SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
Masalah Pertama di Benua Utara


__ADS_3

( Benua Tiantang tepat di Kekaisaran Langit )


Dalam sebuah ruangan dimana terlihat beberapa sosok yang sedang menatap ke sebuah Kristal yang melihat jalannya pertarungan di Istana Kekaisaran Awan.


Sang Kaisar Langit, Ma Gui Lie dan seluruh pengurus Istana Kekaisaran Langit terlihat murung karena apa yang mereka harapkan kini malah berbanding terbalik dengan yang mereka saksikan.


Disamping kehilangan pasukan terbaiknya, Kaisar Langit juga kehilangan jutaan Batu Roh untuk mengaktifkan sebuah layar yang menampilkan jalannya pertarungan.


Dengan wajah tertunduk lesu, Kaisar Langit mengutuk dalam hati karena Ma Gui Lie telah memberikan informasi yang salah.


Begitu juga dengan Ma Gui Lie yang juga ikut menyaksikan pertarungan tersebut di layar kristal, dia juga terlihat murung karena Pil Nyawa yang diberikan sama sekali tidak berfungsi.


Dengan perasaan marah bercampur malu, Ma Gui Lie telah kehilangan Sumberdaya yang sangat langka yaitu Pil Nyawa yang selama ini dia kumpulkan.


Karena keinginan yang kuat untuk mempersunting Istri Kaisar Ryu, hingga dia sendiri kehilangan akal sehat.


Begitupun dengan Kaisar Langit karena tidak ingin mengecewakan keluarga Ma sekaligus ingin mendapatkan pemilik Tubuh Abadi untuk memperkuat kekuasaannya, dia juga kehilangan akal sehat.


Sebuah konsekuensi jika turun ke Benua Timur, para Pasukan yang seharusnya sudah mencapai Pendekar Semesta kini harus menerima hukum alam dan hanya bisa mencapai Pendekar Surgawi.


" Yang Mulia Kaisar." Beberapa pengurus Istana berkeringat dingin sambil menoleh ke arah Kaisar Langit.


Mereka sangat takut jika Kaisar Langit bisa bertindak gegabah karena sudah kehilangan muka seakan dipermainkan oleh Ras rendahan.


" Mmm..." Kaisar Langit hanya bisa menjawab dengan anggukan lalu meninggalkan ruangan tersebut untuk menenangkan diri.


Dalam suasana hati yang sangat kacau, Kaisar Langit ingin sekali menghukum Ma Gui Lie. Namun dia berfikir jika melakukan hal itu, maka Perperangan antar Ras Dewa tertinggi pasti akan terjadi karena di Benua Tiantang masih banyak para pendukung Keluarga Ma.


Di sisi lain Ma Gui Lie memiliki pemikiran yang lain. Dengan hilangnya seratus Pasukan terbaik Kekaisaran Langit, dia ingin mengatur rencana untuk menggeser posisi Kaisar Langit dengan cara licik.


*****


( Benua Utara )


Ryu dan Istrinya yang sudah masuk ke Kota Loyang, kini langsung menuju ke sebuah Penginapan dimana terdapat sebuah kedai untuk mengganjal perut sekaligus mencari berbagai informasi.


" Silahkan masuk Tuan, Nona..." Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Ryu dan Istrinya.

__ADS_1


" Mmm.... Pelayan... Kami memesan makanan terbaik disini, tolong antarkan ke meja disana!" Ryu menunjuk ke arah sebuah meja yang terlihat kosong di bagian sudut ruangan.


" Baik Tuan." Pelayan tersebut kembali ke sebuah ruangan tempat menyimpan makanan.


Ryu dan Istrinya pun menuju ke meja tersebut tanpa memperdulikan beberapa sosok yang menatap ke arah mereka.


" Gege... Apa kita bunuh mereka?" Yuwang berbisik kepada Ryu karena mereka dapat merasakan bahwa ada beberapa sosok yang memperhatikan mereka.


" Biarkan saja! Tujuan kita kesini untuk mencari informasi tentang Benua Utara." Ryu sambil berjalan dengan santai lalu duduk di sebuah kursi.


Begitu juga dengan Sheng Zhishu dan yang lain, mereka langsung menempati tiga meja sekaligus yang kebetulan memiliki tempat duduk yang memanjang.


" Siapa mereka? Sepertinya mereka bukan dari Kota ini." Bisik beberapa sosok kepada rekan mereka.


Beberapa sosok dapat memperkirakan bahwa 23 Wanita bercadar pasti sangat cantik karena dapat dilihat dari kening dan alis serta jari tangan yang begitu putih mulus, meskipun memakai penutup wajah.


" Entahlah Saudara... Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, karena disini ada Putra dari Walikota Loyang." Bisik rekannya sambil melirik ke arah seorang Pemuda yang tidak jauh dari mereka.


