
Tes pemeriksaan Delia sudah selesai oleh sang suster, kini suster mulai memberi tahu kepada Ane.
"Maaf dok sebelumnya, tanda-tanda pasien Delia. sudah menandakan orang yang sedang hamil 2 minggu."
Deg ....
Ucapan sang suster membuat Ane, membalikan wajah. Mengambil beberapa lembar tes pemeriksaan.
Kedua mata Ane membulat, seakan tak yakin dengan hasil pemeriksaan suster.
"Ini pasti salah sus."
"Saya juga mengira begitu, tapi ...."
"Tapi kenapa?"
Suster itu terdiam, IYa saya akan mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Delia.
Namun bibirnya berusaha untuk menutupi semua rahasia yang ia lihat, ia takut akan ancaman Deni.
"Kenapa diam saja. Apa kamu mengetahui segalanya sus."
Sang suster menggelengkan kepala, dirinya melangkah mundur, berusaha menghindari pertanyaan Ane.
" Kenapa? Seperti ada yang kamu takuti suster."
"Sebenarnya."
Brak ....
pintu terbuka secara tiba-tiba, membuat Ane dan sang suster menatap ke arah pintu. Ternyata Deni datang tanpa mengetuk pintu.
"Deni, bisa tidak jika datang ke ruangan ketuk dulu pintu."
Deni malah tersenyum kecut, dari mimik wajahnya tak ada rasa bersalah sedikitpun. Dia se akan menikmati drama yang ia mainkan. membuat drama yang akan membuat Delia hancur seketika.
Deni menatap tajam kearah sang suster, memberikan sebuah isyarat untuk pergi dari ruangan Ane. Kini sang suster Ita, menundukkan wajah berjalan ke arah Deni, sampai di mana Deni membisikkan sesuatu." hati-hati dengan ucapanku kemarin."
Ane melipatkan kedua tangannya, melihat seakan kecurigaan pada Deni dan juga sang suster Ita.
"Kenapa dengan suster Ita, seakan takut jika melihat Deni?"
gumam hati Ane.
saat Ita sudah mulai keluar dari ruangan Ane, dengan Sigap Ane langsung memanggil Ita.
"Ita kamu mau pergi ke mana, obrolan kita belum selesai."
Ita berpura-pura tidak mendengar teriakan sang dokter, karena rasa takutnya terhadap ancaman Deni.
"Ita, kamu dengar tidak."
Ita berjalan terus menerus, mengabaikan teriakan demi teriakan sang dokter.
"Ada apa dengan si Ita ini?"
__ADS_1
Deni mulai mendekat ke arah Ane, memegang kedua bahu Ane. Berharap agar Ane tidak berteriak lagi memanggil Ita.
" Sudahlah ngapain kamu panggil panggil si Ita."
" Ini bukan urusan kamu ya Deni, kenapa aku berteriak memanggil Ita, karena kamu sudah mengacau kan obrolan kami berdua."
Tangan Deni kini berani muncuil dagu Ane, membuat Ane mengibaskan tangan yang kurang ajar itu.
"Bisa tidak kamu ini lebih sopan padaku."
"Mana mungkin, kan aku sayang kamu, Ane."
kata-kata itu membuat Ane begitu muak, dengan segera ia mendorong tubuh Deni keluar dari ruangannya.
"Cepat ke luar, dasar bajingan."
"Ayolah Ane."
Saat itulah Ane berhasil mengeluarkan Deni dari ruangannya, dirinya bisa bernapas lega. Ane kini menatap kembali lembaran kertas yang diberikan suster Ita kepada dirinya.
"Kalau benar Delia hamil, siapa yang sudah tega menghamilinya? Karna sudah beberapa bulan ini aku tidak mengizinkan seseorang untuk masuk ke ruangan Delia. Itu pun yang bisa masuk adalah suster dan Deni. Tapi Deni selalu di awasi Suster dan juga aku jika masuk ke ruangan. Oh ya cctv."
Ane yang semakin curiga, kini mulai mencari penjaga cctv, ia berjalan ke ruangan cctv. Menanyakan pada pegawas yang berjaga di sana.
Para pengawas itu seakan kaget melihat, Dokter Ane yang tiba-tiba datang. Mereka langsung memberi salam kepada Ane yang baru saja datang.
