
Rudi melihat sang pujaan hati, ialah Ami istrinya, melihat Ami terseyum membuat hati Rudi begitu bahagia, ternyata masih ada harapan Ami bisa sembuh dengan penyakitnya, walaupun Ami belum bisa melihat sepenuhnya.
Melihat Dodi yang berlari menuju sang ibu, membuat deraian air mata tak terbendung, ini air mata kebahagian.
"Ma-ma-m-h Kag-en," ucap anak kecil berjalan menghampiri Ami, yang masih terduduk di kursi roda sembari terseyum meyapa. Ialah sang buah hati.
"Dodi sini sayang," seyuman itu terpancar, Dari wanita berwajah tirus. Berkulit putih itu.
Pelukan kebahagian terpancar dari mereka, tangisan haru dan kebahagian kini menjadi satu.
Tuhan, jangan kau renggut kebahagian ini, biarlah seperti ini, tangan Rudi terus saja mengusap air mata yang tak terasa mengalir dan berjatuhan dari pelipih mata.
"Ma-m-ah ko lamma puyangnya, Dede kan cedih."
Itulah ucapan yang terlontar dari Dodi, dengan memeluk erat sang ibu tercinta.
Rudi melihat Ami menagis pelan sembari berucap." Dede sayang, mamah juga kangen, Dede apa kabarnya.
"Ih, ko ma-ma-h cedih sih." Dodi langsung menghapus deraian air mata sang ibu tercinta, dengan tangan mungilnya, sambil terseyum dan memeluk kembali.
"Mamah gak sedih ko, mamah bahagia, sekarang Dodi udah lancar ngomongnya yah." ucap Ami, sedikit mencuil hidung Dodi walaupun dengan meraba.
"Dodi sayang udah yah, mamahnya mau istirahat dulu, kasian mamahnya cape, baru pulang." Rudi melihat anak bermata sipit itu memayunkan bibirnya, tanda tak mau lepas dari pelukan sang ibu.
"Ga ma-u, de-de, mau cama ma-mah."
"Biarin, pah, biar aku merasakan pelukan Dodi dengan waktu lama, sudah lama mamah gak merasakan pelukan Dodi."
Tanganku mengelus kepala Ami dengan begitu lembut, dan mengijinkan apa yang ia mau.
Segera Rudi mengantar, Istrinya ke dalam kamar dengan mendorong kursi roda yang Ami duduki saat ini.
Begitupun dengan Dodi seperti tak mau lepas dari pelukan sang ibu, hingga tanpa sadar ia tertidur dipangkuan Ami.
Rudi segera mengangkat tubuh Dodi dan menaruh ke kasur untuk ditidurkan, kemudian membopong Ami agar berbaring dan ber istirahat disebelah Dodi.
"Mamah istrirahat dulu yah, papah mau bikinin makanan." ucapku sembari duduk di sebelah istriku.
"Sudah pah, biarkan saja, mamah masih keyang, mamah rindu papah, gimana kita tidur bareng di kasur ini."
Rudi mengganguk mengiyakan keinginan istrinya saat itu juga.
"Papah, kalau mamah sudah tiada, mamah titip Dodi yah, berikan perhatian untuk dia."
Hati seorang suami mana yang tak sedih dengan ucapan istrinya, seakan Ami tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi.
"Mamah, bicara apa, kita akan menua bersama, dan melihat Dodi tumbuh besar dan menikah, merasakan punya cucu."
Rudi merebahkan tubuhnya di sebelah Dodi yang sedang tertidur lelap, sambil memandangi Ami yang tengah mengelus kepala Dodi.
"Mah, yakinlah mamah akan sembuh seutuhnya."
"Terimakasih pah, udah selalu ada disisi mamah, walaupun keadaan mamah seperti ini."
Hati Rudi terus saja berbisik, jangan ambil nyawa istriku, biarkan dia merasakan kebahagian sampai tua nanti.
Kalaupun bisa ambil nyawaku saja tuhan.
