Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 215Suster Ainun syok


__ADS_3

“Delia. Kamu harus sadar, dia bukan Deni melainkan Afdal.” Teriakan Ane, tak membuahkan hasil.


Delia seakan dirasuki rasa dendam pada wajah Deni, membuat setiap lelaki yang memakai seragam dokter ia anggap itulah Deni.


“Kamu harus mati, kamu sudah membuat aku menderita selama ini.” Teriak Delia.


Kekuatan Delia seakan menjadi jadi, tubuh Delia yang lemah kini berubah menjadi kuat. Iya mampu mendorong tubuh Ane, hingga terkulai lemah di atas lantai.


Saat itulah, cekikan Delia begitu kuat. Membuat Afdal terjatuh ke atas lantai. Hingga tubuh Afdal menopang tubuh Delia.


Afdal bukan melawan, ia malah menatap tajam ke arah Delia dengan tatapan lembut. Tersenyum dan berkata,” bunuh aku jika kamu bisa.”


Ketika ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Afdal, Delia mulai melepaskan tangannya yang mencekik leher Afdal.


“Aku bukan pembunuh.”


Rasa trauma tiba-tiba datang, di mana sifat Delia kadang berubah- ubah. Menjadi jahat atau menjadi orang yang menyesali semuanya.


Delia mulai melangkahkan kakinya ke belakang, ia menangis histeris. Menatap kedua tangannya, seraya berkata,” aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh.”


Afdal berdiri menatap kearah di Delia, iYa mulai menyodorkan tangannya.


“Berdirilah Delia, pegang tanganku. Akan aku sembuhkan kamu.”


Kata-kata lembut itu mampu membuat Delia sadar, pada saat itulah Delia mulai meraih tangan Afdal.


Ane yang melihat semua itu terkejut, betapa hebatnya Afdal bisa mengendalikan Delia.


Afdal, kini membantu Delia untuk berbaring di atas ranjang rumah sakit. Mencoba menenangkan setiap keresahan yang dirasakan Delia.


“ kamu harus tenang ya, Anggap saja orang itu sudah mati. Jika pun dia hidup. Hidupnya akan menderita.”


Delia menganggukkan kepala, mengerti apa yang dikatakan Afdal.


Kini Afdal menyuruh Ane untuk keluar dari ruangan Delia, berharap Delia akan tenang jika ditinggalkan oleh beberapa orang.


Ane mulai menuruti apa perkataan Afdal.


“Bagaimana apa Delia bisa kita sembuhkan.”


“Bisa, hanya saja butuh waktu. Ke mana suaminya atau anaknya.”


Saat itu Ane mulai menceritakan kehidupan Delia dan juga di mana suaminya.


“Kenapa kamu menjauhkan Delia dengan suaminya.”


Dokter Ane yang memang hanya bertugas untuk menyembuhkan luka, atau orang yang darurat dalam kecelakaan. Mencoba menjauhkan Delia dengan suaminya, karna mungkin dengan cara itu Delia akan sembuh.


“Bukanya dengan cara itu, pasien akan sembuh?”

__ADS_1


Tanya Ane. Jelas Afdal langsung menepuk jidatnya sendiri seraya menjawab,” itu salah besar. Pasien yang di jauhkan dengan keluarganya. Keadaannya bukan malah baik, malahan sebaliknya.”


Jawaban Afdal membuat Ane merasa semakin bersalah.


Afdal langsung menenangkan keresahan yang dirasakan Ane,” kamu tahu Ane. Jika orang yang mempunyai depresi berat itu obatnya adalah keluarga yang selalu ada di sampingnya.”


Ane membantah dengan kemampuan yang ia punya di hadapan Afdal.


“Tapi ini berbeda ceritanya, Delia itu sudah mengaku-ngaku anak orang. Dan ....”


“Hay Ane. Apa pun masalahnya, Delia itu butuh sosok pendamping, kalau ia mengaku anak orang kan dia punya suami. Ayolah Ane. Aku tahu sifat kamu, jangan egois.”


Afdal menepuk bahu Ane, ia berpamitan sebentar untuk ke luar mencari sarapan pagi.


Setelah mendengar ucapan Afdal, kini Ane berjalan perlahan, memikirkan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Afdal.