"Tumben dokter ke sini ada apa ya?"
Tingkah mereka seakan gugup, ada rasa ketakutan yang menyelimuti hati mereka. Apa karna Deni juga sudah mengancam para pengawas cctv.
Para pengawas saling menatap satu sama lain, pada saat itulah Ane mengerutkan dahinya.
"Kenapa dengan wajah kalian?"
"Eh, anu."
Salah satu pengawas itu menyenggol bahu sahabatnya, membuat salah satu sahabatnya berkata," cctv di ruangan pasien Delia sudah lama rusak."
Kedua mata Ane membulat, seketika Ane mulai memarahi para pengawas cctv di sana.
"Kalian ini bagaimana. Kenapa bisa cctv yang berada di ruangan pasien Delia mati."
"Kami sudah memperbaiki beberapa kali, hanya saja. Selalu rusak entah kenapa."
"Aneh, mana ada cctv rusak sampai beberapa kali. Ini ada yang tidak beres."
Kedua badan pegawas itu bergetar ketakutan, mereka takut jika Dokter Ane memecat mereka berdua.
"Jangan pecat kami, Bu Dokter."
"Untuk apa saya memecat kalian, hanya saja saya heran. Siapa orang yang sudah merusak cctv di ruangan Delia hingga beberapa kali."
"Oh, ya. Ada rekaman cctv di mana wajah perusak itu terlihat, saat kami memperbaiki cctv yang ke dua kali."
Para pengawas itu langsung mengecek komputer yang kemarin mereka simpan. Menujukan pada Ane.
__ADS_1
"Ini Bu."
Ane mulai menyelidiki, poto itu. Lelaki itu tidak memakai baju, badannya begitu terlihat kekar. Membuat Ane curiga jika itu Deni.
"Apa yang melakukan semua itu adalah Deni?"
"Ya sudah, cepat kalian bekerja kembali. Saya minta pagi buta kalian sudah ada di sini."
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Kalau kalian mau, saya akan menaiki gaji kalian berdua."
Mereka berdua tersenyum lebar saat Ane menaiki gaji mereka,"baik. kami mau."
Ane mulai membisikan sesuatu ke telinga mereka berdua, untuk menangkap basah siapa yang sudah berani menghancurkan cctv ruangan Delia.
Rencana Ane di mulai, jika tebakan Ane benar, bahwa Deni pelakunya Ane tidak akan segan-segan memasukan lelaki itu ke dalam penjara.
Ane mulai ke luar dari ruangan cctv, saat itulah Deni sudah berada di depan matanya.
"Deni."
Rasa kaget kini Ane rasakan, saat Deni sudah berada di depan matanya.
"Hai sayang."
Kecurigaan Ane semakin yakin, jika Deni pelakunya. Karna setiap dia mencari tahu Deni selalu muncul di depan matanya.
"Kenapa setiap kali aku pergi atau pun menemui seseorang kamu selalu muncul tiba-tiba."
Deni dengan santainya menjawab," mungkin itu hanya sebuah kebetulan saja."
Ane tersenyum sembari membuang wajah di hadapan Deni, rasa jijiknya semakin bertambah.
"Sudahlah Deni, aku tidak suka dengan lelaki licik dan pembohong seperti kamu."
"Siapa pembohong, jelas aku selalu berkata jujur. "
Ane berjalan melewati tubuh Deni begitu saja, ia kesal jika selalu berhadapan dengan Deni.
"Ane sayang kamu mau ke mana?"
Deni kini berlari mengejar Ane, ia berusaha meraih tangan Ane dengan sigap. Namun Ane malah mendorong tubuh Deni begitu kasar. Membuat Deni terpental pada tembok rumah sakit.
"Aw."
Deni yang memang bersifat licik, malah menarik pinggang Ane hingga mereka berada dalam posisi berpelukan.
"Lepaskan aku Deni."
Deni mulai mencium bibir Ane, menjilatinya dengan kasar. Sedangkan Ane dengan sigap memukul keperjakaan Deni. Dengan kakinya.
"Ahk. Ane, kamu."
Ane bergegas pergi, mengusap kasar bibirnya. Kesal dengan kelakukan Deni.Yang menjijikan.
__ADS_1