SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
Loyang


__ADS_3

Meskipun diantara mereka banyak yang terlihat ketakutan, tapi ada beberapa sosok yang berniat untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Walikota Loyang.


Tujuan mereka tidak lain demi mendapatkan hadiah ataupun pengakuan dari Walikota Loyang.


" Saudara... Lebih baik kita laporkan masalah ini kepada Walikota. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan beberapa keuntungan." Bisik salah satu sosok kepada rekannya.


" Benar Saudara... Semoga saja Tuan Walikota bisa memberikan ucapan terimakasih kepada kita." Rekannya juga berbisik kepada sosok tersebut.


" Mmmm.... Mari kita pergi dari Penginapan ini." Kelima sosok meninggalkan Penginapan tersebut, namun tidak berani mengambil mayat dari Fei Wong.


Ryu memang mengetahui rencana kelima sosok tersebut, namun dia lebih memilih untuk mengabaikannya.


Jika Walikota Loyang berani bertindak lebih jauh, maka Ryu tidak segan untuk menghancurkan mereka.


Sang Manager yang sudah keluar dari kamarnya saat mendengar adanya keributan, begitu jelas melihat kejadian itu sambil menatap ke arah Ryu dan Istrinya penuh selidik.


Dengan penuh kehati-hatian Pria paruh baya pemilik Penginapan tersebut berjalan mendekati Ryu menyapanya dengan ramah karena dia tau resikonya jika menyinggung Pemuda itu.


" Salam Tuan Pendekar... Maafkan kami atas ketidak nyamanan kalian saat menikmati hidangan di Kedai ini." Pria paruh baya menundukkan kepala dengan memberi hormat.


" Perkenalkan namaku Heng Gubeng pemilik Penginapan ini... Jika berkenan, kiranya Tuan Pendekar dan Nona sekalian bisa ikut denganku ke Kamar Eksklusif di Penginapan ini. Tuan dan Nona tidak perlu membayar sepersen pun. Anggap saja sebagai permintaan maaf kami dari pihak Penginapan." Heng Gubeng menyapa ramah kepada Ryu dan Istrinya, meskipun dia sadar jika Walikota Loyang tidak akan tinggal diam.


Heng Gubeng penginapan yang dia bangun selama puluhan tahun akan hancur mengingat Pemuda yang di depannya bisa membunuh para Pengawal pribadi Fei Wong dengan mudah.


" Maafkan aku Manager Heng Gubeng... Biar aku yang mengganti semua kerusakan di Penginapan ini." Ryu yang melihat keramahan dari Heng Gubeng, juga tidak ingin Pria paruh baya itu mengalami kerugian lalu memberikan 5000 Batu Roh.


" Tidak perlu Tuan Pendekar... Ini sudah menjadi resiko Pemilik Penginapan." Menolak secara halus atas pemberian tersebut.


" Kamu ambil saja! Sudah seharusnya aku mengganti kerusakan di Penginapan ini." Ryu meninggalkan tempat tersebut karena tidak ingin berurusan dengan Walikota Loyang.


Melihat kepergian Ryu dan Istrinya, Heng Gubeng hanya bisa menghela nafas karena dia berpikir ada baiknya jika mereka sudah pergi agar Ryu bersama istrinya tidak mendapatkan masalah yang tentu akan melibatkan pemilik Penginapan.

__ADS_1


Saat keluar dari Penginapan, Ryu bersama istrinya langsung berjalan mencari tempat yang sepi agar tidak menimbulkan perhatian orang banyak.


" Shu'er... Lebih baik kalian tinggal di Dunia Quzhu saja! Biar aku sendiri yang mencari keberadaan Pulau Melayang." Ryu menghentikan langkah sambil menatap ke arah Istrinya saat berada di tempat yang sepi.


" Haaahh... Sebenarnya aku ingin melihat pemandangan di Benua Utara ini, tapi keberadaan kami selalu menjadi bahan perhatian orang." Sheng Zhishu sedikit mengeluh meskipun sudah memakai penutup wajah, tapi tetap saja menjadi bahan perhatian.


" Gege... Aku pikir tidak ada salahnya jika kita seperti ini. Sekalipun kami menjadi bahan perhatian, bukan berarti kami selalu menghindar. Jika saja ada yang berani macam-macam, kita bunuh saja." Jinying ikut bersuara.


Mendengar ucapan dari Jinying, Ryu sedikit berpikir sambil menatap ke arah Istrinya yang seakan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan di Benua Utara.


Ryu juga berpikir tidak semua orang yang memiliki sifat seperti itu, dan pada akhirnya Ryu menyetujui kemauan Istrinya.


