
Sisi sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat matang, ia tak pernah meperlakukan Bu Ira seperti pembantu melainkan selalu memperlakukan Bu Ira seperti keluarga.
Arpa merasa tenang saat itu, terasa keluarganya begitu lengkap karna hadirinya Bu Ira.
Sisi menghampiri Delia, yang ternyata dia tinggal bersama-sama di vila. Karna pekerjaan Alan yang sebagai dokter, harus berpindah kesana kemari, untung saja di bali Alan benar-benar di butuhkan. Karna pekerjaan ya yang bagus.
Entah kenapa dengan Delia, ia tiba-tiba muntah-muntah. Sisi yang melihatnya sangat khuatir, hingga Sisi menelpon Alan yang tengah bekerja.
"Hallo Alan," ucap Sisi dalam sambungan telepon.
"Ya, ada apa Si?" tanya Alan.
"Delia muntah-mutah!" jawab Sisi panik.
Alan sedikit syok ia langsung izin dari rumah sakit, hanya untuk menemui istrinya.
Sesaat di dalam perjalanan menuju pulang tiba-tiba, sosok wanita berjalan ke arah mobil Alan.
Membuat Alan panik dan mengerem mobilnya. Ia langsung ke luar dan ternyata wanita itu adalah Arsyla, ia berpura-pura tertabarak oleh mobil Alan.
"Mba enggak kenapa-napa?"
"Enggak kenapa-napa mas, maaf saya ngelamun. Kebetulan saya lagi cari ibu saya."
"Ibu."
"Iya ibu saya, dia udah lama pergi dan belum pulang sampai sekarang."
"Bisa saya tahu, ciri-cirinya mungkin saya bisa bantu."
Arsyla menunjukan poto ibunya, saat itu Alan mengenal sosok wanita itu. Dia adalah Bu Ira, dimana Bu Ira tengah berada di rumah Arpan saat itu.
"Ini Bu Ira ka?"
"Iya, mas. Nama ibu saya Bu Ira! Mas tahu dimana sekarang keberadaan ibu saya."
"Dia sekarang berada di rumah Arpan, kalau mau saya antar. Kebetulan istri saya sekarang tengah main di rumah Arpan."
"Aku takut ngerepiotin mas."
"Enggak papa ko. Tenang aja."
"Beneran mas."
"Iya ayo masuk ke mobil."
__ADS_1
Saat itu Arsyla, menaiki mobil Alan. Rencananya berhasil, ia bisa masuk ke rumah Arpan dengan cara murahan yang ia buat.
Rasanya tak sabar menghancurkan Arpan di rumahnya sendiri, gumam hati Arsyla saat itu.
"Oh, ya. Kalau ibu kamu bu Ira. Berarti kamu masih saudara dengan Arpan ya?"
Arsyla hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Alan saat itu.
Setelah sampai di rumah Arpan, Alan langsung mengajak turun Arsyla saat itu.
Alan masuk dengan rasa khuatir langsung menemui sang istri yang tengah muntah-muntah.
Dengan sigap, mengendong sang istri ke kamar, dan memeriksanya. Hati Alan seakan berbunga ia seyum- seyum sendiri.
"Kenapa dengan Istrimu Alan?" tanya Sisi. Keheranan melihat Alan yang terseyum sendiri.
"Istriku hamil!" jawab Alan.
Kebahagian itu kian menyelimuti mereka. Sisi yang mendengarnya ikut bahagia.
"Selamat ya Delia, aku ikut senang," ucap Sisi. Duduk di pinggir ranjang.
Delia hanya bisa terseyum, badannya begitu lemas sekali.
"Loh, siapa kamu. Maling y?" tanya Sisi. Melihat Arsyla yang sedang kesana kemari melihat rumah Arpan yang mengah dan luasm
"Bu-kan mba!" jawab Arsyla ketakutan.
"Terus ngapain kamu masuk tanpa permisi, kalau bukan maling apa lagi coba," ucap Sisi. Ia geram dengan wanita yang tiba- tiba sudah berada di rumahnya.
"Cepat pergi dari rumah ini atau aku akan teriak kamu maling," hardik Sisi memarahi Arsyla.