Brak ...
Akhhhh
"Suara apa itu, pah?" Ami terbangun dari tidurnya, baru saja mata istrinya menutup, terbuka kembali karna teriakan seseorang.
"Biaran saja mah, paling si cewe gila itu."
"Kasian Sisi, takut kenapa-napa."
"Ya sudah papah liat dulu, mamah tidur dulu ajah."
Saat itu juga Rudi mencari sumber suara orang yang menjerit, benar saja itu Sisi, dia lompat-lompat hanya memakai Handuk saja, seperti ketakutan, setelah Rudi lihat, dia takut dengan kecoa.
__ADS_1
Rudi langsung menyadarkan dia dari rasa takutnya.
"Sisi, hey." ketika menyadarkanya tiba-tiba haduk yang ia pakai, terlepas dari tubuhnya.
Rudi yang menyadari itu langsung berbalik arah dan berkata." tutup tubuhmu sekarang."
Entah setan apa yang merasuki wanita itu, dia malah memeluk tubuh Rudi dari belakang.
"Kenapa berbalik, nikmatilah lagi seperti kemarin."
Segera Rudi melepaskan pelukan wanita itu, sembari berlalu pergi dan berkata." Aku tak sudi, menikmati tubuhmu."
Saat itu juga, dia menarik tangan Rudi hingga lelaki bertubuh kekar itu tersungkur jatuh di hadapnya, Rudi mendorong tubunya yang tanpa busana itu, di malah memeluk betis kaki Rudi.
"Pah,"
Ami, dia datang kemari, Rudi yang setengah kaget langsung segera melepaskan gengaman tangan Sisi dari betis kakinya, dan menutup tubuhnya dengan handuk.
"Papah, disini kah."
"Yah ini papah."
Rudi lupa bahwa Ami belum bisa melihat, setiap jalan yang ia lalui, dengan meraba-raba tembok.
"liat Mas, istrimu tidak bisa melihat," bisik Sisi sembari mencium pipi Rudi.
Kurang ajar, Rudi segera memeluk Sang istri dan menujukan dimana keberadaannya.
"ko tubuhmu basah."
Rudi lupa tubuhnya basah saat Ami pengang, karna bekas pelukan Sisi.
"Anu tadi ...."
"Tadi kebetulan papah, nemu kecoa, pas papah kejar, eh, malah jatuh kekamar mandi jadi basah baju papah." ucap lelaki bertubuh kekar itu meyakini Ami, terlihat Ami terseyum dengan perkataannya seakan percaya.
"Ya sudah kita ke kamar lagi, istirahat."
Setelah kejadian tadi, Rudi di buat kesal setengah mati dengan kelakuan Sisi, bisa-bisanya dia berbuat seperti itu.
Saat di dalam ruangan tv, Rudi mengajak istrinya bercanda, benar saja seyum Ami terpancar di saat itu juga.
"Mah, gimana kalau kita suruh Sisi, cepat ke luar dari sini, soalnya papah gak suka dia lama-lama di rumah ini."
"Ya sudah nanti mamah bilangin sama dia."
Rudi merasa lega bahwa Ami mau menuruti perkataannya.
*******
Pagi Hari.
Dimana hari ini hari minggu, Rudi berencana untuk mengajak Ami dan Dodi jalan-jalan.
Namun, saat hendak mencari istrinya. Rudi mendapati Ami berada di dapur bersama Sisi, Rudi melihat Sisi yang menangis sembari bersujud di lutut Ami, yang entah Rudi tidak mengerti ada apa.
Karna rasa penasaran Rudi mendekati mereka.
"Pah, kayanya Sisi tinggal disini, soalnya rumahnya disita bank, bekas berobat Aldi suaminya."
Wajah Rudi yang menatap wanita yang bersimpul di bawah kaki Ami, malah terseyum seperti puas, bahwa dia berhasil menaklukan hati istrinys.