" Baiklah... Tapi ingat, tujuan kita kesini untuk mencari keberadaan Pulau Melayang." Ucap Ryu.


" Terimakasih Gege." Sheng Zhishu dan yang lain sangat senang.


" Mmmm... Sekarang kita lanjutkan perjalanan." Ryu membawa mereka keluar dari Kota Loyang.


Setelah berjalan hampir berada di pusat kota Loyang kini mereka langsung dihadang oleh puluhan Prajurit, kelima sosok sebelumnya, enam Pria sepuh dan satu sosok Pria paruh baya.


" Tuan Walikota, itu Pemuda yang telah membunuh Tuan Muda Fei Wong." Salah satu dari kelima sosok sebelumnya menunjuk ke arah Ryu.


" Hhmmm." Ryu menyipitkan matanya merasa geli atas tindakan dari kelima sosok tersebut karena ingin mendapatkan perhatian dari Walikota Loyang.


Walikota yang awalnya sangat marah karena Pemuda yang di depannya sudah membunuh Fei Wong, kini tersenyum licik sambil menatap ke arah 23 wanita yang bersamanya.


" Anak Muda... Jika boleh tau dari mana asal kalian? Dan apa tujuan kalian datang kesini?" Walikota Loyang sedikit basa-basi karena agar terlihat baik di mata 23 Wanita bercadar tersebut.


Meskipun 23 wanita tersebut memakai penutup wajah, namun Walikota Loyang sangat yakin bahwa mereka sangat cantik karena dapat dilihat dari kening dan alis mata mereka.


" Langsung saja, apa yang kamu inginkan?" Ryu tidak ingin terlalu lama beranda di tempat itu.

__ADS_1


" Kamu sangat cerdas... Sepertinya kamu sudah tau keinginanku. Aku akan melepaskan mu agar cepat keluar dari Kota ini, tapi dengan syarat 23 wanita itu harus menjadi Selirku." Walikota tersenyum lebar sambil memperhatikan wanita tersebut secara bergantian.


" Kalau kamu mampu, ambil saja sendiri!" Ryu berjalan dengan santai sambil memberi isyarat kepada Istrinya.


Mendapatkan isyarat tersebut Sheng Zhishu dan yang lain tersenyum lebar sambil menatap ke arah beberapa sosok di depan mereka.


" Craaash." Tubuh Walikota Loyang terbelah dua bagian terkena ayunan Pedang Kembar milik Jiang Caiping.


" Gluduug." Dua bagian Tubuh Walikota jatuh ke tanah, mati tanpa mengeluarkan suara.


" Kraaack... Kraaack.... Kraaack."


Satu-persatu para Prajurit bawahan dari Walikota jatuh terkapar dengan tulang patah akibat pukulan keras dari Jinying.


" Jleeep... Jleeep... Jleeep."


Bing Ruyue juga tidak ingin ketinggalan bagian melepaskan Jarum Giok langsung menembus jantung puluhan Pengawal Walikota hingga mati tanpa suara.


" Gluug." Kelima sosok yang yang melaporkan kejadian sebelumnya kepada Walikota Loyang menelan ludah berkeringat dingin karena hanya mereka saja yang tersisa.


" Ampun Tuan Pendekar, Nona Pendekar... Kami mengaku salah." Kelima sosok tersebut langsung berlutut.


" Aku sudah mengetahui rencana kalian sebelumnya. Entahlah!" Ryu mengibaskan tangannya ke arah kelima sosok tersebut.


" Bboooom." Kelima sosok itu langsung menjadi kabut darah.


" Haaahh... Hanya demi mendapatkan perhatian, bisa kehilangan akal sehat. Hanya Pendekar Bumi saja banyak bertingkah." Ryu berjalan dengan santai menjauhi tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan.


" Otak mereka tidak bekerja dengan baik, karena di pikiran mereka hanya Harta." Sheng Zhishu dan yang lain juga melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan mayat tersebut.


Ryu dan Istrinya memiliki pemikiran yang sama, dengan kematian Walikota Loyang dan Prajurit bawahannya maka akan membuat gempar seluruh Wilayah Kota Loyang.

__ADS_1


Tidak hanya disitu saja, Ryu juga membunuh penjaga Pintu Gerbang Kota Loyang karena mereka meminta kepada Ryu untuk membayar biaya keluar dari Kota.


Ryu memang bisa memberikan Batu Roh kepada Penjaga Gerbang tersebut, namun karena dia sudah kesal atas sikap dari Walikota Loyang sebelumnya tentu Penjaga Gerbang juga terkena imbas dari kemarahannya.


__ADS_2