SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
SEKTE IBLIS NERAKA


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


" Tapi tetap saja dia menyentuh bagian tubuh kami, Aku laporkan kejadian ini pada Ayah." Gu Tingzi mencari alasan meskipun dia tersadar bahwa tidak terjadi apapun pada tubuhnya.


" Benar Kakak... Bagaimanapun dia harus bertanggungjawab." Gu Jixian memperkeruh keadaan agar Ryu mau menikah dengan mereka dengan memanfaatkan situasi.


Bukan tanpa alasan, karena Ryu terlihat sangat Tampan dan mampu membuat mereka tertarik saat pertama bertemu di Meja Makan tamu kehormatan Walikota meskipun mereka sudah tau kalau Ryu adalah Suami Walikota Ye.


" Kalau aku tahu bisa seperti ini, lebih baik awalnya aku tidak menolong kalian. Agar Anggota Paviliun Kelinci Merah itu bertindak semaunya kepada kalian." Ryu mengerutkan kening langsung melangkahkan kaki tanpa memperdulikan ucapan tersebut.


" Aaahhh.." Gu Tingzi dan Gu Jixian sangat marah karena rencana mereka gagal.


" Nak... masih beruntung kalian bisa selamat. Apa kalian mau dipermalukan di depan Ayah kalian dan Walikota Ye. Karena Kami berdua Ibumu tidak akan membela yang salah." Su Ziya mengingatkan mereka, jika hal itu dibesarkan, maka mereka akan kehilangan muka.


Yang jelas kejadian semalam akan terbongkar karena telah berhubungan dengan Ryu meskipun mereka sangat menikmatinya.


" Sudahlah Nak... Jangan perbesar masalah ini yang nantinya kalian sendiri yang akan rugi. " Su Jieyu ikut membantu.


" Kenapa Ibu membela Pemuda itu? Bukankah biasanya Ibu berdua selalu membela kami. Bahkan di hadapan Ayah. " tanya Gu Tingzi.


" zi'er... Sekalipun aku membelamu, Walikota Ye tidak akan menerima kalian. Bahkan Lebih buruk, dia tidak akan membantu kita lagi. " Su Ziya menggelengkan kepala seraya berjalan.


Mendengar ucapan tersebut, Gu Tingzi dan Gu Jixian tidak bisa berkata apapun lagi karena hal tersebut memang benar hingga mereka mengurungkan niat untuk menyampaikan hal tersebut.


Hingga beberapa saat mereka sudah berada di depan pintu Gerbang Walikota yang terlihat banyak Prajurit juga berdatangan karena pencarian mereka tidak berhasil.


" Istriku... zi'er, an'er... Syukurlah Kalian selamat. " Walikota Bei terlihat senang.


" Ryu'er... Maafkan aku telah salah menilaimu." Walikota Bei berkata dengan tulus.


" Tidak masalah... Lagi pula mereka sudah kembali." Ryu memasang wajah datar.


" Ah... Semuanya silahkan kembali ke tempat masing-masing dan perketat penjagaan." Walikota Bei memberi perintah lalu mengajak yang lain kembali ke Istana.


" Ryu'er... lalu bagaimana dengan Anggota Paviliun Kelinci Merah itu? " Walikota Bei bertanya sambil berjalan menuju ruang Istana.


" Mereka sudah mati. " jawab Ryu singkat.

__ADS_1


" Suamiku... Kami pergi dulu." Su Ziya membawa kedua Anaknya ke ruangan lain merasa enggan takut akan dilempar berbagai macam pertanyaan.


" Mmmmm." Walikota Bei mengangguk meski ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena setiap Korban dari Paviliun Kelinci Merah sudah pasti terkena Racun Kelinci Merah.


" Walikota Bei... Apa kamu tau berbagai informasi dari Paviliun Kelinci Merah.


" Ryu'er... Paviliun Kelinci Merah memiliki markas yang berpindah-pindah. Sampai sekarang tidak ada yang tau dimana letak kediaman mereka. " Ucap Walikota Bei.


" Mereka adalah Organisasi yang berbahaya dimana mereka selalu menjadikan para Wanita sebagai Korban mereka. Dengan Racun Kelinci Merah, mereka selalu melancarkan aksi mereka untuk meningkatkan Kultivasi mereka." lanjut Walikota Bei.


" Ryu'er... Jika boleh tau, bagaimana kamu menemukan kedua Istri dan Putriku?" Gu Bei menyelidik.


" Walikota Bei... Bukankah kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Kedua Istri dan Putrimu? Apa ada yang kurang dari mereka? " Ryu tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya.


" Ah... Itu..." Gu Bei yang sempat memeriksa keadaan kedua Putrinya masih dalam keadaan baik-baik kini berfikir sudah cukup untuk mewakili kekhawatirannya.


