
“Suster Liana ada apa berteriak?” tanya Ane, kepada Liana yang tengah berdiri melihat ke arah jendela.
Pada saat itulah Liana langsung menunjuk jari tangannya ke arah jendela luar, Ainun sudah tergeletak dengan kepala yang sudah pecah.
Ane tak menyangka jika Ainun akan senekat ini mengakhiri hidupnya, padahal saat Deni dalam keadaan darurat. Ane tak bermaksud menyalahkannya. Melainkan dia akan mencari bukti sebelum menuduh orang.
Semua orang sudah berkumpul di luar mengelilingi Ainun yang berlumuran darah, mereka mulai mengangkat tubuh Ainun untuk cepat ditangani di dalam rumah sakit.
Saat itulah, Ane mulai berlari kembali ke ruangan CCTV untuk mengecek kembali siapa tersangka yang sudah membuat Deni terluka.
Namun suster Liana menahan tangan Dokter Ane, berharap untuk menangani Ainun dulu.
“Dok, ini darurat. Ainun harus segera di tangani.”
“Tapi.”
Padahal Ane ingin sekali cepat mengecek pelaku dari CCTV di ruangannya.
Ainun kini di bawa ke ruangan UGD untuk segera ditangani.
Ane yang setengah bingung, malah berlari ke arah ruangan CCTV. Ia masih merasa janggal pada ruangan itu, karna dirinya merasa di ruangan itu ada pelaku yang tengah bersembunyi.
Suster Liana tampak kesal dengan Dokter Ane yang malah berlari ke ruangan lain, bukannya menangani Ainun yang sudah kritis.
“Ke mana Dokter Ane?” tanya para suster dan juga dokter yang bersiap menangani Ainun.
“Dokter Ane berlari ke arah sana!” jawab Liana.
“Cepat panggil Dokter Ane, ini gawat sekali. Kami tidak bisa melakukannya kalau bukan dengan Dokter Ane,” ucap para suster dan dokter.
“Baik,” balas Liana kini berlari mengejar Dokter Ane.
Saat dokter Ane, sampai di ruangan CCTV, dia melihat suster yang keluar dari ruangan itu. Segera mungkin Ane langsung menghampiri Suster itu.
“Suster Ita sedang apa kamu di sini?”
Betapa kagetnya, Delia melihat Ane sudah berdiri dan bertanya padanya.
“Eh, anu.”
“Jawab Ita.”
__ADS_1
Dokter Ane, langsung menebak bahwa dia Ita karna dari seragam yang di pakai Delia. Dan juga masker yang menutup mulut dan hidung, apalagi kedua mata Ita dan juga Delia hampir sama.
Saat itulah Liana datang, menarik legan Dokter Ane.
“Dok, ayo. Ainun butuh dokter.”
Mau tidak mau Ane langsung menurut pada Liana, ia bergegas pergi. Tapi Ane langsung menyuruh Ita untuk ke ruangannya.
“Ita nanti setelah saya operasi kamu datang ke ruangan saya.”
Delia hanya tersenyum kecut di balik masker yang menutupi bibir tipisnya, ia menganggukkan kepala mengerti apa yang di katakan Ane.
“Dasar, bodoh. Tak bisa membedakan orang,” ucap Delia.
Delia kini berjalan ke ruangannya, ia melihat Ita masih ter tidur di ranjang tempat tidur. Dengan sigap Ane mengganti pakaiannya dengan pakaian Ita.
“Ha, sangat melelahkan. Tapi pekerjaanku beres.”
Saat itulah Delia duduk, menunggu Ita bangun dari ranjang tempat tidurnya.
Hingga beberapa menit kemudian, Ita bangun dengan memegang kepala, ia kaget kenapa bisa dirinya berada di ranjang tempat tidur milik Delia.
“Sudah bangun suster?” tanya Delia yang duduk, sembari melipatkan kedua tangannya.
Mencoba bangun dari tempat tidur, dan berdiri di hadapan Delia.
“Justru yang harusnya tanya itu aku, kenapa kamu malah enak-enakkan tidur di ranjang tempat tidurku?”
