SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
HUTAN DARAH


__ADS_3

Sesampai di kediamannya, Ryu dan Xie Xian langsung masuk ke dalam Rumah yang terlihat masih kosong.


" Gege... Mana Hua'er...?" Xie Xian memperhatikan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di tempat itu.


" Hua'er ada di Suatu tempat. Xian'er... Kamu tidak perlu khawatir, dia di tempat yang aman." ucap Ryu sambil membereskan barang yang baru mereka beli.


" Sebaiknya aku menyerap Api itu dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Ryu membuat Pelindung Tempurung Kura-kura lalu masuk ke dalam kamar.


" Mmmmm." Xie Xian langsung masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuhnya di atas Ranjang lalu membuka pakaiannya seakan sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Ryu.


Ryu yang melihat kulit putih dan mulus dari tubuh Xie Xian sedikit tertegun berusaha menahan diri.


Xie Xian sendiri kini terlihat pasrah apapun yang terjadi padanya karena sudah menganggap Ryu sebagai Suaminya meski belum resmi.


" Xian'er... Ini sedikit sakit, jadi pejamkan matamu." Ryu berkonsentrasi menurunkan kedua telapak tangannya hingga menyentuh kulit lembut di bawah Pusar Xie Xian.


Xie Xian yang merasakan sentuhan lembut tersebut seketika darahnya seakan mendidih namun hanya hitungan detik merasa sakit yang luar biasa membuatnya berkeringat dingin sambil meremas sprei dengan kuat.


Suara rintihan dan teriakan pun terdengar dari mulut Xie Xian, untung saja suaranya tidak terdengar dari luar karena terhalang Pelindung Tempurung Kura-kura.


Setelah Proses Penyerapan berjalan cukup lama, kini Ryu kembali menyalurkan Elemen Cahaya untuk menyembuhkan luka akibat penyerapan tersebut membuat rasa sakit sebelumnya kini telah digantikan dengan nuansa yang hangat yang membuat Xie Xian begitu enggan melepaskan tangan Ryu yang menyentuh tubuhnya.


" Sudah selesai." Ryu mengangkat kembali tangannya.


" Bruuuuk" Xie Xian langsung menarik tangan Ryu hingga tubuh mereka bersentuhan.


" Begini kan Adil." Xie Xian merasakan sensasi yang mengalir dari darahnya tidak peduli dengan tubuh bagian atas yang masih tanpa busana.


" Xian'er... Ternyata kamu lebih Agresif dari Hua'er." Ryu yang merasakan tubuhnya telah terkunci karena Xie Xian langsung merangkulnya.


" Gege fikir aku wanita gampangan? masalah Hua'er itu masih lugu, kemungkinan hanya bisa menurut." Xie Xian yang tidak kuasa langsung mencium bibir Ryu.


" Aku tau kau masih memiliki Yin Murni. tapi belum saatnya aku mengambilnya." Ryu tersenyum sambil mengusap kepala Xie Xian.


" Kenapa? " Xie Xian masih mengunci tubuh Ryu.


" Pertama, kau harus meminta izin pada Hua'er terlebih dulu. Kedua, aku akan menunggu Hua'er Berusia 17 Tahun." ucap Ryu.


" Jadi Gege belum menyentuh Hua'er sama sekali selama ini?" Xie Xian terlihat bingung karena Ryu tidak seperti Pria biasanya yang pada Malam pertama sudah mengarungi lautan Asmara.


" Awalnya aku menunggunya sampai Usia 20 tahun, tapi karena ada sesuatu dan lain hal, maka akan menunggu 17 Tahun saja." Ryu berusaha melepaskan pelukan tersebut namun tidak bisa. Bukannya tidak mampu, tapi tidak ingin mengecewakan Wanita yang berada di depannya.


" Sebaiknya aku antar kamu Pulang ke Devisi 4. " Ryu membujuk Xie Xian agar melepaskan pelukannya.


" Tidak Mau... Aku akan tinggal disini selama satu Minggu karena aku juga sudah minta Izin selama satu Minggu. Lagi pula siapa yang akan merawatmu jika tidak ada Hua'er." Xie Xian beralasan.


" Haaahh... Baiklah kalau itu maumu, Tapi jangan sesekali menggodaku karena tidak akan bisa sebelum mendapatkan Izin dari Hua'er." Ryu terlihat menyerah.


" Tidak masalah... lagi pula seperti ini sudah cukup." Xie Xian membaringkan tubuh Ryu di sampingnya lalu memeluknya lebih erat lagi.


...****************...

