
Setelah acara makan pun selesai, kini Rudi mulai mengajak Dodi dan yang lainnya pergi ke rumah Sisi untuk sementara waktu.
Rudi berharap, jika tinggal di rumah Sisi semua akan aman, karna bisa saja Sarah mengincar Dodi kembali. Karna Alan masih berada di rumah Sarah.
Di dalam perjalanan menuju pulang, di dalam mobil tiba-tiba Pak Tejo bercerita tentang lelaki yang diikat dan dipukuli habis-habisan, oleh Sarah dan juga suruhannya.
Seketika Sisi mendengar ucapan Pak Tejo membuat ia bertanya,” Bagaimana ciri-ciri lelaki itu Pak?”
Pak Tejo mulai menjelaskan ciri-ciri lelaki yang ia lihat tanpa sengaja,” lelaki itu berhidung mancung bibirnya sedikit tebal. Memakai kaos berwarna biru muda, ada gelang yang bertanda nama Sisi.”
Deg ....
Mendengar penjelasan dari Pak Tejo, Sisi seketika gambar ucap ada Rudi dengan rasa kuatir,” Rud, itu Arpan. Sarah sudah membuat Arpan di sana menderita.”
Sisi mengenggam kedua tangannya begitu erat, kedua matanya seketika meneteskan air mata secara perlahan.
Membuat Rudi langsung mengusap punggung Sisi menenangkan setiap kerasahan yang ia rasakan,” kamu harus tenang. Kita pasti kembali ke sana.”
Pak Tejo menggaruk belakang kepalanya yang mungkin tidak terasa gatal, Iya bertanya dengan rasa penasaran kepada Rudi,” Apa kalian ada hubungannya dengan lelaki yang bapak lihat itu?”
Rudi langsung menjawab perkataan lelaki tua itu,” dia adalah suami Sisi yang sudah 3 hari ini hilang.”
Pak Tejo kini kembali diam, Iya tak tahu jika lelaki yang ia lihat di dalam rumah Sarah yang terkurung adalah suami Sisi. Awalnya Ia ingin bercerita bahwa lelaki itu benar-benar menderita, banyak sekali siksaan yang lelaki itu terima.
Namun Pak Tejo mengurungkan niatnya, ia takut juga Sisi menjadi trauma akan apa yang dilihat oleh Pak Tejo.
“Neng Sisi, yang sabar ya. Alan pasti akan menyelamatkan Suami neng.” ucapan Pak Tejo.
“Iya sih, di sana ada Alan. Pasti Alan akan menyelamatkan suamimu Arpan.” Timpal Rudi.
Air mata yang menetes mengenai pipi Sisi, kini mulai terhapus oleh kedua tangannya sendiri. Iya berucap dalam hati bahwa dirinya akan menemui Sarah kembali lagi, tanpa sepengetahuan Rudi. Karena jika Rudi tahu pasti Rudi tidak akan memperbolehkan Sisi datang ke rumah Sarah lagi untuk mencari Arpan.
@@@@@
Sarah yang belum puas akan apa yang ia dapatkan saat itu, kini mulai memanggil suruhannya.
Namun belum memanggil suruhannya, kini Kedua lelaki berbadan kekar itu datang secara tiba-tiba. Memberikan informasi bahwa Bobby dan Sandi mati.
Sarah yang mendengar berita itu seakan tak percaya, karena baru kemarin ia menugaskan suruh hanya untuk mencari keberadaan mereka berdua.
“Kenapa bisa?”
__ADS_1
Para suruhan Sarah mulai menjelaskan semuanya,” sebenarnya kami sudah menolong Bobby dan juga sandi di dalam hutan, untuk segera membawa mereka berdua kembali ke hadapannya nyonya. Tapi saat Bobby dan juga sandi meminta izin untuk berhenti di pertengahan jalan karena melihat mobil mereka, pada saat itulah kami mengizinkan mereka untuk mengambil mobil mereka sendiri.”
“Jadi maksud kalian Bobby dan Sandi kehilangan mobilnya?”
“ betul sekali nyonya, Bobby diikat di dalam hutan sedangkan sandi dibuang di jalan yang dekat dengan hutan!”
“Siapa yang sudah menyebabkan mereka seperti itu?”
“ yang menyebabkan semua itu orang-orang yang Nyonya cari selama ini.”
“ Mmm, sekarang di mana mayat Bobby dan Sandi?”
“Kami sudah membawanya ke rumah sakit, untuk di autopsi. Karna mereka di bunuh.”
Setelah mendengar penjelasan dari suruhan nya itu, Sarah menyuruh para suruhannya untuk berkumpul. Membuat Alan dan juga Riri sedikit kaget, Mereka takut jika penyamaran mereka terungkap oleh Sarah saat itu.
“Sepertinya di rumah ini ada orang yang patut kita curigai.” Ucap Sarah membuat Dina kuatir pada Alan dan juga Riri.
