
"Jangan kotori tanganmu dengan memukul pria tak tahu diri itu Rudi," teriak seorang lelaki yang datang begitu saja, sosok itu tak lain adalah Pak Hendra.
Rudi terbangun, berjalan menghampiri Pak Hendra, seraya berkata." Dia pantas mati!"
Tawa pria bertubuh gendut itu, terdengar lagi meludah kearah sisi kiri. Badanya masih dalam posisi tengkurab, kepalanya melirik kearah Rudi menatap lekat penuh kebencian.
Saat itu Ami, Alan dan Delia ke luar dari dalam mobil. wanita bermata sipit itu, menenteng sesuatu.
"Tak usah kita bersusah payah membunuh lelaki bajingan itu, aku sudah menggumpulkan semua bukti. Yang aku ambil dari rumah Luky saat itu," ucap wanita bermata sipit itu. Meneteng sebuah barang dan menujukannya di hadapan pria bertubuh gendut yang terkulai tak berdaya.
Ami mendekat memeluk sang suami, begitu pun dengan Rudi. Memeluk balik erat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ami yang sangat mengkhuatirkan suaminya
Mengangguk terseyum menatap sang istri tercinta seraya berkata." Aku baik-baik saja!"
Tawa itu terdengar lagi, Luky menatap kebahagian Ami dan Rudi seperti sampah.
Muak dengan semuanya.
"Kalian harus mati," teriak lelaki betubuh gendut itu seakan tak berdaya.Tubuhnya begitu lemas karna pukulan dari lelaki berotot yang menggelilingi dirinya.
Berusaha berdiri sekuat tenaga, menujuk kearah Rudi seraya berkata." Aku sakit hati karna kalian, kalian telah menghancurkan rumah tanggaku yang bahagia. Istriku yang aku cintai ia lah Aurora, begitu pun dengan anak-anaku pergi meninggalkan aku sendirian.
Asal kalian tahu, rasanya seperti hati yang tersayap pisau teriris tipis," air mata itu seketika jatuh dari pelipih mata. Membuat Ami hanya bisa menutup mulut.
"Apa kamu gila, itu semua salah kamu sendiri kenapa? Kamu harus menyalahkan Rudi?"
teriak Delia membela Rudi saat itu juga.
"Memang semua salah Rudi, dan kamu juga Delia kamu akan mati. Kalau saja kalian tak menggagalkan Sinta untuk mengugurkan kandunganya, mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini!" jawab Luky. Pipinya memerah menahan semua amarah, yang tersimpan dalam jiwa.
"Harusnya setelah ini kamu berubah, menyadari diri kamu sendiri Luky," ujar Ami. Sedikit menasehati pria bertubuh gendut itu.
Luky malah semakin tertawa keras, ia seakan tak mendengar semua nasehat baik dari orang-orang yang menyadarkan hati dan pikirannya.
"Gak ada guna juga kalian menasehati, orang yang di liputi dendam. Dia tidak akan menerima. Yang ada Luky semakin menjadi-jadi, hatinya sudah tertutup dengan kebencian," ucap pelan Alan.
Menepuk dada begitu keras dengan tangannya sendiri seraya berkata." Aku Luky, taakan membuat kalian bahagia. Jangan salahkan aku jika aku begini."
Delia semakin menentang ucapan Luky, langkah kakinya seketika ingin menghampiri Luky saat itu juga. Namun berhasil Alan tahan.
__ADS_1
Bodoh sekali mereka, percuma saja mempunyai bukti karna. Bukti itu tidak akan memasukan aku ke dalam penjara, gumam Luky saat itu.
Pak Hendra menyuruh suruhannya, untuk membawa Luky ke penjara. Dengan rasa yakin bisa menjebloskan Luky ke penjara.
Di sisi lain terlihat Sisi wanita berwajah bulat itu sedang mengintip, di balik pohon besar dimana orang-orang yang tengah membawa Luky pergi.
Wanita berwajah bulat itu, mengepalkan kedua tangganya. Luky sahabatnya telah di bawa pergi begitu saja.
"Sial, ternyata benar dugaanku. Luky tertangkap. Rudi apa dia orang yang di sebut Luky, bahwa lelaki bertubuh kekar itu kekasihku," ucap Sisi raut wajahnya berbinar dikala melihat raut wajah Rudi.
