SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
MARKAS MACAN BUAS


__ADS_3

Ryu yang terus berjalan kini mengerutkan kening saat memperhatikan gerak-gerik dari anggotanya.


Ditempat lain, Kediaman Ketua Devisi 6 seakan tidak sabar lagi ingin membuat Ulah kepada peserta Didik barunya yang juga langsung keluar Ruangan.


" Haaahh... Kebetulan. " She Ling terlihat senang namun kembali mengerutkan kening saat melihat beberapa Sosok yang mengikuti Ryu yang seakan melakukan sebuah Misi terselubung.


" Apa kamu membawa Anggota sebanyak itu untuk mendukung mu?" She Ling bergumam langsung menghadang mereka.


" Salam Ketua Devisi 6" Sambut Mereka serempak.


" Ketua Ling, Aku baru saja membuat sebuah Kelompok, Mohon Ketua Ling untuk memberikan tempat." Ryu dengan wajah datar.


' Pemuda ini, mengapa tidak merasa Takut Sama sekali? Kebetulan... Aku kerjain mereka.' She Ling berfikir sejenak.


" Tidak masalah... Lagi pula tempat ini banyak yang Kosong, jadi kamu bisa memilih Rumah yang besar disana sebagai Markas kalian. Tapi ada tiga Syarat." She Ling seakan memikirkan sesuatu.


" Ketua Ling, Apa Syaratnya?" Tanya Ryu.


" Pertama, Kamu Harus membayar 5000 Batu Roh untukku." She Ling menganggap Ryu tidak mampu membayar.


" Setuju." Ryu langsung mengeluarkan 5000 Batu Roh.


' Bagaimana Pemuda ini bisa mengeluarkan Batu Roh sebanyak itu dengan santai' She Ling kembali berpikir.


Begitupun dengan Anggotanya, mereka langsung mengukur seberapa banyak Harta yang dimiliki Klan Xie. Disisi Murid dari Klan Xie itu sendiri, Mereka sudah tidak asing lagi dengan apapun yang dilakukan Ryu.


" Kedua, Kamu Harus Membunuh Hewan Roh ini." She Ling mengeluarkan Ular Darah Besi Tingkat Bumi Tahap Awal.


" Slaash... Slaash... Slaash... " Ryu langsung memotong Ular tersebut menjadi empat bagian.


" Gluug." Anggota Macan Buas menelan ludah merasa ngeri melihat Aksi yang dilakukan Ryu mampu memotong Ular tersebut hanya dengan satu tarikan nafas tanpa mengeluarkan Qi sedikitpun.


Hal itu tentu saja akibat perbedaan tingkat senjata yang digunakan karena Senjata Roh Tingkat Langit yang dimiliki Ryu membuat korban dibawah tingkatannya seperti memotong daging biasa.


' Pemuda ini?' She Ling hampir tidak berkedip menyelidik kearah Ryu yang masih santai.


" Ketua Ling, Apa Syarat terakhir?" Ryu membuyarkan lamunan She Ling.


" Aaah. Syarat ketiga ya? " She Ling berfikir untuk menyerang Mental Ryu, tapi tidak jadi karena dia Begitu mudah menghadapi Serangan mental dari tangga sebelumnya " Kalau begitu aku akan menguji dengan Ilusi." She Ling ingin mempermalukan Ryu.


" Akan aku coba." Ryu menahan tawa reaksi apa yang ditimbulkan nantinya.


" Bersiaplah! " She Ling langsung menggunakan Teknik Ilusi Dewi Ular.

__ADS_1


Seketika Energi transparan dari Tubuh Ryu memantulkan kembali Ilusi tersebut. Seketika She Ling terkena Ilusinya sendiri yang Menari-nari sambil memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Ryu yang tidak ingin melihat lebih jauh lagi, langsung menotok aliran darah She Ling karena dia sudah tau apa yang terjadi padanya jika itu diteruskan.


She Ling yang sudah sadar dari imajinasinya, kini langsung memasang wajah memerah sedikit malu.


