Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 106 Jeritan Arsyla


__ADS_3

Bu Ira berlalu pergi membiarkan Arsyla sendirian di kamar ya. Ada rasa kasian saat melihat Arsyla, seperti itu, tapi harus bagaimana lagi Arsyla hanya mengaku bahwa teman-temannya telah memaksa dia untuk membayar hutang saja.


Menutup pintu dengan seribu kebingungan pada diri Arsyla saat ini.


"Gimana, sama Arsyla?" tanya Sisi dan Arpan. Mereka memperlihatkan rasa cemas yang begitu berlebihan, membuat Bu Ira hanya bisa menangis.


Tanpa sadar Bu Ira memeluk Sisi dan menceritakan semuanya, membuat Sisi seakan tak percaya.


"Apa tidak ada pelecehan seksual pada, Arsyla?" tanya Sisi. Wanita bermata bulat itu khuatir jika anak gadis Bu Ira, mendapatkan perlakuan tidak senono oleh sahabatnya.


"Kata Arsyla, dia hanya dipukul karna belum membayar hutang!" jawab Bu Ira. Badannya merosot ke atas lantai dengan tangis terisak-isak.


Sisi langsung merangkul bahu Bu Ira untuk segera tidur di dalam kamarnya, berjalan pelan berharap Bu Ira bisa tenang Sisi hanya bisa menenangkan dengan memberi semangat.


"Ibu, sekarang tenang, ya. Biar Sisi yang urus hutang Arsyla," ucap Sisi. Mendudukan Bu Ira di ranjang kasur tempat tidurnya.


Kedua mata Bu Ira berkaca-kaca, badannya mulai bersujut pada kaki Sisi. Dengan sigap Sisi merangkul Bu Ira agar berdiri.


"Apa yang ibu lakukan, jangan begitu bu. Aku tidak suka," ucap Sisi. Memeluk Bu Ira.


"Terimakasih, Sisi kamu memang anak baik," ucap Bu Ira. Dengan melepaskan pelukan Sisi saat itu.


"Ya, sudah sekarang ibu tidur ya Sisi mau menemui Mas Arpan."


Sisi berlalu pergi, tak tega jika harus melihat Bu Ira menangis terus menerus memikirkan Arsyila. Hati Sisi seakan rapuh ia sudah menganggap Bu Ira sebagai orang tuanya sendiri, jika melihat Bu Ira menangis dan merasakan sakit hati, begitupun Sisi dia juga merasakan apa yang dirasakan Bu Ira saat ini.


Dengan berjalan pelan, Sisi menghampiri suaminya Arpan, ternyata Arpan. Tengah duduk di ruang tengah dengan menonton televisi.


"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Sisi duduk di sebelah pinggir suaminya.


Arpan yang setengah melamun, menatap kearah istrinya itu seraya mejawab!" Apa ada yang nganjal kah dengan Arsyla.


"Emh, sepertinya iya, Mas," ucap Sisi.

__ADS_1


Mereka berdua seakan curiga, jika Arsyla mendapatkan tindakan yang tak pantas dari sahabatnya itu.


Sisi curiga dengan rok putih panjang yang dipakai oleh Arsyla saat itu, terdapat bercak darah yang walaupun sedikit tapi mencurigakan bagi Sisi.


"Kita harus mencari tahu dulu. Kalau tidak kasian Bu Ira," ucap Sisi.


"Kamu ada benarnya!" jawab Arpan.


Arpan dan Sisi tengah memikirkan sesuatu. Dimana mereka mencari tahu siapa yang telah melakukan tindakan tak pantas kepada Arsyla.


Belum mencari tahu tentang masa lalu Bu Ira sekarang Arpan di hidangkan dengan masalah Arsyla.


Bagaimana bisa semua masalah ini menjadi bertumpuk, membuat pikiran Arpan seakan tak karuan. Apa yang harus Arpan lakukan saat ini, karena begitu susah untuk membongkar semua Masa Lalu Bu Ira, apalagi dengan masalah Arsyla yang tidak mau jujur dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Kamu harus tenang, jangan jadikan semua ini beban pikiran. Ya sayang."


Kata-kata semangat tidak pernah padam dari Sisi untuk suaminya, Sisi begitu perhatian kepada Arpan. Ia dengan senang hati membantu menguak masa lalu Bu Ira dan membantu semua masalah Arsyla.