Wanita ini benar-benar membuat rencanaku gagal, masa aku cantik gini di kira maling, gerutu Arsyla.
Sisi yang masih melihat Arsyla yang berdiri belum saja pergi, membuat Sisi semakin kesal.
"Ngapai kamu masih berdiri, cepat pergi," teriak Sisi pada wanita bernama Arsyla itu.
Tiba-tiba Alan datang, karna mendengar teriakan Sisi di ruang tengah membuat Alan baru ingat tentang wanita yang di bawa nya ke rumah Arpan.
Berlari menghampiri keributan itu.
"Si, tunggu jangan usir wanita itu," ujar Alan yang baru saja datang. Langkah Arsyla terhenti ketika mendengar Alan berteriak, menghentikan langkah kakinya.
"Kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Sisi.
__ADS_1
"Dia anak Bu Ira!" jawab Alan.
Sisi yang mendegar perkataan Alan. Membuat dia teringat bahwa Bu Ira memang mempunyai anak gadis.
Saat itu Bu Ira datang dengan nafas terengah-engah. Rindu bertemu dengan anaknya Arsyla.
"Nak, kamu datang ke sini?" pelukan sang ibu. Arsyla berpura-pura menagis agar semua orang simpati dengannya.
Berbeda dengan Sisi, ia nampak sebal melihat kedua mata Arsyla yang seakan merencanakan sesuatu.
Arsyla datang menghampiri Sisi seraya berkata," terimaksih telah menemukan ibuku dan juga merawatnya.
Terlihat sekali raut wajah penuh kepalsuan dari Arsyla saat berhadapan dengan Sisi.
"Tunggu, kamu lagi cari ibumu? Apa aku tidak salah dengar," ucap Sisi.
Hati Arsyal seketika kaget bukan main, pertanyaan wanita di hadapannya seakan memancing emosinya seketika.
"Ya, aku lagi cari ibuku kemana-mana, dan untung saja aku bertemu dengan Mas Alan yang mau membantuku saat Mas Alan tak sengaja menabrakku," ucap Arsyla.
Perkataannya tidak membuat Sisi merasa kasihan atau pun simpati. Dia tahu orang mana yang berkata benar dan orang mana yang berkata bohong.
"Kamu di tabrak Mas Alan, apa benar itu. Apa hanya tartik kamu saja," ucap Sisi. Membuat kedua bola mata Arsyla membualat, ia ingin sekali menatap tajam wanita yang belum ia tahu siapa dia.
"Mana mungkin, mba ...," ucap Arsyla gugup.
"Ya, sudah Bi Ira antarkan anakmu ke kamarnya suruh dia istrirahat. Aku malas meladeni wanita yang suka bohong," ucap Sisi berlalu pergi meninggalkan kekesalan pada hati Arsyla.
Bu Ira mengantarkan Arsyla ke kamarnya.
"Bu, siapa sih wanita itu, ko gitu banget. Kaya dia yang berkuasa di rumah ini saja. Aku kesal liat dia sombong," ucap Arsyla. Mendengkus kesal, berjalan beriringan bersama ibunya.
"Huss, enggak boleh ngomong kaya gitu. Bagaimana pun Sisi itu istri Arpan!" jawab sang ibu. Membuat Arsyla tak menyangka wanita yang tadi bikin hatinya kesal ternyata istri Arpan.
Gawat, ini ternyata wanita tadi adalah istri si Arpan, gumam hati Arsyla.
"Emang kamu baru tahu nak?" tanya sang ibu.
"Iya, karna waktu pernikahan ka Arpan. Arsyla enggak liat pengantin wanitanya."
"Oh, ya sudah kamu istrirahat saja. Pasti badanmu cape kan!"
Saat itu Arsyla seakan di hadapkan dengan wanita yang menurut Arsyla terasa rumit untuk di jelaskan. Istri dari Arpan sepertinya bukan wanita lemah.
Sial, aku kira Arpan menikah dengan wanita lembek dan baik hati. Ternyata Arpan menikah dengan ular berbisa, yang suka melawan mangsanya, saat ini aku harus berhati-hati bisa saja aku akan terserang gigitan nya dan malah mati sia-sia di tanganya. Aku harus lakukan sesuatu, gerutu hati Arsyla.
__ADS_1