Pada saat itulah Dina mulai melangkah kan kaki ke arah belakang, untuk mencari keberadaan Alan dan juga Riri yang masih menyamar menjadi suruhan Sarah.
“Kamu mau ke mana, Dina?”
“Aku hanya ....,”
Belum perkataan Dina terucap semuanya, kini Sarah mulai mendekat ke arah Dina dan bertanya kembali?” apa kamu sudah mengetahui, jika temanmu ada di sini?”
Pertanyaan Sarah membuat hati Dina benar-benar tak tenang, membuat hati Dina benar-benar ketakutan. Iya takut Sarah menekannya untuk berkata jujur.
“Mana mungkin, dari tadi aku bersama kamu. Sarah!” jawab Dina. Berusaha tetap tenang agar Sarah tak mencurigai gerak-gerik nya saat itu juga.
“Baiklah kalau begitu, cepat suruh semua orang berkumpul di sini.”
Baru saja Sarah menyuruh para suruhannya berkumpul, tiba-tiba pembantu yang berada di rumah Sarah berlari tergopoh-gopoh dengan nafas yang terengah-engah.
“Anu, nona?”
Pembantu itu menundukkan pandangan menahan nafasnya yang sedikit rasa sesak.
Iya menunjuk ke arah luar, mengatakan Jika ia menemukan 2 mayat yang tergeletak terkena tembakan peluru.
Pada saat itulah Sarah mulai melihat apa yang dikatakan pembantunya di rumah, dan benar saja wajah yang tak asing kini Sarah lihat begitu jelas.
__ADS_1
Iya tak menyangka jika kedua suruhannya meninggal dunia dengan beberapa tembakan dari pistol.
Mereka tergeletak diatas tanah tanpa memakai sehelai baju pun.
Pembantu yang berada di rumah itu berteriak kembali, membuat Sarah mendekat kearah teriakan pembantunya itu.
Betapa kagetnya Sarah, membulatkan kedua matanya melihat suruhannya lagi sudah meninggal dunia.
Kini keempat suruhannya mati tanpa diketahui orang-orang di rumah.
Sara mulai bertanya kepada suruhannya yang begitu banyak,” Kenapa bisa teman kalian mati seperti ini?”
Semua suruhan terdiam mereka tak tahu apa yang sudah terjadi kepada sahabat mereka, hingga ditemukan mati dengan keadaan mengenaskan.
“ dasar kalian tidak berguna,” Hardik Sarah.
Saat itulah Sarah meninggalkan para suruhannya, dia mulai berjalan ke arah ruangan CCTV, untuk melihat siapa pelaku yang sudah membunuh keempat suruhannya itu.
Dan sialnya rekaman itu tak menunjukkan sama sekali aksi pembunuhan, karna CCTV yang sengaja dirusak.
“Ahk, mereka sangatlah pintar. Membunuh suruhan ku dan tak lupa mengubur semua bukti, aku yakin orang itu ada berada di sini.”
Dina yang terus mengikuti langkah Sarah merasa sangat kuatir pada keadaan Alan dan juga Riri, karena Sarah yang sudah menyadari akan ada penyusup yang masuk ke rumahnya.
“Dina, apa benar kamu tidak melihat temanmu di sekitar sini?” tekan Sarah bertanya dengan begitu lancangnya.
“Iya, benar!” jawab Dina.
. Sarah yang mendengar jawaban Dina seakan kesal, iya mulai men cengkram erat kedua pipi Dina. Berharap jika cengkraman itu mampu menyakiti kedua pipi Dina, dan pada saat itulah Dina mau berkata jujur dengan pertanyaan yang di lontarkan Sarah.
“Sakit, Sarah.”
Dina mulai berusaha melawan dengan apa yang dilakukan Sarah pada saat itu, Iya berusaha menyingkirkan tangan kanan Dina dengan jari-jarinya yang mencengkram erat kedua pipi.
Riri yang masih bersikap tenang, melihat pemandangan sahabatnya yang disiksa oleh Sarah. Kini merasa Tak Tega. Hatinya ingin sekali menyelamatkan sahabatnya yang tak lain ialah Dina, tapi di sisi lain dia harus bisa menutupi dirinya sendiri untuk tetap berpura-pura menjadi suruhan Sarah.
Sebenarnya Dina menyadari akan adanya Riri yang berada di segerombolan suruhan Sarah, Dina takut jika Riri bertindak untuk menyelamatkan dirinya. Maka dari itu ia memberikan kode tangan agar tetap berdiri tanpa diketahui semua suruhan Sarah.
Riri menggigit-gigit giginya menahan rasa kesal dengan apa yang ia lihat, Hatinya sudah tak tahan lagi. Ia kini mulai melangkah.
Dan apakah yang terjadi?
__ADS_1