__ADS_1


Dua Bulan kemudian :


Di Dunia Quzhu tepat di Ruang Kultivasi, terdapat Delapan Sosok Wanita yang sedang melakukan penyatuan Jiwa dimana Xie Hua sedang duduk di antara yang lain.


Terlihat Tujuh cahaya sebesar kepalan masuk ke dalam Tubuh Xie Hua. Di balik Cahaya tersebut keluar Tujuh kelopak Bunga Jantung Dewi Nuwa yang menyatu hingga membentuk kembali menjadi Sekuntum Bunga.


Ryu yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menahan diri yan juga mengeluarkan Tangkai Bunga yang seakan menyatu dengan yang lain hingga melesat tinggi menembus Atap Ruangan Kultivasi hingga terbang ke langit dengan kecepatan tinggi menembus atmosfer.


Sedangkan Xie Hua sendiri tengah duduk bersila menyatukan Tujuh Cahaya tersebut hingga menyatu dengan Jantungnya membuat tekanan udara di dalam Ruang tersebut bergerak liar.


" Bboooom." Xie Hua menerobos Pendekar Alam Tahap Akhir.


" Bboooom."


" Bboooom."


" Bboooom." Xie Hua menerobos Pendekar Bumi Tahap Akhir.


Seketika tekanan udara kini bercampur Api Petir, Cahaya dan Elemen Kegelapan yang secara perlahan menyatu sempurna di tubuh Xie Hua.


Ryu yang melihat kejadian tersebut sedikit menaikkan Alisnya " Sayang... Sepertinya kalian tidak pernah meninggalkan aku." Ryu merasakan Aura yang ada di Tubuh Xie Hua juga terdapat Aura dari ketujuh Istrinya yang membuat hatinya Sedikit terobati.


" Gege..." Xie Hua terlihat senang tidak menyangka dia bisa menerobos Pendekar Bumi Tahap Akhir secara Instan.


" Selamat Hua'er... Kamu tidak hanya Menerobos Pendekar Bumi Tahap Akhir, tapi kamu juga mewariskan Ketujuh Istriku." Ryu menatap ke arah Xie Hua yang penuh dengan cairan hitam hampir menutupi sekujur tubuhnya.


" Gege... Kenapa tubuhku sangat bau. Aku harus mandi dulu." Xie Hua merasa malu bahkan dia sendiri seakan mau muntah akibat bau dari Cairan Hitam tersebut.


" Air biasa tidak bisa membersihkan Cairan Hitam itu, kamu mandi saja di Danau Tujuh Hati." Ryu menghentikan langkah Xie Hua yang mau ke kamar mandi.


" Haaahh... Sepertinya hanya aku yang belum ada Peningkatan." Ryu melangkah ke arah kamar.


Saat berada di dalam Kamar, Ryu mengambil Sebuah Armor Pelangi berniat untuk diberikan kepada Xie Hua.


Setelah beberapa Saat kini Xie Hua langsung menuju ke Kamar dimana Ryu sedang berada dengan penampilan barunya.


" Gege... Sekarang ini adalah Hari Ulang Tahunku. Apa Hadiah untukku?" Xie Hua langsung mendekati Ryu.


" Hua'er... Kamu sangat Cantik, bahkan Aku seperti didatangi Seorang Bidadari." Ryu tertegun saat melihat Wajah Xie Hua yang sekarang meskipun dulu juga Cantik, namun kali ini jauh lebih cantik dari sebelumnya.


" Gege... Kau jangan memandangku seperti itu." Xie Hua tersipu malu menganggap Ryu hanya menggodanya saja.


" Sesuai janjiku, aku akan memberimu Hadiah. Tapi besok Pagi." Ryu mencium Kening Xie Hua.


" Mmmmm." Xie Hua sangat senang karena hari yang ditunggu-tunggu bisa terwujud lalu membalas Ciuman Ryu tepat di bibirnya.


" Hua'er... Sebaiknya kamu mempelajari Teknik Kultivasi Ganda terlebih dulu. Jika Tidak, aku takut kamu akan pingsan." Ryu menyalurkan Energi Spiritualnya membentuk sebuah Cahaya langsung masuk ke tubuh Xie Hua.


" Mmmmm." Xie Hua pun langsung menyerap Teknik tersebut hingga beberapa saat teknik tersebut menyatu dalam tubuhnya.


" Gege..." Xie Hua langsung mencium bibir Ryu hingga semakin memacu gairah mereka.