" Walikota Bei.. Sepertinya hari sudah Pagi, aku harus menemui Istriku dulu agar bisa melanjutkan perjalanan." Ryu beranjak menuju kamar kediaman Ting Ye.


Sedangkan Gu Bei sendiri kini hanya terdiam langsung menuju Kamar Pribadinya.


Di dalam Kamar, Ryu langsung masuk ke Dunia Quzhu untuk beristirahat sejenak dimana dia merasakan Ting Ye masih berada di Ruang Kultivasi.


Saat Matahari sudah menunjukkan sinarnya, Ryu dan Ting Ye keluar dari kamar langsung menuju ke Ruang kerja Walikota.


" Walikota Bei... " Ting Ye memakup tangannya.


" Sepertinya kalian sudah bangun." Gu Bei menyapa ramah.


" Walikota Bei, terimakasih telah memberi tempat bagi kami. Tapi sepertinya kami harus melanjutkan perjalanan." Ting Ye memberi hormat.


" Mmmmmm." Gu Bei melambaikan tangan menatap punggung Ryu dan Ting Ye yang keluar dari Ruangannya.


" Suamiku... " terlihat Su Ziya dan Su Jieyu muncul dari belakang Walikota Bei.


" Hahaha... Kalian lihat Kedua Pasangan itu. sepertinya sangat cocok meskipun Ryu'er masih Muda, tapi Walikota Ye tidak kalah Cantik." Gu Bei memandang dari kejauhan.


" Benar Suamiku... mereka sangat serasi." Su Ziya sambil melirik Su Jieyu.


" Sungguh Romantis sekali mereka. Rasanya aku ingin kembali Muda dan kembali Perkasa." Gu Bei senyum lebar.


Mendengar ucapan tersebut, Su Ziya dan Su Jieyu sontak membulatkan mata saling berpandangan berfikir kalau Suami mereka kembali Muda keperkasaannya masih kalah telak dengan Ryu. Ibarat langit dan bumi.


Di sisi lain Ryu dan Ting Ye yang sudah berada di luar Gerbang Kota, kini terlihat sedang berbincang tentang kejadian sebelumnya.


" Ye'er... Apa kamu tau tentang Paviliun Kelinci Merah? " Tanya Ryu sambil berjalan.


" Siapa yang tidak mengenal Organisasi busuk itu. Sayangnya mereka begitu licin. Sudah banyak yang jadi korban mereka tapi tidak ada satupun yang tau keberadaan Markas mereka. " Ting Ye menggandeng tangan Ryu seraya berjalan.


" Merekalah tadi malam yang yang menyerang dan menculik Kedua Istri Walikota Bei dan dua Putrinya." ucap Ryu.


" Apa? lalu bagaimana dengan mereka? " Ting Ye sangat faham tentang Paviliun Kelinci Merah karena banyak mendengar dari Laporan Warganya meskipun tidak melihat secara langsung.


" Mereka diracuni. Aku merasa Racun itu sangat berbahaya, Saat Aku menyerap Racun itu kepalaku terasa Pusing bahkan Teknik Teleportasi yang aku miliki tidak berfungsi." ucap Ryu.


" Tidak hanya itu, teknik meminjam Qi dari bawahanku juga tidak bisa. Entah apalagi yang lain, aku belum memeriksanya." Lanjut Ryu.


" Gege... Kamu terlalu berani mengambil resiko. Bahkan aku dengar seorang Alkemis Tingkat Surgawi saja tidak bisa menyembuhkan Racun itu, kecuali dengan berhubungan badan." Ting Ye menggelengkan kepala atas tindakan Ryu.

__ADS_1


" Aku juga dengar kalau seluruh Paviliun Kelinci Merah memiliki Teknik Rahasia untuk menyerap Energi Korban mereka yang terkena Racun Kelinci Merah. Semakin tinggi tingkat Kultivasi Korban, maka semakin cepat mereka menerobos." ucap Ting Ye.


" Itulah yang membuat aku khawatir. Apalagi Wilayah Kekaisaran Awan akan menjadi tanggungjawab ku. " ucap Ryu.


" Aku akan selalu mendukungmu... Tapi Gege juga harus memiliki Bawahan yang faham mengenai Politik, Ekonomi, Sosial bahkan Ahli strategi dan banyak hal yang lain. Semua itu tidak bisa dilakukan sendiri." Ting Ye memberi saran.


" Terimakasih atas sarannya Ye'er. aku harap kamu bisa membantuku. " Ryu memegang pundak Ting Ye sambil menatapnya lalu berjalan kembali.


