Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 39


__ADS_3

"Rudi maafkan ibu, Nak. Asal kamu tahu ibu sangat menyayagimu," ucap Bu Nunik wajahnya sudah di lumuri air mata.


"Rudi sudah mencari tahu dari kemarin. Benar saja ibu tega membohongi Rudi, kenapa ibu tidak bicara jujur pada Rudi. Kalau Bu Sumyati yang ibu kenal adalah ibuku sendiri. Dari awal Rudi sudah curiga. Melalui poto yang Bu Sumyati perlihatkan. Dimana poto itu terlihat sekali ayah yang tengah menggendong Rudi," ucapan Rudi membuat hati Bu Nunik semakin hancur.


Bu Nunik tidak bisa bekata apa-apa bibirnya keluh. Saat itu juga.


"Ibu tahu, kenapa aku memarahi Ami, aku ingin tahu. Apa ibu bisa membela istriku saat itu juga. Dimana Ami tengah buta dituduh menjahati Sisi, Ibu bukannya membela malah membuat drama macam sampah. Mertua mana yang tega membuat menantunya terluka, tidak ada bu. Yang ada dia bakal membela menantunya habis-habisan. Bu Sumyati wanita yang bukan siapa-siapa di rumah ini, dia rela membela Ami abis-abisan. Apa ibu tidak pernah berpikir ibu diam di rumah siapa dan bergantung dengan siapa," ucapan Rudi membuat semua diam terhening.


Ami yang mengintip di balik pintu menagis, ternyata Rudi bukan lelaki sembarangan. Dia bisa marah kapan saja, Ami hampir lupa, dengan rencana yang akan disusun. Ami terlalu mengandalkan perasaannya, karna melihat Rudi yang datang dan tiba-tiba marah. Pantas saja Rudi menyelapkan satu perkataan Maaf. Dan menyelapkan satu surat di tanganku.


"Jangan terluka bila aku marah, itulah rencana kita. Menguak Bu Nunik yang bukan ibu kandungku sendiri."


Ami melangkah maju membuka pintu kamar Bu Nunik sembari mengusap air matanya.


"Pantas saja selama ini mertua begitu jahat kepadaku, dan ternyata dia bukan mertuaku. Melainkan wanita yang hanya ingin menghancurkan kebahagian orang lain demi ke egoisannya sendiri," ujar Ami.


"Apa urusannya dengan mu wanita buta," hardik Bu Nunik menghina Ami.


Ami melangkah maju berjalan melewati Bu Nunik, seketika Ami langsung membuka lanci dan mengambil berkas berwarna biru itu, menyobek-nyobek di depan mata Bu Nunik.


"Kamu, ternyata kamu tidak buta Ami,"ucap Bu Nunik matanya membulat.


"Siapa yang buta, hanya orang bodoh yang menganggap aku buta ibu mertua palsu," ucap Ami melirik seketika pada wajah Bu Nunik.


"Jadi selama ini kamu membohongi aku, Rudi lihat Ami istrimu dia telah membohongi kamu, berpura-pura buta," telunjuk tangan Bu Nunik menujuk wajah Ami.


"Sudah lah, bu. Jangan membalikan fakta. Jelas-jelas sekarang ibu yang salah di sini, ibu mau mengelak apa lagi," tukas Rudi pipinya memerah menahan amarah.


Rahangnya mengeras.


Tiba-tiba Bu Nunik memegang kedua kaki Rudi meminta maaf atas perbuatanya itu.


Rudi yang sudah di rendungi amarah, tak bisa lagi memaafkan Bu Nunik yang sudah terlanjur jahat pada istrinya.

__ADS_1


Sudah berapa kali Rudi mencoba memaafkan. Tapi Bu Nunik tetap saja seperti itu.


"Dulu Ami memaafkan ibu, tapi ibu berkelakuan jahat lagi. Apa tidak ada rasa baik dalam hati ibu sedikit pun," hardik Rudi.


"Ingat Nunik perkataanku, Karma itu ada dan sekarang kamu merasakannya. Di dunia ini orang mengasihanimu, tandanya memberi kamu kesempatan. Tapi kesempatan yang datang padamu tak kamu mangfaatkan, malah kamu sia-sia kan,"ucapan Bu Sumyati membuat kedua tangan Bu Nunik mengepal.