"Terimakasih sudah mau membantuku, sayang."


Saat itu Sisi mengajak Arpan untuk segera tidur mengistirahatkan semua pikiran dan badan.


"Aku belum ingin tidur."


Perkataan Arpan membuat Sisi merasa kuatir, Arpan tidak bisa tenang ia masih begitu memikirkan keadaan Arsiyla saat ini.


"Sayang, kamu harus bisa tenang agar semua masalah ini bisa kita atasi, kalau kamu terus saja begini. Bagaimana bisa kita mengatasi semua masalah yang bertubi-tubi saat ini, kamu harus rileks, kamu harus bisa menenangkan semua pikiranmu dan juga mengistirahatkan badanmu."


Arpan masih terdiam pilu ia mengabaikan perkataan Sisi saat itu.


" Sayang. Ayolah nurut sama aku."


Pada akhirnya Arpan menatap raut wajah sang istri dengan kedua mata yang berkaca-kac, ia langsung menganggukan kepala. Seraya berkata," ya, sudah ayo kita istirahat."

__ADS_1


Untung saja Arpan mau menurut perkataan istrinya, walaupun dengan 1000 bujukan, Sisi yang hampir putus asa membujuk suaminya untuk cepat istirahat dan tidur.


Memasukki kamar tidur raut wajah Arfan begitu terlihat muram, Sisi langsung berkata," sudah jangan dipikirin, ayo kita tidur."


Perlahan Arpan merebahkan tubuhnya, Sisi yang berada di samping Arpan mulai menganggkat jari tangannya.


Jari jemari tangan itu, mulai mengusap setiap helai rambut Arpan, Sisi berharap Belayan tangan istrinya ugu bisa membuat kedua mata sang suami menutup dan tertidur pulas.


Dengan kehangatan dan kelembutan belayan tangan Sisi, akhirnya Arpan tertidur pulas.


Wanita bermata Bulat itu. Langsung merebahkan tubuhnya, agar nanti saat terbitnya matahari badannya terasa ringan dan pikirannya terasa rileks.


Beberapa kali menguap. Akhirnya sisi tertidur juga tak lupa dengan pelukan sang suami yang tiba-tiba terasa oleh badan Sisi.


Mereka tertidur pulas, tapi tidak dengan Bu Ira yang masih menangis terisak-isak memikirkan Arsyla.


Bu Ira berharap nanti pagi Arsyla bisa lebih baik lagi, karena setiap Bu Ira bertanya dan mendekati anaknya, Arsyla malah memarahinya.


"Sebenarnya ada apa dengan kamu, ibu sangat kuatir sekarang, kenapa jika Ibu menyentuhmu kamu marah marah dan kenapa kamu hanya jujur Jika kamu hanya dipukul orang sahabat-sahabatmu karena hutang."


Bu Ira memeluk batal guling yang berada di pingirnya. Seraya berkata." Ibu lalay menjaga kamu, Maafkan aku Mas Ardan."


"Andai saja kamu dulu tidak membelaku, mungkin kamu ada di sini menjaga anak-anak kita."


Bu Ira benar- benar merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri, ia seakan kesal karna tak becus mengurus satu anak perempuannya.


Bu Ira mulai mengusap air matanya dengan punggung tangannya, berharap air mata itu sudah berhenti keluar, saat itulah Bu Ira berdiri pergi ke kamar anaknya lagi.


Di tengah perjalanan baru beberapa melangkah Bu Ira mendengar jeritan anaknya saat itu. Dengan berlari tergopoh-gopoh menghampiri jeritan sang anak, jantung Bu Ira seakan tak karuan ketika mendengar jeritan anaknya.


Begitupun dengan Arpan dan Sisi yang baru saja terlelap tidur terbangun kembali, karena mendengar jeritan Arsyla di dalam kamar yang tiba-tiba saja.


Sedangkan Bu Ira yang sudah sampai di kamar Arsyla kini mengetuk-ngetuk pintu anaknya. Dan begitupun Sisi dan Arfan sudah melihat Bu Ira di balik pintu kamar anaknya. Berdiri mengedor-gedor pintu itu.

__ADS_1


Ada apa dengan Arsyla?


__ADS_2