SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
WALIKOTA TING YE


__ADS_3

" Kalian tau kenapa aku meminta kalian kesini? Aku ingin meminta bantuan Kalian untuk menghancurkan Manusia Rawa itu. Sebagai Imbalannya aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan." Ting Ye memperhatikan Ryu secara intens.


' Pemuda ini... Sepertinya memiliki Dendam kepada Kaisar Zou. Sepertinya kita searah' Ting Ye membatin.


" Maaf Walikota... Kami hanya membantu tanpa mengharapkan imbalan." Ryu mengepal tangannya.


" Menarik... Sangat jarang ada orang yang mau membantu tanpa timbal balik. Oh ya... Namaku Ting Ye, kalau boleh tau siapa nama kalian? " Ting Ye sekedar memastikan.


" Namaku Xie Ryu dan ini Istriku Xie Hua " Ryu memperkenalkan diri mereka.


" Ryu'er, Hua'er... Aku tau tujuan kalian ingin bertemu dengan Kasar Zou. Tapi asal kalian tau tidak semua di Istana Kekaisaran Awan adalah orang Jahat." Ting Ye tersenyum menatap ke arah mereka.


' Bagaimana mungkin? kenapa dia bisa tahu?' Ryu membatin sontak kaget karena rencananya bisa diketahui.


" Itu adalah salah satu kelebihan ku. Aku bisa melihat niat seseorang saat pertama melihatnya. tapi itu hanya satu kali setiap orang saja." Ting Ye bangkit dari tempat duduknya.


" Kalian tidak perlu khawatir... Aku akan mendukung kalian, lagi pula kalian harus mendapatkan bantuanku agar bisa masuk Istana." Ting Ye tersenyum kembali.


" Walikota Ye... Kalau begitu, sepertinya tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi. Lalu apa Rencanamu? " Ryu merasa itu Keputusan yang baik, bagaimanapun Dia juga memerlukan dukungan.


Saat mereka sedang berbincang, terlihat kedua Pelayan sebelumnya datang menghampiri Ting Ye.


" Walikota Ye... Semua telah kami sediakan." ucap salah satu Pelayan.


" Mmmmm." Ting Ye menjawab dengan anggukan kecil lalu menoleh ke arah Ryu dan Xie Hua. " Hua'er... Silahkan masuk ke dalam, Pelayanku sudah menyiapkan beberapa Hidangan dan tempat kalian untuk Istirahat." Ting Ye memberi Isyarat kepada Pelayan untuk membawa Xie Hua. " Ryu'er... Ada hal yang harus kita bicarakan mengenai Kekaisaran, jadi kamu harus tinggal." ucap Ting Ye.


" Silahkan Nona." Kedua Pelayan memberi jalan.


" Gege..." Xie Hua menatap ke arah Ryu.


" Hua'er... Kamu tidak perlu khawatir." Ting Ye tersenyum kecil sambil menatap Xie Hua.


" Hua'er... Nanti aku akan menyusul." ucap Ryu.


" Mmmmm " Xie Hua mengangguk bangkit dari tempat duduknya mengikuti kedua Pelayan.


" Ryu'er... Sebenarnya aku tidak Percaya harus mengatakan ini. Tapi ini adalah satu-satunya jalan untuk melancarkan Rencana kita." Ting Ye langsung memasang wajah memerah.


" Maksud Walikota Ye? " Ryu terlihat heran.


" Aku mendapat Undangan dari Kaisar Zou untuk menghadiri Acara Pernikahan Ketiga Putranya sekaligus. Dalam Undangan Itu hanya Klan Besar dan Para Bangsawan yang diwajibkan membawa Pasangan masing-masing. Jika Tidak, Undangan tidak boleh masuk. Jikapun harus masuk, Anggota Kekaisaran akan mengambilnya sebagai Istri ataupun Selir. Itulah kenapa aku meminta bantuanmu, Karena aku juga harus menyelamatkan Para Bawahanku yang dijadikan Budak, Selir bahkan ada yang dipenjarakan." Ting Ye sedikit malu-malu namun itulah jalan satu-satunya.


" Jadi maksudnya aku harus berpura-pura menjadi Pasangan Walikota Ye?" Ryu mengerutkan keningnya.


" Tapi itu hanya sementara. Karena Keempat Walikota lain juga melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan Anggota Keluarga mereka ataupun Bawahan yang dijadikan Budak hingga dipenjarakan." Ting Ye gemetaran karena seumur Hidupnya tidak pernah berdampingan dengan seorang Pria.


" Baiklah... Aku akan membantumu! Tapi saat Aku menyerang mereka, kalian harus mencari tempat yang aman agar tidak terkena imbas." Ryu mengeluarkan 18 Pemimpin Manusia Rawa yang dia tundukkan selama ini.


" Ja...Jadi..." Ting Ye ketakutan beranggapan bahwa Ryu adalah dalang dari kekacauan selama ini.