__ADS_1


Ryu yang merasakan sentuhan lembut dari tangan Xie Hua kini langsung berinisiatif untuk melepaskan Pakaiannya sendiri hingga Xie Hua sedikit terkejut dengan Pemandangan dari semua Otot Ryu yang begitu Kekar namun masih belum berani menyusuri bagian bawah Suaminya


Melihat Ryu yang sudah Siap, Xie Hua juga berinisiatif melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan Tubuh mulusnya yang Putih bersih.


Dengan penuh kelembutan, Ryu membahagiakan Istrinya tersebut hingga Xie Hua juga seperti dimanjakan oleh Ryu.


'' Gege... Jadikan aku seperti seorang Ratu.'' Bisik Xie Hua memandang Ryu penuh kebahagiaan.


" Hua'er... Kamu tenang saja! Aku akan membuatmu bahagia untuk malam ini dan untuk selamanya." Ryu juga berbisik di telinga Xie Hua.


" Gege... Aku percaya padamu." Xie Hua menyingkirkan rasa takutnya memilih untuk percaya pada Suaminya karena tidak mungkin suaminya akan menyakiti dia.


" Mmmm." Ryu membalikkan badannya hingga Posisi mereka bergantian.


Pada malam itu Ryu dan Xie Hua menikmati malam panjang penuh kebahagiaan dimana sebelumnya malam pertama mereka sempat tertunda.


Xie Hua yang merasakan sensasi yang luar biasa kini langsung menggeliat kenikmatan sambil memberi isyarat untuk melakukan tindakan selanjutnya.


Ryu yang sudah faham hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala secara perlahan naik kembali memasukkan Tongkatnya secara perlahan hingga membuat Xie Hua tidak khawatir meski sedikit sakit namun bila ditutupi sensasi yang lain.


Malam Pertama mereka yang lama tertunda kini sudah dilakukan dengan baik hingga berulang-ulang yang diisi jeda dengan melakukan penyerapan Energi Yin-Yang hingga mencapai Pagi.


" Gege... Jadi begini rasanya jadi Suami-istri?" Xie Hua senyum bahagia yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


" Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata." Ryu memeluk Xie Hua dengan lembut.


" Gege... Sebaiknya kita istirahat saja selama satu Minggu kedepan. Baru kita keluar dari Dunia Quzhu." Xie Hua juga membalas pelukan itu dengan hangat.


" Baiklah... aku kira Ketua Devisi 6 akan melakukan keberangkatan menuju Hutan Darah menunggu kita." Ryu tersenyum hangat.


...****************...


Satu Minggu kemudian, kini Ryu dan Xie Hua keluar dari Dunia Quzhu langsung menuju Halaman depan Rumah yang sudah disambut oleh Xie Xian , Xie Kai, Xie Shuxiang dan semua anggota Klan Xie yang lain.


" Waaahhh.. Hua'er, Kau Sangat Cantik sekali. Kamu juga sudah menerobos Pendekar Bumi Tahap Akhir." Xie Xian menyembunyikan keterkejutannya karena Xie Hua sudah berada di tingkat yang sama dengannya.


" Ka Xian juga sudah memiliki Fondasi yang Kuat sekarang." Xie Hua merasakan Fondasi milik Xie Xian banyak peningkatan.


" Selamat Hua'er." Kamu benar-benar Jenius." Murid Klan Xie yang lain memujinya.


" Apa Kalian sudah siap untuk ke Hutan Darah?" She Ling Tiba-tiba muncul karena dari tadi dia hanya memperhatikan dari kejauhan lalu menyipitkan matanya ke arah Xie Hua yang banyak Perubahan.


' Anak ini? Secepat itu bisa mencapai Pendekar Bumi Tahap Akhir 'She Ling kembali tertuju pada Ryu yang terlihat santai meski hanya naik Satu Tingkat ( Pendekar Alam Tahap Menengah) .


" Ketua Ling, kapan kita berangkat?" Ryu yang masih tenang.


" Baik. Kita berangkat sekarang." She Ling menuntun jalan menuju Hutan Darah.


Setelah berjalan beberapa jam, kini mereka sudah berada di Hutan Darah. She Ling pun memberitahukan bahwa dia hanya menunggu di Pinggir Hutan saja.


" Kalian tidak Boleh keluar dari Hutan ini selama Satu Minggu. Jika Tidak, aku akan melempar kalian di tengah Lautan Hewan Roh." She Ling senyum kemenangan karena waktu yang dia tunggu telah tercapai.

__ADS_1


Ryu pun mengangguk setuju sambil mengisyaratkan kepada mereka agar tidak Protes lalu menuntun mereka masuk ke dalam Hutan.


Meskipun awalnya mereka Ragu namun karena Ryu tidak sama sekali merasa takut, akhirnya mereka hanya menurut.


__ADS_2