"Kalian sudah membuat aku seperti ini, suatu saat kalian akan menyesal,"ucap Bu Nunik, seketika langkah kakinya meninggalkan mereka yang terdiam.


"Pah, kenapa kamu tidak kejar ibumu." Ami menyuruh Rudi untuk mengejar Ibu Nunik, tapi Rudi sudah tidak memperdulikan lagi. Dia hanya terdiam di saat Bu Nunik pergi begitu saja.


"Bu, tunggu," teriak Rudi memanggil Bu Nunik.


Hati Bu Nunik begitu senang ketika Rudi memanggil namanya lagi.


Gumam Bu Nunik dalam hati." Apa dugaanku kan, Rudi masih kasihan bila melihat aku pergi."


Wajah Bu Nunik berbalik arah, pada Rudi.


"Ada apa Rud?" tanya Bu Nunik terseyum manis, berjalan ke arah Rudi.


Ami dan Bu Sumyati yang mendengarnya menempelkan tangan pada mulut, menahan tawa.


Rudi yang sudah tidak mau menatap Bu Nunik menarik tangan Ami. Berlalu pergi meninggalkan Bu Nunik yang tegah membereskan baju.


Bu Nunik mendengkus kesal, sembari kakinya menginjak-ngijak lantai. Menahan kekesalan.


Bu Sumyati yang tak tahan ingin tertawa, mendekat ke arah Bu Nunik seraya berkata." Itu lah hukuman dan karma bagi wanita tak tahu diri macam kamu Nunik."


Tangan Bu Sumyati mencui pipi Bu Nunik yang memerah. Menahan amarah.


Sesaat itu Rudi balik lagi, dan berkata." kalau ibu cape, pulangnya besok aja. Sekarang takut engga ke buru beresin bajunya. Rudi kasih kesempatan buat malam ini saja beresin baju. Sudah itu silahkan pergi dari rumah ini."


Bu Sumyati semakin ingin tertawa, mendengar Rudi berkata seperti itu pada Bu Nunik.

__ADS_1


"Nunik, Nunik. Semoga kamu setelah ini insaf ya." tepukan tangan Bu Sumyati pada punggung Bu Nunik membuat Bu Sumyati semakin ingin tertawa.


"Eh, Yati sekarang kamu bisa tertawa terbahak-bahak. Suatu saat Nanti kamu yang akan menyesal," acaman Bu Nunik pada Bu Sumyati. Membuat wanita yang berada di hadapanya terdiam.


"Cius, mie apa?" tawa Bu Sumyati begitu reyah. Membuat Bu Nunik, semakin kesal.


"Mau saya bantu," tawaran Bu Sumyati pada Bu Nunik.


"Tidak usah."


"Ya sudah, daaaah."


Bu Sumyati pergi begitu saja dengan melambai-lambaikan tanganya.


Di susul dengan Ami yang memanggil Bu Sumyati," bu, ayo. cepet pergi, nanti digigit sama macam ngamuk, baru tahu rasa."


Bu Nunik yang mendengar sindiran Ami membuat pipi Bu Nunik semakin memerah, kesal. Teramat kesal.


Pagi hari. Setelah Bu Nunik mebereskan baju pada kopernya, ia segera bergegas pergi dari rumah Ami.


Menatap Rudi yang tak meliriknya membuat Bu Nunik memegang dada, merasakan sesaknya ketika terbuang seperti sampah.


Bu Nunik pergi menaiki taksi sendirian, pergi ke rumahnya. Mengetuk pintu.


"Ibu, ada apa?" tanya Sisi setelah membuka pintu rumah Bu Nunik.


"Semua rahasia ibu terbongkar!" jawab Bu Nunik tubuhnya lunglai ia terjatuh menagis di atas teras.


"Ko bisa," ucapan Sisi yang membuat Bu Nunik terdiam dari tangisanya.


"Semua gara-gara si Yati itu, aku kesal di buat wanita gila itu."


Sisi membawa Bu Nunik masuk ke dalam rumah menenagkan, Bu Nunik yang tengah menagis terisak-isak.

__ADS_1


"Sial, sekarang Bu Nunik tidak berguna di mataku. Rencanaku gagal untuk mendapatkan tanda tangan wanita buta itu," gurutu hati Sisi.


"Ibu tenang, kita harus pikirkan cara lain," ucap Sisi mengelus punggung Bu Nunik.


__ADS_2