SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
PAGODA JIWA 2


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Merasa diri mereka seperti disiksa, kedua wanita tersebut saling berpandangan karena kehabisan tenaga berharap meminta pengampunan.


" Mohon ampuni kami Nona." Kedua wanita tersebut memelas kepada Wang Mingjun karena tubuh mereka sudah banyak mengeluarkan darah.


Tanpa berkata apapun Wang Mingjun berjalan mendekati mereka langsung menciptakan pedang Angin menebas leher kedua wanita tersebut hingga terputus.


Di pertarungan lain juga terlihat Shu Meilu yang mendapatkan lawan dari dua sosok wanita yang lain dimana Shu Meilu yang berubah wujud menjadi Harimau Putih tidak kalah ganas dengan yang lain.


Dengan elemen Angin yang dia miliki, Shu Meilu dapat bergerak sangat cepat hingga terlihat seperti bayangan berwarna putih yang terus melancarkan serangan mendesak pergerakan lawannya.


Cakaran demi cakaran terus dia lancarkan membuat kedua lawannya semakin terpojok tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik.


Hal yang paling menakutkan bagi kedua wanita tersebut adalah jika Shu Meilu dengan wujud Harimau Putih ketika mengaum dimana membuat mereka terpental puluhan meter hingga merasakan seluruh tubuh mereka seperti ditusuk ratusan jarum.


Itulah yang membuat mereka selalu menjaga jarak agar terhindar dari serangan tersebut.


Namun itu bukan berarti mereka terhindar dari serangan yang dilancarkan oleh Shu Meilu.


Justru dengan ketakutan mereka berdua, Shu Meilu menjadi lebih liar terus menerkam mereka hingga membuat mereka menjadi sekarat.


Saat sudah melihat kedua lawannya sudah tidak berdaya, Shu Meilu kembali melancarkan serangan terkuatnya dengan Auman keras hingga membuat tubuh mereka terpental puluhan meter hingga kehilangan nyawa.


Di pertarungan lain Qin Shuomei juga mendapatkan dua lawan sekaligus.


Dengan perubahan wujud menjadi sosok Angsa, Qin Shuomei terbang di udara dengan indah namun memiliki kekuatan yang besar dimana setiap kepakan sayapnya menjatuhkan kobaran Api berwarna putih.


Hal itu tentu membuat kedua wanita tersebut semakin terpojok karena mendapatkan serangan yang tidak ada habisnya.


" Kwaaaaaaak." Angsa putih kembali menciptakan kobaran api mengelilingi tubuh kedua wanita tersebut.


Merasa diri mereka seperti berada di dalam penjara api, kedua wanita tersebut sangat ketakutan karena terkena hawa panas tersebut membuat mereka kesulitan bernapas.


" Wuush." Kobaran api tersebut semakin kuat seakan menutupi kedua wanita tersebut.


" Aaarrrggghhhh." Kedua wanita tersebut berteriak keras merasakan seluruh tubuh mereka kepanasan hingga sulit bernapas.


Tanpa memperdulikan teriakan dari kedua wanita itu, Qin Shuomei terus menutup ruang gerak mereka hingga beberapa saat suara dari kedua wanita tersebut mulai menghilang yang menandakan bahwa mereka sudah kehilangan nyawa.


" Wuush." Qin Shuomei kembali ke wujud semula sambil berjalan mendekati kedua sosok tersebut.

__ADS_1


Di Pertarungan lain Li Jilan juga berhadapan dengan dua sosok wanita dengan tatapan dingin menciptakan gelombang Air yang mengarah kepada kedua wanita tersebut.


Meskipun elemen Air terlihat lembut, namun saat Air tersebut mengenai lawannya, saat itu juga lawan tersebut merasakan seluruh tubuhnya menjadi lemah hingga memperlambat gerakan mereka.


" Kraaack." kedua wanita itu merasakan setengah bagian tubuh mereka tertimbun tanah.


Hal itu tentu saja membuat mereka tidak mampu bergerak hingga dengan mudah Li Jilan mengambil sebilah pedang melesat cepat menebas leher kedua wanita tersebut.


Di pertarungan lain Ling Queqi juga tidak ingin kalah dari yang lain.


Dengan elemen Air yang dia miliki, Ling Queqi menciptakan sosok Naga yang terbuat dari Air menyerang ke arah lawannya.


Naga Air tersebut seakan memiliki nyawa sendiri hingga terus mengejar targetnya yang terus berusaha untuk menghindar.