Pertanyaan Delia membuat Ita begitu bingung, kita terus-menerus memijat kepalanya yang mungkin masih terasa pusing.
“Aku.”
Delia yang kesal dengan Ita yang terdiam dan kebingungan, mendorong tubuh Ita ke arah samping.
“Sudah cepat kerja, aku mau tidur.” Cetus Delia, ia mulai naik ke ranjang tempat tidurnya. Dan mulai merebahkan tubuhnya. Perlahan menutup kedua mata dengan tersenyum lebar.
Ita yang masih merasakan pusing, kini berjalan sempoyongan. Menuju ke luar ruangan, melihat pada jam dinding, masih menunjukkan pukul 09:00 pagi.
Ita melihat orang-orang berkumpul saling bergosip, ia yang tak suka ikut-ikutan kini melewati orang-orang itu.
Saat kepeduliannya acuh, Ita mendengar orang-orang menceritakan tentang nasib Dokter Deni dan juga Ainun, membuat Ita penasaran.
__ADS_1
“Kalian lagi membicarakan apa ya. Kok aku dengan ada nama Dokter Deni?” tanya Ita. Ia sungguh penasaran, karna dirinya baru tahu.
“Yaelah, ke mana saja sih kamu Ita, gosip masih anget baru tahu!” jawab salah satu teman Ita, ialah suster Ina.
“Gosip apa?” tanya Ita.
“Makanya sering kepo kaya kita-kita biar seru.”
Saat itulah Ina menceritakan, tentang Ainun dan juga dokter Deni. Membuat Ita yang mendengarnya syok berat, entah kenapa dia baru tahu. Apa yang sudah terjadi padanya tadi siang.
Setelah mendengar cerita dari Ina, Ita bergegas melihat ke ruangan Dokter Deni, ia melihat kedua kaki Deni sudah di amputasi. Karna luka berat bekas tusukan yang di lakukan pelaku, yang mana pelaku itu tertuju pada Ainun.
Walau bukti belum benar- benar kuat menujukan Ainun adalah pelakunya.
Rasa penasarannya kini membuat Ita berlari ke ruangan UGD, di mana Ainun yang sudah terjatuh kini di tangani dengan di tindak lanjut menuju operasi Kepala yang kata orang-orang kepalnya pecah.
“Kenapa aku baru tahu sekarang, Ita mulai mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya.”
Namun saat ia mengingat-ingat kejadian itu kepalanya malah terasa pusing dan sakit.
“Kenapa aku tidak bisa ingat kejadian tadi pagi, ya. Akh kepalaku sakit sekali.”
Operasi selesai, ternyata Ainun sudah tidak bisa diselamatkan. karena kepalanya yang sudah pecah dan terbelah. semua dokter dan juga suster Hanya bisa pasrah menerima keadaan yang dialami Ainun.
Mereka sungguh menyayangkan hidup Ainun, Ainun malah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, hanya karena takut jika dirinya dibawa ke kantor polisi, dan ditanyain masalah yang sudah terjadi pada dokter Deni.
Mendengar kabar itu, Liana langsung menangis histeris, sahabat yang selalu bersamanya kini sudah mati secara tragis.
Liana sedikit kesal dengan dokter Ane. yang sedikit lambat menangani Ainun pada saat itu.
padahal nyawa Ainun lebih penting dari pada mencari pelaku yang sudah merusak kaki dokter Deni.
Liana menatap ke arah mayat Ainun, ia Mencoba membuka kain yang menutup wajah Ainun Seraya berucap," Semoga kamu tenang Ainun. aku akan selalu mengingatmu sebagai sahabat."
Saat itu Ane keluar dari ruangan operasi, dia melihat ita tengah berdiri dengan wajah yang seakan kebingungan.
pada saat itulah Ane mulai menghampiri Ita, menarik tangan Ita untuk masuk ke ruangan nya.
"Kita mau ke mana dok?"
"Apa kamu lupa, aku sudah menyuruhmu untuk menungguku di ruanganku."
__ADS_1
Ita tak mengingat apa yang dikatakan Dokter Ane, yang ia ingat hanyalah tertidur di ranjang tempat tidur Delia.