" Tuan Muda... Sepertinya para Wanita itu sangat cantik, aku yakin mereka bukan dari Kota Loyang." Salah satu Pengawal berbisik kepada Tuannya yaitu Putra dari Walikota Loyang.


" Jangan sebut namaku Fei Wong jika tidak bisa menikmati keindahan tubuh mereka." Ucap sosok pemuda yang bernama Fei Wong sambil menatap ke arah 23 wanita yang sedang bersama satu sosok Pemuda.


" Tidak perlu... Biar aku sendiri yang mendekati mereka." Fei Wong beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri meja yang ditempati Ryu bersama istrinya.


" Nona manis.... Bolehkah aku duduk bersama kalian? " Fei Wong tanpa mendapat persetujuan langsung duduk di samping Yuwang dan Ting Ye.


" Saudara... Bisakah kamu pergi dari sini? Kami sedang makan, jadi jangan diganggu." Ryu memasang wajah datar sambil menikmati hidangan yang disajikan.


" Siapa kamu? Aku tidak bicara denganmu." Fei Wong menatap tajam ke arah Ryu.


" Waaahhh... Malang sekali nasib Pemuda itu begitu berani menyinggung Putra Walikota." Beberapa sosok sangat menyayangkan sikap Ryu yang berani menyinggung Putra Walikota.


" Benar Saudara... Sepertinya Pemuda itu orang baru disini, jadi dia tidak tau bagaimana sikap arogan Tuan Muda Fei Wong." Ucap yang lain.


Mendengar ucapan dari beberapa pengunjung tersebut, Fei Wong sangat senang karena tidak ada yang berani menyinggungnya.


" Siapapun kamu, aku harap cepat pergi dari sini!" Ryu memberi peringatan kepada Pemuda tersebut.

__ADS_1


" Brraaak." Fei Wong langung memukul meja makan sambil memberi isyarat kepada para pengawalnya.


" Lancang." Fei Wong kembali menatap tajam ke arah Ryu.


" Haaahh.... Aku sudah tidak ada selera makan lagi. Bagaimana dengan kalian?" Ryu bangkit dari tempat duduknya sambil menatap ke arah Istrinya secara bergantian.


" Gege... Kamu tau apa hukuman bagi siapa yang berani mengusik Istrimu?" Sheng Zhishu memberi isyarat kepada Ryu karena beberapa pengawal telah bersiap untuk menyerang Ryu.


" Pengawal... Serang Pemuda itu!" Fei Wong menunjuk ke arah Ryu.


Dari puluhan pengawal tersebut langsung mengeluarkan Pedang milik mereka berniat untuk memotong leher Ryu.


" Kraaack." Ryu langsung mencekik leher Fei Wong lalu melemparnya ke arah para Pengawal tersebut.


" Brraaak... Brraaak..." Tubuh Fei Wong menabrak puluhan pengawal yang ingin menyerangnya.


" Uhuuk." Fei Wong berusaha untuk bernafas karena Ryu hampir membunuhnya.


" Tuan Muda." Puluhan pengawal langsung berlari ke arah Fei Wong, meskipun mereka sendiri dapat merasakan sakit karena ditimpa tubuh Fei Wong.


" Aku minta kompensasi karena kalian telah menghilangkan selera makanku." Ryu berjalan mendekati Fei Wong.


" Anak Muda... Kamu tidak tau siapa orang yang telah kamu lempar? Dia adalah Putra dari Walikota Loyang. Lebih baik kamu meminta maaf sekarang sebelum kamu menyesal." Salah satu pengawal menatap tajam ke arah Ryu.


" Apakah begini cara Putra Walikota Loyang kepada seorang tamu? Orang tua... Apa kamu tidak melihat sikapnya kepada para wanita itu?" Ryu tidak ingin membuat masalah, karena mereka baru saja tiba di Benua Utara.


" Tunggu apa lagi? Serang Pemuda itu!" Fei Wong sangat geram karena baru pertama kali dipermalukan di depan umum.


" Kraaack... Kraaack... Kraaack." Puluhan pengawal langsung menjadi kabut darah saat Ryu melepaskan Aura Dewa Agung.


Para pengunjung yang berbeda di tempat itu, kini langsung mual bahkan muntah seakan seluruh isi perut mereka ingin keluar saat menyaksikan gumpalan daging berserakan di berbagai tempat.


" Bboooom." Ryu mengibaskan tangannya membuat tubuh Fei Wong terlempar keluar dari kedai hingga mati tanpa suara.


" Jika ada yang ingin menuntut balas, berdirilah di hadapanku!" Ryu menatap ke arah pengunjung lain dengan nada mengancam.


Mendengar ancaman dari Ryu, semua langsung terdiam saling berpandangan satu sama lain berkeringat dingin.

__ADS_1


Mereka dapat membayangkan bagaimana kuatnya sosok pemuda yang ada di hadapan mereka, bahkan seorang Pendekar Langit tahap menengah saja bisa hancur berkeping-keping tanpa disentuh.


__ADS_2