Dengan beberapa gerakan, Ling Queqi mengendalikan Naga Air tersebut hingga membuat pihak lawan merasa frustasi karena tidak diberikan kesempatan untuk melawan.


' Pusaran Air penghapus daratan.'


Ling Queqi menciptakan naga air tersebut menjadi pusaran air membuat lawannya terseret kedalam air tersebut.


Tidak menunggu lama, sosok wanita tersebut sudah kehilangan nyawa karena tidak mampu menahan nafas dimana tubuhnya seperti sedang tenggelam.


Begitu juga dengan Jiang Caiping, Nan Sian, Zhao Luyi, Zhao Liying, Hong Kian, Lan Liwei dan Bing Ruyue tidak ingin kalah dari yang lain juga memperlihatkan teknik yang mereka miliki.


Sedangkan untuk Zhang Qixuan yang masih berada di Pendekar Bumi tahap akhir, lebih memilih untuk membantu Anggota Sekte yang lain karena dia sadar jika harus berhadapan dengan Pendekar Surgawi tahap awal sama saja mengantarkan nyawa.


Untuk menutupi jumlah lawan, Gou Liang lah yang mengambil satu lawan dari murid Perguruan Hantu Malam tersebut.


Begitu juga dengan delapan wanita yang bersama kelompok Sheng Zhishu, mereka lebih memilih untuk membantu Anggota Sekte yang lain.


Banyak dari beberapa kelompok tersebut yang memperhatikan jalannya pertarungan dari 21 wanita tersebut.


Mereka berfikir bahwa 21 wanita tersebut memiliki latar belakang yang kuat atau sudah berusia Jutaan tahun, karena yang memiliki kekuatan seperti itu hanya sebagian kecil dari para Kultivator yang sudah menjalani hidup selama Jutaan Tahun.


Dari beberapa Sekte yang berada di pihak mereka merasa beruntung karena berdiri di pihak yang menang.


Disisi lain dari pihak Ling Xianzi mulai kehilangan semangat karena suatu keindahan dari murid Perguruan Hantu Malam mulai berjatuhan satu-persatu.


Hal itu tentu saja membuat mereka merasa frustasi karena telah membantu pihak Ling Xianzi karena hanya semata untuk menikmati keindahan tubuh mereka.


Setelah memakan waktu yang cukup lama kini pertarungan tersebut telah berakhir dimana Sheng Zhishu dan kelompoknya tidak ada kekurangan apapun.


" Terimakasih atas bantuan kalian semua." Xie Hua berkata tulus kepada mereka yang sudah membantu mereka.


Yang lain juga memberi hormat jika tanpa bantuan beberapa Sekte tersebut, maka mereka juga akan kewalahan.


Meskipun dari segi kekuatan mereka sangat besar, namun jika berhadapan dengan mereka sekaligus, tentu hal itu akan merepotkan mereka.


" Tidak masalah Nona... Tidak Seharusnya kami sangat senang sekali membantu kalian dari Wilayah Kekaisaran Shin, sebagai warga Kekaisaran Awan sudah tentu kami akan melindungi wilayah kami." Gou Liang berkata dengan tulus meskipun tidak mengetahui bahwa sosok yang dihadapan mereka adalah Istri dari Kaisar Ryu.


" Sekarang tidak ada lagi yang berani mengusik kalian. Apalagi dengan kekuatan kalian begitu sangat mengerikan." ucap salah satu Tetua dari Sekte Gunung Phoenix yang tidak mengenal Hong Kian karena perubahan wujud mereka.


" Kalau begitu kami pamit dulu. Karena ada beberapa hal yang harus kami lakukan." Sheng Zhishu tidak ingin terlalu lama mengingat Ryu sedang terluka.


" Baiklah Nona... Kami juga pamit undur diri." Beberapa Tetua menundukkan kepala lalu meninggalkan tempat tersebut bersama kelompok mereka masing-masing.


Saat mereka sudah pergi, Sheng Zhishu, Xin Chie, Huli Yue langsung berlari ke arah dimana Ryu tergeletak sebelumnya.


Namun saat mereka sudah berada di tempat tersebut, kini mereka semua terkejut karena sosok yang mereka cari sudah tidak ada lagi.


" Shu'shu... Bagaimana ini." Xin Chie terlihat kebingungan sambil memeriksa keadaan sekitar.

__ADS_1


" Kita harus mencarinya. Aku rasa tidak jauh dari sini." Sheng Zhishu membawa yang lain untuk mencari keberadaan Ryu.