Apa selama ini aku sudah membuat satu kesalahan, menjauhi Delia dari suaminya. Tapi ini cara terbaik menurutku. Gumam hati Ane.


@@@@


Sementara itu suster Ainun, bergegas untuk pulang ke rumah. Karna jam kerjanya sudah selesai, ia tak mengecek keadaan Dokter Deni pada saat itu.


“Jam tujuh, aku ada janji dengan pacarku.”


Bruk ....


“Aw, suster Ainun. Kamu tidak kenapa-napa?”


Pertanyaan suster Liana membuat suster Ainun kaget.


“ Saya tidak kenapa-napa sus. Maaf ya saya buru-buru.”


suster Liana yang melihat suster Ainun merasa heran, dari semalam tingkah suster Ainun begitu membingungkan.


"Ada apa ya, dengan suster Ainun."


Gumam hati suster Liana.


suster Liana yang sangat penasaran kini mengejar suster Ainun hingga keluar rumah sakit.


"Sus, kita pulang bareng. Ya."


Ajakan suster Liana membuat suster Ainun menolak seketika,"Maaf saya buru-buru."


suster Ainun langsung berlari memberhentikan Taxsi.


"Aneh." Ucap suster Liana. Yang kini ia tengah menunggu Taxsi selanjutnya.


@@@@

__ADS_1


Di dalam taksi suster Ainun, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Kenapa bisa dirinya pingsan di dalam toilet tanpa memakai seragam suster.


"Sungguh kejadian yang sangat memalukan." Gumam hati Ainun.


suster Ainun tiba-tiba menepuk jidatnya Ia baru saja ingat, sebelum pulang harusnya ia mengecek pasien dokter Deni.


"Dokter Deni. Aku lupa."


suster Ainun menyuruh taksi untuk memutar balik menuju ke rumah sakit kembali, saat itulah taksi memutarbalikkan mobilnya menuju rumah sakit.


"Kenapa sih aku bisa ceroboh seperti ini, semua gara-gara. ketelodoranku."


Belum beberapa detik, Suster Liana yang. Tengah berdiri menunggu taksi kini memanggil suster Ainun.


"Sus Ainun, kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?"


Teriak suster Liana.


suster Ainun hanya menatap sekilas kearah suster Liana, Iya ta menjawab teriakan suster Liana.


dengan tergesa-gesa suster Ainun masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan dengan suster Liana yang merasa sangat penasaran. saat itulah taksi yang sudah menunggunya beberapa saat kemudian ia tolak. suster Liana mencoba mengikuti langkah kaki suster Ainun masuk ke dalam rumah sakit.


"Aku Kok, jadi penasaran dengan suster Ainun."


Suster Liana yang mengikuti Suster Ainun, kini terpaksa berlari. Kana langkah Ainun yang begitu cepat.


"Suster Ainun tunggu."


teriakan suster Liana tak didengar oleh suster Ainun, Iya masuk ke dalam ruangan dokter Deni, mengecek keadaan nya saat itu juga.


Saat langkah kakinya sampai di ujug pintu, terlihat darah berceceran dari kaki yang tertutup oleh selimut.


"Darah."


Suster Ainun menutup mulut, sontak ia kaget dengan apa yang ia lihat. Mendekat ke arah pasien Deni, mencoba mengecek detak jantungnya, pasien Deni masih hidup.


Karena rasa penasaran yang menggebu pada perasaan Ainun, Iya langsung membuka selimut yang menyelimuti kaki pasien Deni. secara perlahan ya takut semua itu hanya tipuan.


Namun semua itu bukan tipuan yang ia pikirkan, kedua kaki dening mengeluarkan darah terus menerus, membuat pasien seakan sekarat.


.Suster Ainun berteriak, sekeras mungkin. Memanggil para suster dan Dokter.


Ainun benar- benar syok berat, ia berteriak histeris seperti hilang kendali.


Saat itulah suster Liana datang dengan napas terengah-engah, Iya betapa shock melihat darah yang berceceran dari kedua kaki pasien Deni.


Mendekat ke arah Ainun, memegang kedu bahu Suster Ainun dan bertanya," kenapa dengan pasien Dokter Deni."


Ainun bingung ia harus menjawab apa. Karna saat ia masuk keadaan Deni sudah seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2