" Sebenarnya aku malas mengatakan ini, tapi mau bagaimana lagi. Karena Kekaisaran Awan adalah Milik Klan Liu yang sah. Selain itu Gege juga harus menjalin kerjasama dengan beberapa Bangsawan, Sekte, bahkan Assosiasi yang lain hanya bisa terjalin dengan Pernikahan." Ting Ye merasa gerah.


" Gluug." Ryu menelan ludah membayangkan bagaimana nantinya jika dia menjadi Kaisar.


' Haahh... mengapa harus aku sendiri yang berasal dari Klan Liu. Seandainya aku bisa membawa Ayah dan semua Penduduk Lembah Hitam Klan Liu, mungkin aku bisa hidup bebas jauh dari tekanan.' Ryu membatin.


" Gege... Jujur saja, kamu memiliki Kharisma yang sangat kuat melebihi Kaisar Zou yang mampu menarik perhatian Lawan jenis. Aku harap Gege tidak meninggalkan aku ataupun Hua'er suatu hari nanti." Ting Ye tidak ingin kehilangan Suaminya apalagi hanya Ryu saja yang mampu membuatnya tertarik.


" Ye'er... Jika Aku memilihmu menjadi Istriku, berarti aku akan menjagamu sampai akhir hayat. Hanya saja mau tidak mau aku harus mencari Istri lain yang memiliki Tubuh Abadi seperti kamu dan Hua'er. Aku melakukan ini karena Aku tidak ingin dipermainkan oleh Takdir. Seperti yang telah kamu lihat sendiri di Lukisan itu. " Ryu berkata jujur.


" Gege... Awalnya aku memang sulit untuk menerima karena Gege hanya memanfaatkan Tubuh Abadi milikku. Tapi Hua'er telah menceritakan semuanya jadi mungkin ini adalah Takdir yang harus aku jalani. Tapi sekarang Gege tidak hanya menginginkan keuntungan dariku, tapi Gege sudah membuktikan bahwa akan selalu menjagaku juga. " Ting Ye teringat bagaimana Ryu sampai mampu mengejar Ratu Rubah Langit yang menculiknya.


" Haahh... Aku juga tidak percaya dengan kondisiku sekarang." Ryu menghentikan langkahnya merasakan ada beberapa Sosok yang mengintai mereka.


" Gege... Ada apa?" Ting Ye mengerutkan keningnya.


" Ye'er... Sepertinya ada yang sedang mengawasi kita." Ryu meningkatkan kewaspadaannya.


" Mmmmmm." Ting Ye mengangguk langsung meningkatkan kewaspadaan meski dia tidak merasakan kehadiran yang Ryu maksud.


" Hahahaha... Aku akui kehebatanmu Bocah. Kamu bisa mengetahui keberadaan kami." Muncul sosok Pria Gemuk Berkepala Botak beserta bawahannya.


" Sekte Iblis Neraka." Ting Ye Sontak kaget.


" Ye'er... Kamu Tau mereka? " Ryu menyipitkan matanya.


" Gege... Mereka adalah Sekte dari Aliran Hitam yang memakai Teknik Pembangkit Darah " ucap Ting Ye.


" Pembangkit Darah?" Ryu mengerutkan kening karena belum faham apa yang dimaksud.


' Tuan... Teknik Pembangkit Darah adalah dimana mereka semakin banyak membunuh maka kekuatan mereka akan meningkat. Coba Tuan lihat Pedang di tangan mereka! Jangan sampai Pedang itu tersentuh, jika tidak Tuan akan seperti mereka yang Haus Darah.' Li Chun memberi pesan jiwa kepada Ryu.


' Baiklah Aku mengerti.' Ryu mengeluarkan Pedang Miliknya.


' Tuan.... Biar aku bantu! Aku ingin mencoba dengan Tubuh baru ini.' Li Chun menawarkan diri.


' Silahkan! Juga tidak mau terlalu lama ' jawab Ryu.


" Wuush" Li Chun tiba-tiba muncul dalam bentuk manusia.


" Pendekar Langit?" Anggota Sekte Iblis Neraka sontak kaget dengan kedatangan Sosok Pria yang muncul tiba-tiba.


" Tidak peduli! Serang mereka!" Perintah Pria Gendut tersebut.


" Baik." Puluhan Bawahannya langsung menyerang ke arah Ryu Ting Ye dan Li Chun.


" Kita lihat saja! Pedang siapa yang haus Darah." Ryu menyambut serangan mereka dengan terbasan yang sangat kuat hingga satu tebasan mampu membunuh satu orang.


" Apa? bagaimana mungkin?" Pria Botak tersebut membulatkan mata karena awalnya dia memperkirakan Ryu masih berada di Pendekar Alam Tahap Awal.

__ADS_1


__ADS_2