" Jangan salah paham. Aku hanya menundukkan mereka Karena banyak membuat Kekacauan. Makanya aku datang kesini untuk mencari salah satu Markas mereka." Ryu mengembalikan 18 Pemimpin Manusia Rawa.


' Pemuda ini... Bagaimana dia bisa menundukkan Pemimpin Manusia Rawa dengan Mudah ' Ting Ye semakin tertarik kepada Ryu.

__ADS_1


" Jadi menurutmu, kamu akan menyerang Kekaisaran Awan deng Bantuan Manusia Rawa itu." tanya Ting Ye.


" Karena kita memiliki satu tujuan, maka aku memberitahukan hal ini kepadamu. Karena Aku akan mengambil alih Kekaisaran Awan dan membangkitkan kembali Klan Liu yang pernah mereka hancurkan Jutaan Tahun yang lalu." Ryu membusungkan dadanya.


" Klan Liu? Bukankah kata Leluhur itu sangat tabu. Tapi sekarang masih ada Satu yang berdarah Klan Liu. Meskipun Leluhur ada di Pihak mereka.' Ting Ye sangat Gugup.


" Tuan... Mohon maafkan Leluhur kami karena tidak bisa berbuat apapun." Ting Ye berlutut di hadapan Ryu.


" Walikota Ye... Ada apa denganmu?" Ryu mengerutkan kening terlihat kebingungan.


" Tuan... Tunggu sebentar." Ting Ye meninggalkan Ruangan menuju sebuah tempat yang tersembunyi di ruang bawah tanah.


Setelah menunggu waktu hampir Dua Jam, kini terlihat Ting Ye membawa sebuah Kotak panjang berukuran satu meter.


" Ini Tuan... Leluhurku hanya mampu menyelamatkan Pusaka Ini saat terjadi Perperangan. Waktu itu Leluhur kami menjabat sebagai Jenderal di Kekaisaran Awan. Namun disaat genting, Kaisar meminta Leluhur kami untuk menyelamatkan Pusaka Ini." Ting Ye meletakkan di sebuah meja panjang.


Sedikit mengerutkan kening, Ryu membuka Kotak tersebut lalu memegang Pedang bermata dua berwarna Biru. lalu menyerap berbagai informasi tentang Pedang tersebut.


' Senjata Roh Tingkat Langit? tapi memiliki nyawa. Sepertinya aku bisa membuat Pedang milikku seperti ini juga ' Ryu terus meraba dari setiap Ukiran mulai dari ganggang sampai ujung Pedang.


" Tuan... Pedang itu hanya bisa merespon dari tetesan darah Klan Liu." Ting Ye mengerutkan kening melihat Ryu hanya meraba Pedang tersebut.


" Aku tau, tapi aku tidak membutuhkan Pedang itu. Ambil saja untukmu! berikan aku tetesan darahmu." Ryu menadah tangannya karena Ryu pikir, Pedang tersebut masih dibawah Pedang Miliknya.


" Tapi Tuan..." Ting Ye terlihat Ragu karena Pusaka itu milik Klan Liu, meskipun dia sendiri menginginkannya.


" Kenapa kamu Ragu? Pedang ini memang pantas sebagai Hadiah Kehormatan untuk seorang Abdi setia. Apa kamu menolak Perintahku?" Ryu menatap Ting Ye dengan tajam.


" Tidak Tuan." Ting Ye langsung berlutut berkeringat dingin, lalu memberikan darahnya.


" Ambillah" Ryu mempersilahkan Ting Ye.


" Baik Tuan." Ting Ye hanya bisa menurut karena itu adalah Perintah lalu mengangkat Pedang tersebut tidak mengalami kendala apapun.


' Ternyata Benar... Pemuda ini adalah dari Klan Liu' Sepengetahuan Ting Ye, Pedang tersebut hanya bisa terangkat jika memiliki tetesan darah dari Klan Liu.


" Kembali ke Rencana semula, Kita berdua akan datang ke Undangan itu. Jadi aku harap kamu bisa mengaturnya." ucap Ryu.


" Tidak Tuan... Hamba tidak layak melakukan hal itu kepada Tuan." Ting Ye merasa Statusnya hanya sebagai Pengabdi.


" Apa kamu memiliki Kekasih? " Ryu menyelidik.


" Tidak Tuan... Meskipun Hamba sudah berusia 35 Tahun, hamba tidak pernah berdekatan dengan Pria manapun kecuali Mendiang Ayahku, apalagi untuk bersentuhan." Ting Ye berkata jujur.


" Kau tau kan? Bahwa hanya aku sendiri yang berdarah Klan Liu di Dunia Abadi ini. Jika hanya memiliki satu Istri, maka akan membutuhkan waktu Puluhan Tahun untuk mengembalikan Klan Liu seperti semula." Ryu menghela nafas panjang.


" Apa kamu mau menjadi Istriku? " Ryu langsung mengarahkan tujuannya.


" Deeeg." Jantung Ting Ye seakan terhenti karena mengingat Usia dan Statusnya walaupun dia juga sangat menginginkan hal tersebut.


