terlahir dari perselingkuhan kalian. Aku tidak akan malu, Ayah."
Pak Ardan yang mendengar perkataan Arsyla, menghampiri anak gadisnya dan berkata," apa kamu yakin dengan ucapamu, Arsyla."
Menganggukan kepala, terseyum penuh kebahagiaan. Arsyla memeluk sang ayah, dengan dekapan kehangatan.
Bu Ira, terseyum di atas kebahagian yang terlihat di depan matanya.
Cinta pertama seorang anak perempuan ialah seorang ayah.
Seorang ayah akan melakukan apa saja, asal anaknya bahagia. Walau tersiksa bagaimana pun dirinya, seorang ayah tidak akan membuat anak perempuannya terluka.
**********
Berbeda dengan Dodi, dimana dia tengah duduk di atas lantai memeluk kedua lututnya. Dan berakata," mama harus kuat ... mama harus kuat."
Rudi yang menunggu di luar ruangan tak bisa melihat dari jendela luar, karna perawat langsung menutup dengan gordeng.
Saat itulah, Rudi membungkukan punggungnya. Meraih lengan Dodi untuk berdiri. Tapi ternyata, Dodi terlelap tidur dari tangisannya yang tiada henti.
Rudi membopong Dodi ke ruangan dimana ruangan untuk pasien yang sedang sakit, karna ruangan itu kosong dengan terpaksa Rudi menidurkan Dodi di atas ranjang. Agar Dodi bisa tidur dengan tenang dan nyaman.
Bu Sumyati, memegang bahu anaknya dan berkata," yakinlah. Keajaiban pasti datang."
Rudi mengganggukan kepala, mencubit hidungnya sendiri.
"Iya, bu."
Dodi yang terlelap tidur, melihat seyuman sang mama datang.
__ADS_1
"Mama, itukah mama?" tanya Dodi anak itu masuk ke dalam ruangan tempat sang mama di tangani sang dokter.
Ada bayangan putih tengah berdiri, melihat jasadnya sendiri. Dodi mulai meraih tangan bayangan sang mama, beberapa kali Dodi meraih tangan itu. Begitu susahnya.
Sampai saat Dodi memejamkan mata, saat itulah tangan bayangan putih itu mampu Dodi raih.
Dodi terseyum, karna berhasil meraih tangan sang mama. Hingga bayangan itu menatap ke arah Dodi.
"Dodi, nak. Sedang apa kamu di sini."
"Mama, kenapa mama berpisah dengan jasad mama?"
Bayangan sang mama terseyum dan berkata," karna ini sudah waktunya. Dodi."
"Apa secepat ini, mama?"
Sang mama terseyum menganggukan kepala.
"Tapi Dodi masih butuh, mama."
Tangan bayangan putih itu meraih air mata yang terus mengalir ke dasar pipi sang anak.
"Jangan menangis, kalau Dodi menangis nanti mama. Tidak bisa pulang."
"Dodi mohon ma. Masuklah ke jasad mama." Pintaa Dodi.
"Dodi jika mama masuk ke jasad mama. Mama akan lupa dengan kalian semua, mama akan menjadi ...." Belum semua perkataan terlontar dari bayangan itu,"Dodi tak perduli, yang terpenting sekarang mama bersama Dodi."
"Dodi, sayang, itu tidak mungkin. Yang ada kamu nanti akan terluka."
Dodi menempelkan kedua telepak tangannya sendiri dan berkata," masuklah ke dalam jasad mama sendiri. Dodi mohon."
Bayangan putih itu meraih kedua tangan yang menempel, untuk berdiri. Dan berkata," kalau mama lupa sama Dodi, Dodi harus tetap berada di sisi mama ya. Sampai dimana kesempatan tidak datang dua kali."
Apa yang di maksud sang mama Dodi tidak mengerti, yang ada Dodi menyaksikan bayangan putih itu masuk lagi ke jasadnya sendiri.
Membuat Dodi terseyum dan pergi ke sebuah cahaya yang menyilaukan kedua matanya.
Dan Dodi terbangun.
"Dodi, kamu bangun sayang."
Melihat ke sisi kiri ada sang papa yang tengah menunggu dan juga sang nenek.
"Nek, pah. Mama bangun dari tidurnya."
__ADS_1
Bu Sumyati yang duduk langsung berdiri, dan berkata," hentikan Dodi, jangan buat lagi perkataan seperti itu."
Rudi menundukan pandangan.
Sedangkan Dodi meminta pembelaan pada sang ayah. Kedua tangannya menggoyang-goyangkan lengan tangan sang ayah.
"Benar apa kata nenekmu, Dodi. Sudah cukup harapanmu, jangan siksa hatimu jika mamahmu sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup dan bertahan," ucap sang ayah. Kedua mata Rudi berkaca-kaca. Sedih jika mendengar harapan Dodi yang begitu tinggi, Rudi takut jika harapan Dodi tak sesuai kenyataan dia akan merasakan rasa sakit yang mendera pada hatinya.
Dodi terdiam, menundukan pandangan. Ia mulai menahan air mata dan berkata," maafkan Dodi pah."
Rudi memeluk Dodi. Mengusap pelan pipinya.
*******
Di ruangan, Ami benar-benar bejuang antara hidup dan mati. Dokter menangani dengan sekuat tenaga, agar jantung pasien tetap berdetak.
"Dok, apa masih ada harapan pasien hidup."
Perawat kewalahan dengan Alat monitor yang tak setabil.
Sang dokter terus berusaha, hingga keringat dingin mulai bercucuran.
Sampai perawat, saling menatap. Karna dokter yang bersikeras. Mensetabilkan jantung pasien, setelah tindakan operasi kemarin.
Sampai saat dimana, air mata keluar dari pelipis mata Ami yang masih menutup.
"Dok, jantung pasien normal lagi."
Akhirnya, perjuangan dokter tak sia-sia. Pasien selamat dari masa keritisnya, para perawat ikut senang.
Dokter menatap pada pasien dan berkata dalam hati.
Wanita yang luar biasa.
Hingga dokter menyuruh perawat untuk memberi tahu bahwa Ami sudah selamat dari masa keritisnya.
Dokter berjalan mencari keluarga pasien hingga akhirnya perawat menemukan keluarga pasien.
"Keluarga Ibu Ami?" tanya perawat pada Rudi.
Rudi menghampiri perawat itu dan berkata," iya kami keluarga pasien Ibu Ami."
"Kebetulan, Ibu Ami sudah sadarkan diri dari masa komannya."
Rudi dan Bu Sumyati begitu kaget tak menyangka dengan perkataan perawat, apalagi dengan Dodi. Anak tampan itu berlari menuju ke ruangan sang mama.
__ADS_1