Disisi lain dia juga bersyukur Ryu bisa menghentikan aksinya hingga tidak sampai mempertontonkan adegan yang memalukan.


" Aku Kalah... Sekarang kalian bisa mengambil Bangunan itu Sebagai Markas kalian." She Ling langsung meninggalkan tempat tersebut.


" Sekarang kita sudah menemukan Markas, jadi kita hanya tinggal menunggu langkah berikutnya." Ryu langsung membawa mereka ke Bangunan tersebut.


Dengan apa yang baru saja mereka lihat, Anggota Macan Buas sangat yakin kalau Pemimpin mereka bisa menghalau segala Penindasan dari kelompok lain, sehingga mereka tidak Khawatir akan diganggu saat Latihan atau sedang menjalankan misi. Dan yang pasti, tidak perlu membayar.


Saat berada di dalam Bangunan, Mereka langsung membentuk sebuah Aturan dan membuat berbagai kegiatan Harian wajib untuk semua Anggota.


Namun bagi Ryu, kegiatan harian tidak perlu diprioritaskan karena baginya berlatih dan Berkultivasi adalah hal yang utama karena dia sendiri harus lebih kuat lagi.


Ryu sangat faham Akademi Naga Langit seperti Alam liar, yang Kuat akan Berkuasa dan yang lemah akan ditindas.


Semua Guru, Ketua Devisi dan Pengurus lain tidak boleh ikut campur jika ada Perkelahian antar Murid asal tidak Membunuh, Memperkosa dan menghilangkan Kultivasi Murid lainnya.


Hal itu tentu saja bukan tanpa alasan karena dengan hal macam itu akan membuat Murid Akademi Naga Langit lebih giat lagi berlatih untuk memperkuat diri mereka.


Setelah selesai berdiskusi, Ryu membubarkan kelompoknya agar bisa kembali ke Devisi masing-masing.


Sedangkan Ryu dan Xie Hua yang berniat untuk pergi ke Devisi 4 , kini mengerutkan kening Mereka saat mendengar ucapan dari Petugas bahwa mereka akan berada di Devisi 6 tetapi tidak mengurangi jatah Bulanan mereka.


" Gege... Tidak masalah. Lagi pula kita punya Markas disana." Ucap Xie Hua.


" Mmmmm''. Ryu mengangguk setuju sambil memperhatikan tatapan mata dari Murid lama yang lain tertuju pada mereka.


" Senior, kalau begitu dimana Kami akan tinggal?" Tanya Ryu.


" Karena Kalian sudah Menikah, aku akan menempatkan kalian disini karena tempat ini sudah lama tidak tidak ditinggali." Petugas tersebut menunjukkan sebuah Denah lokasi yang tidak jauh dari Markas Macan Buas.


" Terimakasih Senior. Kalau begitu, kami pamit." Ryu terlihat senang karena tempat mereka cukup sepi dan sudah tentu mereka akan bebas berlatih.


" Kuperingatkan kepadamu, Jangan sampai mengusik Ketua Devisi 6 agar tidak mendapatkan Nasib malang seperti murid lain." Ucap petugas tersebut.


" Akan aku ingat Senior." Ryu terus melangkahkan kakinya kembali ke Wilayah Devisi 6.


Dari semua Murid lama yang ingin mencelakai Ryu, kini berfikir kembali karena Wilayah Devisi 6 adalah momok yang menakutkan bagi mereka.

__ADS_1


Wilayah Devisi 6 sendiri memiliki Murid yang paling sedikit yang hanya menyisakan beberapa Murid dari Klan Kecil saja yang memiliki Tekad yang kuat karena jika mereka Turun ke Devisi 7 maka akan mengurangi jatah Bulanan dan harus membayar Administrasi sebesar 100 Batu Roh tiap bulan.


Sedangkan untuk Murid dari Klan Besar lebih memilih harus membayar Administrasi sebesar 200 Batu Roh setiap tingkatan Devisi setiap Bulan.