" Jika tidak mau, aku tidak memaksamu." Ryu berjalan kembali ke tempat duduk semula.


" Hamba bersedia Tuan." Ting Ye terlihat senang dengan wajah memerah.

__ADS_1


" Baiklah... Sekarang kamu tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan Tuan. Karena aku sudah menjadi Suamimu, kecuali kalau kamu masih Ragu." Ryu terlihat puas melihat Exspresi dari Ting Ye yang terlihat Gugup.


" Tu.... Su... " Ting Ye kebingungan harus memanggil Ryu dengan sebutan apa.


" Meskipun usiamu Tua dariku, tapi dalam jiwa masih Muda. Sedangkan aku memiliki Jiwa seperti sudah Ratusan Tahun meski masih berusia 17 Tahun. Jadi panggil saja Gege.." Ryu senyum puas melihat ekspresi dari Ting Ye. " Ye'er..." Ryu mengangkat bahu Ting Ye.


" Gege..." Ting Ye menunduk tidak berani menatap wajah Ryu.


" Ye'er... nanti kamu akan terbiasa. Aku akan memberitahukan hal ini pada Hua'er." Ryu mengusap Rambut Ting Ye.


" Mmmmm." Ting Ye hanya menurut seperti Kucing Rumahan.


Setelah suasana mulai hangat, Ryu dan Ting Ye menuju ke Kamar Xie Hua yang sudah ditunjuk sebelumnya lalu menceritakan hal tersebut kepada Xie Hua.


Walaupun awalnya Xie Hua terkejut, namun dia menyetujui hal tersebut karena dia berfikir bahwa Ryu harus membangkitkan kembali Klan Liu yang sudah tentu memerlukan banyak Keturunan.


Disamping itu juga Xie Hua merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan Suaminya karena Daya tahan Ryu tidak seperti Pria pada umumnya.


" Hua'er.. Terimakasih." Ting Ye terlihat senang.


" Tidak masalah Yeye.." Xie Hua merasa senang


" Gege... Jadi kapan kalian akan menentukan hari Pernikahan kalian? " Xie Hua menoleh ke arah Ryu.


" Aku berencana akan Menikah setelah aku mendapatkan Gelar Kaisar. Ye'er.. Rahasiakan Klan Liu sampai waktu yang tepat." Ucap Ryu.


" Baik Gege.." Ting Ye mengangguk.


" Gege... Bawa saja Yeye Ke Dunia Quzhu, agar kalian memiliki banyak waktu luang untuk berkomunikasi." Xie Hua memberi usul.


' Dunia Quzhu.' Ting Ye membatin.


" Aku rasa begitu, Sepertinya Ye'er masih begitu tegang. Jadi bisa membuat Curiga Para Penjaga Istana Kekaisaran Awan nantinya." Ryu menggelengkan kepala.


" Yeye... Terimakasih telah membantuku." bisik Xie Hua.


" Haahh.." Ting Ye keheranan tidak mengerti ucapan tersebut.


" Ye'er... Aku akan membawamu ke Dunia Quzhu." Ryu meraih tangan Ting Ye.


" Gege... Tempat apa ini? " Ting Ye terkesima melihat Istana Emas yang begitu Megah dengan berbagai macam Hiasan dari berbagai Harta yang langka.


" Ini adalah Istana yang diciptakan oleh Mendiang Istriku. Dan Dunia Quzhu adalah Ciptaanku." ucap Ryu.


Setelah memperlihatkan seluruh Isi Istana, Ryu juga memperlihatkan seluruh Halaman Luar dari Istana termasuk Seluruh Sumberdaya dan Harta langit membuat Ting Ye tidak henti dengan kekagumannya.


" Gege... Meskipun Kita nanti sudah Menikah, tapi aku memiliki tanggung jawab sebagai Walikota. Aku harap Gege mengerti. " Ting Ye merasa bertanggung jawab akan kelangsungan dari Penduduk Kota Linka.


" Tidak masalah... lagi pula, kita bisa berkumpul di Dunia Quzhu saat malam tiba. Sekarang kita Punya waktu lebih dari sebulan di Dunia Quzhu, sementara di Dunia Abadi hanya bergeser Satu malam. Jadi tidak perlu Khawatir tentang pekerjaanmu." Ucap Ryu.


" Terimakasih Gege... " Ting Ye memberanikan diri menyandarkan kepalanya di bahu Ryu seraya berjalan menuju kamar.


" Ye'er... Karena Kamu adalah Istriku, kamu bebas mengambil Harta atau apapun yang ada disini untuk Perkembangan mu. Bahkan Batu Roh untuk membantu Warga yang membutuhkan." Ryu memegang pinggang Ting Ye.

__ADS_1


Ryu mengambil Ting Ye sebagai Istrinya bukan hanya untuk mendapatkan keturunan saja, melainkan karena Ting Ye memiliki Tubuh Abadi, meskipun belum Aktif karena belum mencapai Pendekar Surgawi.


__ADS_2