...----------------...


Di Alam Jiwa Ryu :


Ryu yang baru terbangun, kini dia merasakan seluruh tubuhnya kembali seperti semula.


" Syukurlah Tuan sudah sadar." Tou Shuijing bernafas lega saat Ryu sudah membuka mata.


" Apa yang terjadi padaku?" Ryu memeriksa keadaan sekitar lalu menoleh ke arah Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia.


" Tuan telah lama terbaring di Alam Jiwa ini." Chaizu terlihat senang karena Ryu sudah kembali seperti semula.


Ryu pun mengingat kembali serangkaian kejadian saat dia hampir tidak sadarkan diri.


Saat itu Ryu mengingat jelas tetesan air Suci yang pernah diberikan oleh Zhao Luyi dan Zhao Liying membuat sebuah pelindung mengelilingi meridiannya.


Tidak hanya sampai disitu saja, Gelang yang pernah diberikan oleh Bing Ruyue melindungi seluruh tubuhnya saat Ryu benar-benar tidak mampu lagi bertahan.


Saat itu juga Ryu merasakan ada Energi lain yang membentuk sebuah rantai dari balik telapak kakinya langsung masuk ke Alam Jiwa dan mengunci sebuah Pagoda yang semakin membesar saat berada di Alam Jiwanya.


" Rantai itu." Ryu berbalik ke arah dimana terdapat sebuah Pagoda.


Terlihat sebuah Pagoda Jiwa yang melayang di udara dengan ukuran sangat besar menjulang tinggi hampir mencapai langit di Alam Jiwa tersebut.


Di dalam lantai dasar Pagoda Jiwa tersebut terikat oleh sebuah Rantai raksasa berwarna Emas dari 12 Sisi.


" Sian'er... Terimakasih." Ryu tersenyum lebar merasakan Aura dari Rantai itu mirip dengan Aura dari Nan Sian.


Setelah beberapa saat Ryu memejamkan mata sambil merasakan energi yang keluar dari Pagoda Jiwa tersebut hingga terlihat sebuah senyuman puas dari wajahnya.


" Sepertinya Rasa sakit itu terbayar dengan Pagoda Jiwa ini." Ryu kembali membuka mata sambil menatap ke arah Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia.


" Tuan... Apa yang terjadi?" Tou Shuijing merasa heran melihat ekspresi dari wajah Ryu.


" Nanti kalian akan tau sendiri. Pagoda Jiwa ini memiliki 17 lantai, aku harus mencari informasi dari Pagoda Jiwa ini." Ryu melompat ke arah Pagoda Jiwa tersebut hingga masuk ke lantai pertama.


Setelah berada di lantai dasar Pagoda Jiwa, Ryu langsung duduk bersila untuk menyerap energi yang ada di tempat itu.


Setelah beberapa saat Ryu kembali membuka mata sambil berjalan menuju ke lantai dua berniat untuk menyerap energi yang ada di tempat itu.


Waktu terus berjalan hingga memakan waktu yang cukup lama, kini Ryu hanya mampu menyerap energi sampai di lantai empat.


Sedangkan untuk melanjutkan ke lantai lima, Ryu masih belum mampu karena saat dia melangkahkan kakinya ke lantai lima, Ryu seakan terdorong oleh kekuatan yang besar.


" Sepertinya Pagoda Jiwa ini masih belum mengizinkan aku untuk melanjutkan ke lantai berikutnya." Ryu bergumam sambil melangkahkan kaki untuk keluar dari Pagoda Jiwa tersebut.


' Anak Muda, tunggu dulu!' sebuah pesan jiwa dari Shen Weida.


' Penguasa, ada apa?' Ryu membalas pesan jiwa seraya mengerutkan keningnya.


" Sepertinya Pagoda Jiwa ini sangat membantuku." Shen Weida keluar dari Cincin pemulihan milik Ryu.


Kini sosok wanita cantik dengan kulit putih bersih dan postur tubuh yang indah telah berdiri di depan Ryu dengan paras yang sangat sempurna.


" Gluug." Ryu menelan ludah merasa terpana melihat keindahan dari Shen Weida.


' Sial... Kenapa aku bisa seperti ini.' Ryu mengutuk dirinya sendiri berusaha keras mengendalikan pikirannya.


" Anak Muda, ada apa?" Shen Weida mengerutkan keningnya melihat tingkah dari Ryu.

__ADS_1


" Tidak Penguasa... Aku hanya sedikit capek." Ryu berusaha bersikap santai.


__ADS_2