Sesampai di kediaman mereka, kini beberapa Murid lama memandang Ryu dan Xie Hua dengan berbagai ekspresi, namun tidak berani melakukan apapun takut akan dilemparkan ke Hutan Darah oleh She Ling.


Sedangkan untuk Murid baru hanya bisa mengutuk diri mereka sendiri Karena harus bergabung satu Devisi dengan Ryu dan Xie Hua ditambah lagi dengan cerita bahwa Ketua Devisi 6 yang sangat Kejam.


" Haaahh... Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula." Gumam beberapa Murid baru.


Namun bagi Xie Kai dan 6 Orang anggota Klan Xie juga Anggota Macan Buas yang kebetulan berada di Devisi yang sama kini terlihat senang dan merasa diri mereka lebih aman karena kebetulan kediaman mereka berdampingan.


" Tuan Ryu..." Xie Kai dan yang lain menyambutnya.


" Sepertinya kita satu Devisi sekarang." ucap Ryu sambil berjalan ke Rumah Kediamannya.


" Benar... dengan begini kita akan aman." ucap Xie Kai.


" Mmmmm... lebih baik kalian manfaatkan waktu untuk berlatih. Aku dan Hua'er juga langsung Berkultivasi." Ryu masuk ke Rumah.


" Baik Tuan." ucap Mereka serempak lalu meninggalkan tempat tersebut.


" Gege... untuk malam ini kita nikmati Sinar Bulan saja. di bawah Pohon itu." Xie Hua memegang Pinggang Ryu sambil menunjuk ke arah Pohon Besar di depan Rumah.


" Baiklah... tapi aku Mandi dulu, mumpung masih sore." Ryu langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah Ryu dan Xie Hua selesai mandi dan makan, mereka langsung keluar berjalan menuju Pohon Besar di depan Rumah lalu duduk bersandar pada pohon tersebut.


" Gege... Kamu sudah berjanji akan setia bersamaku. Begitupun sebaliknya aku juga berjanji akan selalu bersamamu apapun yang terjadi." Xie Hua menyandarkan kepalanya di bahu Ryu lalu menarik tangan Ryu untuk merangkul pinggangnya


" Hua'er... Perjalanan kita masih panjang. Kita tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari. Yang Pasti kamu harus berlatih agar tidak ada yang memandang rendah dirimu dan Klan Xie." Ryu serba salah kepada Gadis Lugu disampingnya itu.


" Kalau masalah itu Gege tidak perlu Khawatir. aku akan berusaha keras agar dikatakan layak berada di sampingmu." Xie Hua sambil menatap Sinar Bulan.


" Aku tidak tau latar belakangmu seperti Apa, tapi aku yakin kamu bukan dari Benua ini dan sepertinya kamu berasal dari tempat yang jauh." Xie Hua sesaat menutup mata sambil merasakan terpaan angin malam.


" Hua'er... Sebelum aku minta maaf. Aku bukan orang yang baik dan aku juga bukan dari Dunia ini. Aku melintasi berbagai tempat agar bisa berkumpul bersama keluargaku kembali." Ryu tidak mungkin terus merahasiakan identitasnya karena Xie Hua yang selalu menempel pada dirinya.


" Gege... Apa kamu sudah punya Istri dan Anak?" Xie Hua menahan rasa sakit dari hatinya sambil menatap ke wajah Ryu seakan minta penjelasan.


" Aku memang belum memiliki Anak. Tapi aku memiliki Tujuh Istri. Itulah kenapa aku tidak ingin berbuat apapun padamu." Ryu langsung menceritakan semua berharap Xie Hua tidak terlalu dekat dengannya.


" Deg." Xie Hua merasa jantungnya seakan ingin copot melepaskan Sandarannya sambil meneteskan Air mata.

__ADS_1


Entah apa yang sekarang ada di Hatinya karena Cinta Pertamanya telah bertumpu pada Orang yang sudah memiliki Keluarga.


__ADS_2