Pak Hendra yang tak sengaja melihat ke arah pepohonan, melihat wanita yang tengah mengintip ke arah Rudi.
Siapa wanita itu, seperti aku kenal dia?gumam hati Pak Hendra.
Rudi menepak bahu Pak Hendra seraya berkata," ayo kita pergi ke kantor polisi."
Terhentak kaget, membuat lamunan Pak Hendra membuyar. Karna melihat sosok wanita yang tengah mengintip di sebrang jalan sana.
Mereka bergegas menaiki mobil, menggiring Luky untuk di jebloskan ke penjara agar dihukum seberat-beratnya.
Ditengah-tengah obrolan, Ami berucap," bagaimana dengan Sisi? Apa dia kabur juga?"
Sisi maksud Ami, gumam Pak Hendra.
"Sisi sepertinya sudah kabur, apa lagi dengan kondisinya yang hilang ingatan!" jawab Alan.
Pak Hendra semakin yakin, saat di tengah obrolan menanyakan Sisi. Wanita yang tadi mengintip di balik pohon itu adalah Sisi wanita berwajah bulat itu.
Di dalam mobil Ami menyenderkan kepalanya pada dada bidang sang suami, memegang erat tangan Rudi. Dia terus menyakinkan dirinya Rudi lah yang terbaik untuknya jangan sampai Ami menumbuhkan cinta yang baru.
Perlahan tangan Rudi mengusap lembut kepala istrinya, merasakan kehangatan yang jarang sekali ia temukan.
Alan yang melihat Ami dan Rudi seakan iri dengan kemesraan mereka. Membuka perlahan tangan yang tengah mengepal, dimana tangan ini sempat memegang erat tangan Ami. kini hanya bisa ia lihat.
Semakin ia melupakan Ami semakin rasa cintanya tubuh terus menerus. Menatap wanita bermata sipit di sebelahnya begitu cuek, sesekali ia mencuil dagu Delia.
"Apa sih," ucap Delia. matanya membulat ia seakan tak suka bila Alan menapakan kemesraan di depan orang lain.
"Kita kan suami istri masa di sentuh gitu ajah marah, tadi ajah rangkul-rangkul," goda Alan di dalam mobil.
Pak Hendra yang mendengarnya terkekeh ketawa. Begitu pun dengan Ami dan Rudi.
__ADS_1
"Tuh kan di ketawain," timpal Delia. Wajahnya merah menahan malu.
"Pengantin baru masih malu-malu," sindir Rudi.
"Cie ... cie ...," ucap Ami.
Tawa kebahagian terdengar di dalam mobil mereka.
Saat tawa bahagia itu terpancar, salah satu mobil yang membawa Luky tiba-tiba menabrak pepohonan.
Ami dan Rudi kaget.
"Apa yang terjadi?" tanya Pak Hendra.
Delia melihat ke arah jendela, seraya berkata." Sepertinya Luky berulah lagi.
Luky yang mendobrak mobil keluar dengan sendirinya. Saat itu Pak Hendra memberhentikan mobilnya.
"Mau kemana kamu Luky?" tanya Pak Hendra.
"Lari pun kamu tak bisa, jangan gegabah Luky. Semua penjaga lebih handal. Mau kabur kemana pun kamu taakan bisa lari," ucap Rudi.
Akh, sial sia-sia aku menabur bubuk ke mata mereka. Karna mereka lebih banyak dari pada apa yang aku pikirkan, gerutu Luky.
"Cepat bawa lagi dia masuk ke dalam mobil, jangan sampai lengah," perintah Pak Hendra membuat semua suruhan mengikat tubuh Luky. Dengan tali tambang.
"Lepaskan aku!" teriak Luky.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingat dulu kamu bikin Fairus seperti ini. Mengikat lalu menembaknya, masih untung kami tak sejahat itu," hardik Delia. Ia sangat benci sekali pada raut wajah Luky saat ini.
Luky membuang luda seraya berkata," persetaan dengan kalian.
************
Gimana makin seruuuu?
Jangan lupa komen ya, Autor selalu pantau komen kalian agar kalian tetap senang dengan cerita Istriku Kumel.
Like komen dan kalau berkenan votenya hehe
Selamat menjalankan ibadah puasa.
__ADS_1