"Ta-pi kan, dia bisa tinggal di apartemen atau di kontrakan bukan, dan lagi dia gak susah-susah amat, punya kerjaan."
Ami menghelap nafas sembari berucap." Si, aku tidak bisa membantah suamiku, ada baiknya, kamu ngontrak saja, atau aku kasih tempat tinggal di apartemen milik Om Hendra."
Wanita itu malah memohon-memohon, seperti pengemis.
"Maafkan aku Si, bagaimanapun aku harus menuruti apa kata suamiku."
ucap Ami sembari berjalan menuju ke arah suaminya. Rudi segera menghampiri Ami, membantu istrinya untuk berjalan.
__ADS_1
"Am, makasih yah, aku bakal siap-siap ko, berkemasa." timpal Sisi membuat langkah Ami terhenti.
"Yah, Si."
Rudi melihat Sisi yang memanyunkan bibirnya seperti tak suka dengan pernyataan Ami.
Mereka segera berjalan-jalan dan menikmati udara segar, di pagi itu.
karna sudah puas, Rudi mengajak Dodi dan istrinya. Pulang karna kebetulan hari sudah mulai sore.
*************
Sesampainya di rumah.
Masih terlihat wanita itu berada di rumah, belum bergegas untuk pergi.
"Si, ko masih ada di sini." ucap Rudi dengan sedikit bernada tinggi.
"Anu, Mas, aku gak ada yang nganterin ke Apartemen, bisa anterin aku kan." jawabnya sedikit memelas.
"Ya sudah besok pagi saja, papah antarkan Sisi ke tempat barunya, soalnya sudah malam."
Banyak sekali alasanSisi bisa berada di rumah Ami, dengan cara apapun Rudi harus mengeluarkan Sisi dari rumah ini.
Malam itu ...
Karna tenggorokan yang sangat kering Rudi bergegas pergi ke dapur hanya untuk mengambil air putih.
Sesaat di dapur, terlihat Sisi yang menagis seperti mengalami sesuatu.
"Si, kenapa kamu menagis?"
Dia membalikan badan dan memeluk Rudi.
"Aku hamil mas,"
Rudi tercengang kaget dikala wanita berwajah bulat itu berkata seperti itu.
"Terus apa urusannya denganku."
Dia menagis histeris sampai Rudi menarik paksa Sisi untuk pergi ke luar.
"Ini semua ada hubunganya denganmu, kemarin kamu sudah menjamahi tubuhku."
Dengan sangat kesal Rudi menujuk-nunjuk wanita itu, "kamu gila, kamu yang menjebak aku."
"Pokonya aku minta pertanggung jawaban kamu."
"Pertanggung jawaban apa." ucap Ami datang secara tiba-tiba.
"Eh Am, ini soal kantor, ada kelayen ngamuk, proyeknya gak seperti dia inginkan."jawab Sisi menghampiri Ami.
"Benar itu pah."
"Bener mamah, masa papah bohong."
Segera Rudi mengajak Ami untuk masuk kedalam rumah, agar dia tak napak curiga.
Pagi hari, dimana Rudi mengantarkan Sisi di Apartemen milik Om Hendra yang dulu di tempati Ami.
"Ini kuncinya, kamu bisa tinggal di sini, jangan ganggu rumah tanggaku lagi." acamanku pada wanita yang ada dihadapanku.
"Kamu yakin, bukanya di dalam perut ini, ada anak kita."
"Tutup mulutmu, kita tidak pernah melakukan hubungan intim, oke."
Sisi tertawa lanyaknya begitu puas telah menjerat diri Rudi dalam kubangan ke sengsaraan.
"Baik, kalau itu kemauan kamu, aku akan nikahi kamu, kalau dalam perutmu itu ada jabang bayi."
"Oke, sayang."
__ADS_1
Rudi berlalu pergi meninggalkan wanita itu.
Sesaat di tempat parkir Rudi mendapati Om Hendra, kenapa Om Hendra ada di sini?